Menilai Drakor dari Episode Pertama

drama 2020

Ada yang bilang jangan menilai buku dari sampulnya, teman-teman saya bilang jangan menilai drakor dari episode pertama saja. Tapi sebenarnya, saya termasuk orang yang suka menilai tontonan dari episode pertama. Bahkan, terkadang beberapa menit pertama menentukan buat diteruskan atau berhenti.

Beberapa hal yang membuat saya memutuskan meneruskan atau berhenti menonton sebuah drama dari episode pertama itu mulai dari warna visual untuk settingnya, scene pembuka untuk mengenalkan tokohnya, ritme dari kejadian yang ada, dan termasuk cara menceritakan kilas balik untuk menjelaskan latar belakang cerita.

Beberapa drama, akhirnya saya berikan kesempatan sampai beberapa episode, dan biasanya penilaian awal memang menentukan ‘mood’ untuk menikmati sebuah tontonan. Ada juga yang saya terusin sampai habis, berharap ada perbaikan, tapi ya sering juga saya kecewa.

Visualisasi

Namanya tontonan ya, tentu saja visualisasi yang sangat berperan. Kalau buku, saya harus membayangkan sendiri dari deskripsi yang dituliskan. Bagian ini kelemahan saya dalam membaca buku. Saya bisa ingat urutan kejadian, tapi tidak selalu bisa membayangkan deskripsi ruang atau lokasi peristiwa kejadian yang ditulis di dalam buku. Ini salah satu alasan kenapa saya lebih sering nonton daripada membaca buku fiksi.

Visualisasi modern dengan pencahayaan yang terang lebih saya sukai daripada dimulai dengan scene yang gelap dan temaram. Hari Minggu kemarin saya mencoba 10 menit pertama drama Search dan drama Start-up. Tentu saja saya memilih meneruskan drama Start-up yang terlihat lebih modern.

Pengenalan Tokoh

Visualisasi tokoh utama juga penting. Kalau tokoh utama tidak langsung terlihat di episode pertama, rasanya jalan cerita berjalan lambat. Memang drama itu isinya bukan hanya tokoh utama, tapi plot utama dari cerita tentunya terjadi di sekitar tokoh utama. Kalau tokoh utama belum terlihat, artinya apalagi kalau bukan usaha memperpanjang cerita.

Beberapa drama yang tidak langsung memperlihatkan tokoh utama, terbukti memang kurang bagus jalinan ceritanya. Beberapa sih ternyata saya yang salah.

Pengenalan tokoh yang terlalu banyak di awal juga sering membuat saya bingung mengingat ada siapa saja dalam cerita tersebut. Saya paling suka kalau di 10 menit pertama kedua tokoh utama sudah langsung bertemu, tapi tentunya kebanyakan drama tidak begitu ceritanya.

Saya hampir tidak meneruskan Hospital Playlist karena ada banyak tokoh dimunculkan di episode pertama (ya iya tokoh utamanya memang ada banyak). Saya juga belum menonton Reply88 dengan alasan yang sama. padahal katanya Reply88 ini bagusnya mirip-mirip dengan Hospital Playlist

Ritme Cerita

Ritme cerita yang saya maksud di sini tentunya kecepatan jalan ceritanya. Misalnya untuk menunjukkan perubahan musim, ditunjukkan daun berubah warna dari hijau, menguning lalu berguguran dan kemudian bersalju, dan semuanya berlangsung tidak lebih dari 1 menit.

Kalau ada yang menonton drama When the Weather is Fine, itu contoh drama yang ritmenya super lambat (buat saya). Terkadang ditunjukkan tokohnya merenung-renung tanpa saya bisa merasakan apa sih yg bikin dia merenung. Terlalu lama dia merenung, saya keburu ganti tontonan, hehehe.

One Spring Night juga salah satu drama yang ritmenya lambat buat saya. Sampai saya mengambil kesimpulan sepihak, semua drama yang judulnya terkait cuaca, entah kenapa ritmenya lambat. Walau begitu, saya masih bersabar sampai episode 7 sebelum akhirnya menyerah dan tidak meneruskan menonton 2 drama cuaca tersebut.

Cara Menceritakan Kilas Balik

Cara menceritakan kilas balik atau latar belakang cerita yang saya suka itu drama It’s Okay to Not Be Okay. Kilas baliknya diberi sedikit demi sedikit dan dipecah dalam setiap episode dan tidak ditumpuk di episode pertama.

Record of Youth hampir saya tinggalkan karena kilas balik yang terlalu lama. Drama Start-Up juga terasa lama bagian kilas baliknya. Iya saya tahu kalau latar belakang itu penting untuk membuat penonton mengerti latar belakangnya. Tapi ya, kalau boleh berharap, semoga kilas balik model It’s Okay to Not Be Okay lebih banyak daripada model berlama-lama di masa lalu.

Kalau model kilas baliknya masih diperankan oleh aktor masa sekarang, agak lebih mudah diikuti. Tapi, kalau model kilas baliknya diperankan oleh versi remajanya, terkadang saya bingung yang mana akan jadi siapa di masa depannya.

Penutup

Salah satu alasan kenapa saya langsung menyukai drama Do Do Sol Sol La La Sol adalah karena memenuhi semua syarat di atas. Visualisasinya menarik dan terkadang komikal, tokohnya dikenalkan satu demi satu, ritme cerita cukup cepat dan porsi pemeran utama di episode pertama cukup banyak sampai dengan cara menceritakan kilas baliknya juga tidak terlalu lama.

Walaupun beberapa hal terkadang tidak memenuhi keinginan hati ketika menonton episode pertama, ada kalanya saya tetap menonton keseluruhan episodenya sampai selesai, apalagi kalau dramanya selalu dapat review bagus. Setidaknya, setelah menonton saya bisa membuat review yang berbeda dari yang lain, hehehe.

Tapi setiap orang tentu bebas menentukan kriteria meneruskan atau berhenti terhadap tontonan. Ini sih saya saja yang begini, atau ada pembaca yang juga seperti saya?

Rhin

Blogger, Wife, Mom of 2 boys, Homeschoolers, Crafters,
Nonton drakor (terutama romcom) untuk hiburan dan mencari ide untuk dituliskan. https://blog.compactbyte.com

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: