Mengulik Keunikan Premis Drama “Start-Up”

start-up poster

Drama Korea “Start-Up” diproduksi oleh Studio Dragon yang juga memproduksi “Crash Landing on You” tahun lalu dan beberapa drama populer lainnya. “Start-Up” disiarkan sekaligus di stasiun televisi tvN dan secara streaming di platform Netflix dari tanggal 17 Oktober sampai 6 Desember 2020. Sejak awal promosi, drama ini sudah berprofil tinggi karena menjanjikan cast yang bertabur bintang-bintang muda yang sedang naik daun, sebut saja Bae Suzy, Nam Joo Hyuk, Kim Seon Ho, dan Kang Han Na.

Setelah sukses membintangi drama “Vagabond” (2019), sebuah drama Korea rasa Hollywood lengkap dengan baku-tembak, intrik politik yang kotor, rangkaian skandal dan konspirasi, dan janji akan keberadaan season selanjutnya, Bae Suzy langsung bergerak cepat ke proyek berikut yaitu drama “Start-Up” ini.

Bagi Nam Joo Hyuk sendiri, “Start-Up” adalah proyek keduanya pada tahun 2020. Sebelum “Start-Up”, Nam Joo Hyuk baru merampungkan konferensi pers dan rangkaian promosi terbatas akibat Covid-19 dari drama “The School Nurse Files” yang ditayangkan eksklusif di Netflix. Bahkan sebelum “Start-Up” selesai ditayangkan, Nam Joo Hyuk sudah sibuk mempromosikan film berikutnya “Josee” yang dia perankan bersama Han Ji Min. Wah, sungguh rajin bekerja dan semoga saja gemar menabung ya uri dongsaeng yang satu ini.

Kim Seon Ho adalah satu-satunya cast yang belum pernah saya saksikan aktingnya. Teman-teman sekelas saya di Drakor Class sudah menuliskan beberapa perannya di dalam drama “100 Days My Prince” (2018) dan “Catch the Ghost” (2019). Chingudeul bisa baca sendiri, ya. Yang jelas saya mengambil kesimpulan kesan yang positif akan kepribadian dan kemampuan akting Kim Seon Ho oppa, sehingga saya pun antusias untuk menyaksikannya pertama kali di dalam “Start-Up”.

Kang Han Na sendiri sudah saya saksikan aktingnya di dalam drama “Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo” (2016) dan “Familiar Wife” (2018). Saya sangat berharap perannya kali ini akan jauh dari wanita yang cantik jelita, tapi selalu sirik dan merasa insecure dengan apa yang dimilikinya. Sebuah harapan yang jauh panggang dari api, walaupun pada dua episode terakhir karakter Won Seo In Jae yang diperankannya menunjukkan banyak perubahan.

Saya kutip dari Wikipedia, premis dari drakor “Start-Up” adalah tentang seorang wanita yang bermimpi menjadi seorang entrepeneur seperti Steve Jobs, tentang seorang pria yang diam-diam adalah cinta pertamanya, dan tentang seorang pria yang berpura-pura menjadi cinta pertamanya. Nah lho, puyeng ga tuh baca premisnya? Saya sih puyeng, makanya saya mau mengulik premisnya yang unik dan tidak biasa seperti jutaan drakor lainnya.

Kaja!

Resep Drama Sukses

Semua kisah harus dimulai dengan sebuah premis. Apakah premis itu? Premis adalah sebuah kalimat ringkas yang menggambarkan seluruh kisah. Di dalam premis ada informasi tentang tokoh utama (biasanya si protagonis di dalam cerita), konflik yang dihadapi, dan resolusi dari cerita itu. Saya beri beberapa contoh, ya:

  1. Premis Film “Pretty Woman” (1990)

Seorang pria kaya yang benar-benar jatuh cinta pada seorang pelacur yang dia sewa.

  1. Premis Film “Laskar Pelangi” (2008)

Perjuangan ibu guru Mus mencari siswa sejumlah yang disyaratkan supaya sekolah tempatnya mengajar tidak ditutup.

  1. Premis Drakor “Descendants of the Sun” (2016)

Kompromi antara tuntutan profesi dan perasaan cinta dari seorang tentara elit dan seorang dokter di daerah konflik.

  1. Premis Drakor “Stranger” (2020)

Perjuangan Hwang Si Mok (Cho Seung Woo) menyelamatkan koleganya, Seo Dong Jae (Lee Joon Hyuk), yang diculik di tengah perebutan hak investigasi di antara kepolisian dan kejaksaan.

  1. Dan seterusnya.

Dari contoh-contoh di atas terlihat ya bahwa premis itu tidak harus panjang. Ia harus ringkas, padat, dan bertindak sebagai pemberi petunjuk tentang rincian kisahnya kepada penonton, dan sebagai jangkar bagi penulis supaya tidak melupakan tujuan penceritaan ketika sedang asyik bermain-main dengan alur.

Pada tulisan saya dua bulan lalu tentang review drama “Private Lives” (2020), saya memaparkan tentang tiga faktor yang merupakan resep dari sebuah drama yang sukses. Ringkasannya bisa dilihat pada Diagram Venn di bawah ini:

Resep Drama Sukses

Ada ide cerita, alur cerita, dan akting pemain yang saling beririsan, dimana irisan dari ketiganya akan menghasilkan sebuah drama yang sukses.

Mengapa ide cerita ditempatkan di paling atas? Karena ide cerita adalah permulaan sebuah drakor; ia adalah akar dan rohnya. Ide cerita adalah pengejewantahan sebuah sketsa abstrak pada benak penulis menjadi sebuah drama yang berlangsung selama belasan jam dengan waktu syuting yang bisa berbulan-bulan. Tanpa ide cerita yang solid, mustahil seorang, atau sebuah tim, penulis mengeksekusi ide itu menjadi sebuah performance.

Beberapa drakor memiliki ide cerita yang sangat unik, yang membuat penontonnya bertanya-tanya bagaimana penulis dan sutradara dapat mencapai tujuan akhir dari penceritaan. Ingat ya, setiap cerita memiliki tujuan akhir, memiliki sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab pada akhir kisah. Apakah tujuan cerita supaya para tokohnya bersatu, atau berpisah, atau yang lainnya, semua itu harus didefinisikan bersamaan dengan lahirnya ide. Tanpa tujuan penceritaan, kita hanya membuang-buang waktu, walaupun kita menikmati cerita itu.

Drakor “Crash Landing on You” (2020) adalah salah satu drakor dengan ide cerita yang tidak biasa. Drakor dengan premis kisah cinta di antara seorang tentara Korea Utara dan pebisnis wanita dari Korea Selatan sejak semula menggelitik rasa ingin tahu publik. Semua orang tahu tentang situasi geopolitik di Semenanjung Korea, jadi bagaimana mungkin kedua insan dari dua latar belakang ini dapat bersatu?

Dari sini kita masuk ke alur cerita.

Alur cerita adalah sebuah perjalanan yang mengantar ide untuk mencapai tujuan akhir penceritaan. Sepanjang alur cerita, ada setting lokasi dan waktu yang harus diperhatikan dengan mendetail. Inilah bedanya membaca buku dengan menonton drakor. Ketika membaca buku, penulis memberikan setting lokasi dan waktu dalam bentuk tulisan yang bersifat tidak mengikat. Pembaca memiliki kebebasan untuk membayangkan apa yang dimaksud oleh penulis, sesuai dengan kapasitas daya pikir dan imajinasi masing-masing.

Sebagai contoh, seorang penulis memberikan setting tempat di depan Big Ben di kota London pada suatu sore di musim panas dimana matahari terbenam pada pukul 10 malam.

Dia menggambarkan Big Ben sebagai sebuah jam raksasa yang berwarna putih dan dikepung oleh deretan pilar berwarna emas. Pembaca yang belum pernah melihat gambar Big Ben mungkin membayangkan sebuah jam seperti deskripsi si penulis. Pembaca yang pernah melihat langsung Big Ben mungkin menyadari bahwa penulis hanya menyederhanakan tampilan fisik Big Ben yang sebenarnya.

Demikian pula dengan latar waktu pada musim panas. Mereka yang belum pernah tinggal di Eropa pada musim panas mungkin mengira langit akan berwarna jingga dan kemerahan sejak pukul 6 sore sampai pukul 10 malam. Mereka yang pernah mengalami musim panas di Eropa akan tahu betul bahwa langit tidak berubah warna sampai beberapa saat menjelang matahari terbenam.

Di dalam drakor, setting lokasi dan waktu itu harus divisualisasikan dengan jelas. Penonton diberikan gambaran utuh sesuai dengan imajinasi penulis yang diterjemahkan oleh sutradara dan produser. Peran art director, production designer, dan construction crew sangat vital untuk mencapai maunya penulis, sutradara, dan produser. Tidak ada ruang untuk imajinasi penonton; penonton hanya bisa menerima dan memprotes jika ada yang dirasa tidak cocok.

Faktor yang ketiga adalah akting pemain. Ide cerita sangat oke, alurnya juga membuat penonton dugeun-dugeun (berdebar-debar) habis ini apa yang akan terjadi ya, eh begitu diperankan kok zonk?

Pernahkah kamu mengalami hal ini saat menonton drakor? Saya pernah beberapa kali dan rasanya sakit hati banget. Buat saya menonton drakor adalah sarana belajar untuk menciptakan fiksi (silakan klik ya kalau kamu ingin tahu). Menonton drakor itu bukan murni untuk hiburan; ada investasi waktu dan tenaga di situ. Setiap investasi pasti menjanjikan return, yekan? Jadi alangkah kesalnya saya ketika saya sudah berkomitmen mengikuti sebuah drama untuk belajar, dan ternyata drama itu gagal di akting para pemainnya.

Sudah terlalu banyak drakor yang saya tinggalkan di awal perjalanan karena masalah akting ini. Ide cerita hanya bisa dinilai sepintas dari ringkasan Wikipedia. Menilai alur cerita harus sambil jalan, yang berarti harus menginvestasikan waktu sekian belas jam kalau mau menamatkan drama itu. Males bener kalau ternyata drakor itu ga worth it (seperti drakor terakhir uri Pyeha). Satu-satunya faktor yang bisa dinilai dengan cepat, istilahnya tertarik pada beberapa episode pertama, adalah akting para pemain di dalam drakor tersebut.

Akting yang bagus atau jelek itu seperti apa sih? Definisi setiap orang berbeda-beda, namun untuk saya akting yang bagus adalah akting yang bisa membuat saya ikut merasakan emosi yang dimaksudkan oleh scene tersebut.

Misalnya ada setting cerita di sebuah pemakaman. Keluarga yang berduka berdiri di sekeliling makam dengan tangan bersedekap di dada. Mereka semua memakai baju berwarna kuning, kacamata hitam modis, dan tidak ada yang menangis. Saat melihat yang begini saya menyalahkan sutradara dan aktornya. Apakah mereka sedang meremehkan logika dan nalar penonton?

Dari ketiga faktor tersebut, di manakah premis terletak? Premis terletak pada ide cerita. Ide itu dijewantahkan pertama-tama dalam bentuk sebuah kalimat ringkas yang menjadi jangkar bagi seorang penulis sebelum menulis lebih lanjut; itulah premis. Premis yang menarik akan membuat penonton menyimak lebih lanjut. Premis yang tidak masuk akal akan sulit menarik penonton, walaupun ada pengecualian pada banyak drama dan salah satunya adalah “Crash Landing on You”.

Premis “Crash Landing on You” adalah tentang seorang wanita pebisnis dari Korea Selatan (Yoon Se Ri/Son Ye Jin) yang mendarat darurat di perbatasan Korea Selatan dan Utara akibat sebuah kecelakaan paralayang. Setelah tersangkut di pohon semalam suntuk tanpa makanan dan akses ke toilet, ia ditemukan dan terpaksa ditolong oleh seorang tentara Korea Utara (Kapten Ri Jeong Hyeok/Hyun Bin) untuk kembali ke negaranya. Sebelum sampai ke usaha penyelamatan dirinya, Se Ri yang selamat dan tetap hidup setelah masuk ke tornado yang melibatkan traktor dan babi yang beterbangan pun adalah sebuah kemustahilan. Absurd ‘kan? Akan tetapi premis ini (dan kualitas bintang utamanya) tidak menyurutkan minat orang untuk menonton “CLoY”, seperti yang saya tuliskan di sini.

Saya tidak menemukan informasi siapa yang menulis premis drama “Start-Up” di dalam artikel di Wikipedia. Mungkin ada kekurangtepatan penerjemahan dari bahasa Korea ke bahasa Inggris yang mengakibatkan kalimat premis “Start-Up” adalah tentang seorang wanita yang ingin menjadi seorang entrepreneur seperti Steve Jobs. Dari episode pertama saya menanti-nantikan momen pernyataan bahwa Seo Dal Mi (Bae Suzy, female lead) ingin menjadi seperti Steve Jobs. Namun selain video parodi Nam Do San (Nam Joo Hyuk, male lead) yang berdandan ala Steve Jobs dengan celana jeans dan turtleneck hitam, sepanjang drama tidak ada lagi referensi ke penemu brand “Apple” tersebut.

Kalau merujuk pada premis yang dicantumkan di Wikipedia, seharusnya pusat dari penceritaan ada pada karakter Seo Dal Mi, iya ‘kan? Dan bagaimana dia berjuang menjadi seorang entrepreneur (tanpa mengutip Steve Jobs) dan peran dua orang pria di dalam hidupnya, cinta pertamanya yang beneran dan yang pura-pura. Namun semakin lama drama ini ditayangkan, saya semakin tidak yakin bahwa drama ini berpusat pada karakter Seo Dal Mi.

Kebingungan Saya, Kamu, dan Kita Semua

Kim Seon Ho yang berusia 34 tahun memulai debutnya sebagai aktor teater jauh sebelum Nam Joo Hyuk yang tahun ini berusia 26 tahun. Walaupun demikian, begitu melihat poster drama ini kita tidak akan menyangsikan bahwa Kim Seon Ho akan berperan sebagai second male lead dan Nam Joo Hyuk sebagai first male lead.

Seperti yang saya uraikan pada tulisan ini, sejak tahun 2016 Nam Joo Hyuk terus membintangi drama-drama yang mencuri perhatian. Mulai dari “Moon Lovers: Scarlet Heart Ryeo” (2016), “Weightlifting Fairy Kim Bok Joo” (2016), “The Bride of Habaek” (2017), “The Light in Your Eyes” (2019), “The School Nurse Files” (2020) sampai “Start-Up” (2020), Nam Joo Hyuk seperti di-groom oleh industri entertainment di Korea Selatan untuk menjadi bagian dari para aktor generasi berikutnya yang saat ini masih berusia di bawah 30 tahun.

Aktor generasi sebelumnya diisi oleh para oppa berusia di awal sampai pertengahan 30 tahun, seperti: Lee Min Ho, Lee Jong Suk, Kang Ha Neul, Park Seo Joon, dan sebagainya. Aktor generasi sebelumnya lagi diisi oleh mereka yang totally hawt and age like fine wine, seperti: Hyun Bin, Cho Seung Woo, Jo Jung Suk, Lee Dong Wook, dan lain-lain. Aktor generasi sebelum dan sebelumnya lagi? Saya cuma tahu Won Bin dan Lee Byung Hun, hehehe, mian.

Jadi, alangkah bingungnya saya dan banyak penonton lain ketika pada episode pertama cerita bergulir seputar Seo Dal Mi kecil dan second male lead kecil, alias karakter yang dewasanya nanti akan diperankan oleh Kim Seon Ho. Wait, apa yang sedang terjadi? Bukankah first male lead-nya adalah Nam Joo Hyuk yang akan memerankan seseorang bernama Nam Do San? Jadi mengapa pembukaan drama ini adalah tentang Han Ji Pyeong (kecil: Nam Da Reum/dewasa: Kim Seon Ho) yang dari dulu ternyata hidupnya beririsan dengan hidup Dal Mi?

Nama Nam Do San memang disebut di episode pertama sebagai nama palsu yang dipakai oleh Ji Pyeong dan nenek Choi Won Deok untuk berbalas surat dengan Dal Mi. Nama itu tanpa sengaja dilihat oleh Ji Pyeong pada sebuah artikel surat kabar yang memberitakan kemenangan Nam Do San di sebuah ajang Olimpiade Matematika. Kemunculan orang yang bernama Nam Do San secara utuh baru pada episode kedua seperti melawan semua pakem yang dianut oleh sejuta drakor lainnya selama puluhan tahun.

Seharusnya episode pertama adalah tentang first lead, baik male maupun lead. Second lead itu cukup disebutkan atau ditunjukkan sekilas untuk memancing keingintahuan penonton. Cerita cinta atau pencapaian ambisi tanpa embel-embel segi banyak dan persaingan toh kurang menarik, bukan? Di situlah peran para second lead, untuk membuat hidup para first lead tersiksa dan sesulit di neraka. Namun di dalam “Start-Up” mengapa sorotan lampu pertama dan utama itu sepertinya sedari awal jatuh pada karakter Han Ji Pyeong?

Inilah kebingungan saya, kamu, dan kita semua yang mengikuti drama ini sejak episode pertama. Han Ji Pyeong yang sedari awal digariskan menjadi second male lead bertindak, bersikap, dan mengeluarkan aura yang terlalu memesona selayaknya seorang first male lead (ini gara-gara akting Kim Seon Ho oppa yang penuh totalitas). Begitu the real first male lead muncul yaitu Nam Do San yang sudah tidak selusuh dan sedekil dulu (hail produk fashion, kosmetik, dan perawatan rambut ala Korea Selatan), penonton pun geger, dan terbentuklah tiga tim yang biasanya hanya dua tim di dalam drama lain.

Siapakah itu? Tim “Han Ji Pyeong”, tim “Nam Do San”, dan tim “Oleng” (antara keduanya). Kamu masuk tim yang mana?

Karakter Juga Manusia

Setelah Nam Do San mulai masuk ke dalam hidup Dal Mi atas nama membantu Han Ji Pyeong yang ingin menyembunyikan kebohongan-kebohongannya, empat karakter utama yang seharusnya ada di dalam premis drama ini sudah naik semua ke atas panggung.

Ada Seo Dal Mi, seorang wanita yang ingin memiliki karir yang lebih baik walaupun dia hanya lulusan SMA. Dia bekerja keras dan selalu meraih performance yang baik, tapi proposalnya untuk menjadi karyawan tetap selalu ditolak. Dal Mi akhirnya mengambil langkah berani dengan resign dan mendaftarkan diri masuk ke program hackathon di “Sandbox”, sebuah tempat yang dianalogikan sama dengan Silicon Valley di San Fransisco, Amerika Serikat.

Ada Seo Won In Jae, kakak perempuan Dal Mi yang mengikuti ibunya pasca perceraian kedua orang tua mereka. In Jae diadopsi oleh ayah tirinya yang kaya raya dan akhirnya dibesarkan di Amerika Serikat. Sayangnya, si ayah tiri berniat mewariskan perusahaan dan semua hartanya ke anak kandungnya, dan menyia-nyiakan hasil kerja keras In Jae. In Jae yang pemberani, tangguh, dan sangat pintar (karakter pujaan saya banget, deh) memutuskan resign dari perusahaan milik ayah tirinya dan masuk ke program yang sama dengan Dal Mi di “Sandbox”.

Ada Han Ji Pyeong, seorang anak yatim piatu yang setelah keluar dari panti asuhan sering beredar di sekitar kios corn dog milik nenek Choi Won Deok (nenek dari In Jae dan Dal Mi dari pihak ayah mereka). Nenek Choi yang merasa kasihan dengannya akhirnya memberikan Ji Pyeong tempat tinggal dan makanan. Dia juga meminta bantuan Ji Pyeong untuk menulis surat-surat untuk menghibur Dal Mi kecil yang baru saja kehilangan ibu dan kakaknya akibat perceraian, dan terakhir kehilangan ayahnya akibat kecelakaan lalu-lintas. Sebuah kesalahpahaman tentang uang membuat Ji Pyeong meninggalkan Nenek Choi dan pergi ke Seoul dengan perasaan marah. Disclaimer! Scene yang menghadirkan Kim Hae Sook (Nenek Choi) dan Nam Da Reum (Han Ji Pyeong kecil) dipenuhi dengan bawang. Bagus banget sih akting keduanya ….

Ada Nam Do San, seorang anak jenius yang memenangkan Olimpiade Matematika dan bisa masuk kuliah pada usia Sekolah Dasar akibat curang. Sebelum bertemu dengan Ji Pyeong dan Dal Mi, Do San dan kedua teman kuliahnya, Chul San dan Yong San, membentuk perusahaan start-up bernama “Samsan Tech”. Perusahaan mereka tidak kunjung berhasil mendapatkan investor karena mereka tidak memiliki model bisnis untuk menghasilkan keuntungan. Dia dan teman-temannya juga memutuskan mengikuti hackathon yang diadakan oleh “Sandbox” dan merekrut Dal Mi sebagai CEO mereka.

Premis singkat dari Wikipedia sudah memberi gambaran seperti apa sifat karakter-karakter utama di dalam drama ini. Tidak hanya sifat yang positif dan kuat, tapi juga sifat yang lemah dan penuh cacat-cela karena karakter di dalam drama adalah sebenarnya manusia biasa.

Dal Mi yang ingin sukses terkadang gamang dan tidak tahu untuk apa/siapakah dia repot-repot masuk ke “Sandbox”. Apakah untuk meneruskan cita-cita ayahnya akan sebuah dunia yang connected lewat telepon genggam (pemikirannya waktu itu), atau untuk membuktikan pada In Jae bahwa dia juga bisa sukses walaupun tidak kaya dan tidak punya backing, atau untuk apa? Kerendahan dirinya tercermin dengan baik sepanjang awal episode. Sebuah artikel yang saya baca di internet bahkan menyebutkan Dal Mi sebagai pengidap imposter syndrome, dimana dia meragukan kemampuan, talenta, dan pencapaiannya, dan selalu takut ketahuan sebagai seorang penipu.

Ji Pyeong yang adalah cinta pertama Dal Mi juga mempunyai kelemahan sebagai seseorang yang merasa aman jika berjarak dengan orang lain, tapi selalu siap menjadi penyelamat di saat sulit. Sedari awal Kim Seon Ho memerankan dengan sangat baik bagaimana emosi dan urusan orang lain sangat merepotkan dirinya. Satu-satunya Achilles’ heel baginya adalah Nenek Choi, yang kepadanya dia berutang budi karena pernah memberi tumpangan dan cinta yang Ji Pyeong tidak pernah dapatkan dari orang tua kandungnya. Apa pun yang Nenek Choi minta, Ji Pyeong akan berusaha sekuat tenaga untuk mengabulkannya, apalagi jika itu menyangkut Dal Mi.

Do San adalah “penipu” yang masuk ke dalam rencana Ji Pyeong dengan imbalan bantuan kepada “Samsan Tech”, tapi menolak keluar dari rencana itu begitu dia jatuh cinta pada Dal Mi. Kelemahannya adalah pada keegoisannya, pada fokus utamanya yaitu self-interest. Sulit baginya untuk membayangkan apa yang akan terjadi jika semua kebohongan yang dia dan Ji Pyeong rancang terbongkar. Do San hanya menikmati hidupnya yang bergerak menjadi lebih baik: masuk ke “Sandbox” bersama Chul San dan Yong San, dan menjalin asmara dengan Dal Mi yang terus menyangka Do San adalah orang yang sama dengan yang berbalas surat dengannya 15 tahun silam.  

Terobosan atau Room for Improvement?

Apa keuntungannya membuat second male lead yang sama intriguing-nya dengan first male lead? Perhatian lebih dari penonton, diskusi yang hangat dan menggebu-gebu sepanjang penayangan drama, polarisasi dukungan, sampai pembentukan tim-tim seperti yang saya uraikan di atas.

Saya kira cerita yang bergerak seimbang mengupas perkembangan karakter Dal Mi, Do San, dan Ji Pyeong adalah sebuah terobosan baru di dunia perdrakoran. Premis yang langsung melibatkan beberapa karakter utama bisa menjadi sebuah tren baru untuk ide cerita drama Korea di masa depan. Toh semua “pertikaian” tentang siapa yang seharusnya mendapatkan Dal Mi hanya meningkatkan popularitas drama ini, dan ujung-ujungnya meningkatkan eksposur dari produk-produk yang beriklan di dalamnya. Ujung-ujungnya hepeng, Bro.

Di sisi lain, apa kerugiannya membuat penonton bingung mana yang beneran first male lead, mana yang second male lead? Apa pun ending yang dipilih oleh penulis skrip, penonton akan sulit terpuaskan. Protes kencang pasti akan terdengar di sana-sini karena pendukung kedua karakter (first dan second lead) sama kuat, sama gaduh, dan sama (maaf) ngototnya.

Sedari awal Ji Pyeong sudah ditunjukkan sebagai seseorang yang memilih untuk melindungi dari jarak jauh. Dia ingin menjadi orang pertama yang Dal Mi cari ketika menghadapi kesulitan. Namun di sisi lain, dia tidak berani mengajukan diri menjadi lebih dari seorang teman dan mentor bagi Dal Mi sepanjang 3 tahun tidak ada kabar dari Do San. Penonton mencelanya sebagai karakter yang lamban bertindak. Pembelanya bersikeras bahwa Ji Pyeong memang berkarakter begitu; bukti bahwa dia mencintai adalah dia mendahulukan kebahagiaan orang lain dibandingkan kebahagiaan dirinya sendiri.

Do San sendiri, walau perkenalannya dengan Dal Mi adalah akibat sebuah tipu daya, berhasil membuktikan diri sebagai seseorang yang Dal Mi bisa andalkan. Dia menetapkan target dan fokus, dia berusaha, dia berani mengungkapkan perasaan, dan oleh karena itulah dia mendapatkan Dal Mi. Ini tidak berarti Do San lebih baik dari Ji Pyeong. Menurut saya, kedua pria tersebut memiliki cara yang berbeda dalam mencintai Dal Mi. Dan tentu saja Dal Mi memilih orang dengan cara mencintai yang paling cocok dengan dirinya, yaitu Do San yang terang-terangan daripada Ji Pyeong yang di belakang layar.

Kemenangan Do San yang menjadi kekalahan telak bagi Ji Pyeong menurut saya adalah room for improvement untuk aspek premis di dalam drama ini. Premis drama “Start-Up” membawa terobosan baru yang bisa menjadi referensi bagi penulis fiksi untuk memformulasikan premis yang memikat penonton. Walaupun demikian, janganlah sampai hati penonton ambyar di akhir drama karena karakter pilihannya (first ataupun second) tidak diberikan kesempatan oleh penulis skrip, entah itu dalam hal percintaan, karir, perjuangan, atau hal lain. Yang ada nanti perasaan pedih-pedih-gimana-gitu melihat Do San bersatu dengan Dal Mi, dan Ji Pyeong yang tetap sendirian.

The Real Love Story

Saya sangat menikmati drama “Start-Up” dari episode ke-1 sampai ke-12 dan tiba-tiba kehilangan minat pada episode ke-13 sampai Finale. Mungkin karena “Tiga San” yang terlalu berubah setelah kembali dari San Fransisco? Do San dan teman-temannya yang dulu berlabel tech geek dengan kemeja flannel setelah pulang tiba-tiba berjalan ala model catwalk dan bersliweran dengan designer clothes. Rasanya tiga tahun terlalu dramatis untuk mengubah seseorang sampai segitunya.

Pada episode ke-16 (Finale) setelah Ji Pyeong memutuskan untuk melepaskan Dal Mi dan tenggelam dalam balada patah hatinya, Nenek Choi datang mengunjungi rumahnya dan terjadilah sebuah percakapan yang menyadarkan saya akan satu hal. Inti dari percakapannya bisa kamu saksikan sendiri di Netflix, tapi saya akan kasih tahu insight apa yang saya dapat dari percakapan itu.

Kalau soal cinta, premis dari drama ini bukanlah tentang Dal Mi. Cerita cinta di dalam “Start-Up” adalah tentang Han Ji Pyeong dan Nenek Choi Won Deok. Mengapa saya katakan demikian?

Cerita tentang Dal Mi boleh saja bergulir. Masa remajanya, kedekatannya dengan kakak perempuannya, In Jae, perceraian orang tuanya akibat masalah ekonomi, kematian ayahnya, pengabaian ibunya, kegagalannya kuliah karena tidak ada biaya, sampai ke karirnya yang mandek. Akan tetapi, semua cerita itu akan terlalu biasa jika tidak ada campur tangan Nenek Choi dan Ji Pyeong sedari awal.

Jika Nenek Choi tidak menampung Ji Pyeong, maka Nenek Choi tidak akan meminta bantuannya untuk menulis surat pada Dal Mi. Jika Nenek Choi membela diri ketika Ji Pyeong mengira dia mencuri uang anak muda itu, maka Ji Pyeong tidak akan memberanikan diri pindah ke Seoul. Jika Nenek Choi tidak bertemu lagi dengan Ji Pyeong di Seoul, maka dia tidak akan bisa membantu Dal Mi yang ingin bertemu langsung dengan Do San yang dia surati 15 tahun lalu. Jika Nenek Choi tidak meminta bantuan Ji Pyeong, maka Do San tidak akan masuk ke dalam skenario mereka dan menelurkan kebohongan demi kebohongan.

Lihatlah, semua hal baik yang terjadi pada Dal Mi dan Do San adalah akibat campur tangan Nenek Choi dan Ji Pyeong, termasuk di dalamnya keberhasilan mereka memperbaiki nasib setelah bergabung dengan “Sandbox”. Dan pada episode ke-16 saya melihat ekspresi cinta yang lebih besar dari cinta yang ditunjukkan oleh karakter-karakter lain. Jauh lebih besar dari ekspresi cinta antara Do San dan Dal Mi, atau antara Chul San dan Sa Ha, atau antara Dal Mi dan ayahnya, atau antara Dal Mi dan neneknya.

Ekspresi cinta yang saya maksud adalah antara Nenek Choi dan Han Ji Pyeong, sedari kecil sampai ia dewasa.

Ji Pyeong yang terhilang dan getir karena berstatus anak yatim piatu diberikan tempat, tidak hanya secara fisik, tapi juga di hati Nenek Choi. Ia dianggap sebagai anak, ia diperhatikan selayaknya anggota keluarga. Ji Pyeong diberikan akses kepada momen-momen kebersamaan keluarga yang ia tidak pernah bisa nikmati sebelumnya. Ia bahkan diberikan kesempatan untuk merayakan Chuseok bersama Dal Mi dan keluarganya, dan ulang tahunnya diingat oleh orang lain selain dirinya sendiri.

Itulah kisah cinta yang sebenarnya dari drama ini; itulah premis utama dari drakor “Start-Up” yang jauh berbeda dari yang disebutkan di dalam Wikipedia. Sebagai penutup, ijinkanlah saya menulis ulang premis dari drama yang memecah drakorian begitu rupa seperti halnya ketika pemilihan presiden.

Drama “Start-Up” adalah tentang perjalanan seorang pria bernama Han Ji Pyeong yang menemukan dan melepaskan cinta sejati di dalam hidupnya.

Premis di atas cukup menjadi jangkar untuk penulis skrip ketika membuat alur cerita yang menjelaskan segala lika-liku mulai dari yang melibatkan surat berbalasan, usaha Dal Mi menemukan Ji Pyeong Do San 15 tahun kemudian, Do San beneran yang terseret masuk ke dalam hidup mereka, sampai ke pria mana yang pada akhirnya Dal Mi nikahi.

Itulah kekuatan premis, pada tulisan ataupun sinema yang bersifat fiksi. Semoga tulisan ini bermanfaat.

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

4 Komentar

  1. […] yang bukan hanya bahas drakor di berbagai media, termasuk di Drakor Class. Drakor Start Up ini premisnya memang sangat unik dan bukan cuma cerita yang bikin ribut netizen ala pemilihan presiden, tapi juga mengenalkan dunia […]

  2. […] Mengulik Keunikan Premis Drama “Start-Up” […]

  3. […] dalam “Awaken”, Yoo Su Bin mendapatkan peran yang cukup besar di dalam drama “Start-Up” yang mulai ditayangkan pada bulan Oktober tahun […]

  4. […] masih pada ingat dong dengan Han Ji Pyeong dari drakor “Start-Up”? Kim Seon Ho sukses melejit gara-gara drama itu dan memecah netizen drakorian menjadi 3 kubu: kubu […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: