Review K Movie: Samjin Company English Class

Samjin English Club Poster

“Even a worm will turn.”

Samjin Company English Club

Annyeong chingudeul.. Berjumpa lagi dengan saya. Bulan April identik dengan bulan perjuangannya perempuan. Kali ini saya mau mereview Film Korea keluaran tahun 2020 lalu yang bernafas perjuangan para perempuan pekerja. 

Sudah siap? Yuuk mulai. Oh ya, film ini bisa di lihat di Viu.

Film Samjin Company English Class 

Karyawan di Samjin Company
Para pegawai lulusan SMA yang ditugaskan membuat kopi setiap pagi.

Film ini disutradarai dan ditulis oleh Lee Jong Pil. Pemeran utamanya 3 wanita keren, Esom sebagai Jung Yoona, Go Ah sung sebagai Lee Jayoung, dan Park Hyesoo sebagai Shim Boram. 

Esom ini yang juga main di drakor Because This is My First Life, di situ dia masih sebagai pemeran pendukung.

Film yang berdurasi 110 menit ini release pada 20 Oktober 2020 lalu di Korea Selatan. Selama beberapa pekan, film ini sempat menguasai box office Korea Selatan. 

Sinopsis Samjin Company English Class

Esom di Samjin Company English Class
Gaji yang murah jadi salah satu alasan mengapa banyak perempuan diterima bekerja.

Berlatar tahun 90an, film ini berkisah tentang tiga sahabat perempuan yang sama-sama bekerja di Perusahaan besar teknologi, Samjin.

Dengan latar belakang pendidikan yang hanya sampai SMA, ketiga sahabat beserta perempuan lainnya mengerjakan pekerjaan yang dianggap remeh dan tidak penting, seperti bebersih, membuatkan kopi untuk anggota divisinya, mengangkat telepon, menyiapkan sepatu, dll.

Tak jarang diskriminasi pun mereka rasakan karena status lulusan SMA. Padahal, mereka bertiga orang yang cerdas, punya ide-ide brilian, sayangnya idenya tak optimal diaplikasikan karena terhalang status. 

Suatu waktu, perusahaan membuka program bahasa Inggris bagi karyawan lulusan SMA agar bisa mengikuti TOEIC 3 bulan mendatang. Nilai tertinggi menjadi incaran agar bisa dipromosikan setara dengan para lulusan perguruan tinggi.

Sebuah angin segar khususnya bagi tiga sekawan ini. Bagai harapan untuk bisa mengeluarkan semua ide brilian mereka saat sudah dipromosikan. 

Di tengah kesibukan belajar TOEIC, Lee Jayoung mendapatkan tugas untuk mengambil barang-barang bosnya di pabrik. Bosnya memelihara seekor ikan di kantor lamanya. Saat ditanyakan apakah ikan tersebut akan dibawa ke kantor baru, si bos malah manyuruh ikan untuk dibuang saja.

Tak tega membuang ikan di closet seperti saran rekannya. Jayoung sengaja pergi ke sungai untuk melepaskan si ikan kecil. Belum juga ikan dilepaskan, tiba-tiba lewat mayat-mayat ikan di aliran sungai. Lalu, “boom” keluar air sangat kotor dari pipa pembuangan Pabrik perusahaan Samjin. 

Limbah pabrik Samjin Company
Jayoung kaget melihat limbah di sungai.

Jayoung berusaha melaporkan hal ini pada atasannya. Ternyata, hasil analisis limbah dimanipulasi. Padahal, lingkungan dan warga sekitar terkena dampak buruknya.

Merasa sangat bersalah pada warga, apalagi dirinyalah yang bertugas sebagai representasi perusahaan untuk meyakinkan warga bahwa Samjin akan menjaga lingkungan.

Hal ini mendorong Lee Jayoung berserta dua sahabatnya untuk memecahkan siapa yang memanipulasi data analisis limbah pabrik. Ada konspirasi apa pada perusahaan? 

Tiga sekawan di Samjin Company
Tiga sekawan kaget melihat hasil analisis limbah.

Berhasilkah Lee Jayoung, Jung Yoona, dan Shim Boram membongkar pelaku yang menutupi hasil analisis limbah perusahaan? 

Kesan Menonton (SPOILER)

Awalnya saya khawatir film ini akan ada romance atau adegan dewasa. Ternyata, bersih, alhamdulillah. Hehe. Film ini pure menceritakan perjuangan ketiga sekawan dalam mengungkapkan kebenaran, mencari keadilan. 

Saya ikut terbawa suasana saat mereka meneliti dan mengikuti satu persatu tersangka. Ikut dibuat dugun-dugun takut ketahuan. Juga rasa tak percaya saat petunjuk mengarah pada orang yang tak disangka. 

Perjuangannya pun terasa panjang, ibarat naik roller coaster. Setelah berjuang mengumpulkan bukti, ketiga sekawan ini datang pada pihak media untuk membeberkan rahasia besar perusahaannya.

Sayangnya, media justru bekerja sama dengan perusahaan, ketiga sekawan ini dihukum. Sebetulnya, bisa saja mereka memilih resign dari perusahaan. Tapi, ada nilai keadilan dan kejujuran yang harus diperjuangkan. Keren. 

“I won’t give up”

Lee Jayoung

Saya sudah hampir menyerah mengira ini sad ending bagi para pemeran utama. Membuka mata beginilah keadilan di negeri kapitalis. Hukum berpihak pada mereka yang berduit.

Tapi, untungnya kekhawatiran saya tidak terjadi. Lee Jayoung dan dua temannya tidak menyerah begitu saja. Endingnya? It’s happy ending. Maafkan spoiler. 

Pesan Film

Beberapa pesan dari film ini yang saya dapatkan:

1. Jangan abaikan tanggung jawab

2. Carilah support system dalam kebaikan yang berani mengambil resiko

3. Terus berjuang pantang menyerah sampai tujuan bisa diraih

4. Kita akan menuai apa yang kita tanam. 

Hana

Seorang perempuan yang senang mengambil pelajaran hidup dari drama korea. Ibu 3 anak yang senang menulis review drama dengan tema parenting, keluarga, suami istri.

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: