Private Lives: Sebuah Parade Wig dan Pusar

review private lives

Kamu yang mulai membaca tulisan ini pasti mengernyitkan dahi.

Wait, wait, what? Wig? Pusar? Apa maksudnya?

Sebelum kita masuk ke pembahasan inti, mari saya ajak dulu kamu untuk berdiskusi drama Korea (drakor) seperti apa yang disebut drama yang sukses.

Kesuksesan sebuah drakor ditandai oleh banyak hal, di antaranya adalah:

  1. Rating.
  2. Eksposur (dan pada akhirnya penjualan) dari produk milik sponsor.
  3. Kepopuleran aktor dan aktris pemerannya yang tiba-tiba meroket.
  4. Dan lain sebagainya.

Saya menilik tiga faktor yang berkontribusi sama penting untuk bisa membuat sebuah drakor yang sukses. Kamu bisa melihat pada Diagram Venn di bawah ini:

Ada ide cerita, alur cerita, dan akting pemain yang saling beririsan, dimana irisan dari ketiganya akan menghasilkan sebuah drama yang sukses.

Mengapa ide cerita ditempatkan di paling atas? Karena ide cerita adalah permulaan sebuah drakor; ia adalah akar dan rohnya. Ide cerita adalah pengejewantahan sebuah sketsa abstrak pada benak penulis menjadi sebuah drama yang berlangsung selama belasan jam dengan waktu syuting yang bisa berbulan-bulan. Tanpa ide cerita yang solid, mustahil seorang, atau sebuah tim, penulis mengeksekusi ide itu menjadi sebuah performance.

Beberapa drakor memiliki ide cerita yang sangat unik, yang membuat penontonnya bertanya-tanya bagaimana penulis dan sutradara dapat mencapai tujuan akhir dari penceritaan. Ingat ya, setiap cerita memiliki tujuan akhir, memiliki sebuah pertanyaan besar yang harus dijawab pada akhir kisah. Apakah tujuan cerita supaya para tokohnya bersatu, atau berpisah, atau yang lainnya, semua itu harus didefinisikan bersamaan dengan lahirnya ide. Tanpa tujuan penceritaan, kita hanya membuang-buang waktu, walaupun kita menikmati cerita itu.

Drakor “Crash Landing on You” (2020) adalah salah satu drakor dengan ide cerita yang tidak biasa. Drakor dengan premis kisah cinta di antara seorang tentara Korea Utara dan pebisnis wanita dari Korea Selatan sejak semula menggelitik rasa ingin tahu publik. Semua orang tahu tentang situasi geopolitik di Semenanjung Korea, jadi bagaimana mungkin kedua insan dari dua latar belakang ini dapat bersatu?

Dari sini kita masuk ke alur cerita.

Alur cerita adalah sebuah perjalanan yang mengantar ide untuk mencapai tujuan akhir penceritaan. Sepanjang alur cerita, ada setting lokasi dan waktu yang harus diperhatikan dengan mendetail. Inilah bedanya membaca buku dengan menonton drakor. Ketika membaca buku, penulis memberikan setting lokasi dan waktu dalam bentuk tulisan yang bersifat tidak mengikat. Pembaca memiliki kebebasan untuk membayangkan apa yang dimaksud oleh penulis, sesuai dengan kapasitas daya pikir dan imajinasi masing-masing.

Sebagai contoh, seorang penulis memberikan setting tempat di depan Big Ben di kota London pada suatu sore di musim panas dimana matahari terbenam pada pukul 10 malam.

Dia menggambarkan Big Ben sebagai sebuah jam raksasa yang berwarna putih dan dikepung oleh deretan pilar berwarna emas. Pembaca yang belum pernah melihat gambar Big Ben mungkin membayangkan sebuah jam seperti deskripsi si penulis. Pembaca yang pernah melihat langsung Big Ben mungkin menyadari bahwa penulis hanya menyederhanakan tampilan fisik Big Ben yang sebenarnya.

Demikian pula dengan latar waktu pada musim panas. Mereka yang belum pernah tinggal di Eropa pada musim panas mungkin mengira langit akan berwarna jingga dan kemerahan sejak pukul 6 sore sampai pukul 10 malam. Mereka yang pernah mengalami musim panas di Eropa akan tahu betul bahwa langit tidak berubah warna sampai beberapa saat menjelang matahari terbenam.

Di dalam drakor, setting lokasi dan waktu itu harus divisualisasikan dengan jelas. Penonton diberikan gambaran utuh sesuai dengan imajinasi penulis yang diterjemahkan oleh sutradara dan produser. Peran art director, production designer, dan construction crew sangat vital untuk mencapai maunya penulis, sutradara, dan produser. Tidak ada ruang untuk imajinasi penonton; penonton hanya bisa menerima dan memprotes jika ada yang dirasa tidak cocok. Hal ini akan saya ungkit lagi nanti ketika membahas drakor “Private Lives”.

Faktor yang ketiga adalah akting pemain. Ide cerita sangat oke, alurnya juga membuat penonton dugeun-dugeun (berdebar-debar) habis ini apa yang akan terjadi ya, eh begitu diperankan kok zonk?

Pernahkah kamu mengalami hal ini saat menonton drakor? Saya pernah beberapa kali dan rasanya sakit hati banget. Buat saya menonton drakor adalah sarana belajar untuk menciptakan fiksi (silakan klik ya kalau kamu ingin tahu). Menonton drakor itu bukan murni untuk hiburan; ada investasi waktu dan tenaga di situ. Setiap investasi pasti menjanjikan return, yekan? Jadi alangkah kesalnya saya ketika saya sudah berkomitmen mengikuti sebuah drama untuk belajar, dan ternyata drama itu gagal di akting para pemainnya.

Sudah terlalu banyak drakor yang saya tinggalkan di awal perjalanan karena masalah akting ini. Ide cerita hanya bisa dinilai sepintas dari ringkasan Wikipedia. Menilai alur cerita harus sambil jalan, yang berarti harus menginvestasikan waktu sekian belas jam kalau mau menamatkan drama itu. Males bener kalau ternyata drakor itu ga worth it (seperti drakor terakhir uri Pheya). Satu-satunya faktor yang bisa dinilai dengan cepat, istilahnya tertarik pada beberapa episode pertama, adalah akting para pemain di dalam drakor tersebut.

Akting yang bagus atau jelek itu seperti apa sih? Definisi setiap orang berbeda-beda, namun untuk saya akting yang bagus adalah akting yang bisa membuat saya ikut merasakan emosi yang dimaksudkan oleh scene tersebut.

Misalnya ada setting cerita di sebuah pemakaman. Keluarga yang berduka berdiri di sekeliling makam dengan tangan bersedekap di dada. Mereka semua memakai baju berwarna kuning, kacamata hitam modis, dan tidak ada yang menangis. Saat melihat yang begini saya menyalahkan sutradara dan aktornya. Apakah mereka sedang meremehkan logika dan nalar penonton?

Inilah yang terjadi di dalam drakor “Private Lives”.

Dari informasi yang tertera di Wikipedia tentang ide cerita, saya mendapat gambaran bahwa drakor ini adalah satu lagi usaha Netflix membuat drama Korea berbumbu Hollywood. Saya tidak mengatakan di Korea Selatan tidak ada penipu yang lazim disebut con artist atau swindler di serial Amerika. Akan tetapi, entah kenapa saya yakin gaya mereka tidak akan sama. Pasti ada kearifan lokal khas masing-masing negara yang dibawa oleh setiap penipu.

Drakor rasa Hollywood pertama yang saya cicipi adalah “Vagabond” (2019). Plotnya yang kedodoran di tengah dan akhirnya yang menggantung (pertanda khas akan ada season selanjutnya), membuat saya kecewa. Ide ceritanya okelah, cukup unik, tentang seorang agen NIS yang membantu seorang mantan stuntman menyelidiki kematian keponakannya akibat sebuah kecelakaan pesawat. Embel-embel politik seperti presiden yang egois dan para pembantunya yang korupsi, serta seluk-beluk pekerjaan para agen rahasia, adalah bumbu pada alur untuk mencapai tujuan penceritaan: dalang dari kecelakaan pesawat itu akan terungkap atau tidak.

Alur ceritanya masih bagus sampai episode ke-10, lebih dari setengah dari total 16 episode. Ini juga kata kakak saya, karena saya biasanya tidak ingat detail dari drama yang mengecewakan. Nah, akting pemainnya adalah yang membuat drama ini jauh dari kata sukses. Menurut saya, lho ya. Cast yang muda-mudanya kurang tepat; chemistry-nya ga dapet. Kalau yang tua-tua sih sudah tepat banget. Mulai dari peran Presiden Korea sampai Edward Park, mereka adalah spesialis pemeran orang jahat di dalam drama dan film Korea selama beberapa dekade.

Pengalaman dengan ‘Vagabond” inilah yang membuat saya was-was ketika menonton “Private Lives”. Drakor ini sangat dipromosikan oleh Netflix. Begitu masuk ke profil “Parents”, wajah Seo Hyun dan kawan-kawan akan langsung muncul dengan label recommended for you. Setelah browsing informasinya yang minim di internet, saya putuskan untuk mencoba menontonnya minggu lalu. Sampai pekan ini sudah ada total 4 episode yang ditayangkan oleh Netflix. Saya akan memberikan review ditinjau dari tiga faktor yang saya bahas di atas: ide cerita, alur cerita, dan akting pemain.

Dari segi ide cerita, “Private Lives” berkisah tentang seorang gadis, Cha Joo Eun (Seo Hyun, anggota SNSD) yang dilahirkan di tengah keluarga yang berprofesi sebagai penipu. Penipuan yang ayahnya lakukan memiliki beberapa skala. Mulai dari skala kecil seperti berpura-pura menjadi pengemis dengan cacat tubuh untuk mendapatkan uang, sampai skala besar seperti berpura-pura menjadi pendeta yang menggiring orang menginvestasikan uang untuk membeli gedung yang nantinya akan dijadikan gereja. Ibunya juga seorang penipu, yang terkadang mendukung aksi suaminya, atau beraksi sendiri dengan berpura-pura menjadi bankir.

Kedua orang tua Joo Eun selalu bersikeras mereka sedang membuat film dokumenter dimana mereka bertiga adalah aktor utamanya. Di sini saya merasa ada ketidaktepatan penerjemahan dari bahasa Korea ke Inggris. Kok bisa penipuan disamakan dengan film dokumenter? Anyway, kehidupan Joo Eun yang hendak masuk kuliah menjadi kacau ketika ayahnya berpartner dengan penipu yang lebih kawakan: Jeong Bok Gi dan Kim Jae Wook. Mereka melarikan diri dengan uang yang sudah dikumpulkan dari jemaat gereja, dan menjadikan ayah Joo Eun kambing hitam yang kemudian dipenjara.

Joo Eun yang ingin membalas dendam kemudian belajar menipu dari Han Soo, partner ibunya di “bank” yang mereka dirikan, dengan cara menjalani berbagai profesi. Ditampilkan bagaimana ia memiliki sebuah ruang ganti dengan cermin besar, lampu sorot, deretan wig, pakaian, dan aksesoris lain untuk menunjang aksinya. Joo Eun diceritakan sudah menjalani berbagai profesi mulai dari petugas lalu lintas sampai pilot.

Di sini saya mau ketawa. Pilot? Apakah drakor ini terinspirasi oleh film “Catch Me If You Can” (2002, Leonardo DiCaprio)? Karakter yang diperankan oleh DiCaprio digambarkan menipu dengan mengaku sebagai pekerja dari berbagai macam profesi, namun dalam rentang waktu lama, lho. Lah ini Joo Eun berganti kostum layaknya dia sebagai bagian dari SNSD (Girls’ Generation) yang sedang menyanyikan lagu “Genie” (videonya bisa disaksikan di bawah). Katanya con artist, tapi kok ya kelihatan tidak serius?

Hasil “pembelajaran” Joo Eun membuat dia bertemu lagi dengan Jeong Bok Gi di sebuah usaha Multi-Level Marketing, dimana Bok Gi menjadi CEO dan Joo Eun menjadi salah satu member-nya. Saya kira di sini alur ceritanya mulai menarik. Ada tujuan besar: balas dendam. Ada trik dan konflik untuk mencapai tujuan besar itu. Mentor Joo Eun, Han Soo, merasa tindakan Joo Eun terlalu beresiko karena bagaimanapun juga Bok Gi adalah penipu ulung. Sebaliknya, Joo Eun merasa kalau tidak sekarang, kapan lagi dia bisa menjatuhkan orang yang membuat ayahnya dipenjara sendirian.

Singkat cerita, rencana Joo Eun ketahuan. Seorang manager yang Joo Eun manfaatkan untuk mendekati Bok Gi pada akhirnya dibunuh oleh anak buah Bok Gi dan disamarkan sebagai bunuh diri. Joo Eun dipenjara dan ketika keluar Han Soo kembali mengajaknya membuat “film dokumenter”. Joo Eun yang awalnya tidak mau akhirnya bersedia karena ia masih mencari Bok Gi yang kabarnya melarikan diri ke luar negeri lagi. Dia pun ditugaskan untuk berpura-pura menjadi pegawai kantoran selama satu bulan, lengkap dengan meja kerja dan ID card sendiri.

Di tengah penipuannya itu, Joo Eun malah jatuh cinta pada seorang pria yang bekerja di perusahaan yang berhubungan dengan kantor yang dia susupi. Jong Hwan (Ko Gyung Pyo) tampak seperti pria biasa yang memiliki karir bagus. Ia bahkan memperkenalkan Joo Eun kepada kedua orang tuanya. Joo Eun yang kasmaran, lupa untuk mengecek latar belakang Jong Hwan, dan mengiyakan saja ketika diajak menikah. Ia bahkan setuju ikut membayar deposit sebuah apartemen sebagai rumah baru mereka.

Alur ceritanya mulai terangkat ketika pada akhir episode ke-2 terungkap bahwa orang tua, kerabat, teman, semua orang yang diundang ke pernikahan Joo Eun dan Jung Hwan adalah para aktor yang dibayar. Untuk kasus Joo Eun, saya bisa maklum, toh dia seorang con artist yang sedang berusaha membuat image dia hanyalah orang biasa. Bahwa Jong Hwan sendiri, yang tidak muncul pada hari pernikahan mereka, adalah juga con artist adalah sebuah plot twist yang tidak biasa dan cukup membuat saya penasaran menantikan episode selanjutnya.

Episode ke-3 berfokus pada Jong Hwan, tentang perjalanannya sehingga bisa menjadi seorang detektif dengan nickname Spy Lee dan keterlibatannya dengan sebuah organisasi yang ikut campur dalam kehidupan pribadi orang per orang (hence the name of this drakor). Jadi tidak ada peristiwa kebetulan di dunia ini; semuanya direkayasa tergantung siapa yang menyuruh dan dengan biaya berapa. Dan mentor Jong Hwan pada waktu dia memulai berkarir di dunia hitam adalah tak lain dan tak bukan: Kim Jae Wook alias Edward Kim.

Dunia drakor yang sempit. Semuanya berkutat di satu RT, hehehe.

Di episode ini saya teringat satu lagi film Hollywood berjudul “Eagle Eye” (2008, Shia LaBeouf), yang mengisahkan sebuah super komputer yang memonitor kehidupan manusia di seluruh dunia (Aria) memberontak terhadap manusia yang mengoperasikannya dan merencakan sebuah kudeta kekuasaan presiden Amerika Serikat. Alih-alih sebuah super komputer, “Private Lives” memperkenalkan sebuah organisasi yang berkedok di balik perusahaan telekomunikasi “GK”, yang mengatur kehidupan orang-orang dengan memanfaatkan data pribadi mereka, Masih belum jelas siapa pemimpin, cara kerja, dan tujuan akhir dari organisasi rahasia yang kelihatan keren ini.

Episode ke-4 berfokus pada usaha Joo Eun menemukan Jong Hwan, dan pertemuannya kembali dengan Bok Gi yang ternyata adalah klien Spy Lee. Jong Hwan yang menghilang ditemukan mati hangus terbakar di dalam sebuah mobil yang terjun ke jurang. Joo Eun yakin bahwa mayat itu bukan Jong Hwan, namun dia tetap mengkremasinya. Polisi mulai mencurigai keterlibatan Joo Eun di dalam kasus menghilang dan meninggalnya Jong Hwan. Di tengah upaya penyelidikan, polisi yang bertugas di kasus ini sempat-sempatnya flirting dengan Joo Eun dengan mengajaknya minum kopi berdua saja dan meninggalkan partnernya.

What? Ga salah nih? Alur macam apa ini? Ditambah dengan kisah sekretaris Jong Hwan yang comel dan memendam rasa pada bosnya tapi berciuman dengan cowok lain, alur drakor ini sudah sangat berantakan. Padahal baru episode ke-4 lho, ga kebayang gimana harus tahan menonton sampai episode 16.

Singkat cerita (lagi), Joo Eun kemudian meretas komputer Jong Hwan untuk menemukan suaminya itu (Jong Hwan tidak muncul pada hari pernikahan, tapi Joo Eun masih dapat mendaftarkan pernikahan mereka di catatan sipil sehingga mereka adalah suami istri. Wow, bisa gitu? Penonton skeptis). Sampailah ia pada kesimpulan ia harus masuk ke rumah Kim Jae Wook, alias Edward Kim, yang sedang dicari oleh Jong Hwan atas perintah Bok Gi.

Joo Eun tidak menyia-nyiakan waktu, pada suatu siang bolong pergilah ia ke rumah Jae Wook dengan setelan training hitam dan cropped jaket yang menunjukkan perut dan punggungnya yang mulus. Dengan baju seperti itu, ia merambat melalui bagian bawah pagar tinggi untuk masuk ke pekarangan rumah Jae Wook. Bukankah baju warna hitam pada siang terang-benderang malah semakin keciri (kalau kata orang Sunda mah)? Dan aduh kebayang gores-gores di punggung dan perut Seo Hyun, eh Joo Eun, setelah merangkak melewati tanah, daun, batu, dan semacamnya.

Ini mau menyelinap masuk atau mau fashion show sih? Serius deh, saya emosi sekali. Joo Eun yang berganti profesi dengan cara berganti-ganti wig dan kostum, sedari awal terlihat tidak meyakinkan. Bukan hanya dari properti yang dia pakai, tapi dia tidak memiliki aura yakin bahwa dia itu sedang menjadi con artist.

Lah kalau aktrisnya sendiri kelihatan ga pede, gimana mau meyakinkan penonton, ya? Ujung-ujungnya penonton semacam saya  akan mencap: drakor ini tidak serius. Tidak serius membawakan cerita yang bisa menghibur dan berfaedah sedikit saja bagi penonton. Dan drakor yang selama 4 episode ini sudah lemah di alur cerita, semakin ingin saya tinggalkan karena akting pemainnya yang aduhai seperti sibuk sendiri di antara mereka tanpa berusaha connect dengan penonton.

Pada akhir episode ke-4 digambarkan Jong Hwan menghadang anjing imut yang diutus oleh Jae Wook untuk mengejar Joo Eun. Tidak ada preview untuk episode ke-5, jadi ijinkan saya membuat prediksi asal-asalan. Jong Hwan ternyata memalsukan kematiannya untuk membalas dendam pada organisasi rahasia tempat dia bekerja. Dia juga akan menggandeng Joo Eun dan membantunya mengejar Bok Gi. Mereka berdua akan diburu oleh organisasi dan mereka akan berhadap-hadapan dengan Jae Wook dan Bok Gi sebagai musuh bebuyutan.

Jika kamu masih berminat menontonnya, mangga silakan. Buat saya Seo Hyun sudah paling cocok sebagai penyanyi dengan sedikit akting di dalam MV lagu-lagunya. Sebagai aktris, kemampuan akting Seo Hyun sangat payah. Boro-boro bisa merasakan emosinya, yang ada saya emosi karena dia tidak kelihatan sungguh-sungguh menampilkan seorang con artist yang ditipu oleh mantan calon suaminya, yang tiba-tiba menjadi janda dan terlilit hutang, yang gemes karena kok bisa ketemu lagi dengan musuh bebuyutan. Niat mau balas dendam ‘kan jadi ga fokeus karena lagi kesel sama Jong Hwan. Ya apa sih alur macem gini? KZL.

Dari segi ide cerita, “Private Lives” mungkin menjanjikan. Mungkin lho, ya. Dari segi alur cerita, terlalu banyak lubang dan scene yang tidak penting terhadap perkembangan keseluruhan cerita. Sebagai contoh, scene sekretaris Jong Hwan yang make out dengan rekan kerjanya sungguh tidak berguna terhadap usaha memperkenalkan latar belakang karakter Jong Hwan secara menyeluruh kepada penonton. Dan semakin lama menonton semakin terlihat kelemahan utama drakor ini ada di akting para pemainnya.

Ketiga hal di atas adalah sebuah paket komplit untuk drakor yang tidak sukses. Pada akhirnya bagi saya kesan pertama “Private Lives” adalah sebuah parade wig dan pusar dari Seo Hyun, yang entah kenapa selalu berbaju minimalis tanpa peduli scene jenis apa di setiap episode. Jangan-jangan stylist untuk drama ini juga bekerja untuk girlband BlackPink ….

Selamat mempertimbangkan mau mencoba drakor ini atau tidak. Kalau boleh, saya mau menyarankan drakor-drakor yang teman saya tulis di sini untuk menemani sisa waktu kamu tahun ini. Kaja!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

8 Komentar

  1. Jadi kesimpulannya nonton pusar dan parade wig aja ya, hehehe. Apakah mungkin setelah episode 4 drama ini akan membaik? siapa tau mereka simpan bagian terbaik di akhir?

    1. Mungkin secara alur membaik, tapi aku ragu aktingnya bakal berubah drastis dari ep 5 sampai 16. Serius jelek banget, kakkk … udh speechless deh, lebih parah dari hjm 🤣🤣🤣

      1. hahaa berarti ga usah coba2 ditonton kecuali lagi pengen ngomel2 ya, hahaha

  2. AKu coba episode pertama juga…tapi sungguh kecewa.
    Karena vibesnya bikin gak nyaman sehabis nonton.
    Hanya penasaran sama Ko Gyung Pyo….

    1. Yekan yekan. Dan ternyata kgp pun ga istimewa amat. Sh sih yg ancur menurutku 😶

  3. […] Tulisan ini dan ini adalah kontribusi saya sejauh ini untuk drakorclass.com. Silakan singgah jika berkenan. […]

  4. […] tulisan saya dua bulan lalu tentang review drama “Private Lives” (2020), saya memaparkan tentang tiga faktor yang merupakan resep dari sebuah drama yang sukses. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: