Reportase IG Live Episode 5: Drakor dan Proses Kreatif Penulis Cerpen

Poster IG Live Eps 5

Belajarlah sampai ke Negeri Cina, kata orang. Tidak usah jauh-jauh ke Cina kalau bisa belajar pada tetangga, kata saya. Well, sebenarnya bukan tetangga sih karena definisi tetangga dibarengi dengan kedekatan lokasi fisik. Proses belajar saya ketika itu adalah pada teman-teman sekelas di Drakor Class. Pada tanggal 4 Desember 2020 saya berkesempatan menjadi host untuk acara IG Live mingguan Drakor Class yang mengangkat tema “Drakor dan Proses Kreatif Penulis Cerpen”, dan saya mewawancarai dua orang penulis cerpen yang karya-karyanya sangat saya apresiasi.

Bagaimana diskusi dan keseruan yang kami hadirkan selama IG Live yang berdurasi lebih dari dua jam tersebut? Simak terus, yuk!

Narasumber Saya

Tak kenal maka tak sayang. Sebelum saya memaparkan isi obrolan kami yang sangat berfaedah pada malam hari itu, mari saya perkenalkan dulu kedua narasumber saya.

Asri Lestari dengan nama pena Asri, adalah seorang ibu rumah tangga berusia 33 tahun. Saat ini kesibukan utamanya adalah menjadi ibu rumah tangga. Asri berdomisili di Batam dan gemar menulis cerpen di blognya www.asrilestari.com. Saya berkenalan dengan Asri di komunitas Kelas Literasi Ibu Profesional (KLIP) angkatan kedua tahun 2020.

Beberapa saat setelah saya memberikan workshop menulis kreatif, saya mendapat kiriman sebuah cerpen dari Asri. Walaupun kata orang sebuah cerpen janganlah panjang-panjang (namanya juga cerpen ya, bro, harus pendek, kalau ceritanya panjang judulnya jadi cerpan), namun saya sangat menikmati cerpen Asri yang sangat mendetail dari sisi karakter dan setting.

Cerpen Asri dibuka dengan adegan seorang istri yang menunggu suaminya datang ke sebuah restoran untuk merayakan hari ulang tahun pernikahan mereka. Sang suami akhirnya datang dan si tokoh istri memerhatikan suaminya yang berjalan dengan kaki pincang. Cerita kemudian berjalan mundur mengikuti jalan pikiran si tokoh istri yang mengenang bagaimana mereka berdua bisa berkenalan dan akhirnya memutuskan untuk membina rumah tangga.

Sedari awal saya sangat menikmati setting tempat yang Asri ciptakan di sebuah kota di Bali. Pada suatu masa saya sering bolak-balik ke tempat itu untuk urusan pekerjaan. Cerpen itu kemudian memaparkan lebih lanjut rangkaian peristiwa yang menyebabkan kaki si tokoh suami pincang, dan kaitannya dengan anak laki-laki mereka yang hendak melangsungkan pernikahan. Cerpen diakhiri dengan sangat manis, sangat cocok dengan mood saya ketika itu yang membaca sambil ditemani rintik hujan.

iglive ke-5 drakorclass
Saya dan Asri sebagai narasumber pertama

Narasumber saya yang kedua adalah Nadya Amalia yang tenar dengan nama penanya Neng Nad (ini nama yang saya kasih, bangga dikit boleh, dong, hehehe) di blog www.drakorclass.com. Nadya berusia 31 tahun dan berdomisili di Bandung. Sama seperti Asri, Nadya juga adalah ibu dari satu orang anak laki-laki. Cerpen-cerpennya yang sangat menarik dari segi ide dan eksekusi cerita dapat dibaca di aboutcoffeeandme.blogspot.com.

Saya, Asri, dan Nadya berkenalan di grup besar Whatsapp dari komunitas KLIP. Setiap hari banyak teman dari berbagai latar belakang menyetor tulisannya. Saya gemar sekali membaca karya-karya fiksi (baik cerpen maupun cerbung) yang ditulis oleh teman-teman di KLIP, termasuk cerpen karya Asri dan Nadya. Saya mulai mengenal Nadya lebih dekat setelah terjadi diskusi yang intens berkaitan dengan sebuah cerpen yang dia tulis.

Cerpen itu memiliki tiga tema krusial yang dijalin dengan begitu ciamik sehingga menghasilkan plot yang tight. Dibuka dengan scene sepasang suami-istri yang menjalani Long Distance Marriage antara Pulau Jawa dan Kalimantan, cerita bergulir cepat ke tingkah si tokoh suami yang mencurigakan di mata istrinya. Diceritakan melalui sudut pandang orang pertama yaitu si istri, kalimat demi kalimat yang terjalin membuat saya ikut merasakan roller coaster emosinya yang mendapati suaminya berselingkuh dengan pria lain (catet) dan terjerumus narkoba.

iglive ke-5 drakorclass
Saya dan Neng Nad sebagai narasumber kedua

Pada IG Live Episode 5 tersebut saya mendapat kesempatan berharga untuk belajar tentang proses kreatif mereka sebagai penulis cerpen. Kapan mereka mulai menulis, bagaimana perjalanan mereka di dunia kepenulisan, bagaimana mereka mendapat ide, karya-karya yang sudah dihasilkan, dan harapan untuk masa depan, hanya sedikit dari banyak sekali hal yang kami perbincangkan pada malam itu.

Semua Dimulai dari Rasa Suka

Kalau kita menyukai sesuatu, kita akan rela menjabani apa pun untuk hal itu, bukan? Pemikiran seperti itu terbersit di benak saya seusai mewawancara dua orang teman sekelas saya ini. Mereka suka menulis, eh enggak ding, mereka cinta menulis. Kecintaan mereka itu bisa saya rasakan, tersampaikan dengan sangat baik lewat nada suara, ekspresi wajah, dan cara mereka menjelaskan secara terperinci hal-hal yang mereka harus lalui untuk menghasilkan sebuah tulisan.

Menulis itu tidak mudah, Chingudeul! Tidak sama sekali. Menstrukturkan pikiran dalam bentuk fiksi, menyematkan nilai-nilai bermanfaat ke dalamnya sehingga bisa berguna sekaligus menghibur orang lain, adalah sebuah usaha yang membutuhkan tekad, komitmen, dan latihan terus-menerus. Akan tetapi, dengan passion, dengan rasa cinta, menulis akan terasa (jauh) lebih mudah.

Asri mulai menulis fiksi sejak SMP dan semua diawali dengan puisi. Wah, saya tidak menyangka lho bahwa Asri ini seorang penyair. Dia bercerita bahwa waktu SMP dia sudah menulis beramai-ramai dengan teman-temannya dalam sebuah buku. Yang ditulis adalah karya fiksi yang berdiri sendiri-sendiri, tidak harus saling berhubungan. Yang saya pelajari di sini adalah, menemukan komunitas yang mencintai hal yang sama sejak usia dini akan membantu kita mengubah passion menjadi skill dan pada akhirnya menjadi mastery.

Kesibukan menempuh pendidikan, bekerja, dan berkeluarga membuat Asri sempat vakum menulis selama beberapa waktu. Sejak tahun lalu Asri bertekad untuk kembali menekuni dunia kepenulisan. Pertama-tama dia tergabung dengan Kelas Menulis Online yang berisi orang-orang yang suka menulis dan tak ragu memberi masukan kepada penulis lainnya. Melihat semangat teman-temannya yang menggebu-gebu di kelas itu, Asri pun terdorong untuk kembali mengaktifkan blognya yang sempat terabaikan.

Selain cerpen, Asri sering sekali menulis tentang traveling. Saya sudah tidak bisa menghitung berapa pantai di Pulau Batam yang dia review, termasuk juga tempat-tempat wisata di kota lain. Artikelnya selalu dihiasi foto-foto cantik yang diambil dari sudut menarik. Menurut hemat saya, tak heran Asri menempuh pendidikan teknik arsitektur; dia memiliki sense untuk menangkap keindahan. Hal ini terbukti dari desain menarik setiap post di akun Instagram Drakor Class yang dia tangani setiap hari.  

Bagaimana dengan Nadya? Nadya mulai menulis pada usia yang sangat muda, sekitar kelas 3 SD. Ketika itu dia menciptakan tokoh yang bernama “Nini dan Nana”. Kesibukan menempuh pendidikan, bekerja, dan berumah tangga juga sempat membuat Nadya vakum menulis. Keterlibatannya dengan Institut Ibu Profesional (IIP) dan KLIP yang saya jelaskan di atas mendorong Nadya untuk kembali menekuni kecintaannya itu. Walaupun sudah lama saya tidak membaca cerpen karyanya, namun tulisan-tulisan Nadya dapat dengan rutin dijumpai di blog www.drakorclass.com

Bagaimana Menggali Ide?

Ide bisa datang kapan saja dan dari mana saja. Asri sering sekali merasa terinspirasi ketika dia sedang mengerjakan sesuatu. Dia bisa berkhayal sambil mencuci piring, membersihkan rumah, atau ketika berada di dalam perjalanan ke suatu tempat. Begitu terinspirasi, Asri akan berusaha untuk langsung menuliskan ide yang dia dapat pada sebuah buku tulis. Setelah itu dia akan menunggu waktu yang tepat untuk mengeksekusi ide itu menjadi sebuah cerpen.

Nadya juga gemar mencatat ide-ide yang membuat dia terinspirasi setiap harinya. Penulis fiksi di mana-mana memang memiliki sebuah kebiasaan yang sulit dimengerti orang lain. Ada sebuah momen “kesambet” yang harus segera ditangkap sebelum dia lenyap tak berbekas. Jika Asri menggunakan buku tulis, maka Nadya lebih nyaman mencatat di fitur notes di handphone-nya. Ketika sedang kehabisan ide dan waktu menyetor buat KLIP sudah mepet (alias jadi Cinderella), Nadya akan mengulik catatannya dan memilih ide untuk dieksekusi dari situ.

Apa Hubungannya dengan Drakor?

Asri dan Nadya gemar menonton drama Korea (drakor) untuk membantu proses mendapatkan ide. Memang seorang penulis fiksi akan lebih lancar menulis jika dia mendapat asupan membaca dan menonton yang berlimpah. Dari drakor mereka bisa terinspirasi untuk membuat cerpen alternate ending dari sebuah drakor.

Asri bercerita mengenai ending dari drakor “Memories of the Alhambra” (2020) yang dia ingin ubah dengan tokoh Jin Woo (Hyun Bin) bisa bersatu dengan kekasihnya walaupun kakinya harus pincang. Satu hal yang Asri tidak sukai adalah membaca atau menonton cerita yang mudah ditebak. Oleh karena itu, ketika menulis cerpen, Asri selalu berusaha untuk menciptakan plot yang membuat pembaca penasaran dan mengikuti sampai akhir.

Trik ini dia terapkan pada fanfiction untuk alternate ending drakor “Extraordinary You” (2019). Walaupun banyak penonton yang terpapar second lead syndrome termasuk dirinya sendiri, untuk fanfiction drakor ini Asri tetap memasangkan first male lead dengan first female lead. Katanya, kalau second male lead jadian dengan first female lead itu sudah biasa karena semua orang mengharapkan hal tersebut. Sebuah pemikiran yang tidak biasa, bukan?

Nadya juga pernah membuat fanfiction untuk drakor “Playful Kiss” (2010). Nadya ingin tokoh yang diperankan oleh Kim Hyun Joong tetap menikah dengan pacarnya, tapiiii mereka akan memiliki sepasang anak kembar yang masing-masing mewarisi total sifat dari ayah dan ibunya. Nadya ingin salah satu dari anak kembar itu super pintar seperti ayahnya, dan anak yang lain super bodoh seperti ibunya.

Pada generasi pertama konflik terjadi di antara sepasang suami-istri dan mereka masih bisa survive sampai akhirnya menikah. Kalau konflik itu terjadi di antara sepasang saudara kandung, bayangkan kehebohan demi kehebohan yang terjadi di dalam kehidupan si kembar. Saya ngakak waktu Nadya menceritakan versinya karena sungguh saya tidak terpikirkan drakor ini akan memiliki alternate ending senyeleneh itu.

Bagaimana Menstrukturkan Cerpen?

Buat Asri, perjalanan menulis cerpen dimulai dari karakter dan setting. Buat Nadya, perjalanan itu mencakup karakter, setting, dan tujuan.

Asri terbuka pada semua kemungkinan ending, apakah closed ataupun open untuk semua cerpennya. Pada cerpennya yang berjudul “Kupu-Kupu Biru”, tentang seorang wanita yang mengaku bukan manusia dan akan berubah menjadi kupu-kupu biru ketika meninggal dunia, Asri mengeksplorasi kemungkinan si wanita itu memang benar manusia atau bukan manusia dari sudut pandang pria yang menangisi kematiannya.

Sebagai sesama penulis cerpen, saya sangat memahami pilihan Asri ini yang sangat berguna jika ide ceritanya akan dikembangkan menjadi cerpen lain. Saya sempat mengemukakan kemungkinan si tokoh pria sebagai unreliable narrator, narator yang tidak bisa dipercaya, karena pembaca tidak tahu pasti apakah kisah tentang wanita yang berubah menjadi kupu-kupu biru itu adalah sebuah kenyataan atau hanya khayalannya semata.

Bagi Nadya, ending yang pasti itu adalah sebuah keharusan. Sedari awal Nadya akan membuat peta perjalanan dari A menuju ke D misalnya, dengan A adalah bagian awal dari cerpen dan D adalah tujuan penceritaan. B dan C adalah alur cerita yang katanya bisa diisi dengan apa saja, bebas merdeka, asalkan tetap terlihat logis.

Untuk memastikan kelogisan alurnya, Nadya terbiasa memeriksa tulisannya setiap selesai menulis empat paragraf. Saya melihat pilihan Nadya sebagai persiapan untuk menulis sesuatu yang lebih kompleks daripada cerpen, yaitu novel. Penulisan novel memang harus menetapkan pakem A-B-C-D sedari awal. Jangan sampai penulis sudah ngalor-ngidul terbang ke mana-mana dari titik A dan lupa mendarat di D karena sibuk bermain-main dengan poin B dan C.

Apa Harapan Bagi Masa Depan?

Setelah bergabung dalam proyek buku antologi Kelas Menulis Online pada awal tahun ini, Asri bertekad menyusun buku kumpulan cerpen sendiri dalam waktu dekat. Jika memungkinkan, dalam artian pandemi ini sudah berlalu,maka dia juga ingin mengikuti lagi workshop-workshop menulis terutama yang diselenggarakan secara offline. Asri juga berharap untuk lebih memperkaya diksinya supaya dia memiliki pilihan kata yang lebih banyak untuk mengutarakan maksudnya dalam alur cerpen.

Nadya berharap dia akan memiliki disiplin, alokasi waktu, dan konsistensi menulis yang lebih baik. Sebagai istri dan ibu, manajemen waktu dan energi di antara tanggung jawab pada keluarga dan menekuni hobi yang dicintai memang merupakan sebuah tantangan tersendiri. Akan tetapi, tidak ada yang mustahil jika diusahakan. Sepanjang tahun 2020 ini saja Nadya sudah terlibat di dalam penulisan 5 buku antologi (daebak!). Saya menyemangati persiapan dirinya untuk meluncurkan buku solo suatu hari nanti.

Penutup

Poin-poin di atas adalah sedikit dari banyak sekali hasil pembelajaran saya pada episode kelima tersebut. Walaupun koneksi internet di rumah saya sempat mati segan, hidup malu-maluin yang menyebabkan IG Live kami terpotong menjadi empat bagian dan saya harus online di teras rumah ditemani nyamuk-nyamuk yang bersliweran di bawah taburan bintang, saya bersyukur proses kreatif Asri dan Neng Nad dapat terekam dengan baik dan semoga dapat menginspirasi para penikmat drakor dan literasi, terutama para penulis cerpen.

Rekaman Instagram Live bisa dilihat di Youtube Drakor Class juga

Jjika kalian penasaran dengan ilmu lengkapnya, maka kalian bisa menonton IG Live Episode 5 ini di IGTV atau Youtube Drakor Class. Selamat menonton, ya, dan ikuti terus IG Live Drakor Class yang pastinya akan mengangkat tema-tema segar pada tahun 2021 dan seterusnya (amin!).

Selamat menyongsong tahun baru!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

2 Komentar

  1. Wow, reportase yang padat dan ringkas, sangat mewakili proses LIVE penuh drama waktu itu, daebak!! Gomawo Kak Rijo, senang bisa “se-frame” bareng. Luvvv 💙

  2. Aya nu kirang teu, neng? Maapkeun, reportasenya kelamaan, untung kelar sebelum tahun ini ganti, hehe. Love 😄

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: