Mengenal Cinta dan Benci Melalui KDrama MOUSE

Annyeong haseyo, Chingu-deul!

Kembali dengan bahasan mengenai drama MOUSE bareng saya di sini. Idih, kok nggak beres-beres ya ini tentang MOUSE? Ya, jelas, memang masih ongoing juga, kan? Excited untuk nyimak ending-nya tanggal 19 atau 20 Mei 2021 besok. Nobar, yuk?!

Picture by KoreanCelebGossip

Tema kali ini masih seputar drama yang sama, tetapi mengambil topik berbeda. Bukan first impression, bukan review, bukan prediksi, apalagi buat jadi spoiler, sama sekali bukan, kok, Chingu.

PROLOG

Yang ngikutin drama ini sudah kenal, dong, pastinya dengan hubungan antara Jung Ba-reum (diperankan oleh Lee Seung-gi) dengan Oh Bong-yi (diperankan oleh Park Ju-hyun)?

Atau antara Sung Ji-eun (diperankan oleh Kim Jung-nan) dengan anaknya sendiri yang disinyalir membawa gen predator (gen psikopat) di dalam dirinya?

Atau lagi, hubungan antara detektif Go Mu-chi (oleh Lee Hee-jun) dengan kakak kandungnya, pendeta Go Mu-won (oleh Kim Young-jae)?

Ketiga hubungan yang terjadi adalah hubungan cinta-benci.

Bong-yi yang mencintai Ba-reum harus dihadapkan dengan kenyataan bahwa lelaki idamannya tersebutlah yang telah membunuh neneknya. Gejolak rasa antara cinta-benci sudah barang tentu terjadi.

Picture by tribunnews

Sedikit berbeda dengan gejolak cinta-benci antara Sung Ji-eun dengan anaknya. Hasil pemeriksaan genetik janinnya yang menunjukka bahwa ia memiliki bakat psikopat, seperti ayahnya, membuat Ji-eun di ambang rasa yang sangat sulit untuk dipilih.

Mencintainya karena ia adalah darah dagingnya, sekaligus membencinya karena khawatir anak tersebut akan membahayakan banyak orang kelak.

Latar lainnya, yaitu antara detektif Go Mu-chi dengan pendeta Go Mu-won yang tak lain dan tak bukan adalah kakak kandungnya.

Sayang seorang adik kepada kakaknya harus ternodai karena kebencian yang diakibatkan oleh sifat Sang Kakak yang terlalu berbaik hati memaafkan predator yang telah membunuh secara keji kedua orang tuanya.

Ternyata, di dalam drama Korea MOUSE ini banyak sekali konflik perasaan cinta-benci yang terjadi. Bahkan, setelah saya amati, justru konflik inilah yang menjadi bumbu kuat dalam drakor yang ditengarai akan selesai di episode ke-20 dalam minggu ini.

PERBEDAAN PERASAAN CINTA DAN BENCI

Menutur pakar neurosains, Semir Zaki, dari University College London, perasaan cinta dan benci memiliki perbedaan tipis secara aktivitas otaknya.

Di dalam tiga makalahnya, yaitu Neuro Report tahun 2000, Neuro Image tahun 2004, dan PLOS ONE tahun 2008, Zaki memaparkan hasil observasinya terhadap aktivitas otak yang berkenaan dengan mencintai dan membenci. Maka diperoleh, bahwa cinta mampu mengaktifkan bagian sistem penghargaan di otak yang kaya akan penerima rangsang hormon oksitoksin dan vasopresin.

Di saat yang sama, cinta mampu menonaktifkan bagian otak yang berkaitan dengan penilaian dan pembuat alasan. Itu lah mengapa, seorang yang sedang jatuh cinta terkadang seperti ‘dibutakan’.

Seolah, orang yang dicintainya adalah sosok terbaik yang sangat sulit ditemukan cacatnya. Bahkan, terhadap kesalahan yang mungkin telah dilakukan oleh orang yang dicintai, menjadi buram dan cenderung tidak nampak.

Picture by youtube

Tidak demikian dengan perasaan benci. Saat kita membenci seseorang, justru bagian otak yang berkenaan dengan penilaian dan pembuat alasan tersebut dinonaktifkan.

Akibatnya, saat kita membenci seseorang, kita akan mudah memberikan penilaian, judgement. Bahkan alasan agar selalu menggiring orang yang dibenci pada sisi negatif saja.

Hal itu yang membedakan antara perasaan cinta dan benci.

PERSAMAAN PERASAAN CINTA DAN BENCI

Namun, ternyata, terdapat dua bagian otak yang teraktifkan, baik oleh perasaan cinta dan benci, yaitu INSULA dan PUTAMEN.

Insula hadir karena stimulus kegelisahan yang dihasilkan dari perasaan mencintai dan juga membenci. Cinta dan benci, oleh INSULA, dianggap sebagai stimulus yang sama.

Picture by popbela

Putamen hadir dengan membawa dampak agresivitas seseorang. Agresif ini mampu tersalurkan pada perasaan cinta mau pun benci, hanya bentuk output-nya saja yang biasanya berbeda.

CINTA DAN BENCI HARUS SEIMBANG

Berdasarkan pada mekanisme yang terjadi di dalam otak, yang cenderung berkaitan antara cinta dan benci. Maka, penyeimbangan harus terjadi agar tidak menimbulkan ketimpangan yang akhirnya membawa dampak ketimpangan regulasi internal dalam tubuh.

Pada dasarnya, manusia secara umum memiliki komponen penyeimbang tersebut, selama mampu membawa rasa dan pikirannya selalu selaras dan tidak berat sebelah.

Kondisi fisik yang prima sangat mendukung proses penyeimbangan tersebut. Itu lah mengapa, anjuran untuk hidup sehat sangat baik dilakukan, karena bukan hanya mempengaruhi tubuh secara fisik saja, tetapi juga secara mental.

Begitu pun sebaliknya. Di saat diri ini tidak mampu atau kehilangan kontrol dalam mengatur rasa cinta dan bencinya, maka sangat dimungkinkan efek patologis pun mampu dirasakan. Seperti diare, depresi, detak jantung tidak normal dan sebagainya.

CINTAI DIRI SENDIRI SEBAGAI PENYEIMBANG RASA

Ketika kita berada dalam konflik rasa seperti Bong-yi dan Ba-reum, misalnya. Hal yang perlu kita pikirkan adalah diri sendiri.

Bukan untuk mengikuti dorongan dalam rangka memuaskan kebencian atau kecintaannya saja, tetapi lebih ke arah meditasi atau pun self-talking, “Apakah semua ini sepadan dengan kebutuhan diri saya?”

Saat dihadapkan pada rasa cinta yang membuncah hingga hilang akal, pikirkan kembali, apakah benar cinta itu mampu membawa diri dalam taraf secure?

Begitu pun saat membenci, terdorong untuk melakukan balas dendam dan hal buruk lainnya kepada orang yang kita benci. Tanyakan diri sendiri, apakah semua itu memang mampu membawa kepuasan dan meningkatkan ketenangan setelah melakukannya? Atau justru kelak akan membawa rasa insecurity?

Chingu, just like an old wisdom said, “When you love (or hate) someone/something, you might be using your heart, but don’t forget to take your brain with you!”

Neng Nad

Ibu rumah tangga beranak dan bersuami satu, penyuka kopi dan kata. Nonton Korea juga hobinya. Biasnya tergantung mood, tapi lebih prefer yang matang-matang ranum macem Song Seung-heon. Jelas tetep ga nolak juga kalo ada yang imut lewat sejenis Kim Soo-hyun. Intinya, mata dan hati tak cukup kuat melihat yang glowing korban skincare Korea berikut sentuhan oplasnya. Mamak lemah <3

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: