Mengenal Lansia di Korea Selatan Lewat K-Drama

Kdrama Dear My Friends

Semua orang menua. Sebagaimanapun kita berusaha untuk memperlambat proses aging dengan proses alamiah ataupun tidak, kondisi fisik semua orang pasti akan menurun pada waktunya.

Kadar melanin pada rambut berkurang dan menyebabkan rambut memutih. Regenerasi sel-sel kulit melambat dan menyebabkan kulit berkeriput. Kadar kalsium di dalam tulang menurun dan terjadilah pengeroposan tulang. Daftar perubahan fisik yang menunjukkan bahwa waktu berjalan, setiap orang menua, dan tubuh melemah terlalu panjang untuk dituliskan di sini.

Orang lanjut usia (lansia) atau senior citizen adalah bagian dari populasi sebuah negara selain kelompok usia produktif. Pada umumnya, usia 65 tahun disepakati sebagai usia seseorang mulai disebut sebagai lansia. Tentu saja usia ini bervariasi, tergantung pada tingkat kesejahteraan, usia pensiun, dan angka harapan hidup di negara itu.

Sebutan lansia biasanya berkorelasi erat dengan usia pensiun di suatu negara. Di Jerman dan di Korea Selatan, orang-orang pensiun pada usia 65 tahun dan 62 tahun. Menurut saya pribadi, standar itu cukup untuk menyebut mereka yang berusia lebih dari atau sama dengan batas umur tersebut sebagai lansia. Di negara dengan usia pensiun rata-rata 56 tahun seperti di Indonesia, mereka yang sudah pensiun kurang cocok disebut sebagai lansia. Kondisi fisik dan stamina mereka masih prima, dan mereka masih bisa aktif berkarya.

Jumlah lansia di Indonesia pada tahun 2020 adalah sebesar 28.8 juta jiwa, atau sekitar 11.34 % dari total jumlah penduduk. Di sisi lain, jumlah lansia di Korea Selatan pada tahun 2020 adalah sebesar 7.99 juta jiwa, atau sekitar 15.6% dari total jumlah penduduk.

Jumlah lansia di Korea Selatan kurang lebih hanya 27% dari jumlah lansia di Indonesia. Akan tetapi, keberadaan mereka masih lebih diakui sebagai bagian dari demografi negara itu. Lansia di Korea Selatan masih terlihat di publik sebagai individu yang hidup mandiri, bekerja, dan berkarya, dan tidak “menghilang” menjadi sebatas background di masyarakat seperti halnya lansia di Indonesia.

Bagaimana dengan di karya sinematik berupa film dan drama? Apakah para lansia cukup terwakili di sana melalui penokohan atau penceritaannya?

Di kebanyakan drama/film Korea yang saya tonton, para aktor lansia berperan sebagai tokoh pendukung yang memiliki relasi dekat dengan tokoh utama (yang biasanya jauh lebih muda). Akan tetapi, ada beberapa K-Drama tentang kehidupan lansia di Korea Selatan yang sangat berkesan di hati saya. Kisah-kisah yang disuguhkan sangat menggugah, penuh inspirasi, nilai moral, dan pelajaran hidup.

Ini dia daftarnya:

1. The Light in Your Eyes (2019)

Drama yang dibintangi oleh Han Ji Min dan Nam Joo Hyuk ini berkisah tentang seorang wanita bernama Hye Ja (Han Ji Min) yang memiliki jam unik yang bisa mengembalikan waktu untuk mencegah atau memperbaiki kejadian yang tidak diinginkan.

Setiap kali Hye Ja membalikkan waktu, usianya akan bertambah. Sebuah insiden membuat jam itu jatuh dan rusak. Tiba-tiba dia terbangun sebagai seorang nenek berusia 70 tahun di tengah keluarga yang masih mempercayainya sebagai wanita muda berusia 20 tahunan.

The Light in Your Eyes (2019) poster kdrama

Meskipun saya kurang menyukai akting pemeran utama wanita di dalam drama ini, kisahnya sangat mengharukan. Saya sangat bisa relate dengan perasaan Hye Ja yang shocked berat setelah terbangun dan mendapati fisiknya menjadi setua kedua orang tuanya, dan kakak laki-lakinya masih semuda seperti yang dia ingat.

Pada usia menjelang kepala empat, saya pun tidak menyangka bahwa saya akan setua orang tua saya tiga dekade lalu. Pergulatan Hye Ja untuk menerima kenyataan bahwa waktu berjalan terlalu cepat dan dapat hilang dalam sekejap, bolak-balik mengingatkan saya untuk menghargai saat ini dan hari ini.

Sebelum Hye Ja berubah menjadi tua, dia sedang dalam proses pendekatan dan mulai saling menyukai dengan Joon Ha (Nam Joo Hyuk). Begitu dia menua, Joon Ha tidak lagi mengenalinya dan itu mematahkan hati Hye Ja.

Lebih parahnya lagi, Joon Ha menjadi bagian dari komplotan yang sering memperdaya para lansia di community center setempat. Hye Ja rela pergi ke community center itu, walaupun dia sangat membencinya, karena dia ingin menyadarkan Joon Ha supaya hidup jujur kembali dan mengingatkannya akan cita-cita awalnya sebagai reporter.

Tragis, miris, dan lucu pada saat yang bersamaan adalah tiga kata yang cocok untuk menyimpulkan drama ini. Melalui mata Hye Ja kita dapat melihat sebuah fakta.

Tidak ada lansia yang ingin menjadi lansia.

Semua lansia ingin menjadi orang muda selama mungkin, ketika badan tidak sakit-sakitan, tidak perlu banyak obat dan kunjungan rutin ke rumah sakit.

Sebagai drama fantasi, drama ini berakhir realistis. Hye Ja adalah memang seorang wanita tua, nenek dari seorang cucu laki-laki dan ibu dari seorang anak laki-laki yang pincang karena mengalami kecelakaan sewaktu kecil. Salon yang dia kira sebagai milik ibunya sebenarnya adalah miliknya, dan orang yang dia kira sebagai ibunya sebenarnya adalah menantunya.

Semua alur cerita di dalam drama ini adalah petualangannya karena dia berharap dapat mengembalikan waktu ke saat dia masih muda. Semua alur cerita di dalam drama ini adalah memorinya akan Joon Ha, suaminya yang meninggal tak lama setelah mereka memiliki anak pertama, akan keluarganya yang hangat, dan akan keceriaan bersama sahabat-sahabatnya.

Kenangan manis, kenangan pahit, dan penyesalan adalah benang merah yang mengikat perjalanan Hye Ja, mulai dari perubahan seorang gadis muda menjadi seorang nenek, sampai kesadaran bahwa dia adalah seorang penderita Alzheimer yang kabur dari rumah sakit dan terperangkap di dalam memorinya sendiri.

Drama ini sangat cocok ditonton jika kita membutuhkan pengingat untuk menghargai waktu dan keluarga yang kita miliki.

2. Dear My Friends (2016)

Sahabat adalah keluarga yang kita pilih sendiri.

Entah kenapa kalimat ini terlintas di benak saya seusai menonton drama yang dibintangi oleh Go Hyun Jung dan sederet aktor dan aktris senior.

Berkisah tentang sekumpulan lansia pada usia 70 tahun yang sudah berteman sejak mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar, drama ini memaparkan berbagai jenis persahabatan yang sudah teruji oleh waktu, pengkhianatan, perselingkuhan, dan pengampunan.

Dear My Friends (2016) Poster Kdrama
Poster Dear My Friends (2016)

Episode pertama dibuka dengan Park Wan (Go Hyun Jung) membantu menghidangkan makanan di acara reuni alumni Sekolah Dasar tempat ibu dan neneknya bersekolah. Di situ kita akan diperkenalkan dengan para tokoh utama, sahabat-sahabat dari ibu Park Wan (Nan Hee) yang lintas angkatan dan lintas usia. Kesamaan mereka semua hanyalah sekolah yang sama sebelum mereka tercerai-berai oleh berbagai pertikaian dan sakit hati.

Nan Hee mendendam pada Young Won, mantan sahabatnya yang sengaja menyembunyikan fakta bahwa suaminya berselingkuh dengan teman SD mereka. Saking stresnya, Nan Hee mencoba membunuh dirinya sendiri dan Wan ketika Wan masih berusia 6 tahun. Hal itu membuat hubungan mereka selalu diwarnai pertengkaran, apalagi ketika Wan bersikap buruk dan terlalu mirip dengan mendiang ayahnya.

Nenek dari Wan meminta Nan Hee untuk memaafkan Young Won karena dia menganggap Young Won seperti anak perempuannya sendiri yang sudah dia lihat pertumbuhannya selama 62 tahun (!) terakhir. Lagipula Young Won menderita kanker yang kesekian kali dan hidupnya tinggal menghitung hari.

Choong Nam adalah kakak kelas Nan Hee dan Young Won yang memilih tidak menikah dan menggunakan kekayaannya untuk merawat keluarga dan kerabatnya, mulai dari menyediakan makanan, mengirim uang sekolah, mengurus pengobatan, sampai memakamkan yang meninggal.

Hee Ja dan Jeong Ah adalah teman seangkatan Choong Nam dan mereka berdua tidak terpisahkan. Setelah kematian suaminya, Hee Ja mulai mengalami dementia. Keinginan untuk tetap mandiri dan tidak merepotkan orang lain malah membuat anak dan sahabat-sahabatnya sering khawatir. Jeong Ah sendiri di usia tua masih bekerja sebagai pembantu rumah tangga. Dia mengumpulkan uang untuk traveling keliling dunia seperti yang diimpikannya ketika baru menikah. Suaminya adalah seseorang yang sangat kasar, pelit, dan pemarah.

Park Wan menggunakan kisah hidup ibu dan sahabat-sahabat dari ibunya yang dia panggil imodeul (para tante) untuk novel yang dia tulis. Pada setiap wawancara, Park Wan diberitahu bahwa umur yang panjang ekivalen dengan penderitaan yang banyak. Setiap imo menceritakan titik terendah dan tertinggi di dalam kehidupan mereka yang panjang, disertai dengan nasihat supaya Wan hidup sebaik-baiknya sebelum masa tua itu datang.

Episode terakhir drama ini memberikan pelajaran yang sangat berharga untuk saya pribadi.

Menua bersama sahabat adalah sebuah anugerah.

Park Wan sudah menyaksikan ibunya dan para imo menghadapi kematian, kekecewaan, penyakit kanker, sampai dementia yang memutuskan relasi karena tidak ada lagi kenangan bersama yang dibagi.

Park Wan menyaksikan para lansia ini memiliki hidup bermakna pada usia tua. Mereka masih sering berkumpul, saling mengurus ketika sakit, saling menyemangati, bepergian ke tempat-tempat baru, dan mencari nafkah sendiri.

Kemandirian memang penting bagi lansia di Korea Selatan. Tidak seperti kebanyakan lansia di Indonesia yang tinggal dengan keluarga dari anak mereka, kebanyakan lansia di Korea Selatan menghidupi diri mereka sendiri dan memiliki kehidupan sosial yang aktif.

Review lengkap dari K-Drama yang satu ini bisa kamu baca di tautan ini.

3. Navillera (2021)

Drama terakhir yang saya ingin bahas adalah drama ongoing yang ditayangkan di Netflix dan sudah mencapai episode ke-8. Drama ini dibintangi oleh Song Kang sebagai seorang ballerino dan Park In Hwan sebagai Kakek Shim yang ingin belajar ballet pada usia 70 tahun.

Duh, jika kamu penggemar drama dengan genre slice-of-life, maka tayangan ini sangat cocok untuk kamu. Pada episode pertama Kakek Shim digambarkan melayat ke pemakaman dari salah satu sahabatnya. Ketika berkumpul dengan sahabat-sahabatnya yang lain, ada yang berkomentar begini:

“Semakin lama, jumlah orang yang datang semakin sedikit.”

Saya lupa siapa yang tepatnya menimpali, tapi ada kalimat yang sangat membekas di benak saya.

Semakin tua, kita semakin terbiasa dengan perpisahan.

Kutipan dari kdrama Navillera

Menyaksikan adegan ini saya jadi teringat pada orang tua saya yang kehilangan saudara kandung, teman, dan kolega selama beberapa tahun terakhir. Saya yang tumbuh besar dengan para om dan tante itu juga merasa tidak percaya bahwa suatu waktu mereka akan pergi untuk selamanya. Mendapat kabar dukacita selalu menimbulkan perasaan resah dan tidak nyaman untuk kami semua.

Di usianya yang sudah tua inilah Kakek Shim memutuskan untuk belajar ballet, mimpinya yang tidak kesampaian waktu kecil karena tidak disetujui oleh ayahnya. Dia terinspirasi oleh sahabatnya yang keburu meninggal sebelum mewujudkan mimpi utama di dalam hidupnya. Chae Rok (Song Kang) yang tadinya menolak mentah-mentah untuk mengajari Kakek, akhirnya hatinya melembut karena kebaikan hati Kakek yang juga bekerja sebagai manajernya.

Bukan drama Korea namanya kalau tidak membuat tokoh utamanya sengsara. Keluarga Kakek Shim sudah merestui keinginannya belajar ballet, dengan banyak catatan supaya Kakek selalu hati-hati saat bergerak dan menari. Pelajarannya pun berjalan lancar dan Kakek membuat banyak kemajuan.

Eh, tapi kok tiba-tiba terungkap fakta bahwa Kakek Shim sebenarnya sedang sekarat? Saya jadi menangis tersedu-sedu setelah episode ke-8, apalagi setelah adegan indah Chae Rok yang menari di tengah salju yang turun supaya ingatan Kakek Shim dapat kembali.

Prediksi saya episode ke-9 dan seterusnya akan diwarnai dengan usaha keluarga dari Kakek Shim untuk memanfaatkan waktu yang ada selama ingatan Kakek masih utuh, dibumbui dengan usaha Chae Rok untuk berbaikan dengan ayahnya. Tema rekonsiliasi dalam keluarga memang selalu mengharukan. Saya harus selalu menyiapkan tisu setiap kali menonton “Navillera”.

Alzheimer dan dementia memang menakutkan. Satu detik kita adalah bagian dari hidup dan memori seseorang, dan detik berikutnya kita menjadi orang asing, a total stranger. Orang dengan ingatan yang tidak utuh akan merasa mati walaupun raganya masih hidup. Kondisi penderita Alzheimer dan dementia juga membuat keluarga mereka selalu khawatir dan was-was.

Yang saya kagumi dari Kakek Shim adalah tekadnya yang sangat kuat untuk mempelajari sesuatu yang baru tanpa pandang usia. Perjalanan Kakek mengingatkan saya akan pengalaman saya belajar ballet pada usia 34 tahun, setengah dari usia Kakek Shim, tapi dengan kerja keras dan semangat yang sama.

Baca juga tentang kenapa Navillera menarik sejak episode pertama

PENUTUP

K-Drama manakah dari daftar di atas yang ingin kamu tonton? Apa pun pilihanmu, semuanya akan memberikan insight tentang kehidupan para lansia di Korea Selatan.

Mandiri, memiliki penghasilan, memiliki lingkaran pertemanan, dan tetap mencari tujuan hidup adalah sedikit dari banyak sekali karakteristik lansia di Negeri Ginseng tersebut. Tentunya bisa menjadi pembelajaran dan inspirasi bagi lansia di negara kita untuk tetap memiliki hidup yang bermakna, walaupun tidak lagi berusia produktif.

Ketiga drama di atas dapat disaksikan di platform Netflix. Selamat menonton!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris. Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea. rijotobing.wordpress.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: