Meraba Sakitnya Kehilangan dari 18 Again

Go Woo Young, 18 Again

“Beberapa hal kau sadari setelah kehilangan mereka. Senyum orang terkasihku. Waktu yang kau habiskan bersama keluargamu. Saat memilikinya, aku tidak menyadari betapa berharganya mereka”

Go woo Young – 18 Again
18 Again episode 9
Jtbc 18 Again Episode 9

Mungkin rasanya biasa saja melihat senyum suami, ayah, ibu, anak-anak ketika kita berada bersama mereka. Mungkin rasanya biasa saja kala mengobrol dan menghabiskan waktu bersama keluarga. Mungkin terkadang malah merasa berat dan terbebani kala harus menyiapkan keperluan suami juga anak-anak ditambah orang tua dan mertua.

Tapi, melihat sakitnya Go Woo Young aka Hong Dae Young ‘kehilangan’ istrinya, anak-anaknya, ayahnya, ibu mertuanya, saya merenung kembali, semua hal yang biasa ini patut disyukuri. Bahkan yang kadang terasa berat pun pantas tuk disyukuri.

Kita Tak Sempurna

Manusia sudah fitrahnya penuh dengan cela, tak sempurna, ada saja kurangnya, termasuk kita. Boleh jadi ada hal yang tak kita suka dari seseorang (termasuk keluarga kita), tapi coba buka kembali memori, perhatikan dengan seksama, carilah yang kita suka dan fokus hanya pada itu. Buat list kebaikan yang ada.

Salah seorang senior pernah berkata pada saya, kalau kita ini ibarat landak di kutub. Landak dengan duri tajam yang mengitari seluruh tubuhnya. Siapapun yang mendekat berpotensi besar akan merasa sakit. Tapi, hanya dengan berdekatanlah kita akan selamat di kutub yang dingin dan beku. Walau betul akan hadir rasa sakit karena tertusuk duri. Tapi itu masih tak seberapa dibanding harus menggigil dan membeku sendiri di kutub.

Ya, sakit saat berinteraksi dengan orang lain, termasuk pasangan, orangtua, anak-anak, dan lainnya akan kita rasakan, tapi itu masih lebih baik dari pada sendirian. Karena kita diciptakan bukan menjadi makhluk yang asosial. Justru timbul perasaan senang kala merasa dibutuhkan, merasa berharga dan berarti bagi orang lain.

Cherish Everything, Everytime

drama 18 again episode 9
Jtbc 18 Again Episode 9

Melihat sakitnya kehilangan, saya belajar tuk mensyukuri semuanya, mensyukuri setiap waktu yang ada. Memandangi anak-anak kala tidur, membelai, juga mendo’akan mereka jadi lebih sering saya lakukan. Begitu pun dengan suami, yang sudah berjuang menafkahi keluarganya.

Saya pun berusaha membuang rasa malu, ego, tuk meminta maaf lebih dulu (walau menurut pribadi bukan salah saya), tuk meminta tolong dan berterima kasih pada yang lain.

Karena waktu tak bisa diulang, waktu tak bisa diputar. Saya pun sadar, akan ada batas waktu antara diri ini dengan mereka semua. Setiap kita punya masa kebersamaan dan harus berpisah tuk selamanya di dunia. Maka, melihat sakitnya kehilangan membuat saya berusaha lebih tuk menabung memori Indah bersama. Tuk mengisi tangki Cinta keluarga. Walau tetap akan ada rasa kurang dan sesal nantinya. Karena begitulah manusia, selalu merasa kurang dan sesal di akhirnya.

Semoga kita semua dikumpulkan kembali sebagai keluarga di tempat terbaik Nya.

Kita tak perlu terjatuh tuk merasakan sakitnya jatuh. Cukup belajar dari pengalaman orang.

Kita tak perlu kehilangan tuk merasakan sakitnya kehilangan. Tuk menyadari berharga semua orang yang ada di sekitar kita. Tuk menyadari berharganya setiap waktu yang ada.

Don’t forget to love yourself, love your family and love everyone who love you.

Happy weekend chingudeul.

Hana

Seorang perempuan yang senang mengambil pelajaran hidup dari drama korea. Ibu 3 anak yang senang menulis review drama dengan tema parenting, keluarga, suami istri.

Baca Juga

2 Komentar

  1. […] Meraba Sakitnya Kehilangan dari 18 Again Baca juga: Meraba sakitnya Kehilangan dari 18 Again […]

  2. […] banyak sekali termasuk dari cerita Hollywood, dan juga cerita di drama dan film Korea. Sebut saja 18 Again, drama tahun 2020 yang ceritanya tokoh utamanya  ke masa SMA […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: