Review: Keys to The Heart (2018), Komedi Mengandung Bawang

Annyeong haseyo, Chingu-deul!

Aigoo, aigoo, aigoo! Terkena racun dari salah satu classmate Drakorclass, Kak Cho-Rijo, sukses bikin Sabtu pagi yang super cerah menjadi berurai air mata. Huaaa. Penasaran?

Singkat cerita, saya terlalu asyik berbincang dengan beliau di Jumat malam hingga sampai pada obrolan tentang drakor. Ting! Otak saya otomatis teringat akan janji menulis kedua saya di bulan ini. Cek kalender, dan tepat sekali, Sabtu ini tulisan harus rilis. Lebih keren lagi karena saya belum ada bahan untuk tulisan. *panik*

Curhat sedikit, akhirnya Kak Cho-Rijo memberi rekomendasi satu film yang, katanya, bagus. Alasan awal yang disebut sudap pasti tentang male dan female lead-nya. Adanya Lee Byung Hun oppa dan Han Ji Min eonni menjadi nilai lebih bagi Kak Cho-Rijo tentang merekomendasikannya film ini.

Picture by matamata

Yap, benar sekali! Saya, lagi-lagi, akan membahas tentang film sekali beres. Apa pun jenisnya, yang penting tetap dekat dengan oppa dan eonni, no problem, bukan? Hihi.

Sekilas tentang film “Keys to The Heart”

Lirik judul, kesannya agak-agak sweet gitu, ya? Walau pun diklaim oleh beberapa situs bahwa film ini masuk ke dalam genre KOMEDI, tapi unsur manis dari judul pun lumayan kuat di alurnya, loh! Hayo, makin penasaran?

Picture by Pinterest

Film berdurasi 120 menit yang ditulis sekaligus disutradarai oleh Choi Sung Hyun ini memang sudah cukup lawas. Rilis di tahun 2018, tak membuat film ini usang menurut saya. Masih sangat cocok untuk dinikmati oleh pecinta drama Korea. Trust me!

Saya menonton Keys to The Heart ini di aplikasi Netflix. Namun, pendistribusi sebenarnya adalah CJ Entertainment. Jadi, film ini bukan original Netflix, ya, Chingu!

Sedikit bocoran tentang alur cerita “Keys to The Heart”

Meski pun mengusung genre drama komedi, tetapi saya lebih menitikberatkan cerita di film ini ke arah brotherhood. Walau pun memiliki beberapa latar di awal, tetap saja inti dari semuanya adalah mengenai hubungan kakak beradik berbeda ayah dari Jo Ha (oleh Lee Byung Hun) dengan Jin Tae (oleh Park Jung Min).

Latar belakang kehidupan Jo Ha

Keduanya memang tidak pernah hidup bersama sebelumnya. Ibu mereka, yaitu In Sook (oleh Youn Yuh Jung), meninggalkan Jo Ha kecil karena terus-terusan menjadi bahan siksaan suaminya (ayah dari Jo Ha). In Sook saat itu meninggalkan Jo Ha karena memang awalnya ia berniat bunuh diri. Namun, seseorang yang (sepertinya) menjadi suami barunya dan juga ayah dari Jin Tae, datang menyelamatkannya.

Takdir mempertemukan kembali In Sook dengan Jo Ha dewasa. Jo Ha yang hidup bermodalkan kemampuan tinjunya saya, dengan kehidupan yang kurang baik dan mapan, akhirnya menerima tawaran ibunya untuk tinggal bersama. Tentu saja bersama adik tirinya, Tae Jin.

Latar belakang kehidupan Tae Jin

Tae Jin merupakan seorang pengidap autisme (film dengan karakter pengidap autisme lain, It’s Okay to Not Be Okay). Hidupnya hanya seputar kebutuhan pribadi, bermain game, dan bermain piano. Namun, Tae Jin memang diberi kejeniusan dalam piano tersebut. Ia yang tak pernah mengikuti pendidikan formal tentang piano, hanya belajar melalui YouTube, tetapi bisa dengan cepat mengikuti alunan-alunan yang ia dengar dengan sempurna.

Pertemuan kembali mereka bukan tanpa drama. Jo Ha masih menyimpan rasa marah ke ibunya, karena merasa dibuang di usia muda. Ibunya pun terus diliputi perasaan bersalah yang tak tahu harus bagaimana lagi cara menebusnya.

Kisah dramatis setelah pertemuan kembali

Keadaan semakin dramatis, saat ternyata diketahui bahwa In Sook, ibu dari Jo Ha dan Tae Jin, divonis suatu penyakit serius (mungkin kanker, karena ujung-ujungnya kepala Sang Ibu botak #sotoy). Namun, In Sook hanya memberitahu Jo Ha bahwa dia harus pergi ke Busan karena kedai tempat dia bekerja membuka cabang baru di sana. In Sook akan meninggalkan rumah selama sebulan, dan ia meminta tolong Jo Ha untuk mengurus rumah dan juga adiknya, Tae Jin, yang akan mengikuti kompetisi piano.

Picture by tribunnewswiki

Mana tahu bahwa ternyata In Sook justru rawat inap untuk pengobatan penyakitnya. Dan selama absennya ia di rumah, banyak hal terjadi pada kehidupan Jo Ha dan Tae Jin. Bertemunya Tae Jin dengan idola pianonya, Ga Yool (oleh Han Ji Min), keinginan Jo Ha untuk pergi ke Kanada dan meninggalkan semua kepenatan hidup di Korea Selatan, sibling’s love yang semakin terbangun walau tetap berbumbu rasa cemburu dan iri, hingga terkuaknya penyakit In Sook oleh Jo Ha yang membuat ia semakin membenci ayahnya.

Kesan dari film “Keys to The Heart”

Penuh haru dan air mata! Benar-benar film komedi yang aneh, karena cukup intens membuat saya nangis Bombay. Bagaimana Jo Ha menghadapi trauma masa kecilnya, juga perjuangan Sang Ibu untuk tetap menjadi yang terbaik bagi kedua anaknya, tak lupa juga posisi dan mental Tae Jin yang seperti di sudutkan oleh keadaan, sangat apik dikemas oleh kemampuan bermain peran pada lakonnya.

Belum lagi kisah sampingan yang juga di angkat di film ini. Seperti cerita Ga Yool yang pernah menjadi pianis kawakan, tiba-tiba hengkang dari dunia piano setelah kecelakaan yang dialaminya. Kecelakaan tersebut hingga mengharuskan ia bergantung pada kaki buatan pasca amputasi. Namun, Tae Jin lah yang membuatnya kembali berani bermain-main dengan tuts dan nada.

Semuanya membuat saya ingin merekomedasikan film ini kepada Chingu-deul. Timing yang tepat, weekend cerah, dengan tontonan penyentuh jiwa. SELAMAT MENONTON!

Satu pemikiran pada “Review: Keys to The Heart (2018), Komedi Mengandung Bawang”

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: