Short Trip di Gyeongju yang Bersejarah

gyeongju

Jika ada tempat di Korea yang ingin saya datangi, saya akan dengan mantap menyebut Gyeongju, yang dulunya adalah ibukota Dinasti Silla (57 SM – 935 M). Silla adalah kerajaan kuno di semenanjung Korea yang minim mendapatkan pengaruh dari Barat, namun kabar kemasyhuran kerajaan ini terdengar hingga ke Asia Barat dan Eropa. Ibukota Silla adalah Seorabeol, yang menjadi Gyeongju pada masa kini.

Jika Seoul dan Busan merupakan ikon modernisasi Korea, maka Gyeongju adalah simbol keagungan sejarah Korea. Jangan tertukar sama Gwangju atau Gyeonggi-do ya, meskipun terdengar sama tapi ketiganya adalah wilayah yang berbeda. 

Lokasi dan Menuju Gyeongju

Gyeongju (경주) terletak di provinsi Gyeongsang Utara, 370 km di tenggara Seoul, 55 km di timur Daegu. Kota ini berbatasan langsung dengan Cheongdo dan Yeongcheon di sebelah barat, Ulsan di sebelah selatan, dan Pohang di sebelah utara, sementara di sebelah timur berbatasan dengan pesisir Laut Jepang.

Peta Gyeongju dari Google Maps akan membantu kita melihat landmarks dan point of interest yang ada di Gyeongju. Namun, harus diingat bahwa di Korea, chingu tidak bisa menggunakan Google Maps sebagai petunjuk arah. Gantinya, gunakan Naver, Waze, atau Maps.me.

Untuk menuju Gyeongju, ada beberapa alternatif. Posisi Gyeongju yang berada di semenanjung tenggara Korea sebetulnya lebih dekat dengan Gimhae International Airport di Busan daripada Seoul.

Dari Busan

  • Dari Gimhae Airport, gunakan Geuma Tour shuttle bus langsung ke Gyeongju.
  • Dari tempat lain di Busan, naik bus dari Busan Central Bus Terminal ke Gyeongju Express Bus Terminal. Perjalanan hanya memakan waktu 50 menit – 1 jam saja.

Dari Seoul

  • Dari Seoul, transportasi paling murah adalah menggunakan bus dari Seoul Express Bus Terminal ke Gyeongju Express Bus Terminal. Perjalanan sekitar 4 jam.
  • Bisa juga naik kereta api dengan jarak tempuh sekitar 3 jam.

Adapun untuk destinasi wisatanya, saya mencoba merencanakan itinerary untuk short trip di Gyeongju hasil ‘berjalan-jalan’ ke berbagai situs travel resmi Korea dan catatan para visitor. Berimajinasi sedikit saja, tidak apa-apa, ya. Hehe. 

Gyochon Traditional Village

Sebagai kota yang kaya dengan peninggalan bersejarah, Gyeongju menjadi tempat yang atraktif bagi para pengunjung yang ingin mengagumi keindahan Korea di masa lalu. Dalam satu lokasi saja, kita bisa melihat bangunan arsitektur warisan sejarah, seni, dan budaya yang pernah berkembang selama seribu tahun di masa lalu.

Setelah melewati perjalanan panjang menuju Gyeongju, chingu bisa memulai wisata dari Gyochon Traditional Village, di mana kita bisa beristirahat sambil menikmati pemandangan asri dan alamiah di Gyochon.

Source: Koreatriptips

Desa kuno di Korea, umumnya terdiri dari ‘hanok’, yaitu rumah tradisional ala Korea (yang sering kita lihat di sageuk-sageuk itu). Rumah tradisional Korea umumnya bersifat ramah lingkungan, karena dibangun dengan bahan-bahan bangunan yang tidak menimbulkan polusi dan didesain supaya harmonis dengan lingkungan alamnya.

Di Gyochon, kita juga bisa menikmati hidangan tradisional Korea, menyelami gaya hidup orang di masa lalu, dan mengikuti beberapa workshop tradisional seperti quilting dan membuat gerabah.

Bulguksa Temple

Kuil ini adalah salah satu kuil terindah di Korea yang dibangun pada tahun 528 saat pemerintahan dinasti Silla. Tempat ini juga dikenal dengan nama Hwaeom Bulguksa Temple atau Beopryusa Temple.

Source: Gyeongju Tourguide

Di komplek kuil Bulguksa saat ini juga terdapat beragam aset budaya Korea lainnya seperti Pagoda Seokgatap dan Dabotap, dua pagoda yang menunjukkan keberlawanan. Seokgatap menunjukkan indahnya kesederhanaan, sementara Dabotap memperlihatkan megahnya kemewahan, tetapi keduanya dapat bersanding dengan harmonis. 

Pagoda Seokgatap dan Dabotap

Masih dalam suasana peninggalan religi, terdapat juga Seokguram Grotto. Sebuah gua batu yang dibangun pada abad ke-8 yang di dalamnya terdapat patung monumental Buddha yang sedang duduk menghadap ke laut di atas ukiran teratai, dengan posisi tangan kirinya menunjukkan dhyana mudra (posisi konsentrasi), sementara tangan kanannya dalam posisi bhumisparsha mudra (earth-touching gesture).

Di sekeliling dindingnya juga terdapat ukiran para dewa, bodhisatva, dan orang-orang suci, membuat tempat ini diakui sebagai landmark bercorak Buddhist berkelas tinggi yang indah dan ditetapkan sebagai UNESCO Heritage Site.

Inner structure of Seokguram Grotto.
Source: official website of Seokguram Grotto

Kompleks Daereungwon Tomb dan Cheomseongdae Observatory

Kompleks Daereungwon Tomb meurapakan situs pemakaman kuno raja-raja agung Silla. Ada 23 makam di sini, dan yang paling besar adalah Cheongmachong dan Hwangnamdaechong.

Makam Dareungwon. Source: visitkorea.or.id

Dalam lingkup Cheonmachong, terdapat banyak peninggalan masa Silla, di mana salah satunya adalah makam Hwangnamdaechong yang merupakan makam ratu dan raja Silla beserta aksesoris mewahnya. Konon, ada gold crown yang fenomenal milik ratu ditemukan di situ. Sampai saat ini masih diperdebatkan ratu siapa sebenarnya yang dimakamkan di Hwangnamdaechong.

Queen’s Gold Crown, Silla. Height: 27.3cm, National Treasure 191.

Masih di lokasi yang sama, ada Cheomsongdae Observatory, yang merupakan fasilitas observasi astronomi tertua di Asia. Menurut catatan dalam Samguksagi, bangunan ini didirikan pada masa pemerintahan Ratu Seon-deok (632-647), penguasa Silla ke-27. Hayo, siapa chingu yang pernah nonton drakor ini? 

Source: Gyeongju.go.kr

Pusat observasi ini ditujukan untuk melakukan penerawangan astronomi terkait ramalan cuaca yang bermanfaat untuk mengalkukasi waktu-waktu yang tepat dalam melakukan kegiatan pertanian di negeri itu.

Konon, Cheomsongdae tetap berdiri kokoh meski dilanda gempa sepanjang sejarah, karena pada saat pembangunannya dilandasi berbagai filosofi kehidupan seperti jumlah 365 susunan batu (mewakili hari dalam setahun), jumlah lantai, posisi pintu dan juga puncak sebagai tempat peneropongan.

Sungguh menarik dan mengagumkan untuk zaman sekuno itu, mereka sudah melakukan kalkulasi ilmiah dengan alat-alat dan pengetahuan yang sederhana. 

Kuliner di Gyeongju

Belum lengkap kalau berwisata tanpa mencicipi kuliner asal dari tempat yang dikunjungi. Dari situs resminya, saya menemukan beberapa saran untuk mencoba local food di restoran-restoran yang sudah dilokalisasi supaya memudahkan pencarian, antara lain:

  • Haejangguk (hang-over soup) di Parujeong Street, Hwangodong
Haejangguk, hang-ouver soup
  • Bulgogi di Sannae-myeon, Cheonbuk-myeon, dan Oedong-eup
gyeongjulove.blogspot.com
  • Gyeongju Ssambap di Dereungwon
  • Hanjeongsik (Korean traditional food) di Gyodong, Daereungwon dan Bomun Tourist Complex
Koreatriptips.com

Wah sepertinya nggak cukup sehari-dua hari ya untuk keliling Gyeongju, karena terlalu banyak destinasi-destinasi menarik untuk dikunjungi dan dicoba. Bagaimana dengan chingudeul, kira-kira sudah memasukan Gyeongju ke salah satu destinasi impian belum?

Re Ra

Blogger.
Drakorians since 2018. Menulis review dan knowledge Korean drama-based. Meet me at www.dailyrella.com. Tidak fanatik aktor, genre, rating, lawas, atau baru.

Baca Juga

3 Komentar

  1. Cantik banget tempat dan bangunan-bangunannya. Makanannya juga bikin lapar….

  2. Disebut Seorabeol, aku jadi ingat Jisoo again and again.
    SMPnya kalau gak salah itu namanya yaah??

  3. Silla, nama resto korea di Jogja. Ternyata ambil nama’y dr kerjaan di sana ya. Hehe..

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: