Review Film Korea “Forgotten”

review film forgotten

Film Korea berjudul “Forgotten” pertama kali saya tonton tahun ini di platform Netflix setelah pandemi menerpa Indonesia. Dari awalnya iseng karena saya menyukai aktor utamanya, Kang Ha Neul, lama-lama saya sangat fokus menonton film keluaran tahun 2017 dan berdurasi 109 menit ini. Plotnya yang tight dan menyisakan sedikit ruang untuk bernapas membuat jantung saya ikut berlari seiring usaha Jin Seok (Kang Ha Neul) menemukan jawaban atas keganjilan-keganjilan yang terjadi di sekitarnya.

Film ini adalah kiprah terakhir Kang Ha Neul sebelum mengikuti wajib militer pada tahun 2017 yang berakhir pada tahun 2019. Drama comeback-nya setelah wamil adalah “When the Camellia Blooms” (2019) yang dia bintangi bersama Gong Hyo Jin. Drama bergenre campuran romantic, comedy, dan thriller ini diganjar berbagai penghargaan di berbagai event termasuk di dalamnya event bergengsi “Grand Prize for Television” dan “56th Baeksang Arts Awards”.

Dengarkan Podcast Film Forgotten (2017)

Adegan Pembuka

Film ini dibuka dengan adegan seorang pria muda bernama Jin Seok (Kang Ha Neul) yang berada di dalam mobil bersama kedua orang tua dan kakak laki-lakinya. Mereka dalam perjalanan menuju rumah baru mereka. Tidak disebutkan dari kota mana mereka berasal dan mengapa mereka memutuskan untuk pindah rumah. Ketika mereka sampai di rumah baru mereka, truk pengangkut barang-barang mereka sudah tiba duluan di sana.

Jin Seok menempati kamar di lantai dua bersama kakak laki-lakinya yang bernama Yoo Seok (Kim Mu Yeol). Yoo Seok diceritakan bekerja sebagai seorang profesor di perguruan tinggi dengan kaki yang pincang sebelah karena sebuah kecelakaan lalu lintas. Jin Seok sendiri diceritakan sedang kembali belajar untuk tes masuk ke perguruan tinggi setelah berkali-kali gagal lulus.

Jin Seok ditunjukkan sangat menghormati kakaknya yang terlihat sebagai anak kesayangan dan anak yang bisa diandalkan di keluarga itu. Sedari awal Jin Seok ditunjukkan menggunakan obat penenang untuk mengatasi kecemasan dan depresi yang dideritanya, yang ditenggarai akibat ketidaksuksesannya dalam aspek pendidikan. Sebuah hal yang kontras sekali dengan kakaknya yang seorang profesor.

Sejak tiba di lantai dua, Jin Seok merasakan sebuah keganjilan. Di ujung tangga ke lantai dua ada sebuah lorong dengan dua kamar di kedua ujungnya. Kamar di sebelah kanan dari ujung tangga adalah kamar yang ditempati oleh Jin Seook dan kakaknya, sedangkan kamar di sebelah kiri dari ujung tangga adalah kamar yang diisi oleh barang-barang pribadi milik penghuni rumah sebelum mereka. Kata ayah dari Jin Seok, mereka tidak boleh mengintip atau masuk ke dalam kamar itu sebelum pemilik barang-barang itu datang sendiri.  

Ketika sedang membereskan barang-barang mereka yang dipindahkan dari truk ke dalam kamar tidur, salah seorang kuli angkut iseng menanyakan umur Jin Seok. Dengan polos Jin Seok berkata bahwa umurnya adalah 21 tahun. Ketika si bapak kuli hendak berkomentar lebih lanjut, Yoo Seok datang dan memutus pembicaraan mereka.

Di situlah saya merasakan akan ada sesuatu yang aneh yang berkaitan dengan umur Jin Seok. Sebab kuli angkut mana yang kira-kira iseng menanyakan usia penghuni rumah di saat dia seharusnya sibuk mengangkati barang, ya ‘kan?

Setelah semua urusan beres-beres barang selesai, malam harinya mereka makan malam bersama di rumah baru. Ketika sedang makan, Jin Seok tiba-tiba mendengar suara keras datang dari lantai dua. Bunyinya sangat jelas terdengar dari atas meja makan yang sedang mereka duduki. Anehnya, kedua orang tua dan kakaknya tidak ada yang mendengar suara serupa. Ketika hendak masuk ke dalam kamarnya untuk tidur, Jin Seok menoleh ke kamar yang berada di sebelah kiri ujung tangga. Rasa penasaran dikalahkan oleh rasa takutnya, sehingga dia memutuskan untuk pergi tidur saja.  

Kejutan Demi Kejutan

Pada tengah malam Jin Seok terbangun karena suara-suara aneh yang dia pikir datang dari ujung lorong. Jin Seok melihat kakaknya masih tidur dengan pulas. Dengan takut-takut dia keluar dari kamarnya dan menuju kamar yang katanya diisi oleh barang-barang milik penghuni rumah yang lama. Suara aneh semakin keras terdengar dari dalam dan ketika Jin Seok membuka pintu ke ruangan itu, yang ternyata tidak dikunci, dia melihat sebuah piano dan noda darah di mana-mana.

Jin Seok pun bangun dengan bersimbah keringat dingin. Kakaknya, Yoo Seok, ikut terbangun dan berkata bahwa adiknya itu mungkin hanya bermimpi buruk karena belum terbiasa dengan rumah baru mereka. Yoo Seok menyarankan Jin Seok untuk minum obatnya secara teratur. Halusinasi dan mimpi buruk Jin Seok mungkin karena dia lupa meminum obatnya sehingga pikirannya kacau.  

Suatu malam Jin Seok melihat Yoo Seok berjalan keluar rumah untuk mencari udara segar. Yoo Seok mengijinkan Jin Seok berjalan bersamanya di bawah guyuran hujan. Tiba-tiba ada sebuah mobil van berhenti di samping mereka dan beberapa orang pria menarik paksa Yoo Seok masuk ke dalamnya. Jin Seok yang terlalu syok tidak mampu berbuat apa-apa kecuali menghapal nomor plat mobil yang menculik Yoo Seok.

Setelah itu rumah mereka dipenuhi dengan kecemasan dan penantian akan nasib Yoo Seok. Berhari-hari ditunggu tidak ada juga kabar dari para penculik Yoo Seok mengenai uang tebusan yang mereka minta, atau mengenai kondisi Yoo Seok sendiri. Jin Seok semakin frustrasi ketika polisi mengatakan nomor plat mobil yang dia lihat adalah nomor palsu dan polisi tidak memiliki informasi apa pun akan keberadaan Yoo Seok.

Setelah sembilan belas hari, Yoo Seok seketika kembali dengan keadaan sehat dan kehilangan ingatan akan peristiwa penculikan yang menimpanya. Jin Seok yang awalnya gembira karena kakaknya ternyata baik-baik saja, mulai menaruh curiga karena dia mendapati kakaknya pincang pada kaki yang berbeda. Yoo Seok mengabaikan kecurigaaan Jin Seok dan kembali menyalahkan adiknya yang lupa meminum obat dengan teratur sehingga ingatannya tercampur-aduk.

Suatu malam Jin Seok menyadari Yoo Seok tidak berada di dalam kamar tidur mereka. Diam-diam dia mengikuti Yoo Seok yang berjalan di luar rumah dengan santai dan tanpa kaki yang pincang! Rasa penasaran membuatnya mengikuti Yoo Seok sampai ke sebuah area pertokoan dimana dia melihat petugas polisi yang katanya menangani kasus penculikan kakaknya itu. Ternyata para petugas polisi itu gadungan dan bekerja untuk Yoo Seok. Jin Seok yang dilanda rasa kalut dan bingung karena ketahuan membuntuti kakaknya akhirnya dikejar oleh Yoo Seok dan kaki-tangannya.

Pada satu titik Jin Seok berhasil melarikan diri dari rumah yang dia tempati bersama keluarga yang ternyata bukan keluarganya. Sebelumnya dia sempat mencuri dengar percakapan telepon antara “ibu” dan “ayah” yang dia kenal selama ini. Wanita yang mengaku sebagai ibunya itu mengeluhkan Jin Seok yang mulai menaruh curiga pada kondisi keluarga mereka. Wanita itu, dan psikiater yang berperan sebagai ayah Jin Seok, disewa oleh Yoo Seok untuk membuka ingatan Jin Seok yang terkunci akibat trauma yang dialaminya.

Di kantor polisi yang didatangi Jin Seok setelah melarikan diri, polisi dengan bingung menanyakan umurnya. Jin Seok tetap menjawab bahwa dia berumur 21 tahun. Ketika polisi menanyakan tahun berapa sekarang ini menurut apa yang Jin Seok tahu, Jin Seok menjawab bahwa sekarang adalah tahun 1997 padahal sebenarnya dia sedang berada pada tahun 2017.

Jin Seok yang memandang wajahnya pada cermin di kantor polisi perlahan-lahan mulai terbuka matanya. Dia mulai melihat perubahan garis wajah dan kemunculan keriput pada wajah yang dia yakini berusia 21 tahun padahal sebenarnya berusia 41 tahun.

Konflik dan Resolusi

Konflik pada film ini berkisar pada dua pertanyaan utama:

  1. Siapakah orang-orang yang mengaku keluarga dari Jin Seok?
  2. Memori apakah yang mereka coba gali kembali dari Jin Seok sampai mereka harus menghipnotisnya untuk meyakinkan dirinya adalah seorang pemuda berusia 21 tahun yang hidup pada tahun 1997?

Setelah Jin Seok menyadari usianya yang sebenarnya di kantor polisi itu, alur cerita pada film melompat ke peristiwa 20 tahun lalu ketika Jin Seok sedang berkendara di dalam sebuah mobil sedan dengan keluarga aslinya. Kebahagiaan yang mereka rasakan di hari yang cerah itu hancur seketika karena mobil mereka terlibat sebuah kecelakaan lalu lintas. Kedua orang tua Jin Seok meninggal di tempat, sedangkan kakaknya terluka parah dan mengalami koma.

Tahun 1997 adalah tahun di mana krisis ekonomi mengguncang seluruh dunia, tidak terkecuali Korea Selatan. Jin Seok yang ketika itu masih duduk di bangku SMA sangat kebingungan mencari biaya untuk operasi kakaknya supaya bisa tetap hidup. Dia berusaha mencari pekerjaan dan meminjam uang, tapi tidak ada seorang pun yang sudi membantunya, seorang anak yatim piatu yang malang yang juga harus menanggung kakaknya yang sedang sekarat.

Hingga suatu saat Jin Seok mendapat sebuah pesan dari seorang misterius yang mencari orang untuk melakukan pembunuhan. Orang misterius itu meminta Jin Seok untuk membunuh seorang istri, tapi dia tidak boleh menyakiti dua orang anak yang berada di dalam rumah yang sama. Jin Seok yang desperate kemudian menyanggupi order itu. Dengan segala kenaifan dan keamatirannya, dia berhasil masuk ke dalam rumah yang menjadi target pembunuhan.

Perlu diingat bahwa Jin Seok ini diceritakan berumur 21 tahun. Dia seorang muda dari latar belakang yang baik-baik saja dan tiba-tiba harus menghadapi kerasnya kehidupan. Dalam hati saya maklum dengan kesalahan demi kesalahan yang dia buat saat mengeksekusi order yang dia terima.

Awalnya dia mau meninggalkan rumah itu dan tidak jadi membunuh karena suara hatinya tidak mengijinkannya untuk melakukan perbuatan keji. Apa daya si istri yang menjadi targetnya memergoki Jin Seok dan tak sengaja dibunuh oleh tangan Jin Seok. Tak disangka pula, anak perempuan tertua dari keluarga itu menjadi saksi Jin Seok membunuh ibunya dan berteriak ketakutan. Jin Seok yang sangat terkejut akhirnya membunuhnya juga. Ruangan yang berisi piano kini bersimbah darah dan dipenuhi oleh dua orang mayat ibu dan anak.

Dalam keadaan panik dan dikejar rasa bersalah, Jin Seok masuk ke dalam kamar utama di rumah itu dan mendapati satu orang anak lagi, seorang anak laki-laki yang masih kecil, sedang menunggu ibunya kembali ke kamar. Dia mendengar semua keributan di lantai dua, tapi dia tidak berani untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jin Seok menyuruhnya untuk berhitung dan berjanji semuanya akan baik-baik saja ketika anak itu mencapai angka seratus.

Jin Seok ditangkap polisi, tapi kehilangan ingatan karena pembunuhan yang dia lakukan membuatnya sangat trauma. Orang yang berpura-pura menjadi Yoo Seok sebenarnya adalah anak laki-laki kecil dari 20 tahun lalu yang tidak dibunuh oleh Jin Seok. Dia menyewa seorang psikiater dan seorang aktris untuk berpura-pura menjadi orang tua Jin Seok, dan dia sendiri berperan sebagai kakak dari Jin Seok. Mereka mengondisikan diri sebagai keluarga yang bahagia dengan rumah yang di-setting sama dengan rumah tempat Jin Seok melakukan pembunuhan 10 tahun lalu lengkap dengan ruangan dengan piano yang dipenuhi darah, supaya memori Jin Seok yang terkunci bisa terbuka kembali.

Orang yang berperan sebagai Yoo Seok ingin tahu apakah memang ayahnya yang memerintahkan pembunuhan itu untuk mendapatkan uang pertanggungan asuransi dari ibunya. Jin Seok yang telah mendapatkan memorinya kembali, sekarang ingat bahwa orang yang memerintahkan pembunuhan adalah benar ayah dari anak laki-laki kecil yang dia temui 20 tahun lalu.

Pria yang memerintahkan pembunuhan lewat pesan di ruang chat itu adalah dokter dari kakak Jin Seok. Dokter itu berjanji akan membantu operasi kakaknya jika Jin Seok mau membantunya membunuh istrinya untuk mendapatkan uang pertanggungan asuransinya, demi menanggulangi kebangkrutan yang dideritanya akibat krisis ekonomi.

Jin Seok yang terlalu syok dengan kejahatan yang dia lakukan menjadi sangat marah pada dokter itu dan mendorongnya dari atap gedung rumah sakit. Dokter itu pada akhirnya mati. Kakaknya pun tidak jadi dioperasi dan akhirnya meninggal dunia. Total sudah empat kematian yang dia sebabkan, tak heran jiwa anak muda berusia 21 tahun itu sangat tergoncang.

Anak laki-laki kecil itu menjadi yatim-piatu dalam sekejap dan semua harta benda yang ditinggalkan oleh kedua orang tuanya diambil oleh kerabatnya. Dia sendiri dicampakkan ke sebuah panti asuhan dan harus menjalani hidup yang keras. Hanya dendam dan tekad untuk mencari dalang atas kemalangan yang menimpa keluarganyalah yang membuatnya bisa menjalani hari demi hari.

Jin Seok menyadari betul arti kenangan indah akan keluarga yang sudah meninggal. Tak heran ketika diinterogasi oleh polisi, memorinya tertinggal pada kenangan terakhir yang dia alami dengan keluarga aslinya, yaitu pada saat mereka berwisata ke sebuah danau sebelum terlibat dalam kecelakaan lalu lintas yang fatal.

Hari ketika peristiwa naas itu terjadi, hari yang mengakibatkan buntutan peristiwa Jin Seok yang disewa untuk membunuh dan malah melenyapkan tiga nyawa bukannya hanya satu sesuai dengan perintah, adalah hari dimana memorinya terkunci. Orang yang berperan sebagai Yoo Seok mati-matian ingin menggali memori itu dan menemukan jawaban atas pertanyaan yang menghantuinya selama 20 tahun.

Jin Seok tidak ingin anak kecil itu yang sekarang sudah menjadi seorang dewasa mengetahui kebenaran yang sesungguhnya. Dia tidak ingin anak itu jadi membenci ayahnya yang juga sudah menemui ajal. Jadi dengan penuh kesadaran Jin Seok berbohong bahwa dia adalah dalang dari semua pembunuhan yang terjadi, dan dia mau bertanggung jawab sepenuhnya atas kejahatan yang dia perbuat.

Pemuda itu tidak memercayai Jin Seok, tapi dia juga tidak memiliki tujuan hidup lagi setelah mendengar pengakuan Jin Seok. Dengan tragis dia mengakhiri hidupnya dengan cara melompat dari jendela rumah sakit tempat Jin Seok dirawat. Jin Seok yang terlalu terpukul karena hidupnya sudah sangat hancur juga memutuskan untuk membunuh dirinya dengan memakai jarum beracun yang ditinggalkan oleh pemuda yang berpura-pura menjadi Yoo Seok.

Sebuah akhir yang tragis untuk dua buah keluarga. Sebuah tragedi yang diawali oleh sebuah kecelakaan lalu lintas pada suatu hari yang cerah.

Pelajaran Moral

Tidak ada pelajaran moral yang bisa diambil dari film ini, sungguh tidak ada. Bahwa tidak semua hal seindah apa yang terlihat, memang benar. Namun jika semua hal yang tampak di permukaan menyimpan rahasia mendalam seperti yang terjadi pada Jin Seok dan orang-orang sekitarnya, maka saya pikir hidup ini akan menyedihkan sekali.

Satu kebohongan pasti akan diikuti oleh kebohongan yang lain. Satu pembunuhan dengan mudah akan diikuti oleh pembunuhan berikutnya. Akting Kang Ha Neul di sini sangat prima dalam menunjukkan keterkejutannya karena menghadapi dirinya yang ternyata bisa bertindak bengis.

Ketika Kang Ha Neul menatap cermin di kantor polisi dan mendapati dirinya yang berusia jauh lebih tua dari yang seharusnya, saya melihat seolah-olah saat itu juga cermin dirinya retak dan dia bisa melihat dengan jelas siapa sebenarnya sosok yang terpantul pada cermin. Bukan seorang anak muda baik-baik, tapi seorang pembunuh paruh-baya yang terlalu pengecut untuk mengakui kejahatannya.

Sebagai sebuah film, “Forgotten” memberikan closure yang baik. Sebagai seorang penonton saya sendiri tidak bisa membayangkan Jin Seok memaafkan dirinya sendiri, atau anak kecil yang sudah menjadi dewasa itu memaafkan Jin Seok. Akhir yang tragis adalah akhir yang paling tepat untuk semua tokoh di dalam kisah ini.

Pada akhir film ditunjukkan bahwa Jin Seok dan si anak laki-laki kecil sempat bersinggungan di danau sebelum keluarga Jin Seok mengalami kecelakaan lalu lintas. Formula ini selalu dipakai di dalam drama Korea (drakor) mengenai takdir dan kebetulan, dimana Seoul sering sekali digambarkan sebagai satu RT dimana orang-orangnya beredar di situ saja dan ketemu orang yang itu-itu lagi. Bagian inilah yang menurut saya menjadi satu-satunya kekurangan film ini.

Jadi, apakah kamu berminat menontonnya? Podcast untuk review film “Forgotten” ini juga tersedia di akun Drakor Class di Spotify dan platform podcast lainnya..

Selamat menikmati!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

5 Komentar

  1. Jadi ketagihan liat akting Kang Ha-neul akutu…
    Sungguh karakter yang dimainkan selalu beragam.

    1. iya kan …. Kang Ha Neul itu aktor yang versatile, ga takut coba role baru. semoga dia main film lain dalam waktu dekat 😀

  2. Halo admin
    apakah di blog ini bisa guest post ?
    dan nanti dalam post tersebut diselipkan link menuju blog kami ?
    blog kami tentang download film
    jika berkenan harap berkabar ya ke email : (dihapus), untuk berdiskusi lebih lanjut
    terimakasih

    1. Halo, kami menerima guest post tulisan tentang drama dan film Korea, tapi maaf, kami tidak mendukung download ilegal. Kalau download yang sifatnya legal dan jelas sih tidak ada masalah.

      Kami menghargai jerih payah industri hiburan Korea dengan menghimbau pembaca menonton dari sumber legal.

  3. […] yang berperan di drama ini juga sudah menjadi aktor terkenal saat ini. Sebut saja IU, Lee Joon Gi, Kang Haneul, Ji Soo (the sad boy) bahkan ada Nam Do San eh maksudnya Nam Joo Hyuk juga […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: