Belajar Self-Acceptance dari “It’s Okay to Not Be Okay” (IOTNBO)

Poster it's okay to not be okay

Trauma harus dihadapi, bukan dirangkul dari belakang.

Ko Moon young-
IOTNBO
Picture by Pinterest

Annyeonghaseyo, Chingudeul!!!

Wow, wow, wow, some hours to go for 2021. Gimana? Masih belum bisa berdamai dengan inner child­-nya? Ugh, come on! How could you deal well with your present life when the past keeps messing you up? Tuh, Si Cantik Ko Moon-young aja bilang, “Trauma harus dihadapi, bukan dirangkul dari belakang.” Okey? Paham, kan? Kalau masih bingung, yuk nonton dulu drakor Saikojiman Gwaenchanha atau lebih familiar dengan It’s Okay to Not Be Okay (IOTNBO).

Haish, kok malah disuruh nonton drakor, sih?

Karena drama satu ini sangat relate dengan jiwa-jiwa yang butuh untuk berdamai dengan diri sendiri, baik berkenaan dengan masa lalu, masa sekarang, ataupun yang saling bersinggungan di antara keduanya.

HAH? How come??!!

Here they are the actual reasons, Chingu!

DRAMA KOREA YANG KENTAL DENGAN ISU KESEHATAN MENTAL

IOTNBO secara genre sendiri mungkin bisa dikategorikan ke dalam romansa komedi. Kisah percintaan antara Moon Gang-tae (Kim So-hyun), seorang perawat di sebuah rumah sakit jiwa, dengan Ko Moon-young (Seo Yea-ji), penulis buku anak yang nyentrik dan terkenal dengan karya-karyanya yang dark, dialurkan secara apik dengan inserting beberapa case kejiwaan yang terdapat di masyarakat.

IOTNBO
Picture by Pinterest

Si Kakak: Moon Sang-tae

Tokoh utama drama ini, Moon Gang-tae memiliki seorang kakak yang diceritakan mengidap autisme, yaitu Moon Sang-tae (Oh Jung-se). Dari satu latar hubungan kakak-beradik ini saja sudah sarat dengan problematika psikologis. Bagaimana seorang autisme mampu bertahan di lingkungannya, cara ia bertahan menghadapi berbagai macam label dan bully-an karena kondisinya, juga pergolakan internal di dalam keluarganya sendiri.

autisme dalam IOTNBO
Picture by Pinterest

Si Adik: Moon Gang-tae

Sang Adik, Gang-tae, mendapatkan perlakuan tidak adil dari ibunya yang “membebankan” kehidupan Sang-tae padanya. Bahkan, hingga terlontar kalimat : “Kau dilahirkan olehku untuk mengurus kakakmu!” Wuuu, apa kabar psikis anak kecil dicecar dengan perkataan seperti itu? Sudah tentu merobek batinnya, kan? Nah, robeknya batin seorang Gang-tae ini yang meninggalkan negative inner child yang terbawa hingga kehidupan dewasanya kelak. Bukan membenci, tetapi ada rasa tidak terima yang berusaha dikubur dalam-dalam. Namun, waktu tetap berjalan, bukan? Yang tertimbun akan membuncah jika saatnya tiba.

bromance di IOTNBO
Picture by Kaskus

Si Penulis Buku Anak: Ko Moon-young

Adalah Ko Moon-young. Penulis buku anak yang cantiknya enggak ada akhlak, tapi sedikit creepy. Kurang menyeramkan gimana coba? Moon-young kecil suka sekali membunuh kumpulan kupu-kupu. Hey, bok!! Kupu-kupu, cuy! Bukan nyamuk atau lalat gitu. Kupu-kupu yang cantik aja dia cabik-cabik, apalagi kita? #apasih haha. Namun, sosok Moon-young ini memang digambarkan memiliki sifat antisosial yang menjurus pada gejala psikopat. Tenang saja, Chingu! Sama sekali tidak terkesan thrilling dan bleeding, kok. Menurut saya sih jiwa psikopatnya masih sebatas gejala, tetapi sangat cocok menjadi bumbu untuk drama berdurasi 16 episode tersebut.

Baca juga: Dongeng dalam Drama It’s Okay to Not be Okay

Nah, karakter Moon-young yang antisosial itu pun memiliki sebab-muasal tersendiri, lho. Dan lagi-lagi berkenaan dengan masa lalunya yang dibesarkan dengan pola pengasuhan “tidak biasa”. Penasaran? Baiknya, sih, langsung disimak saja dari episode awal hingga akhir. Dijamin, setelah memulai, akan sulit menyudahi.

OK Hospital

Selain isu kejiwaan yang terkarakterisasi pada tokoh-tokoh utamanya, masih banyak juga isu kejiwaan lain yang diangkat melalui short scene yang diselipkan di setiap episodenya. Tentang para penghuni rumah sakit jiwa di tempat Gang-tae bekerja, OK Hospital, dengan kasusnya masing-masing hingga mengantarkan mereka ke sana. Berikut cara penanganannya yang difasilitasi oleh seorang psikiater senior dan berkedudukan sebagai direktur rumah sakit, Oh Ji-wang (Kim Chang-wan) beserta para krunya. Pendekatan yang digunakan oleh Ji-wang kepada para pasien sangat mutakhir sehingga mampu meluluskan setiap kasus yang ada, termasuk secara tidak langsung pun membantu Gang-tae, Sang-tae, Moon-young, dalam proses berdamai dengan diri sendiri dan masa lalu masing-masing.

Baca di sini kalau mau tahu drakor dengan tema mental illness lainnya

KAMPANYE TENTANG PENERIMAAN DIRI

Sesuai dengan judul dramanya, It’s Okay to Not Be Okay, memiliki pengertian akan penerimaan diri sebagai manusia, yang kadang baik, kadang jahat. Kadang senang, kadang duka. Kadang kuat, kadang lemah. Kadang berani, kadang juga dalam ketakutan. Tak perlu ditutupi, tetapi harus dihadapi.

Seperti Gang-tae yang harus selalu menjadi sosok kuat, bahagia, baik-baik saja, di hadapan kakaknya. Padahal sebenarnya ia sendiri sudah sangat lelah menjadi babysitter Sang-tae. Dia korbankan banyak hal demi kakaknya tersebut hanya karena beban yang ditekankan padanya secara terus-menerus oleh ibunya sejak kecil.

scene IOTNBO
Picture by Pinterest

Begitu juga dengan Sang-tae, yang seolah terlihat damai dengan keadaan. Padahal ia pun memiliki kekesalan dan rasa insecure pada Gang-tae, berdasarkan peristiwa jatuhnya Sang-tae kecil di danau es yang justru malah ditinggalkan oleh Gang-tae, alih-alih menolongnya.

Moon-young yang bersikap dingin dan kasar. Berbuat seenaknya saja bahkan terkadang tak peduli perbuatannya tersebut dapat membahayakan orang lain. Namun, dibalik itu semua, ada ruang kosong dalam dirinya yang menyisakan kesepian dalam kurun waktu yang sangat lama. Kekosongan akan kasih sayang. Suatu lubang yang harus diisi untuk mengembalikan keutuhannya.

stop pretending - ko moon young
Picture by Pinterest

Semua menjalani hidup dalam kepura-puraan. Namun, akhirnya mereka justru seperti saling mengingatkan satu sama lain untuk berani keluar dari sandiwara masing-masing. Hingga mampu membisikkan inner child mereka, “It’s okay to not be okay.” Satu per satu menapaki mimpinya, tanpa terbebani oleh paradigma sekitar.

find your own happiness first
Picture by Pinterest

Jika ingin membuat orang lain bahagia, temukan kebahagiaan dirimu sendiri dulu. Menjadi egois tidak selalu buruk, tak apa kita melakukannya.

-Nam Joo ri-

Neng Nad

Ibu rumah tangga beranak dan bersuami satu, penyuka kopi dan kata. Nonton Korea juga hobinya. Biasnya tergantung mood, tapi lebih prefer yang matang-matang ranum macem Song Seung-heon. Jelas tetep ga nolak juga kalo ada yang imut lewat sejenis Kim Soo-hyun. Intinya, mata dan hati tak cukup kuat melihat yang glowing korban skincare Korea berikut sentuhan oplasnya. Mamak lemah <3

Baca Juga

4 Komentar

  1. […] Belajar Self-Acceptance dari “It’s Okay to Not Be Okay” (IOTNBO) […]

  2. […] Ko Mun Yeong dalam drama It’s Okay Not To Be Okay yang tayang tahun lalu juga digambarkan sebagai penulis dongeng anak yang bermulut apa adanya […]

  3. […] satu keberhasilan IOTNBO ini menurutku adalah dia tidak hanya menjadi suatu tayangan yang menghibur, tetapi sukses mengajak […]

  4. […] Belajar Self-Acceptance dari “It’s Okay to Not Be Okay” (IOTNBO) Salah Satu Artikel di Drakor Class yang Terinspirasi Dari Drama “It’s Okay to Not Be Okay” Poster Drama “It’s Okay to Not Be Okay” (sumber: Kpopchart) […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: