Dari Korea, Untuk Kita

Badge Ulang Bulan ke-1 Drakor Class

Satu bulan adalah waktu yang teramat singkat atau teramat panjang, semuanya relatif, tergantung dari titik mana kita berdiri.

Jika dibandingkan dengan jutaan blog yang bertebaran di internet, maka blog Drakor Class ibarat bayi yang baru lahir. Kulitnya masih merah, giginya belum ada, kerjanya sehari-hari hanya makan dan tidur.

Jika dibandingkan dengan ide yang belum terealisasi untuk membuat blog keroyokan seputar kokoriyaan, maka blog Drakor Class sudah up and running, siap diisi dan menyalurkan informasi yang pasti akan menghangatkan hati para pembaca budiman.

Para kontributor blog ini sudah menuliskan di blog pribadi mereka masing-masing tentang cikal bakal kami menulis di Drakor Class. Baiklah, ijinkan saya melakukan kilas balik sejenak untuk para pembaca yang baru pertama kali singgah di sini.

Dunia kita adalah dunia yang mengagung-agungkan literasi dan ramah pada penulis. Tidak sulit menjadi penulis di era internet dan media sosial. Selama ada identitas diri, platform, dan tema, siapa pun bisa menulis tentang apa pun kapan pun juga.

Para kontributor di Drakor Class adalah orang-orang yang mencintai kegiatan menulis. Ini lebih dari sekedar rutinitas, ini lebih dari tuntutan pekerjaan, ini lebih dari kebutuhan untuk mengekspresikan diri. Menulis bagi kami adalah soal melakukan sebuah hal yang dicintai, dengan segenap pikiran, tenaga, dan terutama hati.

Namun tak berhenti hanya di situ. Apatah menulis tanpa berusaha mendapatkan inspirasi yang pada akhirnya akan menjadi ide tulisan? Aktivitas menulis adalah perkara menangkap ide dan mengolahnya menjadi sebuah bentuk yang akan bermanfaat bagi orang lain.

Ide menganut hukum kekekalan energi; ia tidak akan pernah hilang, ia hanya berubah bentuk. Dan sebagai energi, ide harus disalurkan dari satu sumber ke sumber lainnya. Bertransformasi dan berpindah tanpa berkesudahan dan menyentuh banyak kehidupan.

Ada orang yang mencari ide, mencari energi itu melalui aktivitas membaca. Makin banyak yang dibaca, makin banyak pula yang ditulis. Ini saya aminkan. Dengan membaca, kita memperluas wawasan dan perbendaharaan kata. Kita mempelajari cara mengungkapkan isi hati dengan sebuah struktur yang teratur dan mudah dipahami oleh orang lain.

Lain orang, lain pula caranya.

Ada pula orang yang mencari ide, mencari energi itu melalui aktivitas menonton. Makin banyak yang ditonton, makin banyak pula yang ditulis. Ini kami semua aminkan. Dengan menonton, kita memperluas cakrawala dan merengkuh lautan. Tak perlu berlayar berbulan-bulan untuk menengok adat istiadat dan makanan bangsa lain. Cukup dengan satu tontonan, kita dapat memperoleh insight tentang dunia di luar tempurung kita.

Hallyu, atau Korean Wave, yang dimulai pada akhir 90-an setelah krisis ekonomi global adalah cara Korea Selatan melakukan rebranding terhadap citra diri mereka. Sebelum krisis, yang ada pada benak orang-orang jika mendengar kata Korea Selatan adalah perang Korea dan produk elektronik bermutu rendah. Namun tidak lagi.

Semenjak Korea Selatan menghapus larangan bepergian untuk orang biasa, banyak orang Korea Selatan yang merantau dan menempuh pendidikan di luar negeri, terutama di Amerika Serikat dan Eropa. Mereka inilah yang pulang ke Korea Selatan pada akhir tahun 90-an untuk membangun kembali negaranya demi: 1) terlepas dari hutang sebanyak 97 milyar USD yang dikucurkan IMF (International Monetary Fund), dan 2) bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan.

Orang-orang muda di Korea Selatan pada awal tahun 2000-an adalah orang-orang yang berpendidikan tinggi, mempunyai visi jangka panjang, memiliki definisi yang berbeda terhadap kebudayaan, literasi, seni, dan hiburan, jika dibandingkan dengan generasi pendahulu mereka. Di tangan orang-orang muda ini, kebudayaan Korea Selatan memperoleh bentuk yang unik dan mulai diekspor ke negara-negara lain di Asia.

Mengapa Hallyu begitu mudah diterima di Asia?

Semuanya kembali kepada Jepang yang dalam sejarah pernah mengklaim diri sebagai Cahaya Asia dan menjajah banyak negara di Asia, salah tiganya adalah Cina, Korea Selatan, dan Indonesia. Kebudayaan yang diekspor oleh Jepang akan mendapat resistensi, walaupun minimal, karena berasal dari negara bekas penjajah.

Lain halnya dengan Korea Selatan. Sebagai negara yang juga pernah dijajah oleh Jepang, produk kebudayaannya lebih bisa diterima oleh negara-negara lain di Asia. Cap bekas penjajah itu tidak melekat pada mereka. Yang ada hanyalah penyambutan dari sesama bekas negara jajahan.

Hallyu meledak bukan hanya karena momentumnya yang tepat. Ia melibas banyak sendi kehidupan modern karena ada studi berkelanjutan dari para ahlinya tentang produk kebudayaan jenis apa yang kira-kira laku di negara mana. Selain itu, dukungan dari pemerintahnya melalui berbagai organisasi dan pendanaan juga memberikan bahan bakar tambahan untuk mempercepat penyebaran Hallyu sampai ke seluruh dunia.

Untuk Indonesia sendiri, Hallyu dimulai dari drama dan musik. Stasiun televisi lokal yang mengimpor drama dari Korea Selatan adalah pembuka jalan bagi Hallyu untuk memperkenalkan diri dan menyebarkan pengaruhnya pada masyarakat kita. Drama yang bertaburan bintang papan atas dengan kemampuan akting mumpuni, dan deretan Original Sound Track dengan musik mendayu-dayu menyayat hati, dengan mudah menemukan jalannya ke hati barisan kaum hawa penggemar romansa.

Para penulis kontributor di Drakor Class tidak mengenal drama Korea pada satu kurun waktu yang sama. Rentang usia kami yang terpaut dua puluh tahunan membuat perkenalan kami pada drama Korea, atau drakor, terjadi mulai dari lima belas sampai beberapa tahun lalu. Akan tetapi, ada satu hal yang kami sepakati: drakor adalah sumber ide yang tiada habisnya.

Perjalanan awal sebuah ide dimulai dari energi penulis cerita drama yang kemudian dijewantahkan ke dalam seni pentas berdurasi belasan (bahkan sampai puluhan!) jam episode. Ketika kami menonton drakor, ide itu berpindah ke benak kami, memberikan sebuah insight baru terhadap sebuah isu.

Semenjak grup Whatsapp “Drakor dan Literasi” terbentuk, tak terhitung berapa banyak diskusi yang sudah terjadi seputar isu dan tema yang diangkat oleh setiap drama yang sedang tayang. Tak masalah drama itu hanya bercerita tentang deretan mantan pacar yang rese, atau pegawai minimarket yang terlalu ganteng, atau orang biasa yang bercita-cita menjadi aktor tanpa backing dari mana pun, tak ada aspek yang tidak bisa kami ulik dan bahas.

Kami yang pada dasarnya adalah orang-orang yang cinta menulis mendapat tambahan energi, tambahan ide setiap kali kami menonton drakor. Menjadi drakorian, sebutan untuk penggemar drakor, bukan hanya soal menikmati jalan cerita. Menjadi drakorian yang utuh adalah soal kemampuan memetik pelajaran dari setiap cerita yang disuguhkan. Menjadi drakorian dan penulis yang utuh adalah soal mengolah inspirasi yang didapatkan supaya bisa menginspirasi orang lain juga.

Itu sebabnya kami dengan tekad menyebarkan semangat literasi yang terinspirasi oleh drakor membuka blog ini, Drakor Class, untuk menjadi rumah yang menyambut hangat para pembaca semua.

Drakor Class adalah blog yang berisi kumpulan tulisan yang terinspirasi oleh drakor. Tulisan-tulisan yang kami unggah tidak hanya mengulas drama atau film terbaru. Ada juga pembahasan mengenai bahasa, kuliner, adat-istiadat, tempat wisata, dan masih banyak lagi. Pembaca budiman bisa menambahkan di kolom komentar jika sekiranya ada topik seputar Korea Selatan yang menarik untuk dibahas.

Selama satu bulan ini hampir semua dari kami sudah menuliskan 61 artikel. Di media sosial sebagai sarana kami untuk dikenal oleh khalayak, kami sudah mencatat 220 follower di Facebook Profile, 90 follower di Facebook Page, 90 follower di Instagram, 41 follower di Twitter, dan 10 subscriber di Youtube.

Apa arti angka-angka itu bagi kami?

Angka-angka itu menunjukkan proses kami bertumbuh dan berkembang. Blog Drakor Class tidak berjalan di tempat, selalu ada inovasi untuk meningkatkan engagement kami dengan penggemar Hallyu dan drakor.

Angka-angka itu sekaligus adalah pengingat bahwa blog Drakor Class masih berada pada tahap yang sangat awal. Ada begitu banyak gunung dan lembah yang harus dilalui di depan sana untuk menghasilkan tulisan-tulisan bermutu yang akan bermanfaat bagi banyak orang. Tulisan-tulisan yang tentu saja terinspirasi dari drakor.

Selamat ulang bulan untuk chingudeul di Drakor Class. Chukhanda!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

8 Komentar

  1. Chukkae, untuk kita semuaa….
    Senang sekali bisa berkontribusi untuk Drakor Class tercinta. Banyak harapan dan kenangan di sini.
    Semoga kita bisa ke Korea sama-sama!

    1. Chukha, chukha, semoga kita bisa ke Korea sama-sama yaaa πŸ™‚

  2. Happy karena bertemu kawan2 yang membucin tapi tetap produktif menulis sesuatu yg bermutu. Yeay!

    1. Yeayyy … tetap produktif itu koentji πŸ₯°πŸ₯°πŸ₯°

  3. Berasa drakorclass berada di tangan seorang pujangga kalau sudah masuk ke kelas kak Rijo.
    Warbyassaak~
    Haluku maksimal ((kedipin uri classmates))

    1. Ahaahhaha… terlalu mendayu-dayu ya?🀣🀣🀣

      1. Hahahah…hiyayayaa…
        Sambil diiringi guitar…

        1. Panggil bapaknya sun buat main gitar, hahaha

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Follow Me!
error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: