happiness battle novel

Ketika Sosial Media Membawa Petaka, Reviu Novel Happiness Battle

Ketertarikan saya pada novel Thriller Korea Happiness Battle yang ditulis Joo Youngha tahun 2020 ini bermula karena tema “perang kebahagiaan” di media sosial yang dibalut dalam kasus pembunuhan.

Terasa begitu related nih dengan kondisi media sosial sekarang yang isinya orang-orang yang pamer kehidupan pribadi mereka. Entah itu kebahagiaan atau kesedihan. Sekarang ini semuanya seperti perlu diumumkan kepada dunia jika kita ingin tetap dihargai kehadirannya.

Eh tapi emang apa ruginya menyimpan jejak kebahagiaan di media sosial? Bukankah media sosial adalah tempat paling asyik untuk menyimpan momen-momen indah dan mudah dicari lagi?

Novel Happiness Battle memotret sisi gelap dari kebiasaan yang sudah menjadi budaya orang modern ini. Tapi buat kamu-kamu yang suka berbagi di sosial media, nggak usah takut juga sih. Karena tidak hanya isu kok yang dibahas. Melainkan juga ada masalah luka masa lalu yang perlu diselesaikan jika tidak ingin terus menghantui dan membayangi hidup kita.

Happiness Battle bercerita tentang apa?

Blurb novel Happiness Battle karya Joo Young-ha (dokpri penulis)
Blurb novel Happiness Battle karya Joo Youngha (dokpri)

Tokoh utama dalam novel setebal 295 halaman ini adalah Jang Mi Ho, seorang manager pemasaran barang elektronik. Sebuah kasus kematian di apartemen mewah – yang kebetulan menimpa salah satu calon pemenang kontes sosial media yang dilakukan perusahaannya, membuat Mi Ho teringat pada teman SMA-nya Yoo Jin.

Misteri kematian Yoo Jin

Mengapa Yoo Jin meninggal kehabisan darah dengan posisi tersampir di balkon apartemennya? Sementara suaminya pingsan dengan posisi punggung tertusuk pisau di kamar tidur. Ceceran darah Yoo Jin ditemukan di seluruh penjuru aparteman mewah seluas 231 meter persegi. Jejak sosial medianya menyebutkan ia berencana menghabiskan malam berdua dengan suaminya dan anak-anak dititipkan di rumah orang tuanya.

Apakah Yoo Jin dibunuh atau bunuh diri?

Cerita pun bergulir dengan usaha Mi Ho mencari tahu apa yang terjadi dengan Yoo Jin melalui Instagramnya. Dan benar saja, semua fakta bisa mulai terbaca dari sana.
Serem juga melihat hidup kita bisa begitu terpampang jelas dan dilihat oleh semua orang ya. Bahkan detail-detail yang menyimpan banyak misteri.

Perang kebahagiaan di sosial media

Dari Instagramnya diketahui bahwa Yoo Jin terlibat perang kebahagiaan dengan teman-teman sesama orang tua murid di TK Internasional Heritage. Para ibu berbagi keseharian mereka sekaligus memamerkan betapa bahagia hidup mereka.

Jadi bukan sekedar flexing sebagai sesama orang kaya ya. Mereka merasa perlu untuk menunjukkan punya suami yang mencintai mereka, anak-anak yang cerdas dan manis, keluarga mertua yang baik, bagaimana mereka menghadapi stress dengan anggun, dan sejenisnya lah.

Mana mereka suka menambahkan hastag “pamer” seperti #akupunmakinpintarmasak, #inilahpersahabatan atau #sudah500tahuntidakpergikewaterpark.

Awalnya saling membalas komen dengan pujian, lalu mulai meningkat menjadi saling menyindir. Hingga bahkan saling mengancam untuk membuka aib demi hancurnya kebahagiaan orang lain.

“Apa yang harus dilakukan untuk memenangi perang kebahagiaan? Kita tidak perlu memastikan diri kita sendiri bahagia. Kita hanya perlu menghancurkan kebahagiaan orang lain.” – Jeong Ah (hal 173)

Luka batin pengasuhan

Paralel dengan kondisi sekarang, Mi Ho juga flash back masa-masa SMA-nya bersama Yoo Jin dan Se Kyeong. Bagaimana mereka bertiga sebenarnya memendam luka batin akibat pengasuhan orang tua yang salah.

Mi Ho punya ibu yang selalu membayanginya dan memaksanya menjadi yang terbaik. Ceritanya mengingatkan sama Kang Ho di The Good Bad Mother gitu lah. Sampai-sampai Mi Ho memilih berbohong untuk menyelamatkan diri. Walau itu mengorbankan rahasia sahabatnya.

Se Kyeong juga berasal dari ayah yang selalu selingkuh. Dan Yoo Jin memiliki ibu yang tidak terlalu peduli dengan anaknya. Bahkan saat anaknya mengalami pelecehan seksual.

“Anak-anak selalu menjadi korban keserakahan orang dewasa. Anak-anak harus menanggung akibatnya selama mereka tumbuh dewasa, selama sisa hidup mereka, sampai segalanya berubah menjadi bekas luka.” (hal 205)

Menilai novel Happiness Battle

Daftar isi dan Prolog Novel Happiness Battle (dokpri penulis)
Daftar isi dan Prolog Novel Happiness Battle (dokpri)

Happiness Battle adalah tipe novel yang kemungkinan besar akan kamu baca dengan cepat saking penasarannya. Plotnya berjalan lumayan cepat dan tidak membosankan. Saya sendiri hanya membutuhkan waktu 2-3 hari untuk menamatkan novel ini.

Sayangnya di saat akhir, plot twist-nya bikin kita terhenyak dan bingung. “Eh gimana…gimana…?” Lalu membuat kita perlu baca kembali dari awal dan menemukan sejumlah plot hole yang rasanya bikin pengen marah.

Kekurangan dari novel ini diantaranya adalah: beberapa karakter sebenarnya tidak punya peran yang signifikan, ada adegan-adegan yang sebenarnya belum selesai dan kita tidak tahu lanjutannya, atau adegan yang jelas-jelas menyesatkan. Ngapain sih bikin plot seperti itu!!! Asli pengen marah dan gatel pengen segera memperbaikinya.

Tapi terlepas dari bikin pengen marah itu, saya tetap rela memberikan label “novel layak ada di rak buku” untuk karya Joo Youngha yang katanya berhasil memenangi kontes penulis K-Thriller ini. Karena walau menurut saya cara bercerita Joo Yongha ini tidak rapi, tapi ide novel dan isu yang diangkat sebenarnya memang menarik.

Bagaimana pun, Joo Youngha membantu saya untuk melihat sosial media dengan lebih bijak. Mengenai apa yang perlu kita bagikan, bagaimana cara kita membagikannya, dan tentu saja menginspirasi cara menikmati sosial media yang sehat.

Poster Kdrama Happiness Battle (Genie TV ENA)
Poster Kdrama Happiness Battle (Genie TV ENA)

Itu sebabnya saya nggak sabar untuk melihat novel Happiness Battle difilmkan mulai 31 Mei 2023 di stasiun TV ENA dan Amazon Prime Video. Semoga saja adaptasinya bisa memuluskan plot hole yang banyak muncul dalam novelnya.

Data novel Happiness Battle

Judul: Happiness Battle
Penulis: Joo Youngha (2020)
Penerbit edisi bahasa Indonesia: Gramedia Pustaka Utama 2022
Halaman: 294, 20×13,5cm
Penerjemah dari bahasa Korea: Lingliana
Editor: Juliana Tan
Harga sampul: Rp 95.000,-


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: