Belajar Tentang Pernikahan dari K-Drama “Saimdang, Memoir of Colors” (2017)

saimdang

Halo… Halo…

Jumpa lagi dengan saya yang masih akan bercerita tentang Saimdang. Melanjutkan tulisan saya sebelumnya yang berjudul "Semangat Juang Saimdang yang Menginspirasi“. Maafkan saya yang belum bisa move on dari drama menarik ini. 

Di tulisan kali ini saya akan membahas topik “Apakah Hal Penting Dalam Sebuah Hubungan Pernikahan?”. Nah, di sini saya akan sedikit bercermin pada pernikahan Saimdang yang diangkat dalam drama “Saimdang, Memoir of Colors” (2017).

Pernikahan Saimdang

Seperti yang banyak diceritakan dalam drama bertema sageuk lainnya, pernikahan pada zaman kerajaan sepertinya sangat jarang yang dilandasi oleh cinta. Sebagian besar pernikahan, terutama bagi para bangsawan, adalah bagian dari “politik”.

Sayangnya hal ini terasa tidak adil karena sang pria diperbolehkan mempunyai beberapa istri lagi, baik yang dia sukai atau tidak, sedangkan istri harus bertahan dengan satu pria selama-lamanya karena stigma negatif yang diterima wanita setelah perceraian.

Bagaimana dengan pernikahan Saimdang? Dari apa yang diceritakan dan saya tangkap, menurut saya pernikahan mereka berjalan baik-baik saja. Meskipun tidak diceritakan perjalanan awal hingga 20 tahun usia pernikahan mereka, namun seharusnya pernikahan itu baik-baik saja jika sang suami lebih bersyukur.

Seharusnya? Iya, ini memang hanya pendapat saya. Nyatanya sang suami merasa tidak baik-baik saja karena pada akhirnya dia berselingkuh. Tapi jika mengikuti standar hidup zaman itu, jelas suaminya tidak akan dipersalahkan.

pernikahan saimdang
Pernikahan Saimdang (Sumber: SBS)

Namun mari kita lihat dari kacamata masa kini. Sebenarnya apa permasalahan yang terjadi dalam pernikahan Saimdang?

Pernikahan tanpa cinta

Pertama dan utama pernikahan mereka tidak didasari oleh cinta. Meskipun sampai akhir Saimdang masih menjadi istri dari suaminya, namun jelas sekali diceritakan bahwa dia masih menyimpan perasaan pada Lee Gyeom, mantan kekasihnya. Tidak adanya rasa cinta ini ternyata membuat sang suami merasa tidak nyaman. Apalagi sang suami sudah jatuh cinta kepada Saimdang sebelum mereka menikah. 

Ternyata menikah dengan orang yang kita cintai, diperlakukan dengan penuh perhatian dan rasa hormat tetap tidak cukup jika kita tahu pasangan kita tidak mencintai kita, bahkan masih menyimpan perasaan terhadap orang lain. Mungkin akan lain cerita jika setelah menikah pasangan suami istri bisa saling memupuk rasa sayang di antara mereka, meskipun awalnya mereka menikah tanpa ada rasa cinta.

Perbedaan status dan pola pikir

Kedua, perbedaan status sosial dan pola pikir. Dari cerita yang saya pahami, Saimdang berasal dari keluarga bangsawan sedangkan sang suami berasal dari keluarga biasa.

Apalagi seperti yang saya ceritakan pada tulisan sebelumnya, sang suami adalah seseorang yang kurang kompeten dan sedikit pemalas, sedangkan Saimdang adalah seorang pejuang yang kuat juga terkenal sebagai jenius dalam bidang seni lukis.

Disini ”jurang” pemikiran terjadi. Saimdang selalu ingin maju dan berkembang namun sang suami seperti terus berjalan di tempat sehingga dalam hubungan mereka, Saimdang terasa lebih dominan. Apalagi setelah akhirnya dia menjadi pengusaha kertas yang dihormati semua orang, sang suami merasa semakin “kecil”.

saimdang dan suami
Saimdang dan Suami (Sumber: SBS)

Pelajaran dari pernikahan Saimdang

Saat ketahuan berselingkuh, sang suami berkata kepada Saimdang, “Aku menyukainya karena merasa nyaman dengannya. Setiap kali aku berdiri di hadapanmu, aku selalu merasa kecil. Aku bahkan tidak bisa bernapas lega. Aku selalu merasa tercekik, sendirian dan kesepian. Tapi aku merasa berbeda jika bersamanya. Aku bisa buang angin dan bersendawa sesukaku. Jika aku malas, tidak masalah aku bisa pergi tidur tanpa mandi! Belajar yang menyebalkan, aku muak dan bosan belajar, dan dia tidak menyuruhku melakukannya! Dia membuatku merasa nyaman. Kamu lebih seperti guru bagiku. Aku tidak membutuhkan istri yang seperti guru. Aku hanya membutuhkan istri yang bisa membuatku merasa nyaman dan bisa menerimaku apa adanya.”

Komunikasi yang utama dan terutama

Apakah perkataan sang suami salah? Menurut saya tidak ada yang salah. Sangat wajar jika kita ingin pasangan kita menerima kita apa adanya. Namun tidak ada salahnya juga jika kita dan pasangan kita berusaha menjadi pribadi yang lebih baik.

Kesalahannya adalah tidak pernah mengkomunikasikan perasaannya itu sebelumnya, lalu menjadikannya sebagai alasan untuk berselingkuh. Saat ini pun banyak perselingkuhan dengan dalih-dalih seperti ini? Lalu apakah bisa dibenarkan? Tentu saja tidak.

Disinilah komunikasi dalam pernikahan itu penting. Saya tidak tahu seperti apa komunikasi yang terjadi di era kerajaan dahulu kala, namun jika dilihat dari kacamata masa kini, hal itu sangat penting.

Saya lihat dalam drama ini Saimdang pun hampir tidak pernah membagi masalahnya dengan sang suami, dia cenderung ingin menyelesaikan segalanya seorang diri. Mungkin itu juga salah satu alasan sang suami merasa tidak dianggap.

Percayalah komunikasi yang baik itu bisa mendekatkan hati dan perasaan yang berjauhan. Sudah banyak sekali drama yang mengangkat ide “Cinta karena Terbiasa”. Jadi mari saling terbiasa berbagi segala hal, baik senang maupun sedih dengan pasangan.

Tetap setia dengan janji pernikahan

Lepas dari semua masalah di atas, saya gemas sekali saat tahu sang suami berselingkuh karena Saimdang terlalu baik untuk diperlakukan seperti itu. Meskipun Saimdang masih menyukai Lee Gyeom, dia tetap setia bersama sang suami sampai akhir, padahal Lee Gyeom jelas dan tegas terus melakukan pendekatan. Apalagi dia istri yang sabar, saat tahu rumahnya dijual oleh sang suami, dia sama sekali tidak marah.

Jika saya menjadi Saimdang, saat tahu suami selingkuh, saya akan memilih berpisah dan pergi membawa anak-anak, lalu hidup bersama dengan Lee Gyeom. Apalagi diceritakan Lee Gyeom juga menyayangi anak-anak Saimdang dan anak-anaknya pun dekat dengan Lee Gyeom. Tapi entahlah zaman itu seperti apa peraturan hak asuh anak setelah perceraian. Mungkin tidak semudah saat ini dan itu menjadi bahan pertimbangan Saimdang.

Pentingnya mengenali calon pasangan

Jadi intinya apa kok melebar kemana-mana pembahasan saya? Apakah cinta harus ada sejak awal pernikahan? Menurut saya tidak terlalu, tapi kasih sayang harus tumbuh dalam pernikahan itu dan sebisa mungkin setelah menikah, kita relakan semua yang telah menjadi masa lalu kita.

Selain itu dalam ajaran agama yang saya anut, sebelum menikah kita harus mencari tahu seperti apa calon pasangan kita nantinya. Bukan berarti harus dekat dan menjalin hubungan percintaan. Karena kadang dalam hubungan percintaan pun banyak hal yang masih ditutup-tutupi.

Kenapa penting mencari tahu tentang calon pasangan? Agar kita tahu orang itu cocok dengan keinginan kita atau tidak, visi misi hidupnya sejalan dengan rencana kita atau tidak, dan hal-hal lain yang kira-kira penting untuk diketahui. Jangan Sampai seperti Saimdang yang asal menikah demi menyelamatkan hidupnya, dan akhirnya keduanya tidak bahagia dalam pernikahan tersebut.

Penutup

Menerima kekurangan dan kelebihan pasangan itu memang baik, tapi tidak ada salahnya juga kita sama-sama belajar memperbaiki kekurangan yang masih bisa diperbaiki. Tentu saja semuanya harus dikomunikasikan dengan baik. Jangan bermain kode, karena pasangan kita bukan agen rahasia apalagi dukun. Hehehe…

Sekian pembahasan saya. Semua yang saya tulis hanya opini saya semata dan masih bisa dan boleh diperdebatkan. Silahkan tinggalkan tanggapan anda di kolom komentar, ya.

Asri

Ibu muda yang suka membaca, menulis, menonton, makan, dan jalan-jalan. Cerita jalan-jalan saya bisa dibaca di http://www.asrilestari.com sedangkan tulisan lainnya bisa diintip di https://catatansangpemimpikecil.blogspot.com

Mungkin Anda juga menyukai

2 Respon

  1. rhin berkata:

    Aku tuh antara kasian ama gemes baca cerita Saimdang ini. Tapi pas baca bagian jangan komunikasi dengan kode karena pasangan bukan agen rahasia aku jadi ngakak hehehe. Saimdang oh Saimdang, nasibmu kok ya gitu banget toh…

Tinggalkan Balasan ke rhin Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: