Berkaca Pada Episode Satu Doom Of Your Service

doom at your service

Drama yang dibintangi oleh Seo In Guk dan Park Bo Young ini memang sudah berakhir pada tanggal 29 Juni 2021 yang lalu. Namun ada beberapa hal yang bisa kita refleksikan ke dalam kehidupan masing-masing dari episode pertamanya saja. Wow! Wow! Apa sajakah itu?

Ya, menurut saya pribadi, drama Doom At Your Service ini bukan sekadar drama romance ataupun sekadar drama fantasy biasa tetapi juga memiliki nilai-nilai filosofis yang sangat reflektif untuk kita semua. Hmm, apalagi di masa pandemi yang masih belum berakhir ini.

Pastinya di masa seperti ini semua orang merasakan tekanan, entah dari sisi ekonomi, kesehatan, atau kombinasi keduanya. Oleh karena itu mari kita lihat yuk apa sajakah hal-hal yang bisa kita jadikan cermin atau refleksi dari episode perdana drama Doom At Your Service ini.

Oh, sebagian besar tulisan ini akan mengandung spoiler episode pertama drama itu sehingga bagi yang tidak mau terpapar spoiler, harap berhenti di sini dan menjelajah tulisan-tulisan drakorclass yang lain, ya. Hihihihi.

1. Aspek Kesehatan Tak Dong Kyung

Tentang Penyakit Secara Umum

Salah satu highlight penting pada episode pertama Doom At Your Service ini adalah tentang vonis penyakit yang diberitahukan kepada tokoh utama perempuan drama ini yaitu Tak Dong Kyung. Malah sebetulnya adegan pertama benar-benar meng-capture dengan sempurna aspek ini. Ada wajah Tak Dong Kyung yang fully close up, penuh dengan aneka emosi di sana, ada kekagetan, ada kekhawatiran yang besar dan keputusasaan yang perlahan menyelinap hadir di dalam jiwa Tak Dong Kyung dan tidak mau pergi.

Setidaknya sebelum ia jatuh cinta pada….Myul Mang si pembawa kehancuran.

Oh.

:’((

Sesungguhnya kita semua yang tengah berjibaku dengan kondisi pandemic saat ini begitu erat dengan aspek kesehatan ini. Virus Covid-19 dengan mutasi-mutasi terbarunya ini telah membuat kita perlahan harus terbiasa dengan berita duka cita entah sakitnya atau wafatnya keluarga, rekan, sahabat, orang-orang yang sangat kita sayangi.

Sungguh aspek ini membuat kita bisa bersimpati ketika menonton Tak Dong Kyung, si female lead drama ini yang dihadapkan pada berita mengenai kesehatan dirinya yang memburuk begitu cepat.

Tentang Terminal Ilness Secara Khusus

Pada episode pertama, penonton disuguhi berita tidak mengenakkan bahwa sang female lead menghadapi kondisi penyakit mematikan atau yang juga biasa disebut dengan terminal illness.  Penyakit Tak Dong Kyung disebutkan tidak dapat disembuhkan. Satu-satunya jalan pemulihan hanyalah dengan operasi, itupun dengan risiko kematian.

Oh, sungguh hal yang dapat mencerminkan juga kondisi kita di hari-hari belakangan ini.

Saat satu per satu rekan, keluarga, bertumbangan terkena positif Covid-19 dan kita tidak bisa mengakses rumah sakit dikarenakan penuhnya kapasitas. Di sana ada cerminan keputusasaan dan kesedihan yang membatu di dasar hati.

Tidak jarang akhirnya ada banyak yang wafat saat sedang melakukan isoman atau isolasi mandiri di rumah. Memang Covid-19 bukanlah katagori terminal illness  namun daya penyebarannya yang begitu cepat dan risiko perburukan yang unpredictable  membuat penyakit ini telah merenggut 4 juta jiwa secara global per hari ini (11 Juli)

Sungguh kondisi yang membuat hati patah ribuan kali.

:’((

Aspek Emosi

Pada episode ini setelah menerima vonis dari dokter, Tak Dong Kyung pulang dalam perasaan numb. Hal ini terlihat saat ia membasuh wajah saat tiba di rumah dan menyadari bahwa penyakitnya kemungkinan disebabkan oleh kebiasaanya menahan tangis. Termasuk saat mendapatkan vonis bahwa usianya tidak akan lama lagi, Tak Dong Kyung lagi-lagi tak mampu meneteskan air mata.

Sungguh sekali lagi saya berefleksi pada kondisi realita pandemic kita.

Di mana kondisi pembatasan kegiatan sudah terjadi sejak Maret 2020 dan hingga kini pandemi belum berakhir juga…. Perlahan tapi pasti kita mulai merasakan  numb  mengenai kondisi di sekitar kita. Sungguh menyedihkan melihat berita duka cita berdatangan setiap hari. Namun salah satu efek begitu banyaknya hal semecam itu adalah perasaan numb alias baal yang meliputi jiwa.

Sederhananya kita menjadi seperti Tak Dong Kyung, yang tidak mampu lagi mengeluarkan air mata.

Entah terlalu sedih, terlalu lemah untuk menangis dan atau terlalu banyak menangis hingga sesederhana sudah bingung hendak menangis seperti bagaimana lagi.

Oh

:’((

Aspek Kesehatan

Pada adegan pemberitahuan vonis penyakit Tak Dong Kyung ini kita bisa belajar mengenai pentingnya akses kesehatan yang mumpuni agar sebuah penyakit dapat dideteksi keadaannya dan prognosisnya. Pada adegan-adegan pembukaan episode pertama, kita dapat melihat canggihnya aspek kesehatan Korea Selatan.

Di mana terjadi adegan kecelakaan dan bertubi-tubi datang pasien korban kecelakaan tersebut ke ruangan ER (emergency room). Para dokter dan pasien pun begitu sigap untuk mengobata para korban tersebut.

Kondisi ini membuat saya berefleksi terhadap kondiri realita kita di mana para nakes (tenaga kesehatan) NKRI berjibaku berusaha sekeras-kerasnya dan sebanyak-banyaknya menyelamatkan pasien. Bahkan jika itu berarti menambah shift karena pasien yang membludak.

Kadang-kadang hal ini memicu kondisi fisik dan mental nakes meredup hingga lebih rentan terkena penyakit, termasuk Covid-19 itu sendiri.

Lagi-lagi oh

Oh, oh, so sad

:’((

Tapi melebihi kesedihan, saya berefleksi betapa saya (dan saya yakin Tak Dong Kyung juga) begitu berterimakasih kepada para tenaga kesehatan. Entah itu dokter, perawat, apoteker, semua professional di bidang kesehatan pokoknya, mereka simply adalah seorang pahlawan.

Pahlawan yang kadang seringkali dilupakan perjuangannya, ini khususnya di NKRI di mana per tanggal hari ini (11 Juli 2021) telah gugur kurang lebih sebanyak 1200 orang tenaga kesehatan dalam berjuang melawan pandemi ini.

Oh…

Sungguh refleksi yang begitu mendalam. Refleksi ini juga mengingatkan kita untuk bekerja sama dalam membantu laju penularan wabah dengan berdiam diri di rumah saja. Setuju, kan?

Salah satu kegiatan yang bisa dilakukan saat berdiam diri di rumah saja adalah menonton drama dan membaca drakorclass. Setuju lagi, kan?

😉

2. Komunikasi Kesehatan

Pada episode pertama ini kita melihat komunikasi antara Tak Dong Kyung dengan dokternya. Menurut saya pribadi hal ini enak ditonton dan begitu jelas dalam menejlaskan penyakit Tak Dong Kyung. Tidak ada yang ditutupi dan juga tidak ada yang dilebih-lebihkan. Hal ini mampu membuat Tak Dong Kyung sadar bahwa usianya memang di atas kertas tinggal sebentar sekali.

Hal ini dapat menjadi refleksi buat kita semua untuk mempercayai dan menyimak saat kita berkonsultasi dengan dokter. Tinggalkanlah aneka hoax atau berita-berita dengan sumber ambigu yang kita terima di WA grup (ouchh)

Saya pribadi menyukai sikap dokter Tak Dong Kyung yang mempersilahkan Tak Dong Kyung untuk memilih apakan dia mau dioperasi atau tidak dan memberikan waktu kepada Tak Dong Kyung untuk berpikir. Sikap dokter yang fully support her seperti itu membuat Tak Dong Kyung memiliki indepedensi dalam memutuskan nasibnya berikutnya….

Dan nasib berikutnya sudah ditentukan writernim yaitu bertemu dengan…? MYUL MANG! >,<

Terlepas dari aspek Myul-Mang, saya sendiri menemukan bahan refleksi dari sikap suportif dokter Tak Dong Kyung yang memberi kesempatan kepada Tak Dong Kyung untuk mencerna dan memilah jalan penyembuhan mana yang akan ditempuhnya.

Sangat-sangat respectful sekali sih. Sungguh baik hati dan penuh concern kemanusiaan sekali. Tidak menghakimi dan “mengudak-udak” (menyuruh pasien buru-buru memutuskan).

Ya, walaupun hal ini membawa konsekuensi pahit bahwa opsi umur Tak Dong Kyung semakin sedikit : hanya sekitar 3 bulan atau 100 hari saja.

Oh…

:’((

3. Aspek Takdir Kematian

Bisa dikatakan drama Doom At Your Service ini memiliki nilai mendalam salah satunya saat membahas kehidupan dan kematian. Diawali dengan vonis penyakit mematikan bagi female lead-nya, drama ini terus menggali persepsi mendasar tentang kematian dan kehancuran…. Sebuah drama yang berat sebetulnya menurut saya pribadi.

Eh, tetapi menjadi ringan sih kalau kita fans Seo In Guk. Bukan begitu, Chingudeul?

(Jadi bucin begini ujungnya, hehehe)

Takdir Kematian yang Rumit

Drama ini mengawali dengan kesimpulan yang diambil oleh Tak Dong Kyung bahwa kehidupannya sungguh “suram” dan diliputi dengan kematian demi kematian. Dimulai dengan kematian orang tuanya lalu vonis penyakit mematikan yang diidapnya.

Semua ini membawa Tak Dong Kyung berteriak memohon kehancuran seluruh dunia saat terjadi bintang jatuh di langit.

Keputusasaan dan perasaan anger begitu menguasai tokoh Tak Dong Kyung pada episode pertama ini. Hal yang begitu dipahami karena usia Tak Dong Kyung masih muda, lalu dia mendapatkan vonis penyakit yang membuat usianya tinggal sebentar lagi. Dapat kita refleksikan bahwa Tak Dong Kyung sedang meniti tahap demi tahap kedukaan atau grief yang diawali dengan perasaan anger.

Saya jadi teringat pada realita pandemic di sekitar kita. Di mana masyarakat kita sedang melalui pandemic ini dengan tahapan kedukaan yang berbeda-beda.

Ada yang masih di tahap marah, ada juga yang mulai menerima, ada juga yang malah numb karena begitu cepatnya ekskalasi virus Covid-19 ini.

Sungguh menjadi sebuah adegan yang menyayat hati namun dapat dipahami saat Tak Dong Kyung berteriak keras ke arah bintang jatuh dan mengharap dunia untuk hancur, it’s really heart-shattering but heart-warming in the same time , simply karena kita di dunia nyata sekarang pun sedang berjuang keras untuk berhenti mengatakan sumpah-serapah kepada virus Covid-19 yang begitu cepat bermutasi ini ini….

Cepatlah baik wahai dunia.

:’((

4. Aspek Assertiveness Tak Dong Kyung

Salah satu hal yang saya sayangkan pada sikap Tak Dong Kyung di episode pertama ini adalah keengganannya untuk memberitahukan penyakitnya ini kepada keluarga dan rekan-rekan kerjanya. Padahal assertiveness dalam kasus terminal illness akan membantu pasien untuk memiliki cara pandang yang positif dalam memandang secara utuh kondisinya….

Dengan kata lain, kalau saja Tak Dong Kyung mengatakan kondisinya yang sebenarnya sedari awal, ada beberapa hal yang menurut saya akan dilakukan oleh orang-orang di sekitarnya untuk mendukung kehidupan Tak Dong Kyung.

Kepada Keluarga

Saat menerima vonis penyakitnya, separah itu penyakitnya, Tak Dong Kyung tidak memberitahukannya kepada keluarganya (adik dan bibinya) mengenai penyakitnya.

Tak Dong Kyung berpura-pura kuat dan bersikap biasa saja. Hal ini dapat kita refleksikan kepada kondisi pandemic di mana orang yang positif Covid-19 yang tidak memberitahukan keluarga selain keluarga inti (yang serumah)

Bisa jadi ada kekhawatiran membebani perasaan keluarga yang lain makanya fakta tersebut ditutupi. Bisa jadi untuk memberikan ketenangan kepada keluarga besar agar tidak menambah beban pikiran di kondisi yang serba tidak menentu ini (pembatasan kegiatan masyarakat, dll)

Sikap Tak Dong Kyung jadi dapat dipahami ketika dia menutupi penyakitnya kepada keluarganya. Walaupun begitu saya melihatnya dari sisi lain.

Tak Dong Kyung butuh waktu untuk “mencerna” fakta penyakitnya ini sendirian. Itulah mengapa dia belum memberitahukan kepada keluarganya saat pertama kali dokter memberitahukan mengenai vonis penyakitnya itu.

Hal ini mengingat karakter Tak Dong Kyung yang digambarkan begitu kuat dan tegar, sejak hari pemakaman kedua orangtuanya hingga hidup mandiri saat dewasa. Tak Dong Kyung sebenarnya juga menggambarkan sifat sebagian besar anak sulung di dalam keluarga yang memiliki “perasaan” untuk menjadi pelindung dan pengayom keluarga sehingga kerap mengabaikan kondisinya sendiri.

Inilah yang menyebabkan Tak Dong Kyung berpura-pura baik saja ketika adiknya dan bibinya menelpon pada malam hari setelah mendapatkan vonis penyakitnya.

Aih, uri Tak Dong Kyung~

Hmm, adakah pembaca di sini yang anak sulung juga seperti Tak Dong Kyung? Setujukah dengan opini saya? 😉

Kepada Rekan Kerja

Tidak hanya menutupi kondisi kesehatannya yang memburuk kepada keluarganya, Tak Dong Kyung juga menutupinya kepada rekan-rekan kerjanya. Tak Dong Kyung tetap bekerja seperti biasa, menerima insult dari bosnya, dan menghadapi beban pekerjaan yang cukup berat sebagai editor.

Sesungguhnya hal ini sangat disayangkan mengingat stressor di pekerjaan merupakan salah satu faktor yang dapat mempercepat terjadinya perburukan.

Apalagi penyakit Tak Dong Kyung ini termasuk ke dalam jenis kanker otak. Justru dukungan dari rekan-rekan kerja Tak Dong Kyung sangat dibutuhkan dalam memahami bahwa penyakit ini mengakibatkan keluhan fisik dan kognitif karena menyerang salah satu bagian otak. Namun justru Tak Dong Kyung menutupi hal tersebut.

Penyakit Tak Dong Kyung ini memang pada akhirnya akan terbuka di hadapan rekan-rekan kerjanya pada sebuah makan malam perusahaan tetapi itupun situasinya sungguh tidak nyaman.

Saya jadi reflektif mengenai penyakit Covid-19 yang tengah mewabah saat ini. Sangat beruntung sekali orang-orang yang bekrja di preusahaan yang suportif dengan kondisi pandemic seperti ini. Misalnya saja ada perusahaan yang memberikan cuti tanpa potong gaji, asupan suplemen, dan vaksin bagi para pegawai-pegawainya yang positif Covid-19.

Kalau dalam kasus Tak Dong Kyung penyakitnya berkaitan dengan kanker otak yang mempengaruhi banyak aspek kognitif, penyakit Covid-19 ini sangat menular antar manusia apalagi di dalam ruangan tertutup (ruangan kantor). Sehingga sudah sepatutnya ada keterbukaan saat ada satu pegawai yang terkena penyakit ini. Bukan untuk mengucilkan tentu saja. Melainkan agar melakukan prosedur isolasi mandiri dan agar rekan-rekan kerja lainnya dapat memberi support moriil kepada rekannya yang positif Covid-19 ini.

Terlantun doa tulus dari saya untuk pembaca sekalian semoga lekas sembuh bagi semua yang sedang sakit, apapun penyakitnya, stay strong ya~

Pada akhirnya drama ini memang luar biasa sekali sungguh memikat saya (mungkin selera saya memang drama yang semacam ini, hehe). Dan pada akhirnya saya sungguh berharap kesembuhan bagi para pembaca ataupun keluarganya yang sedang sakit Covid-19 ataupun penyakit lainnya.

Ada banyak kegetiran dan kesedihan di drama Doom At Your Service ini, tetapi juga ada banyak hal-hal reflektif yang membawa kesadaran baru kita, sesederhana menyadari bahwa usia dan kondisi kesehatan kita adalah sesuatu yang sangat-sangat berharga sekali.

Jaga diri dan jaga keluarga ya Chingudeul~

Stay safe, everyone!

Kim De-ya

Seorang sarjana psikologi yang hobi nonton drakor untuk menemukan teori psikologi yang tersembunyi (atau sekadar memuaskan hasrat bucin, wkwkwk) Ibu 2 anak lelaki ini adalah penggemar akting Kim Soo Hyun, Park Bo Gum & Ji Sung. Blognya www.jampasirunik.blogspot.com sering terisi cerpen-cerpennya dan kokoriyaan tentu saja.

Baca Juga

2 Komentar

  1. Nonton Doom At Your Service ini membuat kita semua berkaca bahwa sebuah proses hidup hingga kematian itu bagaikan sebuah halaman yang dibuka satu per-satu dengan rangkaian ceritanya.
    Aah…semoga yang sakit bisa dimudahkan untuk sehat-sehat kembali.

  2. omg tulisannya ngena banget
    related banget dengan kehidupan akhir akhir ini ya
    drama ini mengajarkan kita tentang penerimaan terhadap takdir
    episode satu sudah sedih banget

Tinggalkan Balasan ke lendyagassi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: