Prestise Piala Oscar Bagi Industri Perfilman Korea Selatan

Youn Yuh-jung and Brad Pitt

Berapa usia industri perfilman di dunia? Untuk menjawab hal ini kita perlu menyelidiki lebih jauh industri perfilman di negara mana yang pertama muncul di muka bumi.

Hollywood yang merupakan simbol industri perfilman di Amerika Serikat adalah industri perfilman tertua di dunia dan juga terbesar dari sisi pendapatan per tahun.

Semua dimulai dari usaha Eadweard Muybridge, seorang fotografer berkebangsaan Inggris, yang mengambil sederetan foto kuda di California dengan menggunakan barisan kamera yang tidak bergerak. Hasil foto kemudian dijajarkan dan memberi kesan motion picture, foto bergerak dari seekor kuda yang sedang berlari.

Eksperimennya mendorong usaha penemuan alat untuk membuat motion picture. Salah seorang inventor yang berhasil adalah Thomas Alva Edison, yang menemukan kinetoscope pada tahun 1889. Kinetoscope menciptakan ilusi pergerakan dengan menjajarkan sederetan gambar yang berkelanjutan di bawah sumber cahaya dengan shutter berkecepatan tinggi.

kinetoscope
Kinetoscope

Setelah kinetoscope ditemukan, orang berlomba-lomba mendirikan kota pertama untuk pembuatan film (Kota Fort Lee, New Jersey) dan studio pertama pembuatan motion picture (Studio Black Maria di West Orange, New Jersey) pada akhir abad ke-19. Pada tahun 1907, Kota Fort Lee resmi digunakan pertama kali untuk membuat film oleh Kalem Company.

Wih, tahun 1907 bangsa Indonesia sedang melakukan apa, ya? Dokter Soetomo, Goenawan Mangoenkoesoemo, dan Soeraji sedang mempersiapkan organisasi pribumi pertama di Hindia Belanda bernama Budi Oetomo yang kemudian diluncurkan pada tanggal 20 Mei 1908. Tanggal ini kemudian diperingati bangsa Indonesia setiap tahun sebagai Hari Kebangkitan Nasional.

Pada tahun yang sama Gojong, raja terakhir dari Dinasti Joseon dan kaisar pertama dari Kekaisaran Korea yang didirikan pada bulan Oktober 1897, dipaksa turun tahta oleh Jepang. Jepang menempatkan Sunjong, anak laki-laki Gojong, sebagai kaisar boneka. Korea pun dimasukkan ke dalam wilayah Kekaisaran Jepang (annexation) mulai tahun 1910 sampai dengan akhir Perang Dunia II tahun 1945.

Walaupun pada rentang waktu yang sama Korea Selatan dan Indonesia sama-sama menghadapi pergulatan politik, Korea yang ketika itu disebut Joseon dan belum dibagi dua menjadi Utara dan Selatan telah lebih dulu memulai industri perfilmannya seiring dengan masuknya pengaruh dari dunia Barat.

Bioskop pertama di Korea dibuka di Dongdaemun, Kota Seoul pada tahun 1903 dan memutar film-film yang diimpor dari Amerika Serikat dan Eropa. Korea membuat feature film-nyayang pertama, antara film “Chunhyang” dan film “Ulha Eui Mengse”, pada rentang waktu 1921-1923.

Pada tanggal 16 Mei 1929, sekitar 6 tahun sejak industri perfilman di Korea menggeliat, Hollywood pertama kali menyelenggarakan Academy Awards. Lima belas piala yang disebut sebagai Piala Oscar dianugerahkan kepada mereka yang dianggap terbaik di antara aktor, aktris, sutradara, dan profesi lain yang membuat film-film sepanjang tahun 1927-1928.

Bayangkan, pada tahun 1929 Hollywood sudah memiliki cukup banyak film untuk didiskusikan dan dikompetisikan. Industrinya sudah up and running, pelaku industrinya banyak, dan iklim usahanya sudah terbentuk dengan baik. Wajar jika Hollywood dan Academy Awards sebagai penghargaan paling bergengsi yang digelar olehnya dianggap sebagai golden standard, standar acuan untuk industri perfilman negara lain supaya mendapat pengakuan internasional.

Hollywood sebagai pemasok film dan memiliki kepentingan terbesar di pasar perfilman mau tidak mau melibatkan negara-negara lain di dunia. Pada pergelaran Academy Awards yang ke-29 pada tahun 1957, Hollywood memperkenalkan kategori Best Foreign Language Film, yang sekarang dikenal sebagai kategori Best International Feature Film. Sebelum tahun 1957, film-film berkualitas yang tidak berbahasa Inggris diganjar dengan Special Achievement Award.

Sejarah industri perfilman antara Amerika Serikat dan Korea yang hanya selisih sekitar tiga dekade membuat Korea Selatan cepat mengejar ketertinggalannya di industri ini. Apalagi kedua negara ini adalah sekutu setelah Perang Dunia II dan Korea terbagi menjadi Korea Utara dan Korea Selatan.

Korea Selatan bukannya tidak punya ajang penghargaan mereka sendiri. Ada Baeksang Arts Awards (pergelarannya yang ke-57 baru diselenggarakan tanggal 13 Mei 2021 lalu) yang menghargai excellence dalam film, televisi, dan teater. Ada juga Blue Dragon Film Awards, penghargaan tahunan untuk film di Korea Selatan yang diselenggarakan oleh Sports Chosun (sister brand dari koran ternama Chosun Ilbo).

Terakhir ada Grand Bell Awards, penghargaan tahunan tertua untuk film di Korea Selatan yang diselenggarakan oleh The Motion Pictures Association of Korea. Reputasi Grand Bell Awards, atau disebut juga Daejong Film Awards, disamakan dengan reputasi Academy Awards di Amerika Serikat. Film-film yang diganjar penghargaan di ketiga ajang ini adalah film-film yang dianggap pantas berlaga secara internasional di ajang Piala Oscar.

Tahun 2020 lalu industri perfilman Korea Selatan menuai pujian dari seluruh dunia. Film berjudul “Parasite” yang disutradarai oleh Bong Joon Ho mendapat empat Piala Oscar di ajang Academy Awards ke-92 untuk kategori Best Picture, Best Original Screenplay, dan Best International Feature Film. Bong Joon Ho sendiri mendapat Piala Oscar untuk kategori Best Director.

poster KMovie Parasite

Film “Parasite” berkisah tentang gap kesejahteraan di antara orang kaya dan orang miskin di kota modern Seoul. Film ini mengangkat tema masalah sosial dengan pendekatan black comedy dan ending yang tragis. Presiden Korea Selatan saat ini, Moon Jae In, secara khusus men-tweet apresiasinya atas kemenangan film “Parasite”.

“Film ini adalah puncak kerja keras semua pelaku industri perfilman selama 100 tahun terakhir di Korea Selatan. Saya sangat bahagia karena film-film Korea Selatan sekarang mampu memulai 100 tahun ke depan berdiri berkompetisi dengan film-film lain di dunia.”

Presiden Korea Selatan, Moon Jae In

Sebelum dinominasikan untuk Piala Oscar, film “Parasite” sudah menuai berbagai penghargaan terlebih dahulu di dalam dan di luar negeri, di antaranya:

  1. 56th Baeksang Arts Awards, 5 Juni 2020

Film “Parasite” memenangkan kategori Best Film, Best New Actor (Park Myung Hoon), dan Grand Prize (Daesang) untuk sutradara Bong Joon Ho.

2. Blue Dragon Film Awards, 21 November 2019

Film “Parasite” memenangkan kategori Best Director, Best Film, Best Actress (Cho Yeo Jeong), Best Supporting Actress (Lee Jung Eun), dan Best Art Direction (Lee Ha Jun).

3. Grand Bell Awards, 3 Juni 2020

Film “Parasite” memenangkan kategori Best Film, Best Director, Best Supporting Actress, Best Screenplay, dan Best Music.

4. Golden Globe Awards (Amerika Serikat), 5 Januari 2020

Film “Parasite” memenangkan kategori Best Foreign Language Film.

Secara global, film “Parasite” mendapat pemasukan kotor sebesar 257 juta USD. Tidak hanya sukses di mancanegara, di Korea Selatan sendiri film ini menduduki peringkat ke-19 sebagai film yang paling banyak dijual tiketnya (10.289.138 tiket) sepanjang sejarah perfilman Korea Selatan, sebagaimana didata oleh Korean Film Council.

Film “Parasite” bukan film pertama yang disertakan untuk berkompetisi di Piala Oscar. Sejak film “My Mother and the Roomer” yang disutradarai Shin Sang Ok pada tahun 1962, ada 32 film Korea Selatan yang turut berlaga di ajang bergengsi Academy Awards.

Prestasi pertama ditorehkan oleh film “Burning” yang masuk ke shortlist, walaupun tidak dinominasikan padaAcademy Awards ke-91 tahun 2019. Pada tahun berikutnya film “Parasite” membuat gebrakan sebagai film pertama yang tidak berbahasa Inggris dan menyabet penghargaan sebagai Best Picture.

poster Kmovie Burning

Tahun ini katanya Korea Selatan juga bersinar di Piala Oscar, dua tahun berturut-turut sejak kemenangan film “Parasite” yang fenomenal. Benarkah demikian?

Film “Minari” yang menjadikan aktris senior Youn Yuh Jung sebagai orang Korea Selatan pertama yang mendapat penghargaan sebagai Best Supporting Actress sebenarnya bukanlah film dari Korea Selatan.

Pada kenyataannya film yang disertakan oleh Korea Selatan untuk Academy Awards ke-93 tahun ini adalah film berjudul “The Man Standing Next” yang dibintangi oleh Lee Byung Hun. Film ini berkisah tentang sepak-terjang para petinggi di Pemerintah Korea Selatan dan di Korean Central Intellligence Agency (KCIA) selama 40 hari sebelum pembunuhan Presiden Park Chung Hee pada tahun 1979.

Poster The Man Standing Next

Film “The Man Standing Next” sudah memenangkan penghargaan sebagai Best Film di ajang 41st Blue Dragon Film Award, dan Best Actor (Lee Byung Hun) dan Best Technical Award (Kim Seo Hee)di ajang Baeksang Arts Awards. Sayangnya film ini tidak masuk ke dalam nominasi untuk kategori mana pun di Piala Oscar.

Film “Minari” ditulis dan disutradarai oleh Lee Isaac Chung, seorang Amerika kelahiran Korea. Film ini diproduksi di Amerika Serikat dan didanai oleh perusahaan Amerika, Plan B Entertainment yang didirikan oleh Brad Pitt. Selain faktor: 1) Youn Yuh Jung dan Han Ye Ri dari Korea Selatan yang berperan sebagai supporting actress dan lead female,dan 2) penggunaan bahasa Korea sebanyak lebih dari 50% dalam film ini, film “Minari” ini seratus persen Amerika.

Poster Kmovie Minari

Film ini adalah biografi lepas dari sutradara “Minari” Lee Isaac Chung yang tumbuh besar di daerah pedesaan di Amerika Serikat. “Minari” bersinar karena mengangkat kisah keluarga imigran Korea Selatan yang berjuang mencari American Dream di daerah pertanian di Arkansas.

Film “Minari” menerima banyak pujian, bahkan diklaim sebagai salah satu film terbaik sepanjang tahun 2020. Ia mendapat enam nominasi pada ajang Academy Awards ke-93 untuk kategori Best Picture, Best Director, Best Original Score, Best Original Screenplay, Best Actor (Steven Yeun), dan Best Supporting Actress (Youn Yuh Jung).

Di tengah tornado isu Black Lives Matter, rasisme terhadap orang Amerika keturunan Asia setelah pandemi Covid-19 merebak, perayaan Asian American and Pacific Islander Heritage Month sepanjang bulan Mei, dan sebagainya, kemenangan film “Minari” menunjukkan komitmen Academy Awards untuk meningkatkan diversity dari film-film yang dikompetisikan.

Sejak tahun 1929 hanya 6.4% dari penerima nominasi Academy Awards yang bukan orang kulit putih. Angka ini naik sedikit menjadi 11.2% sejak tahun 1991. Academy Awards bahkan pernah dicap too white dan diboikot di media sosial dengan hashtag #OscarsSoWhite pada tahun 2016.

Syukurlah hal ini perlahan-lahan berubah, apalagi dengan kemenangan Chloe Zhao yang berkebangsaan Cina, sebagai wanita Asia pertama yang meraih Piala Oscar untuk kategori Best Director. Film “Nomadland” yang dia sutradarai juga memenangkan kategori Best Picture dan Best Actress untuk Frances McDormand.

Benar-benar dua tahun yang memuaskan untuk para pelaku industri perfilman yang berkebangsaan Asia.

Menurut saya pribadi, ajang Academy Awards ini sangat paradoks. Sebagai perhelatan yang katanya ingin lebih diverse, merangkul semua jenis karya dari segala bangsa, etnis, dan budaya, sungguh aneh jika setiap penghargaan yang diberikan sering ditambahi dengan embel-embel seperti berikut:

first Korean actress (Youn Yuh Jung)

first Asian woman, first woman of color, second woman to ever win Best Director award (Chloe Zhao)

first all Asian ensemble (film “Crazy Rich Asians”)

dan seterusnya.

Jika Academy Awards memang berambisi menjadi satu-satunya arena kompetisi perfilman dunia yang paling bergengsi, yang mempertandingkan semua kategori secara fair, maka ada baiknya embel-embel yang berkaitan dengan gender dan warna kulit itu ditiadakan. Cukup menyebutkan asal negara (sesuai keterangan paspor) dari setiap pemenang Piala Oscar.

Jika tujuan embel-embel itu adalah untuk membangkitkan sentimen/kebanggaan terhadap sebuah latar belakang, maka hal ini akan menjadi rancu untuk:

  1. Film seperti “Minari” yang 100% Amerika (diproduksi dan dibiayai di Amerika Serikat), tapi berbahasa Korea, serta ditulis dan disutradarai oleh seorang American Born Korean.
  2. Atau sutradara seperti Chloe Zhao yang walaupun berpaspor RRC, tapi lebih terkenal di industri film independen di Amerika Serikat, bukan di negara asalnya.

Sebelum argumen saya menjadi terlalu politis, mari kita menelaah sejenak profil dari Young Yuh Jung yang memenangkan Piala Oscar untuk kategori Best Supporting Actress di film “Minari” tahun ini.

Youn Yuh Jung menerima Oscar
Youn Yuh Jung, 26 April 2021

Youn Yuh Jung adalah seorang aktris senior kelahiran tahun 1947 dengan karir akting yang sudah dijalani selama lima dekade. Pada usia 27 tahun dia menikah dengan penyanyi Jo Young Nam dan bermigrasi ke Amerika Serikat. Pada tahun 1987 dia bercerai dari Jo Young Nam, kembali ke Korea Selatan, dan memulai lagi karirnya di dunia akting.

Sepanjang lima dekade sudah tak terhitung berapa drama televisi dan film layar lebar yang dia bintangi sebagai pemeran utama maupun sebagai pemeran pendukung. Saya sendiri baru sekali menonton aktingnya di drama Korea “Dear My Friends”. Perannya sebagai Choong Nam, seorang wanita yang tidak pernah menikah sampai usia 70 tahun dan mendedikasikan hidupnya untuk merawat keluarga besarnya dan memperhatikan sahabat-sahabatnya, sangat menarik dan membekas di hati saya.

Poster Drakor Dear My Friends
Drakor “Dear My Friends”

Sepanjang lima dekade Youn Yuh Jung sudah memenangkan berbagai penghargaan sebagai Best Actress ataupun Best Supporting Actress lewat ajang Blue Dragon Film Awards dan Grand Bell Awards. Berikut ini sebagian kecil dari data yang saya kumpulkan:

  1. Woman of Fire, 1971
  2. A Good Lawyer’s Wife, 2004
  3. The Housemaid, 2010
  4. Boomerang Family, 2013
  5. Canola, 2016
  6. The Bacchus Lady, 2017

Sebagai kesimpulan, kualitas akting Youn Yuh Jung memang tidak diragukan lagi. Kemenangannya sebagai Best Supporting Actress adalah puncak kerja kerasnya selama puluhan tahun. Ini patut diteladani oleh generasi muda aktor-aktor di Korea Selatan dan di negara lain termasuk Indonesia.

Walaupun film “The Man Standing Next” tidak masuk nominasi Piala Oscar tahun ini, masih ada harapan untuk film dari Korea Selatan di tahun-tahun mendatang untuk mengulang kembali, atau bahkan mencapai hal-hal yang lebih baik dari film “Parasite”.

Korea Selatan tidak kekurangan ajang penghargaan bergengsi untuk pelaku industri perfilman. Akan tetapi, Piala Oscar masih menjadi tujuan untuk mendapatkan pengakuan dari industri perfilman dunia. Kemenangan di ajang ini dapat meningkatkan prestise sutradara, aktor, aktris, dan insan perfilman lainnya, yang berarti meningkatkan tawaran proyek/pekerjaan di masa mendatang.

Bagaimana dengan Indonesia? Dari 22 film yang diikutsertakan sejak tahun 1987 sampai dengan 2020, belum ada satu film pun dari Indonesia yang masuk nominasi Piala Oscar. Termasuk kontroversi pada tahun 2019 oleh Livi Zheng yang mengaku-ngaku masuk seleksi nominasi Best Pictures dengan film dokumenter “Bali: Beats of Paradise” dan akan bersaing dengan film “Avengers: Infinity War”.

Kita memang tidak boleh berhenti bekerja dan berharap ….  

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

2 Komentar

  1. […] Sebut saja Um Ki Joon yang saat ini pasti dihapal oleh para penonton Penthouse. Ada lagi aktris senior yang dari dulu juga sudah memerankan aktris senior yang mendapatkan piala oscar Youn Yuh Jong. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: