Tiga Filosofi Uang dari K-Drama SQUID GAME

Filosofi Uang Squid Game

Annyeong haseyo!

Mau check sound dulu, ah! Yang sudah menamati drakor Squid Game mana suaranya?

Oh, baik, 1000 suara? Well, 2000 suara dari sebelah sana? Wow, 4000 suara dari sisi lainnya! Wah, ternyata banyak juga ya penggemar film berdarah-darah, atau justru sebaliknya? Hihi.

Serial yang Cukup Kontroversial

Nah, Chingu, memanglah serial original Netflix yang tamat di episode ke-sembilan ini menjadi trending, salah satunya karena adegan sadis di dalamnya. Meskipun mengangkat tema permainan anak-anak tradisional Korea Selatan, tetapi sangat jelas ditegaskan oleh pihak provider bahwa film ini hanya untuk konsumsi penonton 18 tahun ke atas.

Video by Netflix for Youtube

Bukan hanya karena visualisasi sadisme dan kekerasan yang sangat ditonjolkan dalam drama ini (juga ada bumbu adegan panas pun uhuk). Namun, ada hal lain yang tak kalah mengkhawatirkan juga jika memang usia belum matang menontonnya, yaitu berkenaan dengan psikologi diri.

Bahkan, negara Inggris secara tegas memberi peringatan kepada orang tua untuk memeriksa kembali pengaturan gawai dan aplikasi Netflix bagi anak-anaknya, terutama di bawah 15 tahun, agar tidak bisa mengkases serial tersebut. Hal ini dikarenakan concern para lembaga pengajar di sana yang merasa khawatir akan dampak yang timbul secara riil.

Seperti dilansir laman BBC, anak usia sekolah dasar di beberapa bagian Inggris didapati banyak membahas tentang film Squid Game  (juga kekerasan di dalamnya). Bahkan, sebagian dari mereka ikut mereka ulang adegan atau permainan yang ditampilkan.

Sebenarnya, seperti kebanyakan drama Korea Selatan lainnya, Squid Game ini pun dibuat oleh Hwang Dong-hyuk selaku writer-nim sekaligus sutradara, dengan memasukkan nilai moral yang tidak sedikit di dalamnya. Bagi kita para penonton yang berusia 18 tahun ke atas dirasa sudah mampu untuk memilah antara adegan negatif dengan pesan yang berusaha disampaikan oleh film tersebut.

Filosofi Uang dari Serial Squid Game

So, Chingu-deul, inilah sekiranya tiga filosofi tentang uang yang secara apik dikemas oleh drama yang semakin popular oleh pasukan berbaju merah jambu dengan topeng hitam berkarakter bangun datarnya:

1. Uang dapat membeli banyak hal, tetapi belum tentu kebahagiaan

Sebagaimana yang menjadi latar belakang kakek Oh Il-nam (oleh Oh Young-soo) hingga akhirnya ia menciptakan permainan ini. Dengan kekayaannya yang melimpah rupanya tak cukup mampu mengisi tangki kebahagiaannya, hingga akhirnya Si Kakek mencari-cari cara untuk dapat memenuhi tangki tersebut, meskipun dengan cara yang tidak lumrah dan tidak dibenarkan.

Picture by Jioforme

2. Uang dapat mengubah kawan menjadi lawan, juga sebaliknya

Untuk hal ini sangat banyak disuguhkan dalam drama berdurasi sekitar satu jam setiap episodenya. Paling jelas tentulah konflik antara kedua lead di sini, yaitu Seong Gi-hun (oleh Lee Jung-jae) dan Cho Sang-woo (oleh Park Hae-soo).

Picture by Pinterest

Kedua bersahabat tersebut harus saling tikam-menikam di akhir demi uang. Walaupun akhirnya tetap saja ada sisi kemanusiaan dari Gi-hun yang menahan untuk tidak sampai membunuhnya, dan kita bisa sebut itu sebagai suara hati yang selalu membawa kebenaran.

Hal sebaliknya terjadi pada Kang Sae-byeok (oleh Jung Ho-yeon) dan Ji Yeong (oleh Lee Yoo-mi). Mereka diawali dari permusuhan yang kemudian diakhiri dengan pertemanan. Dan semua itu masih karena uang

3. Uang tidak mampu membeli kebahagiaan, tetapi memang hampir segala hal butuh uang

Kebalikan dari kondisi Si Kakek milyader Oh Il-nam. Bagi para pemain permainan yang dibuat oleh kakek tersebut jutsru memberikan filosofi berbeda. Mereka carut-marut hidup berantakan karena tidak punya uang. Dalam pandangan mereka, uang saat itu adalah pemecahan dari masalah yang sedang mereka hadapi.

Ada yang butuh uang untuk melunasi lilitan utang, ada yang butuh uang untuk membebaskan keluarganya yang menjadi ‘tawanan’, ada yang butuh uang untuk bisa memberikan kehidupan untuk kelurga dan orang tercintanya.

Picture by Marie Claire

Mereka tahu bahwa kebahagiaan belum tentu akan mereka pegang saat memiliki uang, tetapi setidaknya mereka butuh keberadaan uang itu untuk melepas belenggu permasalahannya saat ini.

Serial yang Cocok untuk Dinikmati Kaum Milenial

Well, Chingu-deul, ternyata dari drama yang cukup kontroversial ini pun mengandung nilai yang bisa kita petik, ya! Menurut saya, drama Squid Game ini cocok disuguhkan di era saat ini, terutama bagi mereka yang terlalu money oriented.

Picture by ZeroLite

Loh, Nad, emang situ ngga suka uang?

Oh, tidak begitu juga konsepnya, Yeorobun!

Saya ya sukalah uang, butuh juga. Namun, jika kita tengok bagian dari sisi lain dunia, di zaman ini orang semakin gencar bekerja. Banting tulang, lupa diri, lupa keluarga, lupa kesadaran, being workaholic demi sesuatu yang pastinya ya uang.

Ada yang sibuk sekali bekerja, sekalinya pulang ke rumah, menemani anak atau istri atau keluarga sambil terus genggam handphone atau tab atau pad untuk urusan pekerjaan.

Tak jarang juga orang tua yang semakin sepuh terus menelepon anaknya, menanyakan kapan pulang, kapan tengok mereka, bisakah sebentar saja ngobrol. Sedangkan Sang Anak selalu melempar jawaban, “Maaf ya, Ma, aku belum bisa ke sana. KERJAAN LAGI BANYAK.”

Another part of world, tidak sedikit yang karena sudah terpentok untuk kebutuhan yang berdasarkan uang, akhirnya mereka melakukan pekerjaan jalan pintas yang biasanya menghasilkan lumayan besar nominal dalam waktu lebih singkat. Selama pekerjaan jalan pintasnya itu baik dan sesuai ajaran juga norma sih pastinya tak masalah, ya? Namun, coba kita telisik lagi, KEBANYAKAN pekerjaan jalan pintas itu seperti apa? ;D

Nah, jadi gimana menurut Chingu-deul? Filosofi tentang uang yang diangkat drama yang langsung rilis episode komplitnya ini relate dan cocokkah untuk ditayangkan di masa seperti sekarang ini? Drop your precious mind-blowing opinion down below, ya! Happy watching anyway!

Neng Nad

Ibu rumah tangga beranak dan bersuami satu, penyuka kopi dan kata. Nonton Korea juga hobinya. Biasnya tergantung mood, tapi lebih prefer yang matang-matang ranum macem Song Seung-heon. Jelas tetep ga nolak juga kalo ada yang imut lewat sejenis Kim Soo-hyun. Intinya, mata dan hati tak cukup kuat melihat yang glowing korban skincare Korea berikut sentuhan oplasnya. Mamak lemah <3

Baca Juga

2 Komentar

  1. aku ga nonton drama ini dan beberapa drakor original Netflix. baca tulisan di mana mana udah sama kayak nonton, hehehe…

  2. Drama tentang manusia dengan naluri bertahan hidupnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: