Reportase IG Live Drakorclass: Perempuan Dalam Dunia Patriarki

perempuan dalam patriarki

Halo, chingu semua!

Jum’at, 23 April yang lalu, Drakor Class kembali menghadirkan “Annyeonghaseyo, Chingudeul…” yang ditayangkan melalui IG Live. Siapa yang menonton langsung atau siaran ulangnya?

Dalam rangka menyemarakkan hari Kartini yang jatuh pada tanggal 21 April 2021, kami mengusung tema mengenai perempuan. Topik yang diangkat adalah tentang “Perempuan Dalam Dunia Patriarki“. Hot yaa bahasannya!

poster perempuan dalam dunia patriarki
Poster Acara IG Live DrakorClass

Topik ini diangkat dengan mengambil latar belakang kisah dalam film “Kim Ji Young : Born 1982”. Ada yang sudah menonton film ini? Ada Gong Yoo-nya lhoo. Hehe.. Buat yang belum nonton, bisa nonton film ini di Viu.

Dalam acara IG Live kemarin, Drakor Class menghadirkan dua narasumber yaitu Cha Ree, classmate Drakor Class yang saat ini menjadi dosen program studi Urban Studies di Waseda University, Tokyo, Jepang. Selain itu ada juga Kim De Ya, classmate Drakor Class yang menjalani hari-harinya sebagai ibu rumah tangga, berlatar belakang pendidikan psikologi di Universitas Indonesia.

Acara ini dipandu oleh Re Ra, tentunya classmate Drakor Class juga, yang merupakan seorang ibu rumah tangga, blogger dan content writer.

narasumber ig live, drakorclass classmates
Re Ra, Cha Ree dan Kim De Ya on stage

Selama kurang lebih 1 jam, ketiga classmate kita membahas tentang bagaimana gambaran dunia patriarki dalam film “Kim Ji Young : Born 1982” di kehidupan nyata, terutama di negara-negara maju seperti Jepang dan Korea Selatan. Kim De Ya juga membahas mengenai masalah Post Partum Depression (PPD) yang dialami oleh Kim Ji Young dalam film.

Patriarki di Kehidupan Nyata

Dalam film “Kim Ji Young : Born 1982”, digambarkan betapa seorang pekerja wanita mendapatkan perlakuan yang berbeda dibandingkan dengan pekerja laki-laki di Korea Selatan. Terutama jika perempuan tersebut sudah menikah dan memiliki anak.

Perlakuan berbeda bukan hanya didapatkan dari masyarakat, melainkan dari keluarganya sendiri pun. Anak laki-laki lebih disayang dan disanjung, sedangkan anak perempuan dituntut untuk selalu rajin mengerjakan pekerjaan rumah. Selain itu anak laki-laki boleh bermalas-malasan di rumah, anak perempuan tidak.

Anak perempuan pun tidak dituntut untuk mendapat pendidikan yang tinggi dan sukses berkarir. Hidup para perempuan seolah hanya untuk menjadi dewasa, siap menikah, memiliki anak dan mengurus keluarga serta rumah hingga mereka tua.

Di Indonesia sendiri, stigma bahwa kodrat wanita adalah sumur, dapur dan kasur masih santer terdengar. Ibu bekerja dianggap menelantarkan rumah dan anak-anaknya, sementara ibu rumah tangga dianggap tidak berdaya dan menyia-nyiakan pendidikannya. Hmm… Terdengar familiar bukan?

Dalam sebuah interview kerja, masih banyak perusahaan yang memandang sinis wanita jika ia mengungkapkan jati dirinya yang sebenarnya, menikah dan memiliki anak. Baru mau memiliki anak (sedang hamil) pun kadang berkasnya sudah tidak dilirik ya. Heu!

Tidak hanya di Indonesia, di banyak negara maju pun memiliki anak laki-laki adalah privilege tersendiri. Orang tua jadi punya penerus keluarga dan anak yang bisa dibanggakan oleh keluarga besarnya.

Padahal, nih! Kodrat wanita itu hanya menstruasi, hamil, melahirkan dan menyusui. Hal-hal tersebut adalah hal yang hanya dapat dilakukan oleh wanita dan tidak oleh laki-laki. Lantas mengapa wanita tidak boleh mendapatkan posisi yang sama dalam pekerjaan atau pendidikan?

Diskriminasi Wanita di Tempat Kerja

Sebagai wanita karir yang tinggal di negara maju, Cha Ree menceritakan pengalamannya bekerja sebagai seorang wanita dan ibu di Jepang. Menurut Cha Ree, memang tidak semua tempat bekerja menunjukkan budaya patriarki dan diskriminasi terhadap perempuan.

Contohnya saja di tempat di mana ia mengajar, semua memperlakukan dirinya dengan baik. Teman-teman satu kantornya paham bahwa ada tugas dan kewajiban lain yang harus dilakukan setelah jam kerja. Sehingga ia tidak pernah mendapat protes atau teguran karena harus buru-buru menjemput anak setelah selesai bekerja dan sebagainya.

Namun, Cha Ree mengungkapkan bahwa ia termasuk beruntung mendapatkan lingkungan kerja yang mendukung pekerja wanita. Di Jepang sendiri, masih tinggi sekali angka diskriminasi terhadap wanita bekerja, terutama yang sudah berkeluarga dan memiliki anak.

Apalagi yang lagi hamil nih, sudah pasti di-judge macam-macam. Misalnya performanya pasti turun, sering izin, cuti dan lainnya yang dianggap merugikan perusahaan.

Dream job yang banyak diincar oleh kaum wanita di sana adalah pekerjaan yang memberikan lebih banyak dukungan pada wanita. Contohnya PNS yang memberikan kelonggaran soal cuti hamil dan melahirkan. Bisa juga perusahaan global yang sudah menyediakan daycare di tempat kerjanya.

Masalahnya, untuk mendapatkan dream job tersebut tentu perjalanannya tidak mudah! Hoho. Jadi, beruntunglah mereka yang bisa bekerja di tempat yang mendukung pekerja perempuan terutama jika sudah menjadi ibu.

PPD, Butuh Bantuan Profesional!

Di awal, Re Ra sempat memberikan pertanyaan yang cukup menarik, “Mengapa tahun kelahiran Kim Ji Young yaitu 1982 harus masuk ke dalam judul?”. Kayaknya penting banget tahun tersebut hingga disebutkan di dalam judul film ini.

Kim De Ya kemudian mencoba menjawab dari histori Kim Ji Young (Jung Yu Mi) dalam film tersebut. Menurutnya, tahun tersebut menggambarkan perjalanan Kim Ji Young dari ia kecil hingga akhirnya menderita depresi di usia dewasa. Depresi yang ia alami adalah manifestasi dari segala kejadian traumatis yang dialami sejak kecil.

Saat suami Kim Ji Young, Jung Dae Hyun (Gong Yoo), mulai menyadari ada yang salah pada istrinya, ia berusaha untuk mensupport dan melakukan upaya terbaik agar istrinya dapat pulih. Namun, meminta bantuan pada profesional memang jalan yang paling benar.

Kim De Ya menuturkan bahwa jika seseorang sudah mencapai tahap depresi, maka jalan keluarnya adalah mendapatkan perawatan di psikolog atau psikiater. Ia juga berkata bahwa peran lingkungannya lah yang paling penting.

Seseorang yang menderita depresi sering kali tidak sadar bahwa mereka sakit dan butuh pertolongan. Orang-orang terdekatnya yang harus peka dan melihat adanya perubahan sikap yang ditunjukkan. Kim Ji Young beruntung sekali memiliki suami yang sabar dan menerima kondisinya, serta berupaya keras mencari solusi untuk memulihkan istrinya.

Penutup

Suka tidak suka, saat ini perempuan masih hidup dalam bayang-bayang patriarki. Masih banyak ditemukan kasus diskriminasi pada pekerja perempuan, apalagi saat perempuan tersebut hamil dan sudah memiliki anak.

Meskipun, perubahan ke arah yang lebih baik sudah mulai ditunjukkan. Sudah ada beberapa perusahaan yang memberikan cuti hamil dan melahirkan yang cukup panjang bagi ibu. Bahkan, suami pun dapat mengambil cuti melahirkan juga seperti yang ada dalam cerita film “Kim Ji Young : Born 1982”.

Semoga ke depannya, peran perempuan dalam masyarakat tidak lagi termarginalisasi dan dunia ini akan menjadi lebih ramah untuk para perempuan, baik yang masih single maupun sudah berkeluarga.

Chingudeul yang ingin menonton IG Live “Perempuan Dalam Dunia Patriarki” langsung klik link berikut ya! Supaya informasi yang didapat lebih lengkap.

Happy watching!

i_maesha

Full-time mom and wife, half-time writer. Menonton dan mereview drakor sebagai salah satu wujud me time dari rumah ;)

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: