Ha Young Eun’s Diary

Jika ada yang bertanya padaku apakah aku baik-baik saja, kemungkinan besar aku akan menjawab “Ya, aku baik-baik saja”.

Namun dalam hatiku tentu aku tidak baik-baik saja. Siapa yang bisa merasa baik-baik saja ketika mengalami semua hal yang aku alami? Aku yakin tidak ada satu pun di antara kalian yang merasa begitu.

10 tahun yang lalu aku berkenalan dengan seorang laki-laki dan jatuh cinta kepadanya. Meskipun hubungan kami baru berusia 2 bulan, aku sangat mencintainya. Demi dia aku rela kembali ke Korea dan meninggalkan semua peluang yang ditawarkan padaku di Paris sana. Masa depan cerah yang kubayangkan bukan lagi berkarir di dunia internasional, namun hidup bahagia bersamanya.

Akan tetapi apa yang aku dapati saat kembali ke Korea? Laki-laki itu hilang begitu saja tanpa kabar berita. Berjam-jam aku menunggunya di bawah hujan deras, namun dia tetap tidak pernah datang. Selamanya. 

Hatiku hancur sehancur hancurnya. Aku merasa bodoh telah meninggalkan semuanya demi laki-laki tidak berhati nurani itu.

10 tahun aku hidup dalam duka, amarah, juga penyesalan yang tak berkesudahan. Untuk mengubur rasa itu, aku menyibukkan diri dalam pekerjaan dan karir sampai tiba di posisiku saat ini. Cinta? Jangan bicarakan itu. Hatiku telah mati dan tak ada seorangpun yang bisa menembusnya. Meskipun jujur kuakui aku pernah agak tertarik hingga sedikit membuka diri pada seorang pria asing yang aku temui di Paris beberapa waktu yang lalu.

Tidak perlu aku ceritakan detailnya. Itu hanya hubungan yang sangat singkat. Meskipun cukup berkesan dan membuatku sulit melupakannya, aku tidak mau sekali lagi terikat dalam hubungan yang mungkin nantinya akan berujung menyakitkan. Aku tidak membutuhkan cinta. Maka hari itu, aku meninggalkan cinta satu malamku itu begitu saja. Aku tidak tahu siapa dia, begitu pun dia tidak tahu siapa aku. Pikirku semua selesai malam itu.

Ternyata takdir berkata lain, beberapa saat setelah pertemuan pertama itu, aku kembali bertemu dengannya. Yoon Jae Gook, akhirnya aku tahu siapa namanya.

Sepertinya sama sepertiku, dia pun tidak bisa melupakan hubungan singkat itu. Dia terus mendekat meskipun sudah berkali-kali aku tepis. Aku belum siap untuk menjalin hubungan serius lagi. Aku tidak ingin terluka lagi.

Sayangnya pria ini pantang menyerah. Entah bagaimana dia selalu ada di sekitarku. Mendekatiku juga membantuku. Karena kehangatannya, sedikit demi sedikit kurasakan es dalam hatiku mulai mencair. Tidak. Aku tidak suka ini. Ini adalah tanda bahaya. Aku tidak akan membiarkannya begitu saja.

Namun pada suatu hari sebuah kalimat mengejutkan keluar dari mulutnya. Dia bertanya kepadaku tentang Yoon Soo Wan, laki-laki yang hilang tanpa jejak 10 tahun yang lalu itu. Bagaimana dia bisa mengenalnya? Aku sangat penasaran. Lalu akhirnya dia memberitahuku bahwa Soo Wan adalah kakaknya yang telah meninggal 10 tahun yang lalu.

Rasanya tubuhku seperti tersambar petir di siang bolong. Kakak? Meninggal? Aku tidak bisa mencerna semua informasi itu begitu saja.

Alasan pertama, sejujurnya perasaan untuk Jae Gook mulai tumbuh di hatiku. Aku pikir mungkin ini saatnya aku membuka hati untuk pria lain. Tidak mungkin selamanya aku akan larut dalam kesedihan akan cinta yang hanya berjalan 2 bulan, bukan? Tapi fakta bahwa dia adalah adik Soo Wan sungguh sangat mengejutkan dan sekali lagi rasanya luka lama itu terkoyak kembali.

Kedua, Soo Wan meninggal 10 tahun yang lalu? Saat dia hendak menemuiku? Oh, ini benar-benar fakta yang menyakitkan. Selama ini siapa yang aku benci? Aku menghabiskan waktuku sia-sia dengan membenci orang yang bahkan sudah tidak ada di dunia ini lagi.

Sesungguhnya apa yang direncanakan Tuhan untukku?

Hari demi hari berlalu. Meskipun sudah tahu faktanya, hatiku tetap tidak bisa melupakan Jae Gook. Apalagi dia juga tetap saja mengatakan bahwa dia ingin mencoba menjalin hubungan denganku. Padahal kami berdua tahu hubungan ini tidak akan mudah. Sayangnya, aku tak mampu lagi menolak perasaan ini dan pada akhirnya aku pun menerima perasaannya.

Hubungan antara kami berdua sejauh ini baik-baik saja. Apalagi kami bekerja di bidang yang saling berkaitan. Namun aku tahu, jika ingin melangkah ke jenjang yang lebih serius jalan kami tak mungkin mulus.

Benar saja, kedua orang tua kami dengan tegas menolak hubungan ini. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka. Namun dengan tegas mereka menolaknya. Bahkan sampai terjadi perselisihan antara ibu Jae Gook dan ibuku. Sepertinya kedua ibu kami sama-sama keras kepala.

Tidak mungkin kami melanjutkan hubungan ini jika situasinya tetap seperti ini, yang ada kami hanya akan saling menyakiti. Tidak hanya menyakiti keluarga, tapi juga kami berdua. Karena jika kami memaksakan, kemungkinan besar kami harus memutuskan hubungan dengan kedua orang tua kami. Mana mungkin kami sanggup bertindak sejauh itu. Jae Gook sangat menyayangi ibunya, begitu pun aku sangat menyayangi ibu dan ayahku. Aku rasa berpisah adalah keputusan yang terbaik.

Meskipun pada perjalanannya Jae Gook seringkali goyah. Dia masih berusaha mempertahankan hubungan ini dan sejujurnya terkadang aku pun ikut tergoyahkan olehnya. Seperti pembicaraan kami pada suatu hari, tentang pergi ke Paris berdua dan hidup jauh dari orang-orang yang menentang hubungan kami.

Tawaran untuk pergi ke Paris berdua saja dengannya tentu sangat menggoda. Sungguh aku ingin menjadi egois. Namun sayangnya aku tidak bisa meninggalkan orang-orang yang aku sayangi ini sendirian. Ibuku, ayahku, juga sahabatku. Bagaimana aku bisa begitu egois jika orang-orang yang aku sayangi membutuhkanku di sisinya.

Ibuku memutuskan ingin menceraikan ayah, sedangkan ayah menolak perceraian. Mereka membutuhkanku sebagai teman bercerita dan mencurahkan isi hatinya. Bagaimana mungkin aku meninggalkan mereka saat keduanya sedang mengalami kegalauan seperti itu? Sungguh sebagai anak aku masih ingin mereka tetap bersama. Namun jika berpisah adalah yang terbaik menurut mereka, aku akan tetap menghormati keputusan itu.

Lalu Mi Sook, sahabatku. Dia sedang berjuang melawan kanker yang menggerogoti tubuhnya. Dia sangat membutuhkanku, juga Chi Sook, untuk melewati masa-masa sulitnya. Tidak mungkin aku meninggalkannya. Bahkan aku juga berjanji akan membantunya mengurus anaknya jika ternyata umurnya tidak lagi lama. Ah, tapi tentu saja aku masih sangat berharap dia akan sembuh dan tetap bersama kami di sini.

Akhirnya kurelakan cintaku pergi demi kebaikan bersama. Kebaikannya, kebaikanku, juga kebaikan orang-orang disekitar kami. Aku melepasnya bukan karena aku berhenti mencintainya. Aku melepasnya justru karena aku sangat mencintainya. Seperti orang tua yang melepas anaknya pergi jauh dari rumah demi mengejar cita-citanya. Tentu dalam hati mereka ingin tetap dekat dengan anak-anaknya. Namun menahan orang yang kita cintai tetap dekat dan melewatkan peluang terbaiknya adalah hal yang egois, kan?

Tentu saja ini keputusan yang sangat sulit. Memang selalu ada harga yang harus dibayarkan untuk setiap keputusan dan kali ini harganya cukup mahal. Rasanya seperti aku mengorbankan kebahagiaanku sendiri. Seperti lilin yang habis terbakar karena menerangi sekitar. Tapi bukankah melihat orang yang kita sayangi bahagia juga sebuah kebahagiaan? Dan ya, aku bahagia dengan keputusan ini.

Biarlah kenangan indah akan cintaku ini kusimpan di hati saja. Sebagai bahan bakar semangat untuk melanjutkan hidup dan melangkah maju. Aku percaya, cinta sejati akan menemukan jalan untuk bertemu kembali. Sampai waktu itu tiba, aku berjanji akan hidup dengan baik dan bahagia.

Lagi pula kami berjanji jika takdir mempertemukan kami kembali, saat itu kami tidak akan saling melepaskan lagi. Karena cinta kami belum berakhir. Dia masih ada di sini, di hatiku, dan aku yakin juga di sana, di hatinya.

Semoga waktu menyembuhkan jiwa-jiwa yang terluka serta mencairkan hati-hati yang beku. Ibuku, ayahku, juga ibunya. Semoga pada akhirnya mereka bisa saling memaafkan dan berdamai dengan luka-lukanya. Sehingga jika saat itu tiba, saat aku bertemu kembali dengannya, tak ada lagi yang menghalangi cinta kami.

Dan akhirnya Tuhan menunjukkan padaku keajaiban cinta. Di sana. Di depanku. Saat angin berhembus. Dia berdiri dan memanggil namaku. Aku yakin angin sudah mengabarkan rinduku padanya tanpa perlu aku berkata-kata. Pada akhirnya yang kami ucapkan adalah “Apa kabar?”

Cinta kami kembali bertemu.

(Diary ini merupakan fanfiction dari tokoh wanita di drama Now We Are Breaking Up)


Comments

Satu tanggapan untuk “Ha Young Eun’s Diary”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.


Eksplorasi konten lain dari Drakor Class – Drakor & Literasi

Mulai berlangganan untuk menerima artikel terbaru di email Anda.

Artikel Terbaru

aktor bae suzy Cha Eun Woo comedy drakor drakor 2020 drakor 2021 DrakorClass DRAKOR CLASS IG LIVE Drakorclass on Podcast drama drama2020 Drama 2021 drama 2022 drama2022 drama 2023 drama lama DRAMA SAGEUK drama terbaru fantasi film korea Hwang in yeop hyun bin IG live ji sung kim seon ho Kim Young Dae kmovie Kpop lee seung gi moon ga young nam joo hyuk netflix Podcast rekomendasi review film romance sageuk Song kang SON YE JIN start up Thriller True Beauty webtoon yoon park