Mengenal Haenyeo Dalam Drama Our Blues

poster our blues
  • Our Blues (2022)
  • Native Title: 우리들의 블루스
  • Also Known As: Urideului Beulluseu , Ulideului Beulluseu
  • Screenwriter: Noh Hee Kyung
  • Director: Kim Kyu Tae
  • Genres: Romance, Life, Drama, Family
  • Country: South Korea
  • Type: Drama
  • Episodes: 20
  • Airs: Apr 9, 2022 – Jun 12, 2022
  • Airs On: Saturday, Sunday
  • Original Network: Netflix tvN
  • Duration: 1 hr. 10 min.

Haenyeo, Penyelam Wanita di Pulau Jeju

Mengambil latar Pulau Jeju, drama Our Blues memperkenalkan tradisi Haenyeo. Mungkin ada sebagian yang belum tahu apa itu Haenyeo. Disini aku akan jelasin sedikit mengenai Haenyeo yuk disimak!

han ji min sebagai haenyeo di drama Our Blues
Han Ji Min sebagai Haenyeo di Our Blues (sumber: tvN)

Bukan sembarangan wanita tapi wanita yang telah terjun bebas ke laut selama berabad-abad dari generasi ke generasi untuk memberi makan anak-anak, untuk menghidupi keluarga dan untuk bertahan hidup mereka adalah Haenyeo. Haenyeo menyelam bebas dibawah laut sedalam 10-20 meter tanpa alat bantu pernapasan.

Kalian mungkin membayangkan orang-orang luar biasa dengan kekuatan manusia ekstra tetapi mereka tidak. Mereka selalu terengah-engah tetapi mereka memiliki kekuatan mental dan fisik yang luar biasa. Selama berabad-abad Haenyeo telah menerjang perairan berbahaya selat Korea hanya menggunakan  sirip dan kacamata serta jaring untuk wadah tangkapan.

Sebelum menyelam Haenyeo menggunakan pelampung untuk menandai lokasi saat muncul dipermukaan. Saat Haenyeo menjelajahi dasar laut untuk mencari abalon, keong dan gurita. Para Haenyeo menahan napas hingga 3 menit, menahan tekanan air yang kuat, suhu air yang dingin berjuang untuk memenuhi kebutuhan mereka. Saat muncul kembali ke permukaan Haenyeo mengeluarkan suara siulan yang merupakan cara unik untuk mengeluarkan karbon dioksida dan menghirup oksigen segar.

haenyeo menyelam tanpa alat bantu pernapasan
Haenyeo menyelam tanpa alat bantu pernapasan

Sejarah haenyeo, kenapa hanya wanita

Dari referensi sejarah pertama Haenyeo. Pada abad ke-17 para pria ke laut untuk memancing atau bekerja di kapal perang akan tetapi mereka tidak pernah kembali. Oleh karena itu, menyelam menjadi pekerjaan khusus wanita. Tidak ada yang tahu pasti bagaimana Haenyeo menjadi pencari nafkah utama keluarga mereka. Budaya Haenyeo telah melawan gender konvesional di pulau itu.

Ketika mereka tidak berada di laut. Mereka bercocok tanam dan memanen. Melakukan pekerjaan rumah tangga dan merawat anak-anak. Secara tradisional, pekerjaan yang diturunkan dari ibu ke anak kehidupan Haenyeo telah dijauhi dari beberapa dekade terakhir oleh hampir semua gadis yang lahir di desa tepi pantai Jeju. Mereka cenderung menyukai kehidupan yang lebih nyaman di dua kota di pulau itu atau di daratan utama.

Bagaimana menurut kalian? Luar biasa sekali kan para Haenyeo di pulau Jeju. Museum Maritim Nasional Australia bahkan mengadakan pameran untuk Haenyeo. Pameran tersebut dinamakan “Haenyeo – Wanita Laut Pulau Jeju” adalah pameran luar biasa yang dikembangkan melalui konsultasi dan kolaborasi. Dengan Pusat Kebudayaan Korea Australia dan Provinsi Pemerintah Jeju sendiri.Ini adalah pameran yang dikembangkan bertepatan dengan “Hari Perempuan Internasional”.

Haenyeo, tradisi yang mulai ditinggalkan

“Haenyeo – Wanita Laut Pulau Jeju” menampilkan fotografi menakjubkan dari fotografi Korea yang tinggal di Seoul “Hyungsun Kim“. Haenyeo adalah komunitas wanita yang menyelam dan memanen dasar laut disekitar Pulau Jeju di Republik Korea Selatan. Mereka memanen abalon, cangkang keong, bulu babi, dan banyak spesies rumput laut. Sepanjang tahun pada hari-hari tertentu.

Mereka perlu mempelajari topografi, geografi dasar laut, zoologi, angin, arus dan pasang surut. Para wanita berlatih dengan orang tua mereka, ibu mereka, nenek mereka, bibi mereka secara tradisional sejak mereka masih anak-anak. Haenyeo sebagian besar berusia di atas 60 tahun dan beberapa diantaranya benar-benar berusia 90 tahun.

Secara tradisional, para wanita mengenakan pakaian renang katun sederhana yang disebut “mulsojungi” mereka mengadopsi pakaian selam pada tahun 1970-an agar tetap hangat. Tetapi karena tantangan pengapungan ekstra, mereka kemudian harus mengenakan sabuk beban yang besar. Mereka benar-benar menghindari alat bantu pernapasan modern.

Karena mereka percaya bahwa mereka harus menyelam secara berkelanjutan dan hanya mengambil apa yang dapat mereka tangkap dalam beberapa menit didasar laut. Pada tahun 2016, budaya Jeju Haenyeo terdaftar di Daftar Warisan Dunia untuk Warisan Budaya Tak Benda. Banyak wanita telah meninggalkan Industri Haenyeo. Mereka memilih mata pencaharian lain atau pindah ke kota-kota daratan dan jumlahnya semakin berkurang.

Dari tahun 1960-an ketika ada 23.000 Haenyeo dalam populasi yang jauh lebih kecil. Saat ini hanya ada 4.000 Haenyeo yang terdaftar dan pemerintah sedang melakukan untuk mengakui warisan mereka dan juga untuk menarik wanita muda untuk berlatih. Pameran ini merupakan bukti luar biasa dari kehidupan para Wanita Haenyeo ini dan tradisi yang mereka jalankan.

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: