Review Film “Escape from Mogadishu” (2021)

Kalau kamu pernah menonton film Hollywood berjudul “Blood Diamond” (2006) yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan “Tears of the Sun” (2003) yang dibintangi oleh Bruce Willis, mungkin kamu mengira film “Escape from Mogadishu” yang ditayangkan di aplikasi streaming VIU dan Iqiyi dan ber-setting Benua Afrika sebagai satu lagi film Korea yang kebarat-baratan.

Jika “Tears of the Sun” adalah cerita fiktif dengan latar belakang perang saudara di Nigeria, maka “Blood Diamond” dan “Escape from Mogadishu” mengambil setting nyata tahun 1991, sebuah masa genting ketika perang saudara berkecamuk hebat di Negara Sierra Leone dan di Negara Somalia.

Ya, benar, film yang dibintangi oleh salah satunya Jo In Sung ini berdasarkan kisah nyata (dengan banyak plintiran) yang dialami oleh Kang Shin Sung, duta besar pertama Korea Selatan bagi Somalia pada masa Korea Selatan sedang mencari dukungan dari negara-negara lain untuk bisa masuk ke dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Apa yang membuat film “Escape from Mogadishu” ini menarik untuk disaksikan?

Apa yang membuatnya berbeda dari kisah aslinya?

Premis Cerita pada Film

Kalau kamu membaca tulisan ini selain di drakorclass.com, berarti tulisan ini telah dicuri.

Pada akhir tahun 1908-an dan awal tahun 1990-an Korea Selatan dan Korea Utara adalah dua negara berdaulat yang sedang mencari dukungan dari negara-negara di Benua Afrika untuk bisa masuk menjadi anggota PBB.

Di Somalia mereka diwakili oleh Duta Besar Han Sin Seong (Kim Yoon Seok) dan atasenya Kang Dae Jin (Jo In Sung) untuk Korea Selatan dan Duta Besar Rim Yong Su (Heo Joon Ho) dan atasenya Tae Joon Ki (Koo Kyo Hwan, yang bermain ciamik di serial “D.P: Deserter Pursuit”) untuk Korea Utara.

Situasi Somalia ketika itu sedang pelik. Ada presiden yang diangkat melalui pemilihan umum dan ada pemberontak yang dipimpin oleh Jenderal Aidid. Jenderal ini tokoh nyata dan kekejamannya membuat dia sempat menjadi buronan pasukan perdamaian PBB. Kamu bisa membaca ringkasan kisah hidupnya di Wikipedia.

Ketika Duta Besar Han dan Duta Besar Rim memilih jalan lurus berdiplomasi supaya Somalia merekomendasikan kedua negara mereka masuk ke dalam organisasi PBB, Dae Jin dan Joon Ki bermain kotor.

Joon Ki menyewa tentara pemberontak untuk merampok mobil Dae Jin yang berisi suap hadiah bagi Presiden Somalia. Hadiah lenyap, Duta Besar Han tidak mendapat kesempatan untuk melobi sang presiden dan mendapatkan keberpihakannya pada Korea Selatan.

Di sisi lain Dae Jin membayar seorang jurnalis dari Amerika Serikat untuk menyebarkan berita bohong bahwa tentara pemberontak membeli persenjataan dari Korea Utara. Presiden Somalia yang diharapkan mendukung Korea Utara pasti tidak senang jika negara itu malah mendukung lawan politiknya.

Pertarungan akal dan kelicikan di antara kedua atase ini harus berakhir ketika perang saudara resmi pecah dan Kota Mogadishu menjadi area perebutan di antara tentara resmi pemerintah dan tentara pemberontak.

Pernah melihat atau mendengar tentang tentara anak-anak yang sangat dimobilisasi di dalam perang-perang saudara di Benua Afrika? Film ini menggambarkan jelas kengerian yang diciptakan oleh anak-anak yang serampangan memegang dan menembakkan senjata kepada siapa pun yang mereka anggap lawan.

Ketika perang pecah, Kedutaan Korea Selatan awalnya aman sampai supir yang dipekerjakan oleh kedutaan tergeletak di depan pintu karena ditembak oleh tentara pemerintah. Sawma, nama supir itu, ternyata adalah bagian dari tentara pemberontak.

Keberadaan Sawma membuat marah tentara pemerintah yang ditugaskan di kedutaan. Mereka hampir meninggalkan kedutaan Korea Selatan tanpa perlindungan dari tentara pemberontak, tapi untung saja Dae Jin menawarkan bayaran lebih.

Di tempat lain, hubungannya dengan tentara pemberontak membuat Joon Ki mengira Kedutaan Korea Utara akan terlindung dari pertikaian di antara tentara pemerintah dan tentara pemberontak.

Uang memang tidak mengenal teman, para tentara pemberontak malah menjarah Kedutaan Korea Utara, mengambil semua persediaan uang, makanan, dan obat-obatan yang ada di sana, termasuk insulin untuk penyakit diabetes Duta Besar Rim.

Dalam keadaan kebingungan dan tidak memiliki apa-apa lagi, Duta Besar Rim memimpin rombongannya yang terdiri atas 13 orang warga negara Korea Utara, termasuk 4 orang anak-anak, untuk meninggalkan Kedutaan Korea Utara dan mencari perlindungan di tempat lain.

Didesak oleh tentara dari kedua belah pihak yang berperang secara terbuka, rombongan ini mendapati diri berdiri di luar pintu Kedutaan Korea Selatan. Dae Jin tidak mau membiarkan mereka masuk, tapi Duta Besar Han (tokoh fiktif yang terinspirasi mantan Duta Besar Kang Shin Sung) tidak bisa membiarkan mereka mati di jalanan.

Cerita selanjutnya bergulir mengenai perjuangan kedua duta besar membawa warga negara mereka masing-masing meninggalkan Mogadishu, diselingi ketegangan dan kecurigaan tak berujung di antara Dae Jin dan Joon Ki.

Korea Utara berencana meminta bantuan dari Kedutaan Mesir, tapi ditolak karena kedutaaan mereka dipenuhi para pengungsi dan mereka juga kewalahan. Kedutaan Italia menjanjikan bantuan bagi Korea Selatan, tapi mereka tidak mau membantu Korea Utara karena tidak memiliki hubungan diplomatik dengannya.

Duta Besar Han berbohong dan mengatakan bahwa semua orang Korea Utara sudah membelot ke Korea Selatan supaya pihak Kedutaan Besar Italia menganggap rombongan mereka sebagai satu negara sahabat yang perlu diselamatkan.

Setelah mendapat janji dari Kedutaan Besar Italia, rombongan besar ini mempersiapkan diri pergi ke kedutaan itu untuk meninggalkan Mogadishu menuju Kenya dengan pesawat pada keesokan harinya. Duta Besar Rim menyuruh mereka semua menuliskan golongan darah mereka pada lengan dan membuat bendera putih sebagai tanda perdamaian.

Perjuangan mereka tidak berlangsung mudah. Di depan Kedutaan Besar Italia, mereka dihadang oleh pertempuran di antara tentara pemerintah Somalia dan tentara pemberontak. Orang Italia mengusir tentara-tentara itu dan membiarkan rombongan besar itu masuk ke area kedutaaan.

Sayang sekali, Joon Ki tertembak ketika masih menyetir mobil menuju ke tempat pertolongan mereka. Ia dikubur di Kedutaan Besar Italia dan rombongan besar itu berpisah di Kenya. Mereka berpura-pura tidak saling membantu untuk keluar dari Mogadishu supaya tidak dicap pembelot oleh masing-masing negara.

Yang Sebenarnya Terjadi

Mantan Duta Besar Kang Shin Sung, duta besar pertama Korea Selatan untuk Somalia, menuliskan memoar pengalamannya pada tahun 1991 itu di dalam novel yang berjudul “Escape” yang diterbitkan pada tahun 2006.

Talchul, atau Escape (Pelarian).

Pada wawancaranya dengan media “The Korea Herald” pada tahun 2021, beberapa waktu setelah film “Escape from Mogadishu” ditayangkan di bioskop seantero negeri dan berhasil mendapatkan 1.85 juta penonton, Kang berkata bahwa ia frustrasi dengan versi film pengalamannya melarikan diri dari Mogadishu bersama perwakilan diplomatik Korea Utara.

Titik pertama perbedaan di antara novel dan film adalah bagaimana perwakilan Korea Selatan dan Korea Utara bisa berkumpul di satu tempat di Mogadishu. Jika film menggambarkan orang-orang Korea Utara yang putus asa dan selamat karena kebaikan hati Duta Besar Han dari Korea Selatan, maka pada kejadian sebenarnya rombongan kedua negara ini bertemu di bandara.

Ketika itu orang-orang Korea Selatan berusaha mendapatkan pesawat untuk keluar dari Somalia, tapi ternyata pesawat yang ada adalah untuk orang-orang Italia. Di sana Duta Besar Kang bertemu dengan Duta Besar Kim Ryong Su (nama sebenarnya dari karakter Duta Besar Rim Yong Su) dan rombongannya yang melarikan diri ke bandara karena kedutaan mereka sudah dijarah sebanyak delapan kali.

Duta Besar Kang menawarkan bantuan pada rombongan dari Korea Utara. Duta Besar Kim awalnya ragu, tapi kemudian membawa 14 orang Korea Utara termasuk dirinya untuk tinggal selama 4 hari di Kedutaan Besar Korea Selatan sambil mencari pertolongan dari kedutaan besar negara lain.

Di situlah terjadi perbedaan kedua. Pada kenyataannya orang-orang Korea Utara tidak mencari bantuan ke Kedutaan Besar Mesir. Mereka menggantungan diri sepenuhnya pada usaha Duta Besar Kang mendapatkan bantuan dari Kedutaan Besar Italia.

Yang terjadi selama perwakilan dari kedua negara yang bermusuhan ini tinggal bersama kurang lebih sama dengan di film. Mereka memasak dan makan bersama, meskipun selalu ada kecurigaan bahwa akan ada salah satu pihak yang meracuni makanan atau mencuri informasi rahasia.

Hal yang sama di antara buku dan film adalah bagaimana satu orang Korea Utara ditembak mati ketika berusaha masuk ke Kedutaan Besar Italia. Di dalam film, kisah nyata ini diwakili oleh kematian Tae Joon Ki. Namun, ada perbedaan lagi dengan bagaimana orang Kedutaan Besar Italia mau mengijinkan rombongan itu masuk.

Di dalam film, ditunjukkan bahwa rombongan itu melambai-lambaikan bendera putih. Pada kenyataannya, Duta Besar Kang dibantu oleh seorang diplomat dari Korea Utara yang bertubuh lebih tinggi untuk melambai-lambaikan Taegeukgi, sebutan untuk bendera Korea Selatan, supaya dilihat sebagai kawan dan bukan lawan bagi orang Italia.

Taegeukgi, bendera negara Korea Selatan

Saya kutip dari wawancara mantan Duta Besar Kang dengan “The Korea Herald”:

“I was moved. Together, we waved the flag for quite some time,” Kang said. “It was a scene where diplomats (from the South and the North) came together under Taegeukgi.”

Interaksi terakhir di antara Duta Besar Kang dan Duta Besar Kim adalah di Kenya. Mereka harus berpisah jalan supaya tidak diadili secara militer oleh negara masing-masing karena disangka membelot.

Tiga puluh tahun sejak kejadian itu, hubungan diplomatik di antara Korea Utara dan Korea Selatan belum juga menunjukkan tanda-tanda akan terjadi unifikasi di Semenanjung Korea.

Moral of the Story

Terus terang, selain drama-dramanya yang unggul, film dari Korea Selatan juga tidak menunjukkan kekurangan kreativitas. Cerita yang sangat lama, yang terjadi beberapa dekade lalu, bisa dikemas dengan apik dan masih menunjukkan natur hubungan di antara kedua negara berdaulat yang sebenarnya satu akar, satu ras, dan memiliki satu bahasa.

Penuh kecurigaan.

Penuh buruk sangka.

Penuh ketakutan akan cap pembelot dari pemerintah negara asal.

Mantan Duta Besar Kang menyayangkan banyak bagian dari film yang tidak menunjukkan porsi kebesaran hati orang-orang Korea Selatan di Mogadishu ketika itu dalam menolong orang-orang Korea Utara. “Rasa kemanusiaan adalah alasannya,” tukas mantan Duta Besar Kang.

Akan tetapi, mengingat perkembangan hubungan diplomatik, ekonomi, dan bisnis di antara Korea Utara dan Korea Selatan dalam 10 tahun terakhir, kesan “superioritas” Korea Selatan yang diceritakan mantan Duta Besar Kang di dalam novelnya sepertinya tidak tepat jika ditonjolkan.

Saya jadi mengerti keputusan produser dan sutradara untuk membuatnya implisit dengan scene rombongan Korea Utara yang meminta bantuan di depan Kedutaan Korea Selatan. Seharusnya itu sudah cukup jelas untuk menunjukkan pihak Korea Selatan sebagai pengambil inisiatif.

Akhir kata, perang memang tidak menimbulkan manfaat apa-apa. Percaya atau tidak, perang saudara di Somalia masih terus berkecamuk sampai sekarang dalam berbagai bentuk.

PBB sudah pernah mengintervensi pada tahun 1992 -1995, dan memberlakukan embargo senjata pada tahun 2014. Akan tetapi, pada kenyataannya perang itu terus berlangsung, di antara pemerintah yang resmi terpilih dan pihak oposisi. Selalu seperti itu.

Ketika seluruh dunia menjalin kerja sama global untuk mencapai kemakmuran bersama, masih ada negara-negara yang berebut kekuasaan dan saling membunuh saudara sebangsanya sendiri entah untuk apa.

Bersyukurlah kita karena masih tinggal, bernapas, dan beraktivitas di negara yang berdaulat, aman, dan merdeka. Semoga Tuhan Yang Mahakuasa selalu melindungi negara kita dari perpecahan.

Film “Escape from Mogadishu” bisa disaksikan di VIU dan Iqiyi. Film ini cocok sekali untuk menemani saat bersantaimu pada liburan mendatang. Oh iya, adegan kekerasan di dalamnya memerlukan pertimbanganmu saat menonton, ya.

Annyeonghigyeshibshio.

Satu pemikiran pada “Review Film “Escape from Mogadishu” (2021)”

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: