“Slow Burn Romance” Ala Lee Min Ho

lee min ho dan son ye jin dalam personal taste

Hola, Minoz, dan semua penggemar Lee Min Ho Oppa. Mari, mari merapat sini. Masih pada edisi Valentine’s Day tahun 2021, kita akan membahasa drama lama banget, dari 11 tahun lalu, yang dibintangi oleh oppa kesayangan kita, Lee Min Ho, dan eonni cantik yang hatinya baru berlabuh ke Babang Hyun Bin. Tak lain dan tak bukan, dia adalah Son Ye Jinnnnn …!

Eh salah, belum sebut nama dramanya dari tadi, hehe. Drama Korea yang akan saya bahas kali ini berjudul “Personal Taste” yang ditayangkan pada tahun 2010 oleh stasiun televisi MBC dan mendapat rating rata-rata 14.4% sepanjang 16 episode penayangannya.

Lee Min Ho dan Son Ye Jin di dalam "Personal Taste"
Lee Min Ho dan Son Ye Jin (sebelum ada babang HB)

Drama ini adalah drama pertama Lee Min Ho setelah sukses berat dengan “Boys over Flowers” (2009) yang melambungkan namanya menjadi salah satu Hallyu Star. Berbeda dengan karakternya di “Boys over Flowers” yang masih muda, kekanak-kanakan, tapi bucin abis sama Gem Jan Di, Lee Min Ho di Personal Taste adalah seorang profesional, arsitek ceunah, pada usia pertengahan 20 tahun dan sudah memiliki perusahaan sendiri.

Tokoh protagonis di dalam drama ini ada dua, yaitu Lee Min Ho yang berperan sebagai Jeon Jin Ho, dan Son Ye Jin yang berperan sebagai Park Gae In. Jeon Jin Ho adalah seorang arsitek, profesi yang diwariskan oleh ayahnya yang sudah bangkrut dan meninggal dunia. Son Ye Jin adalah seorang desainer produk dengan ayah seorang arsitek terkenal, yang lebih sering tinggal di Inggris daripada di Seoul.

Melihat pilihan profesi kedua protagonisnya saya seneng banget. Tahu sendiri bagaimana detail dan menyeluruhnya riset sebuah drama Korea terhadap sebuah profesi. Jadi, saya berharap akan belajar banyak tentang kedua profesi yang dijalani oleh Jin Ho dan Gae In, dan saya tidak kecewa. Well, sampai kedua tokoh ini jadian sih. Setelah jadian, isi dramanya tentang pacaran melulu. Menontonnya bikin jengah.

Siapa yang menjadi antagonis di dalam drama ini? Mantan kekasih Gae In yang bernama Chang Ryul dan mantan sahabat Gae In yang bernama In Hee. Jadi ceritanya Gae In ini ditikam dari belakang, kekasihnya berselingkuh dengan sahabatnya sendiri. Dan dia baru tahu pada hari pernikahan kedua orang jahat itu! Ini Gae In terlalu naif atau cenderung bodoh, ya? Kamu bisa putuskan sendiri setelah menonton drama ini.

Drakor tidak afdhal tanpa … wingman, alias sahabat setia dari para protagonis. Young Sun adalah sahabat Gae In, seorang fotografer freelance. Sang Jun adalah asisten sekaligus teman terdekat Jin Ho yang dingin. Sang Jun ini yang menyebabkan Gae In dan Young Sun salah paham bahwa Jin Ho seorang homoseksual, karena Sang Jun sering memposisikan dirinya sebagai seorang wanita dan memanggil Young Sun dengan sebutan eonni (panggilan seorang wanita ke wanita yang lebih tua), dan bukan noona (panggilan seorang pria ke wanita yang lebih tua).

Pokoknya kacau deh kesalahapahaman yang terjadi, tapi itu yang menyebabkan Gae In pada akhirnya menerima Jin Ho ngekos di rumahnya untuk menggantikan In Hee yang berkhianat. ‘Kan Jin Ho homoseksual, tidak akan terjadi apa-apalah jika mereka berdua tinggal bersama, begitu sangka Gae In. Padahal ketampanan Jin Ho cukup bisa membuat jantung wanita mana pun berdebar kencang. Eaaa ….

Memangnya benar Jin Ho homoseksual? Tentu tidak. Parasnya yang cakep-cakep-cantik, pembawaannya yang kalem dan dingin, memang gampang membuat salah paham. Ditambah dia belum punya pacar dan memilih ngekos padahal ibunya tinggal di Seoul juga. Gae In semakin yakin Jin Ho memilih keluar dari rumah supaya orientasi seksualnya tidak ketahuan keluarganya.

Euleuh, euleuh, drakor paling jago deh mengubah kesalahpahaman di antara karakter-karakternya menjadi alur yang memikat. Para karakter tidak tahu bahwa mereka saling salah paham, tapi penonton ‘kan tahu, jadinya penonton gemas sendiri, dan kadang-kadang ingin teriak ke layar supaya konfliknya cepat diselesaikan. Eh, ini mah saya, deng.

Formula Kesuksesan Drama Korea

Sebelum kita membahas alur, konflik, sampai penyelesaian drama ini, sebaiknya kita mundur dulu ke formula kesuksesan sebuah drama Korea.

pria tsundere + wanita dengan trauma masa lalu + tinggal bersama = pemulihan + jatuh cinta

Catet, ya, formula ini sudah berhasil di mungkin jutaan drama Korea. Perbedaan di antara drama hanyalah latar belakang karakter, alur cerita, dan tujuan penceritaan. Basic-nya mah tetap sama.

Kita bahas dari setiap faktor yuk.

1. Pria Tsundere

Apa sih yang dimaksud dengan pria tsundere? Tsundere adalah istilah dalam bahasa Jepang yang menggambarkan pria yang ekstrim dingin, temperamental, gampang marah, sebelum menjadi lebih baik dan lebih ramah seiring dengan berjalannya waktu.

Nah, Lee Min Ho ini pas banget deh menggambarkan karakter tsundere. Dia cuma diam dan berdiri saja udah kelihatan dingin, menjaga jarak, sombong gitu deh. Jadinya menarik melihat karakter dengan sikap seperti dia lama-lama jadi ramah gara-gara seorang wanita. Asyikkk ….

Sebelum ngekos di Sanggojae, nama rumah yang ditempati oleh Gae In, Jin Ho adalah seorang yang berambisi membawa firma arsiteknya untuk menjadi lebih besar. Dia mengikuti semua tender penting dan tidak gentar berhadap-hadapan dengan Future Construction, sebuah perusahaan yang jauh lebih besar dari firmanya, saat proses bidding.

Pemilik Future Construction adalah ayah dari Chang Ryul, dan dia adalah mantan sahabat dari mendiang ayah Jin Ho. Memang drama Korea ga afdhal kalau mainnya ga satu RT, lu lagi lu lagi. Masalah jadi tambah komplekslah begitu Chang Ryul tahu Jin Ho, yang notabene adalah saingannya, ternyata tinggal  satu rumah dengan Gae In, mantan pacarnya. Chang Ryul jadi menyesal sudah berselingkuh dengan In Hee. Dia ingin kembali pada Gae In, padahal motivasinya jelas tidak baik. Dia hanya jengkel saja karena merasa dikalahkan oleh Jin Ho, bukan karena dia benar-benar mencintai Gae In.

Jin Ho sebagai pria tsundere bukanlah pria tanpa kelemahan. Awal dia masuk ke Sanggojae adalah untuk mempelajari rumah milik Gae In itu, supaya mendapatkan inspirasi untuk mengikuti bidding yang diselenggarakan oleh Dam Arts Center Project. Sanggojae adalah sebuah hanok, rumah tradisional Korea, yang sudah dimodernisasi. Rancangan rumah ini pernah mendapat banyak penghargaan pada masanya, tapi tidak pernah dibuka untuk publik setelah kematian ibu Gae In di situ.

Apakah sedari awal Jin Ho mengakui bahwa dia di situ untuk survei? Tentu saja tidak. Sama seperti dia menyembunyikan identitas seksualnya, dia juga menyembunyikan motif sebenarnya indekos di situ, supaya Gae In tetap menerimanya tingga di rumah yang sama. Selain diuji soal pekerjaan (memenangkan bidding), setiap hari Jin Ho diuji dengan kehadiran Gae In yang naif, sembrono, tapi sebenarnya sangat manis dan berhati baik.

Salah satu hal paling menyenangkan dari menonton drama ini adalah melihat karakter Jin Ho yang membuka dirinya perlahan-lahan. Pada dasarnya dia mau memperhatikan orang yang sudah diterima oleh hatinya. Makanya ada seorang wanita teman masa kecilnya yang ngotot mau menikah dengan Jin Ho, karena Jin Ho sangat baik dan gentleman sekali, menurut dia.

Salah dua hal yang saya ingat dari Jin Ho yang diam-diam memperhatikan Gae In adalah: 1) waktu Gae In tiba-tiba datang bulan ketika mereka berada di sebuah pesta, Jin Ho mengesampingkan rasa malunya dan pergi ke toko untuk membelikan pembalut untuk Gae In, dan 2) waktu Gae In mengalami kram perut karena sedang datang bulan, Jin Ho tanpa ragu pulang ke rumah ibunya untuk meminta obat datang bulan, setelah itu dia menggosok-gosok perut Gae In yang kesakitan sampai Gae In jatuh tertidur. Romantis banget, omayga.

Dan yang pasti waktu Jin Ho ketahuan mencuri blueprint Sanggojae oleh ayah Gae In, dia tanpa malu mengaku bersalah. Dia juga berbohong pada Gae In bahwa dia tidak lagi mencintai Gae In, supaya mereka putus dan Gae In tidak lagi dimarahi oleh ayahnya karena sudah mempercayai dan jatuh cinta pada seorang pencuri.

Luar biasa deh pengorbanan Jin Ho di sini. Setiap raut wajah, tindak-tanduk, tutur kata Lee Min Ho di sini tidak ada yang salah. Semuanya tepat untuk sebuah drama yang bertema klise. “Personal Taste” adalah drama dengan genre komedi-romantis favorit saya sepanjang masa.

2. Wanita dengan trauma masa lalu

Gae In tumbuh besar tanpa kehadiran seorang ibu. Ibunya meninggal dunia ketika dia berusia lima atau enam tahun karena sebuah kecelakaan yang terjadi di rumah mereka. Trauma menyebabkan Gae In tidak bisa mengingat detail kecelakaan itu dengan baik. Trauma menyebabkan ayah Gae In tanpa sadar menyalahkannya atas kematian istrinya, dan atas apa pun yang Gae In perbuat. Seumur hidup, Gae In selalu berjuang mendapatkan persetujuan dan perhatian dari ayahnya, yang sayang sekali tidak pernah ia dapat sampai ketika Jin Ho dan semua permasalahannya datang ke dalam kehidupan Gae In.

Sebagai sebuah karakter, Gae In adalah karakter yang berkembang. Sifat dasarnya masih sama; dia welas asih, selalu melihat yang terbaik dari diri orang lain, optimis, dan mudah memaafkan. Pertemanannya dengan Jin Ho menambahkan aspek lain di dalam karakternya: untuk lebih mawas diri, bijaksana, dan bisa menempatkan diri.

Saya senang sekali melihat terobosan yang Gae In alami di dalam kehidupan profesionalnya. Dia dipercaya mendesain furniture untuk bagian sebuah galeri seni yang akan dibuka untuk anak-anak. Pemilik galeri itu adalah orang yang sama yang menyelenggarakan bidding untuk Dam Arts Center Project. Gawatnya, dia adalah seorang homoseksual yang juga jatuh cinta pada Jin Ho. Astaga.

Fun fact (1): asisten dari si pemilik galeri adalah In Hee, mantan sahabat Gae In. Dia tidak jadi menikah dengan Chang Ryul dan malah mulai mendekati Jin Ho. Ugh.

Fun fact (2): si pemilik galeri diperankan oleh aktor yang sama yang menjadi otak semua kejahatan di drama “Kingdom” Season 1 dan 2. Kamu pasti tidak menyangka deh kalau melihat perubahan fisiknya ….

3. Tinggal bersama

Teman saya, Kim Deya, pernah menuliskan tentang proximity sebagai resep sukses untuk tumbuhnya perasaan cinta. Formula tinggal bersama ini paling sering digunakan oleh drama Korea, mulai dari jaman “Full House” (2004) sampai jaman ”Crash Landing on You” (2019-2020). Orang-orang so(k) yakin kalau tinggal bersama pasti menumbuhkan benih cinta.

Iya kalau teman serumah secakep Hyun Bin dan secantik Son Ye Jin. Tapi gimana kalau ganteng-ganteng suka ngupil? Atau cantik-cantik suka lupa membuang pembalut bekasnya dan meletakkannya begitu saja di kamar mandi? Neraka, Saudara-saudara. Dan saya pernah mengalami sendiri punya housemate yang cantik kayak aktris di drama Turki yang lagi happening itu lho, tapi joroknya kebangetan karena seumur hidup dia selalu punya dayang-dayang.

Kisah tinggal bersama Jin Ho dan Gae In juga tak luput dari percikan-percikan ketertarikan. Mereka pernah saling memergoki keluar dari kamar mandi. Mereka menghabiskan waktu di dapur dan menonton televisi bersama. Mereka juga makan dan minum alkohol bersama, sampai Jin Ho harus menggendong Gae In yang mabuk. Jin Ho juga menjadi teman curhat Gae In ketika dia bingung dengan Chang Ryul yang ingin kembali padanya.

lee min ho dan son ye jin dalam personal taste
Gae In pikir Jin Ho itu homo, jadilah tinggal serumah

Akhirnya karena merasa saling tertarik dan saling menyangkal, apalagi karena Gae In masih yakin bahwa Jin Ho itu seorang homoseksual, mereka sok-sokan mengklaim sebagai sahabat masing-masing. Haish, ini mah lagu lama. Penonton seperti saya jadi gemas sendiri karena pernyataan cinta itu tidak kunjung keluar juga.

Eh tapi jangan salah, begitu menyatakan cinta, karakter Jin Ho ini tegas banget, lho. Dia mencium Gae In di depan Chang Ryul dan In Hee. Wih, kurang gahar apa coba statement “I love you, let’s date” dari dirinya? Chang Ryul dan In Hee kena batunya deh, karena mereka berdua tidak mendapatkan orang-orang yang mereka incar, yaitu Gae In dan Jin Ho.

Setelah ciuman pertama itu, mulailah serangkaian adegan berpacaran ala Gae In dan Jin Ho. Main ice skating, sharing makanan di sebuah kafe, saling menelepon di jam istirahat kantor, adalah sebagian kecil aksi mereka yang bikin saya geli sendiri. Lovey dovey banget sih lu berdua ….

4. Pemulihan

Pemulihan yang dimaksud di sini mencakup tiga hal: 1) pemulihan ingatan Gae In akan kecelakaan yang terjadi di rumahnya dan merenggut nyawa ibunya, 2) pemulihan hubungan Gae In dengan ayahnya yang selalu menyalahkannya, dan 3) pemulihan hubungan Gae In dan Jin Ho yang ingin memulai lagi hubungan mereka tanpa adanya kebohongan dan motif-motif tersembunyi.

Basement di Sanggojae dulunya dipakai oleh ibu Gae In sebagai bengkel untuk membuat produk. Ya benar, almarhumah ibu Gae In dulunya juga seorang desainer produk. Ayah Gae In membuat lantai yang beralasakan kaca sebagai atap dari basement itu, supaya Gae In bisa melihat ibunya yang sedang bekerja di bawah, dan supaya ibunya bisa mengawasi Gae In yang sedang bermain-main di atas.

Suatu hari Gae In hendak memanggil ibunya dari atas, tapi ibunya tak kunjung mendengar. Gae In mengambil sebuah palu mainan dan memukul-mukulkannya ke kaca, berharap itu akan menarik perhatian ibunya. Malang tak dapat ditolak, titik yang Gae In pukul justru adalah titik kelemahan panel kaca itu. Panel itu perlahan-lahan retak dan pecah, menimpa ibu Gae In yang sedang bekerja di basement.

Trauma membuat Gae In tidak bisa mengingat detail peristiwanya. Ayah Gae In yang sangat berduka menyegel basement dan jarang berada di rumah untuk mengurus Gae In. Dia sering sekali mengkritik, menyalahkan, mengomentari kehidupan dan pekerjaan Gae In, sehingga Gae In tumbuh menjadi seseorang yang selalu gamang dan sering meragukan dirinya sendiri.

Jin Ho dengan berani membuka kembali basement itu dan membantu Gae In mengingat kembali dan memaafkan dirinya sendiri. Tindakan Jin Ho yang dianggap kurang ajar dan mencampuri urusan keluarga mereka oleh ayah Gae In, ternyata membuka jalur komunikasi yang mandek di antara Gae In dan ayahnya. Tanpa diduga, mereka bisa jadi saling berterus terang dan saling memaafkan setelah berpuluh-puluh tahun berlalu.

Pemulihan terakhir adalah hubungan di antara Jin Ho dan Gae In. Dengan diungkapkannya semua isi hati mereka berdua, mereka berbaikan di villa yang dimiliki oleh si atasan yang homoseksual. Ya ada gunanya juga karakter tersebut di sepanjang cerita.

5. Jatuh cinta

Hasil akhir dari faktor satu sampai empat adalah para protagonis yang saling jatuh cinta. Jatuh cinta di antara Gae In dan Jin Ho terjadi karena mereka saling menghabiskan waktu bersama. Mereka pelan-pelan saling mengenal, saling mengerti kepribadian masing-masing. Mereka juga bisa jujur menunjukkan kekurangan pasangannya.

Gae In tidak suka jika Jin Ho berpura-pura semua baik-baik saja. Ketika firmanya menghadapi masalah besar dan hampir bangkrut, Jin Ho menutup-nutupi fakta itu dari Gae In. Menurut Gae In, yang namanya cinta pasti melibatkan orang yang dicintai ke dalam masalah, pergumulan, kesulitan yang dihadapi oleh si pasangan. Di sini terletak perbedaan mendasar di antara Jin Ho dan Gae In.

Jin Ho tidak menyukai sifat Gae In yang terlalu pemaaf. Dia sudah mewanti-wanti Gae In untuk tidak dekat-dekat lagi dengan Chang Ryul. Selain karena Chang Ryul pernah mengkhianati, menikam Gae In dari belakang, Chang Ryul juga menganggap Gae In sebagai ban serep karena Chang Ryul sudah putus dari In Hee. Gae In belajar banyak dari Jin Ho supaya tidak menjadi orang yang terlalu naif dan gampang dibodoh-bodohi oleh orang lain.

Pada akhirnya semua kekurangan dan kelebihan mereka berdua mencapai titik keseimbangan yang membuat mereka saling menerima dan malah berjanji untuk menikah. Aih, ending yang pas banget untuk 16 episode yang mengobok-obok emosi dan membuat senyum-senyum sendiri saking manisnya.

Slow Burn Romance dalam Drakor Personal Taste

Jadi, di mana slow burn romance yang saya sebut ala Lee Min Ho? Ya itu, melalui karakternya sebagai Jeon Jin Ho yang “terperangkap” di rumah yang sama dengan induk semangnya, tapi malah jatuh cinta setelah mereka mulai saling mengenal.

Son Ye Jin dan Lee Min Ho dalam "Personal Taste"
So sweet ga sih melihat mereka berdua begini

Dibandingkan di “Boys over Flowers” (2009) dimana Lee Min Ho adalah seorang bully yang jatuh cinta pada mangsanya, atau di “City Hunter” (2011) dimana Lee Min Ho adalah seorang vigilante yang jatuh cinta pada polisi yang memburu dirinya, atau di “Faith” (2012) dimana Lee Min Ho adalah seorang ksatria yang terpaksa melindungi seorang dokter yang datang dari masa depan, atau di “The Heirs” (2013) dimana Lee Min Ho adalah seorang chaebol yang jatuh cinta pada pandangan pertama dengan seorang gadis miskin, Lee Min Ho sebagai Jeon Jin Ho adalah satu-satunya karakter dia jatuh cinta perlahan-lahan, dalam jangka waktu lama dengan lawan mainnya. Slow burn romance, indeed.  

Apa kamu berniat menonton drama ini? Kalau kamu sudah nonton, apa pendapatmu?

Happy belated Valentine’s Day, y’all! Saranghae!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

3 Komentar

  1. Wahh ner uga ya, kalo d drama ini cinta datang karena terbiasa. Nggak yg njuk tiba2 suka. Paling demen drama LMH yang ini 😍

    1. samaa … lmh oppa paling cocok jadi cowok dingin, tsundere, yang ga bisa dideketin :p

  2. […] Tapi, walau formula drama Korea klasik selalu begitu, tetap saja setiap drama dengan topik tertentu bisa membuat drama jadi menarik. Selain Monthly Magazine Home, sebut saja drama Do Do Sol Sol La La Sol, True Beauty, bahkan My Roommate is A Gumiho yang juga memakai resep romcom drakor yang sudah dipakai dari jaman Boys over flower maupun Personal Taste. […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: