Tips dan Pengalaman Menulis Cerita Lucu

boy with book

Semua perempuan terlahir cantik, tapi menjadi seorang perempuan dengan talenta humoris termasuk spesial. Apalagi sampai menulis buku cerita lucu.

Perempuan humoris yang saya kenal meski beliau-beliau belum kenalan sama saya, sebut saja Rina Nose, Mpok Alfa, Yati Pesek and many more, pastinya perempuan-perempuan itu berotak cerdas.

Menciptakan lelucon tetapi tidak garing itu susah, Endang!

Saya sendiri akhirnya membuktikan, ternyata menulis cerita lucu tapi tidak garing ternyata memang butuh sense tersendiri.

Cerita lucu sebenarnya sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari kita. Rupanya, dari kesederhanaan itu terkadang bisa istimewa jika diolah dengan baik.

Bila boleh aku analisis sendiri, menulis cerita lucu ini hampir sama seperti kita sedang stand up comedy sambil pegang mic di depan Pak Lurah. Alur dari menulis cerita lucu sendiri adalah pembukaan, inti cerita dan penutup.

Bedanya, penutupnya tidak cukup diutarakan dengan mengucapkan atas bantuannya, kami ucapkan terima kasih. Harus istimewa, spektakkuler, menggelegar #halah.

Bahasa bumi yang sering disebut Raditya Dika perihal penutup yang menggelegar itu adalah punch line.

Tulisan kita harus mengandung punch line di akhir kisah hidup kita.

Hampir mirip sama fiksi mini kan jadinya?

Iya.

Makanya tidak sedikit fiksi mini yang ceritanya lucu, sebab membuat fiksi mini lucu lebih mudah daripada tidak membuat sama sekali.

Jaman sekolah dulu, guru les matematika mengatakan di depan kami semua, “Rani itu orangnya pendiam ya, tapi sekali ngomong kok lucu.”

Maaf Pak Guru, aku nggak akan salah tingkah di depan Pak Guru. Aku cuma bingung, emang aku lucu? Selucu apa sampai guru matematika yang orangnya serius bisa ngomong begitu.

Makanya, begitu IIDN mengumumkan ada audisi cerita lucu dan nantinya akan dibukukan bersama Mbak Dedew penulis hits Anak Kos Dodol itu, aku langsung berapi-api.

Berbekal dari pengalaman sederhana di rumah, aku coba mengutak-atik cerita kami. Menambahkan beberapa bagian agar semakin tidak garing.

Aku tetap saja merasa ceritaku itu garing! Walaupun konco plek ku tertawa terpingkal-pingkal saat aku sodorkan ceritaku. Tapi mbuh ya soalnya dia kan cuma ngirim stiker ngakak aja.

Qadarullah, aku lolos dari 30 peserta awal disaring menjadi 25 orang. Masih disaring lagi menjadi 20 orang. Alhamdulillah, ternyata penulis cernak ini masih bisa satu buku sama Mbak Dedew.

Sik asyik..

Aku rasa, meskipun sampai saat ini aku belum tahu judul buku kami bersama, kamu perlu memiliki buku ini.

Cerita-cerita yang ditulis tentu saja bikin ngakak semua. Siap-siap untuk membuat perutmu sakit ya XD.

Maka dari itu, doakan proses penerbitan, pemberian nomor ISBN, pemilihan cover, editing dan lain-lain lancar ya. Pasti tidak sabar buat PO kan? *ih pede amat, sist!

Ngomongin cerita lucu, aku entah mengapa jadi teringat cerita yang nggak lucu, ngeselin iya.

Suatu hari, lima anak perempuan sedang berkumpul di dapur salah satu anak tersebut. Kelimanya tampak serius memandangi sebuah gelas. Meskipun kelimanya masih sekolah di taman kanak-kanak, tetapi pemikiran mereka sudah seserius itu seperti memikirkan jenis atom dan berapa kandungan peroksida untuk membuat sebuah bom atom nuklir.

Keempat anak tersebut saling memandang, mungkin membatin sang pemilik rumah. Katanya mau ngasih minum susu, tapi kenapa cuma ada satu gelas dan diminta buat berbagi?

“Ini tadi susu yang aku bilang, kita minum gantian ya!” Seru anak pemilik susu tersebut.

Hanya diam saja, keempatnya cuma saling pandang.

Akhirnya ada satu anak yang berani mengatakan, “Tapi itu kan ada lalatnya?”

Disahutlah anak yang lain, “Iya itu ada lalatnya! Kata ibuku, nggak boleh minum yang ada lalatnya.”

Anak yang ketiga juga tidak mau kalah, “Kalau nggak minum, bagaimana? Nanti kita kehausan.”

Akhirnya setelah berpikir cukup lama, mereka tetap diam saling mematung. Antara kehausan dan jijik sama susunya. Anak pemilik gelas pun mengambil sebuah sendok dan diambil lalat dari dalam gelas.

“Nah sekarang sudah tidak ada lalatnya.”

“Ah iya, sekarang sudah boleh diminum deh.” Anak kedua mengambil gelas tersebut dan mereka pun minum bergantian.

Anak yang paling polos pun hanya mangut-mangut ikut minum dari gelas tersebut dan alhamdulillah masih hidup sampai sekarang hingga bisa menulis cerita ini.

Ya ampun, kasihan!

By the way, jangan ketinggalan juga cerita seru kami lainnya di dalam buku yang belum punya judul ini ya.

Rani Noona

Penghuni kdramaland yang hobi makan, dandan, dan jalan-jalan. Masih suka curhat dan ngejurnal di https://www.ranirtyas.com dan sering ngebashing juga ngebucin di https://www.bulletsarasvati.com

Baca Juga

3 Komentar

  1. Pikiranku klo artis wanita yg lucu itu lgsg Fitrop. Wkwk.. Wahh semoga lancar ya Mba Rani proses penerbitan antologi’y!

    1. Ah iya Fitrop lama nggak muncul ya

  2. […] Rani Noona: Tips dan Pengalaman Menulis Cerita Lucu […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: