"Sisyphus: The Myth": Antara Masa Lalu, Penyesalan, dan Masa Kini

sisyphus

Kdrama “Sisyphus: the Myth” sudah berjalan sampai episode 12 dari 16. Sejujurnya, genre sci-fi dan on-going drama bukan menu drakor favorit saya, faktor Park Shin-Hye dan iming-iming gimmick BTS lah yang akhirnya menggerakkan saya buat nonton on-going.

Kesan awal Sisyphus itu: membingungkan. Di 4 episode awal itu benar-benar bertanya-tanya, ini logikanya gimana, dia umur berapa, lalu yang real  yang mana. Belum lagi waktu muncul karakter Jung Hyeon-Gi (diperankan oleh Go Yoon), sudah ditembak pasukan Control Bureau tapi kok masih ada (meski dia sempat bilang sama Seo-Hae agar Seo-Hae memaafkan apapun yang Hyeon-Gi lakukan setelah dari titik itu).

Dari situlah benang merah cerita versi Ochi muncul. Sebagaimana penjelasan Seo-Hae ke Tae-Sul bahwa orang-orang ini datang dari masa depan membawa excess baggage atau unfinished business. Agaknya, instead of jadi roh gentayangan, writer-nim mengubah konsepnya menjadi perjalanan menembus waktu untuk membayar apa yang belum lunas di masa lalu yang kemudian menjadi suatu “penyesalan yang dibawa mati”.

Masa Lalu

sisyphus the myth
Sisyphus The Myth (JTBC)

Siapa yang merasa dipermainkan oleh “masa lalu” di “Sisyphus: The Myth“? Dengan segera saya angkat tangan. Alur cerita maju-mundur ini benar-benar bikin pusing kepala karena mesti menyambung-nyambungkan sendiri, ini timeline yang kapan dan apa yang terjadi saat itu. Tidak dipungkiri, Sisyphus banyak alur mundurnya, terlebih ketika mendekati pertengahan perjalanan 16 episode ini.

Rasa-rasanya kok mudah ya mengganti garis perjalanan hidup dengan mengubah sesuatu di masa lalu. Tinggal masuk di uploader/downloader lalu tadaa, tiba di masa lalu untuk memperbaiki kesalahan. Berita baiknya (atau buruk?), ini hanya mungkin karena ini drama. Dalam kehidupan nyata, jelaslah ini tidak mungkin.

“No matter how hard we try, we cannot change our past. We cannot undo our mistakes or the things that we regret.”

(Kim Seo-Jin, Sisyphus: the Myth, episode 11)

Kalimat Seo-Jin ini sungguh-sungguh benar. Yang sudah terjadi di masa lalu, tidak bisa kita ulangi atau di-undo. Bagi sebagian orang, jika hal ini terjadi maka akan menjadi suatu pembelajaran yang berharga sehingga dia dapat hidup dengan lebih baik.

Namun, tidak semua orang dapat mengambil sisi positif dari kesalahan di masa lalu. Tak jarang, penyesalanlah yang lebih dominan.

Penyesalan

Melanie Greenberg Ph.D. menulis, “Regret is a negative cognitive or emotional state that involves blaming ourselves for a bad outcome, feeling a sense of loss or sorrow at what might have been, or wishing we could undo a previous choice that we made.” [1]Penyesalan itu terkait dengan menyalahkan diri sendiri atas hasil yang buruk, merasa kehilangan atau kesedihan atas apa yang mungkin terjadi, atau berharap dapat membatalkan pilihan yang dibuat sebelumnya.

Jadi, ada dua aspek yang terlibat yaitu imajinasi (ide, bayangan, fantasi tentang apa yang diinginkan) dan self-agency (keyakinan bahwa ide, bayangan atau fantasi itu bisa dicapai jika seseorang melakukan sesuatu dengan lebih baik)[2].

Dalam drama Sisyphus, penyesalan ini diceritakan dari tokoh-tokoh yang ada. Dari Han Tae-Sul yang berkonflik dengan Tae-San hyung, juga Hyeon-Gi yang menyesal karena tidak memperlakukan ibunya dengan lebih baik semasa hidup.

Tidak ada orang yang tidak pernah menyesal. Setiap kita mungkin pernah berpikir “jika saja”, “seandaianya”, “coba waktu itu”. Ini adalah hal yang wajar, dan seperti yang saya tuliskan di atas, penyesalan itu tidak selamanya buruk selama kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang terjadi di masa lalu agar kita bisa menjadi lebih baik.

Yang menjadi persoalan adalah: akankah kita terus berkubang dalam penyesalan itu?

Masa Kini: Choose to be Kind

“We all have trivial but happy moments. That’s what keeps us going.”

(Gang Seo-Hae, Sisyphus: the Myth, episode 11)
meteor shower dari sisyphus eps 11
Happy Moments ala Seo Hae

Ada kalanya memang lebih mudah untuk berkubang dalam masa lalu. Hanya saja, hidup terus berjalan. Be kind to ourselves, berbaikhatilah pada diri sendiri.

Jangan terlalu keras memperlakukan diri sendiri. Beri waktu dan kesempatan pada diri sendiri untuk merangkul masa lalu dengan segala kebodohan dan kesalahan yang ada, namun setelah itu, perlahan-lahan, bangkitlah.

Tidak hanya untuk dirimu sendiri, tetapi juga buat keluarga, teman, dan orang-orang di sekitar kita.

Di balik semua penyesalan yang ada, ada baiknya jika kita juga berusaha untuk mencari happy moments. Tidak perlu happy moments yang gegap gempita, tetapi dari hal-hal sederhana yang terjadi di seputar kehidupan kita.

Kalau versi Tae-Sul adalah ketika Tae-Sul kecil pergi piknik di pantai bersama keluarganya. Count your simple blesings, and count it twice (anonim).

“Sisyphus: the Myth” memang salah satu drama yang malah bikin mikir saat nonton, tetapi hal ini tidak mengurangi fakta bahwa kita bisa belajar sesuatu dari premis ceritanya. Yuk ah, santai sejenak sambil menunggu kelanjutan dari kisah Tae-Sul dan Seo-Hae. Cheers!


[1] https://www.psychologytoday.com/us/blog/the-mindful-self-express/201205/the-psychology-regret
[2] https://jamestobinphd.com/the-psychology-of-regret/


ochi

Tentang Penulis:
Ochi

Seorang penyuka drakor angkatan Covid, selama di rumah saja jadi pengumpul kutipan dari drama Korea.

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: