Menilik Autisme dalam Karya Sinematik Korea

Chingudeul, annyeonghaseyo. Semoga sahabat semua dalam keadaan sehat, berbahagia, dan berlimpah kasih sayang, ya.

Pada hari Valentine yang diperingati oleh banyak orang di dunia (kalau mau kirim cokelat ke saya boleh, lho, hahaha), saya ingin membahas sedikit mengenai autisme yang sering menjadi bagian penting dalam kisah yang dibawakan oleh karya sinematik Korea, baik itu drama ataupun film.

Apa Itu Autisme?

Kalau kamu membaca tulisan ini selain di drakorclass.com, berarti tulisan ini telah dicuri.

Autisme adalah sebuah disorder dalam perkembangan syaraf yang mengakibatkan seseorang mengalami kesulitan berkomunikasi dan berinteraksi secara sosial. Orang tua seorang anak autis biasanya mengenali tanda-tanda yang tidak biasa di dalam tiga tahun pertama hidup anak mereka, berupa kesulitan untuk berelasi, melakukan sesuatu secara berulang-ulang, bahkan cenderung obsesif terhadap sebuah hal.

Yang diduga sebagai penyebab autisme mencakup berbagai aspek yang kompleks: genetik, malnutrisi ibu dan janin selama pembuahan dan kehamilan, sampai kondisi lingkungan seperti polusi udara, keberadaan alkohol, pestisida, dan unsur berbahaya lainnya.

Deteksi awal autisme yang disertai dengan terapi perilaku dan pendidikan khusus bagi penyandang autisme, dan dukungan bagi keluarga yang mengasuh mereka, dapat membantu anak autis untuk hidup dan survive di tengah-tengah masyarakat.

Namun demikian, sampai sekarang belum ada penelitian yang membuktikan penyebab pasti autisme dan apakah autisme dapat disembuhkan.

Autisme dalam Karya Sinematik

Autisme dalam karya sinematik, dalam hal ini dari Korea Selatan, dimasukkan ke dalam cerita berupa sikap dan perilaku dari karakter ceritanya (karakter utama maupun pendukung).

Meskipun penyandang autisme di dunia nyata menunjukkan perilaku khas akibat sindrom yang mereka miliki, tapi tentunya tidak mudah bagi aktor yang bukan penyandang autisme untuk menunjukkan kepada penonton seluk-beluk kehidupan seorang penyandang autisme dan bagaimana cara mereka memandang dunia dari kacamata mereka yang unik.

Menariknya, para aktor yang memerankan karakter penyandang autisme banyak yang diganjar penghargaan karena kemampuan mereka mengkomunikasikan kondisi unik ini kepada penonton. Mereka berhasil menangkap minat dan simpati penonton untuk mengikuti kisah yang dituturkan sampai akhir.

Kali ini saya akan membahas dua film dan satu drama Korea dengan tokoh utama dan pendukung seorang penyandang autisme. Kehadiran mereka tetap membekas di hati penonton bahkan bertahun-tahun setelah drama/filmnya selesai ditayangkan.

1. Film “Keys to The Heart” (2018)

Lee Byung Hyun dan Park Jung Min sebagai pemeran utama.

Film yang “asli, bukan genre saya banget” ini sukses membuat saya jatuh hati pada kemampuan akting Lee Byung Hyun dan Han Ji Min. Saya merekomendasikan film ini pada teman saya, Neng Nad, yang sudah menuliskan review lengkapnya di sini.

Alkisah Jo Ha (Lee Byung Hyun) dan Jin Tae (Park Jung Min) adalah saudara satu ibu, beda ayah yang bertemu kembali ketika mereka berdua sudah dewasa. Jo Ha adalah seorang petinju payah yang tidak punya uang dan tempat tinggal. Jin Tae adalah seorang remaja penyandang autis yang jenius di dalam bidang musik, tidak bersekolah, dan diurus sepenuhnya oleh ibunya, In Sook (Youn Yuh Jung), yang bekerja di rumah makan.

Keberadaan Lee Byung Hyun, Youn Yuh Jung, dan Han Ji Min (sebagai karakter pendukung) di dalam film ini adalah jaminan mutu. Akan tetapi, karakter yang diperankan oleh Park Jung Min adalah roda yang menggerakkan seluruh jalan cerita. Aktingnya di sini sangat jauh berbeda dengan di film “Time to Hunt” (2020) yang dibintangi oleh Lee Je Hoon dan Choi Woo Shik.

Sebagai penyandang autisme, hidup Jin Tae hanya berfokus pada dua hal: bermain piano mengikuti idolanya Ga Yool (Han Ji Min) dan bermain video game. Dia masih bisa makan dengan normal, dan bepergian ke luar rumah (gereja dan pusat komunitas) hanya karena ketabahan dan kesabaran ibunya yang mengurusnya sehari-hari.

Bagaimana jika ibu yang begitu diandalkan oleh Jin Tae sedang sekarat dan meregang nyawa?

Bagaimana Jo Ha menanggapi tanggung jawab baru sebagai penjaga adiknya yang autis?

Apalagi mengurus Jin Tae tidaklah mudah. Jin Tae takut pada Jo Ha sampai-sampai memakai helm pelindung ketika mereka bermain video game bersama. Jin Tae juga tidak bisa mengendalikan kebutuhannya untuk pergi ke toilet. Dia bisa buang air di sembarang tempat dan membuat Jo Ha kelabakan.

Di dalam film/drama, perilaku yang tidak biasa dari seorang penyandang autisme mungkin bisa dimengerti dan dimaklumi selama durasi 2 sampai 16 jam. Akan tetapi, bagaimana dengan kekuatan dan kesehatan mental keluarga yang harus mengurus mengurus seorang penyandang autisme setiap hari di dalam kehidupan nyata?

Hal ini menjadi pertanyaan lanjutan yang mengendap di benak saya.

2. Film “Innocence” (2020)

Shin Hye Sun dan Bae Jong Ok yang kembali berpasangan sebagai nenek ratu dan cucu menantu di dalam drama kocak “Mr Queen”

Film yang meraih banyak nominasi di ajang bergengsi “57th Baeksang Arts Awards” dan “41st Blue Dragon Film Awards” ini menampilkan sisi lain dari aktris Shin Hye Sun yang terkenal berani mengambil berbagai jenis peran. Review lengkapnya bisa kamu baca di sini.

Yang menjadi penyandang autisme adalah karakter Jung Soo (Hong Kyung), adik dari Jung In (Shin Hye Sun). Jung In meninggalkan kampung halaman dan kehidupan lamanya karena dia tidak tahan dengan ayah tirinya yang abusif, ibunya yang lemah dan tidak bisa melawan, dan adiknya yang cacat mental.

Jung In kembali ke kampung halamannya sebagai pengacara pembela ibunya yang dituduh membunuh ayahnya. Dia bertemu kembali dengan Jung Soo, seorang pemuda dengan mental anak kecil, yang tidak bisa mempertahankan dirinya sendiri dan yang kata-katanya cenderung tidak bisa dipercaya.

Berbeda dengan karakter Jo Ha yang menghabiskan hari-harinya untuk mengurus Jin Tae dengan telaten, Jung In memilih meninggalkan dan mengabaikan Jung Soo dari dulu. Bahkan ketika mereka sudah bertemu lagi, dia tidak berusaha menjalin komunikasi selain seputar kasus yang menimpa ibu mereka.

Kasihan. Padahal Jung Soo memegang kunci untuk kasus pembunuhan itu, tapi keadaannya sebagai penyandang autisme membuat pihak jaksa penuntut meragukan kredibilitasnya. Ketidakmampuannya untuk merunut peristiwa dan berkomunikasi juga membuatnya tidak dianggap.

Bagaimana penyandang autisme yang sudah mencapai usia dewasa seperti Jung Soo dapat hidup mandiri di tengah-tengah masyarakat yang tidak mengerti kebutuhan mereka?

Ini menjadi pertanyaan berikutnya bagi saya pribadi.

Akting Hong Kyung sebagai aktor pendatang baru bisa juga kamu saksikan di drama “Lovers of the Red Sky”. Di sini Hong Kyung berperan sebagai salah satu sahabat Cheon Gi yang judes, tapi selalu logis dan benar.

3. Drama “It’s Okay to Not Be Okay” (2020)

Drama yang ditayangkan pada pertengahan tahun 2020, tahun pertama ketika bumi dilanda pandemi Covid-19, ini adalah drama yang membahas banyak hal kompleks selain genre drama-komedi-romantis yang digadang-gadangnya.

Kiri ke Kanan: Park Gyu Young – Oh Jung Se – Seo Yea Ji – Kim Soo Hyun.
Empat orang aktor yang berakting totalitas untuk menghadirkan kisah yang mengajak kita menilik ke dalam diri sendiri dan mendiskusikan hal-hal yang enggan kita bicarakan.

Jika Jo Ha masih dalam tahap awal mengurus adiknya, Jin Tae, yang autis, dan Jung In memilih meninggalkan Jung Soo yang “tidak normal” di kampung, maka karakter Gang Tae (Kim Soo Hyun) memilih menjadi penjaga dan mengambil peran sebagai orang tua bagi kakaknya, Sang Tae, yang merupakan seorang penyandang autisme, apalagi setelah mereka menjadi yatim piatu.

Drama ini lengkap, mulai dari soal pengasuhan, inner child, mengatasi trauma, sibling rivalry, sampai teka-teki pembunuhan, semuanya disajikan dengan rapi dan bergulir episode demi episode. Review lengkapnya bisa kamu baca di sini, ya.

Jikalau karakter Jin Tae dan Jung Soo tidak tahu bagaimana berfungsi di masyarakat, tidak mengindahkan orang-orang selain ibu kandung sebagai pengasuh utama mereka, maka karakter Sang Tae di sini berusaha untuk mandiri dan tidak merepotkan Gang Tae.

Yang membuat saya kagum, dan ini saya temui sendiri pada diri anak tetangga yang juga autis, adalah kemampuan mereka untuk berkata sangat jujur dan melihat sebuah hal dari perspektif lain yang mungkin tidak biasa. Hal ini mampu digambarkan dengan begitu riil oleh aktor Oh Jung Se.

Tak heran Oh Jung Se memenangkan Best Supporting Actor – Television pada “57th Baeksang Arts Awards” pada tahun 2021. Drakor Class sendiri sudah mengupas tuntas sepak terjang aktor yang satu ini dalam tiga tulisan: ini, ini, dan ini.

Inklusi karakter penyandang autisme di dalam drama seperti di dalam drama ini bisa menggiring penonton untuk lebih memahami, memaklumi, dan tidak menghakimi para penyandang autisme, dan juga lebih berempati pada keluarga dan caretaker mereka.

Pesan moralnya juga lebih tersampaikan melalui drama daripada melalui film. Mungkin karena durasi sebuah drama yang bisa 8 kali lipat durasi sebuah film, sehingga pencerita bisa menunjukkan banyak hal tanpa diburu-buru oleh durasi tayang.

Penutup

Karya sinematik Korea lagi-lagi menunjukkan keunggulannya dalam mengetengahkan isu sosial yang ada di tengah-tengah kita.

Ketika penyebab autisme belum diketahui dengan pasti, wajarkah kita menuding siapa yang seharusnya disalahkan jika seorang anak menjadi penyandang autisme?

Ketika kita mengenal orang tua yang harus mengasuh anak yang autis sambil mengkhawatirkan masa tua mereka dan masa depan anak, dapatkah kita lebih berempati pada kehidupan dan kesulitan mereka sehari-hari?

Film/drama mana yang kamu sudah tonton? Satu hal yang menjadi pelajaran bagi saya dari semua karya sinematik itu adalah:

Kasih yang sejati tidak mengenal kondisi normal/tidak normal, terbatas/tidak terbatas. Kasih yang sejati hanya menjangkau dengan tulus dan tanpa syarat.

Selamat mengingat dan mengaplikasikan kembali kasih sayang itu.

PS: Drama favorit saya dengan karakter utama penyandang autisme adalah “Move to Heaven” (2020). Drama ini menjadi inspirasi inklusi para penyandang autisme yang sudah menjadi orang dewasa di tengah masyarakat.


Comments

2 tanggapan untuk “Menilik Autisme dalam Karya Sinematik Korea”

  1. Avatar Dian

    Wah iya, lumayan banyak ya karya sinematik Korea yg mengangkat autisme
    Aku baru nonton yang It’s okay to not be okay aja

  2. […] episode kali ini, kak Poppi Natama dari RPK FM bersama dua classmate Drakor Class, Cho Sweeney dan Cho Rijo, membahas tentang drama ongoing berjudul “Forecasting Love and Weather”. Sudah pada nonton […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

Artikel Terbaru

aktor bae suzy Cha Eun Woo comedy drakor drakor 2020 drakor 2021 DrakorClass DRAKOR CLASS IG LIVE Drakorclass on Podcast drama drama2020 drama 2020 Drama 2021 drama 2022 drama2022 drama 2023 drama lama DRAMA SAGEUK drama terbaru fantasi film korea Hwang in yeop hyun bin IG live ji sung kim seon ho kmovie Kpop lee seung gi moon ga young nam joo hyuk netflix Podcast rekomendasi review film romance sageuk Song kang SON YE JIN start up Thriller True Beauty webtoon yoon park

%d blogger menyukai ini: