Tayang di Netflix tanggal 2 Juli lalu, film Korea 8th Night menambah alternatif horor di jajaran film Korea yang hadir tahun ini. Dari posternya, terlihat jelas keempat pemain utama; Lee Sung Min, Nam Da Reum, Kim Yoo Jung, dan Park Hae Joon. Dibuka dengan narasi berbahasa Sansekerta, keunikan film ini bertambah dengan nuansa Buddhism yang kental.
8th Night sebetulnya mengangkat tema yang sudah umum dan standar dalam genre horor supranatural: ancaman terbukanya gerbang neraka yang akan melepaskan penderitaan sepanjang masa bagi umat manusia.
Kali ini, kejahatan itu diwakili oleh sepasang “mata”, yaitu Mata Hitam dan Mata Merah, yang merupakan sumber kekuatan sang monster yang di sini digambarkan mirip seperti Barong. Sebagai orang Asia, tentu jadi lebih familiar sama horornya sih…

- Movie: The 8th Night
- Revised romanization: Je8ilui Bam
- Hangul: 제8일의 밤
- Director: Kim Tae-Hyung
- Writer: Kim Tae-Hyung
- Producer: Hyun Kwang Seo
- Release Date: July 2, 2021
- Runtime: 150 min.
- Genre: Mystery / Thriller
- Distributor: Netflix
- Language: Korean
Daftar Isi
Prolog
Alkisah, 2500 tahun lalu, kehancuran Bumi ini sudah pernah diantisipasi oleh Sang Buddha. Dia mengambil kedua Mata dari sang monster yang membuka pintu neraka, kemudian ditempatkannya masing-masing dalam sebuah Peti Sarira yang tersegel dengan mantra.
Kedua peti ini dipisahkan dalam lokasi yang berlawanan, yang satu di gurun, satunya di tebing. Kedua peti ini dijaga oleh cenayang dan biksu (disebut Pelindung) yang akan melakukan apa pun untuk mencegah kedua Mata ini bersatu dan menimbulkan bencana.
2005 …
Mata Merah rupanya lebih agresif. Sejak upaya terakhirnya membebaskan diri dua abad yang lalu dari tangan Buddha, dia berhasil ditemukan di belantara gurun pasir oleh seorang arkeolog bernama Professor Kim Jun Chul (Choi Jin Ho) dalam misi membuktikan Legenda Sutra Intan. Sayangnya, penemuan ini dibantah oleh kalangan Buddhist dan dianggap artefak palsu oleh masyarakat selama 14 tahun lamanya.
2019 …
Masih diliputi dengan kemarahan dan kekecewaan, tepat di malam gerhana bulan merah (Red Moon), Jun Chul membaca mantra untuk membangkitkan si Merah dengan tumbal darah manusia.
Dengan terbebasnya si Merah di malam yang pertama, si Merah kemudian mencari jalan untuk bertemu dengan si Hitam. Untuk mencapai kejahatan sempurnanya, si Merah harus melewati 7 batu pijakan dalam 7 malam. Jika berhasil bertemu pasangannya, maka di malam kedelapan Bumi akan berubah menjadi neraka selamanya.
Biksu Ha Joong (Lee Eol) di Kuil Buk San, yang merupakan Pelindung Mata Hitam, menyadari bahwa separuh kejahatan telah dibangkitkan. Ia segera mengirim utusan seorang biksu muda Cheong Seok (Nam Da Reum), untuk mencari Park Jin Soo/Seon Hwa (Lee Sung Min), untuk meneruskan tugas penjagaannya.

Jin Soo yang sudah lama meninggalkan kuil dan melepaskan atribut kebiksuannya, semula tak mengeluarkan sepatah kata pun menanggapi berita yang dibawa oleh biksu muda yang puasa bicara itu. Awalnya saya kira juga Jin Soo puasa bicara lho, dia baru mengeluarkan kata setelah bermenit-menit kemudian, melalui beberapa segmen, dan di adegan yang tak terlalu penting pula.
Begitu pun Cheong Sok yang akhirnya ‘luluh’ dari mingkem-nya setelah dibelikan sepatu baru dan berbicara dengan mulut penuh makanan. Oh, sungguh kesia-siaan akting anak muda ini, hai Sutradara…
Konflik yang Kompleks
Si Merah sudah dalam perjalanan menuju batu pijakan ke-enam ketika konflik mulai kompleks. Untuk mencegah si Merah bertemu dengan si Hitam, maka tugas Jin Soo adalah melenyapkan batu pijakan terakhir yang merupakan seorang cenayang wanita.
Masalahnya, ada kesalahpahaman antara Cheong Sok dan Jin Soo dalam mengenali cenayang wanita tersebut. Jangankan antara mereka sih, saya pun sempat salah paham dan bingung dengan posisi si cenayang wanita ini.

Konflik pun bertambah runyam ketika Kim Ho Tae (Park Hae Joon), seorang detektif yang menyelidiki kasus pembunuhan misterius, kepo atas apa yang diburu Jin Soo dan mengikutinya sampai ke Gunung Buk. Namanya juga detektif yaaah, kalau tidak kepo nanti dianggap gabut.
Sayang Kim Ho Tae di sini perannya hanya dibuat frustrasi saja oleh anak buah dan kasusnya. Sebagaimana detektif yang biasa kita lihat di drakor, ia pun tidak percaya dengan hal-hal supranatural.

Alur dan Plot Twist
Memiliki durasi tayang selama 116 menit, jujur saja, alur film ini terasa sangat lambat. Bahkan saya nggak merasakan ketegangan ala thriller atau yang diklaim sebagai genre okultisme, melainkan semuanya mudah ditebak sambil rebahan.
Saya rasa film ini terlalu banyak menghabiskan waktu dalam pengenalan tokoh-tokoh dan kilas baliknya. Bolak balik adegan ke masa lalu, mirip ceritanya The Ring yang Jepang itu. Awalnya kita langsung disuguhi kemunculan satu per satu tokoh dengan cepat, tapi kemudian orang-orang ini pun lambat bergerak, dalam artian mereka kebanyakan nggak ngapa-ngapain alias melakukan adegan yang nggak berarti.
Bahkan banyak sekali orang-orang selewat yang masuk ke dalam cerita tapi tidak membawa perubahan yang penting pada cerita.
Baru terasa seru di menit ke-delapan puluh saat adegan di Gunung Buk di mana Jin Soo melakukan semacam ritual pengusiran setan kaya di film-film exorcism gitu. Dengan adanya visualisasi jimat-jimat seperti kertas, simbol “Om”, dan tasbih Buddha yang juga berguna sebagai senjata, adegan jadi jauh lebih berwarna dan menegangkan.

Kayaknya sih untuk seorang biksu, bisa dicari senjata yang lebih ‘oriental’, nggak perlu bawa-bawa kapak segala. Jang Na Ra aja waktu ngusir setan cuman bawa binyeo kok di rambutnya, hehe.
Plot twist yang terjadi juga seharusnya bisa dikembangkan lagi jadi lebih seru dan greget. Ini sih semacam, kamu bisa nonton mulai 20 menit pertama + 30 menit akhirnya saja. Selesai dalam kurang dari 1 jam.
Eksplorasi Akting Pemain
Padahal, dengan modal para pemain yang bukan orang baru di dunia akting, karakter mereka bisa dieksplorasi lebih jauh. Bisa dibilang, kehadiran Kim Yoo Jung di sini hanya pemanis belaka, diganti artis lain juga bisa gitu, nggak perlu dialog.

Juga Nam Da Reum yang lebih cocok disebut sebagai pemanasan sebelum drama terbarunya tayang akhir bulan ini. Memang bukan tokoh center di sini, tapi agak sedikit dipaksakan agar keberadaan dia punya koneksi dengan ceritanya.

Sedangkan untuk para aktor senior, saya sih bertepuk tangan as usual ya. Ini mungkin ceritanya aja yang nanggung dan menimbulkan beberapa pertanyaan. Entah apakah ada niatan dari sutradara menggarap part 2 jika part 1 nya sukses, sehingga ceritanya dibiarkan terbuka begitu saja.
Sad but true, saya kasih nilai 6.5/10 saja untuk film ini. Let’s move to the next movie, sebagaimana nasihat Biksu Ha Joong pada Biksu Seon Hwa yang masih belum move on dari masa lalunya:
“Penderitaan akan terus menghantuimu saat kau tak bisa melupakan masa lalu.” – Biksu Ha Joong.
Baiklah, karena tidak puas lihat Nam Da Reum di sini, saya bakal membayarnya dengan nonton next dramanya bersama Kim Sae Ron dengan genre yang serupa, Shaman Girl Ga Doo Shim. Tunggu tulisan saya nanti ya!

Drakorians since…i don’t know.
Meet me at dailyrella.com.
Tinggalkan Balasan