Semangat Juang Saimdang yang Menginspirasi

saimdang

Sekitar dua minggu yang lalu saya baru saja menyelesaikan drama “Saimdang, Memoir of Colors” (2017). Drama ini sudah lama masuk dalam daftar tontonan, namun akhirnya baru saya tonton setelah mendapat ulasan positif dari Bunda Intan dalam acara Live Facebook bertajuk “Sageuk Buat Pemula”. Ternyata drama ini memang bagus dan layak untuk direkomendasikan.

Sebelumnya Bunda Intan sudah membahas garis besar cerita Saimdang dalam tulisannya yang berjudul “Shin Saimdang Kisah Perempuan Dua Dimensi Waktu”. Karena itu kali ini saya tidak akan membahas plot cerita dan tokoh-tokohnya secara mendetail. Kali ini saya hanya akan menulis tentang semangat juang Saimdang yang begitu menginspirasi. Hati-hati ya banyak spoiler! hehehe

Kesalahan Kecil Dapat Berakibat Fatal

Kisah hidup Shin Saimdang muda yang diperankan oleh Park Hye Su terasa sangat sempurna. Pertemuan yang tidak terduga dengan Lee Gyeom muda (Yang Se Jong) dan hubungan yang terjalin di antara dua anak manusia ini terasa begitu manis. Namun sayangnya saya dibuat patah hati saat mereka harus terpisah dengan tragis.

saimdang dan lee gyom muda
Saimdang dan Lee Gyom Muda

Semua berawal dari puisi yang dikirimkan Raja kepada para pengikutnya yang setia, termasuk ayah Saimdang. Saimdang yang tanpa sengaja membacanya saat masuk ke kamar ayahnya merasa penasaran dan tertarik dengan puisi itu. Meski ayahnya sudah menutupi puisi itu agar tidak dibaca, Saimdang malah mencuri baca disaat ayahnya pergi.

Pada suatu hari Saimdang pergi ke sebuah kuil untuk melukis. Di sana dia melukis motif bunga cantik yang ada di pintu kuil. Tak berapa lama muncul seorang biksu dan masuk ke dalam kuil tersebut. Dari pintu yang terbuka, Saimdang melihat lukisan seorang dewi air yang cantik, lalu rasa penasaran pun menyergapnya.

Saimdang mengikuti sang biksu untuk bertanya tentang lukisan itu. Saat itulah dia melihat banyak gelandangan yang hidup di sekitar kuil dan beberapa dari mereka membantu membuat kertas.  Saimdang pun dibuat iba oleh pemandangan yang dilihatnya. Biksu itu menyuruhnya pulang, namun Saimdang tidak mendengarkan peringatan itu.

Beberapa saat kemudian datanglah rombongan para bangsawan yang mengadakan pesta di lingkungan kuil. Mereka mabuk-mabukan, bersenang-senang dengan gisaeng juga makan-makan enak. Mereka seolah tidak peduli dengan penderitaan gelandangan yang ada di sekitarnya.

Kenyataan ini semakin membuat Saimdang merasa sedih. Di tengah kesedihan itu, dia melukis gambar dewi air yang sempat dilihatnya tadi. Lalu di lukisannya itu dia menuliskan puisi yang diberikan raja kepada ayahnya. Tiba-tiba seorang anak gelandangan menghampirinya dan meminta makanan. Setelah memberikan makanan yang dibawanya kepada anak itu, Saimdang juga memberikan lukisan yang dibuatnya.

Sesampainya di rumah Saimdang menceritakan apa yang dia lihat kepada ayahnya. Mendengar cerita itu, ayahnya melarang Saimdang untuk pergi ke kuil itu lagi. Namun Saimdang tidak mengindahkan kata-kata ayahnya. Keesokan harinya dia tetap nekat pergi ke kuil untuk memberikan makanan kepada para gelandangan. Saimdang tidak tahu ada bahaya yang mengintainya di sana.

Singkat cerita, saat Saimdang sampai di kuil keesokan harinya, rombongan bangsawan itu ada lagi di sana. Ditengah pesta para bangsawan itu terjadi kekacauan akibat anak gelandangan yang mengambil makanan mereka. Kekacauan semakin memanas saat lukisan yang Saimdang berikan kepada anak itu ditemukan. Puisi yang tertulis di sana memicu kemarahan yang berujung pembantaian. Untungnya Saimdang berhasil kabur dibantu anak pemilik kedai makanan yang datang ke sana bersamanya.

Di tengah pelarian, Saimdang jatuh terperosok dan tidak sadarkan diri. Anak pemilik kedai pun berusaha menyelamatkannya dan menggendong Saimdang yang sedang pingsan di punggungnya. Saat perjalanan pulang, mereka bertemu Lee Gyeom yang datang menjemput. Lee Gyeom pun segera membawa Saimdang pergi. Sayangnya di tengah kepanikan itu, dia meninggalkan anak pemilik kedai yang terluka sendirian di tengah hutan yang gelap. Anak itu pun merasa sedih. Apalagi dia juga menyimpan rasa kepada Lee Gyeom.

Saimdang masih tidak sadarkan diri bahkan setelah mereka sampai di rumahnya. Semua orang panik. Apalagi tabib di desa mereka sedang melakukan perjalanan mencari obat-obatan. Lee Gyeom pun memutuskan untuk menjemput tabib tersebut saat itu juga. Dia rela melakukan perjalanan jauh demi kesembuhan gadis kesayangannya.

Tak lama setelah kejadian itu, isi puisi pun tersebar dan sampai ke telinga raja. Raja yang kesehatan mentalnya kurang baik merasa ketakutan tanpa alasan. Dia menyuruh pengawal pribadinya untuk membunuh semua orang yang mendapatkan puisi darinya. Tak terkecuali ayah Saimdang. Raja juga berkata apabila Lee Gyeom, kerabat jauhnya itu, tetap menikah dengan Saimdang, maka keduanya juga harus dibunuh. 

Ayah Saimdang mendengar berita itu dari pengawal pribadi raja, yang ternyata baik, dan meminta waktu untuk menyelamatkan putrinya yang saat itu baru saja siuman.  Sang pengawal pun memberinya waktu satu hari. Saat ayah Saimdang membahas persoalan itu dengan istrinya, Saimdang mendengar percakapan mereka. Saimdang merasa kaget dan langsung setuju untuk menikah dengan orang lain asalkan bisa menyelamatkan nyawa Lee Gyeom.

Mereka pun segera mencari mempelai pria untuk Saimdang dan pilihan jatuh pada seorang laki-laki tak dikenal yang sudah beberapa lama menginap di rumah Saimdang (Diceritakan rumah mereka sering dijadikan tempat menginap bagi orang yang melakukan perjalanan). Memang laki-laki itu sudah lama menaruh hati pada Saimdang, sehingga dia tidak menolak rencana pernikahan tersebut.

Upacara pernikahan pun segera dimulai. Lee Gyeom yang baru datang dari menjemput tabib dihadang di tengah jalan dan diberitahu agar tidak mengganggu prosesi itu. Dia dikurung di gudang sampai acara selesai. Hatinya hancur mendengar kekasih yang sudah dilamarnya tiba-tiba menikah dengan orang lain tanpa penjelasan apapun. Jadi ingat lagu “Tenda Biru”-nya Desi Ratnasari. 😁

Kesedihan tidak berhenti sampai disitu. Setelah acara pernikahan selesai, sang pengawal raja pun kembali untuk mengeksekusi ayah Saimdang. Lee Gyeom yang akhirnya dibebaskan dari gudang langsung pergi ke rumah Saimdang yang sedang berkabung dan memberondongnya dengan pertanyaan “Kenapa?”. Tentu saja Saimdang tidak dapat menjelaskan alasannya kepada Lee Gyeom.

Saya tidak bisa membayangkan betapa hancurnya hati saya jika berada di posisi Saimdang. Setelah melihat banyak orang dibunuh karena lukisan dan tulisannya, dia juga terpaksa menikah dengan lelaki yang tidak dicintainya. Bukan hanya tidak dicintai tapi juga tidak dikenal dan tidak jelas asal usulnya. Belum habis kesedihan itu, dia harus menerima kenyataan bahwa penyebab ayahnya dibunuh secara tidak langsung adalah karena kesalahannya menyebarkan isi puisi itu. Oh, betapa kesalahan kecil bisa membawa petaka sebesar itu.

Dari kisah masa lalu Saimdang ini saya belajar bahwa dalam hidup kita perlu berhati-hati dalam mengambil tindakan. Karena bisa saja hal kecil yang kita lakukan membawa perubahan besar dalam hidup kita. Selain itu juga tidak ada salahnya menuruti kata-kata orang tua selama hal tersebut adalah sesuatu yang baik dan dimaksudkan untuk kebaikan kita sendiri.

Hal Buruk yang Terjadi dalam Hidup Bukan Alasan Untuk Menjadi Lemah dan Putus Asa

Terlepas dari sikapnya yang kurang bijaksana saat muda, saya mengagumi pribadi Saimdang yang begitu kuat. Hal-hal buruk yang terjadi di masa lalu ternyata tidak membuatnya menjadi seseorang yang patah semangat. Dia tetap hidup menjadi seorang ibu tangguh dan istri yang penyayang. Dia mendidik dan membesarkan keempat anaknya dengan cara yang, menurut saya, elegan. Selain itu dia juga memperlakukan suaminya dengan penuh perhatian dan rasa hormat, meskipun pernikahan mereka tidak didasari dengan cinta.

saimdang dan lee gyom dewasa
Saimdang dan Lee Gyeom dewasa

Sayangnya kejadian buruk yang menimpa Saimdang tidak berhenti sampai di sana. ”Kesalahan” yang dia lakukan di masa lalu masih membawa imbas besar dalam perjalanan hidupnya di masa depan. Salah satunya adalah sang suami yang diceritakan kurang kompeten. Dia gagal mengikuti ujian negara sebanyak 20 kali selama kurang lebih 20 tahun, bahkan beberapa kali dia berhasil ditipu orang. Salah satunya membuat Saimdang harus kehilangan rumah pemberian orang tuanya.

Jalinan “ikatan buruk” yang terjadi karena insiden di kuil itu ternyata juga mengikutinya sampai ke masa depan. Pria yang melakukan pembantaian, juga anak pemilik kedai yang dikenalnya di masa lalu membuat perjalanan hidup Saimdang dewasa menjadi penuh lika-liku. Belum lagi sikap raja yang begitu plin plan. Sampai akhir cerita pun saya tidak bisa mengkategorikan sang raja sebagai tokoh protagonis atau antagonis.

Untungnya Saimdang bertemu kembali dengan Lee Gyeom yang terus membantu Saimdang keluar dari setiap masalah yang dihadapinya. Meskipun saya sedikit merasa risih dengan sikap Lee Gyeom yang seolah terus berusaha mendekati Saimdang padahal dia tahu Saimdang sudah bersuami. Bahkan lee Gyeom membujang sampai akhir karena cintanya pada Saimdang yang tak kunjung padam.

Seperti belum cukup kesialan menghampiri hidup Saimdang, sang suami kembali berbuat ulah. Kali ini dia berselingkuh dengan seorang wanita yang memiliki kedai makanan, bahkan wanita itu sampai hamil. Meskipun begitu Saimdang tetap meminta agar tidak diceraikan demi anak-anaknya. Memang selama ini sang suami adalah seorang ayah yang penyayang dan dekat dengan anak-anaknya.

Menghadapi masalah demi masalah, Saimdang tetap berdiri kokoh. Tidak berubah menjadi lemah sedikit pun. Semangat hidupnya terus membara dan salah satu alasannya adalah anak-anaknya. Semangat Saimdang inilah yang membantu saya bangkit dari kesedihan beberapa minggu yang lalu. Beruntunglah saat Bapak saya meninggal, saya sedang menonton drama yang begitu inspiratif ini, sehingga semangatnya pun ikut menular kepada saya. Keren, ya, penulis drama ini. Terima kasih, Writernim!

Ternyata sudah panjang pembahasan saya tentang Saimdang. Padahal masih banyak yang ingin saya bahas. Mungkin akan saya sambung dalam tulisan berikutnya. Terima kasih bagi yang sudah membaca ulasan ini. Seru kan? Bagi yang belum menonton saya rekomendasikan untuk menontonnya. Bagi yang sudah, yuk ikutan cerita di kolom komentar. 😉

Asri

Ibu muda yang suka membaca, menulis, menonton, makan, dan jalan-jalan.
Cerita jalan-jalan saya bisa dibaca di http://www.asrilestari.com sedangkan tulisan lainnya bisa diintip di https://catatansangpemimpikecil.blogspot.com

Baca Juga

5 Komentar

  1. Keren banget prestasi Saimdang ini ya, tapi… aku belum nonton dramanya, takut ga kuat hati ini, hehhehehe…

    1. Kuat kok kuat.. Yuk nonton 😁

  2. Tulisan yang memikat. Dhuu . . . nonton ulang eps 25 trus nangisss . . . pinter yaa tim penulis dan aktor juga aktrisnya mereka serius bermain indah sekali.
    Bunda belom mau bergeser ke drakor lain sebelum sempat nulis Love The Moonlights

    1. Iya Bunda.. Keren sih drama ini. Dr cerita sampai aktingnya

      Ditunggu tulisan Love in The Moonlight-nya 😉

  3. […] saya yang masih akan bercerita tentang Saimdang. Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Semangat Juang Saimdang yang Menginspirasi“. Maafkan saya yang belum bisa move on dari drama menarik […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: