Review Film Korea “26 Years”

poster film 26 years

“Orang yang melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain harus meminta maaf. Walaupun mereka tidak meminta maaf, mereka tetap harus dihukum atas kejahatan mereka. Itu adalah tindakan yang masuk akal, bukan sebuah agenda politik.”

Cho Geun Hyun (sutradara film “26 Years”)

Kalau kamu mengira Korea Selatan selalu menjadi negara demokratis seperti yang kita kenal sekarang, kamu keliru. Pada suatu masa, Korea Selatan pernah mengalami penjajahan oleh bangsa-bangsa lain (Cina dan Jepang), dipimpin oleh presiden yang diktator, dan lumpuh akibat kudeta militer. Sampai pada akhirnya terjadi perpindahan kekuasaan yang berlangsung damai untuk pertama kalinya sepanjang sejarah Korea Selatan dengan terpilihnya Roh Tae Woo sebagai presiden dari Partai Keadilan Demokrat pada tahun 1987.

Pada awal bulan Desember saya mengikuti seri kuliah umum daring humaniora dari Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) yang mengusung tema “Mengapa Indonesia” yang dibawakan oleh Profesor Yang Seung Yoon, seorang mantan profesor Departemen Bahasa Indonesia dari Hankuk University of Foreign Studies. Kuliah umum yang dibawakan dalam bahasa Indonesia yang sangat lancar oleh Profesor Yang sempat menyinggung satu hal yang langsung membuat saya langsung menajamkan kuping.

Pada tahun 1973, Indonesia menunjuk duta besarnya yang pertama untuk Korea Selatan yaitu Jenderal Sarwo Edhie Wibowo. Menurut penuturan Profesor Yang, tak lama setelah tinggal di Seoul Duta Besar Sarwo menyatakan kekagumannya atas Korea Selatan di bawah Presiden Park Chung Hee yang sedang berupaya membangkitkan ekonominya melalui penguasaan teknologi dan industri.

Presiden Park dan kiprahnya setelah berkuasa memiliki kemiripan dengan apa yang terjadi di sejarah Indonesia sejak tahun 1965. Ia adalah seorang jenderal di Angkatan Bersenjata Korea yang menjadi presiden setelah melakukan kudeta militer pada tanggal 16 Mei 1961. Presiden Park adalah seorang diktator militer yang memerintah sejak tahun 1963 sampai kematiannya pada tahun 1979 akibat dibunuh oleh Kim Jae Gyu, direktur dari Korean Central Inteligence Agency.

Sepanjang menjabat sebagai presiden, Park Chung Hee telah berkali-kali lolos dari percobaan pembunuhan. Ketika usaha pembunuhan akhirnya berhasil dan dilakukan oleh salah satu orang terdekatnya, dunia politik Korea Selatan terguncang. Perdana Menteri Korea Selatan ketika itu,  Choi Kyu Ha, menjadi acting president. Chun Doo Hwan yang menjabat sebagai Security Command ditunjuk oleh acting Presiden Choi untuk memimpin investigasi terhadap pembunuhan tersebut.

Jauh sebelum Presiden Park dibunuh, Chun Doo Hwan sudah membentuk sebuah kelompok militer elit bernama Hanahoe. Kekosongan figur pemimpin di Korea Selatan membuat Hanahoe berada di atas angin. Akhirnya pada 12 Oktober 1979 Korea Selatan mengalami kembali kudeta militer di bawah pimpinan Chun Doo Hwan, 18 tahun setelah kudeta militer yang dipimpin oleh Park Chung Hee.

Film Korea “26 Years” yang diproduksi pada tahun 2012 dan saat ini masih ditayangkan di platform Netflix, secara implisit mengisahkan akibat dari sepak-terjang mantan Presiden Chun terhadap kehidupan orang-orang yang terdampak “Pembantaian Gwangju” yang terjadi pada 18 Mei 1980 di kota Gwangju, Korea Selatan.

Trailer K-Movie 26 Years (sumber: Youtube Super Entertainment)

Presiden Chun Doo Hwan, Your Typical Dictator

Apa yang bisa diharapkan dari seorang diktator militer yang memperoleh kekuasaan melalui kudeta?

Tidak ada.

Chun memerintahkan penangkapan orang-orang yang diduga bersekongkol untuk membunuh Presiden Park Chung Hee. Beberapa kelompok militer yang merupakan pendukung Chun bentrok dengan kelompok yang menentangnya di pusat kota Seoul. Tak butuh lama bagi Chun untuk menaklukkan Kementerian Pertahanan dan Markas Angkatan Bersenjata Korea Selatan. Kelemahan acting Presiden Choi Kyu Ha membuat Chun Doo Hwan tidak sulit mengambil gelar sebagai pemimpin de facto dari negara itu.

Sebagai pemimpin baru, Chun tidak langsung menjabat sebagai presiden. Dia dipromosikan menjadi letnan jenderal dan diangkat menjadi Direktur KCIA, menggantikan Kim Jae Gyu yang membunuh Presiden Park Chung Hee. Pada tanggal 17 Mei 1980 Letnan Jenderal Chun memberlakukan darurat militer di seluruh negeri karena ada kabar Korea Utara akan menyerang Korea Selatan.

Darurat militer membuat Letnan Jenderal Chun mengerahkan tentara untuk menutup universitas, melarang aktivitas politik, dan mengekang kebebasan pers. Tanggal 17 Mei 1980 menjadi pertanda dimulainya era baru diktator militer di bawah Chun Doo Hwan. Pada tanggal 18 Mei penduduk kota Gwangju membentuk “Gerakan Demokrasi Gwangju” untuk melawan kehadiran pasukan militer di kota mereka.

Letnan Jenderal Chun mengirimkan pasukan militer dengan tank dan helikopter untuk menumpas gerakan tersebut dan secara terang-terangan membantai para mahasiswa. Para penduduk kota melawan sekuat tenaga bukan dengan senapan dan bom, tapi dengan semua senjata yang mereka punya termasuk perkakas rumah tangga. Kemarahan mereka bercampur dengan duka yang mendalam melihat anak, cucu, keponakan, orang-orang yang mereka kenal dibantai tanpa ampun oleh pasukan militer.

Pembantaian Gwangju

Atau dikenal juga sebagai “Insiden Berdarah Gerakan Demokrasi Gwangju 5-18” adalah setting yang menjadi pembuka film ini. Peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu 18 -27 Mei 1980 dan memakan korban sekitar 2.000 orang. Pada kurun waktu ini semua penduduk Gwangju melawan pasukan militer yang menembaki, membunuh, memerkosa, dan memukuli mahasiswa Universitas Chonnam yang berdemonstrasi menentang darurat militer yang diberlakukan oleh pemerintah yang saat itu dikomandani oleh Chun Doo Hwan.

Scene awal pada film “26 Years” adalah empat peristiwa yang terjadi selama “Pembantaian Gwangju” dan disuguhkan dalam bentuk animasi. Saya tidak bisa membayangkan jika adegan-adegan itu diperankan oleh aktor-aktor manusia, rasa pilu dan ngilunya mungkin akan membuat saya segera berhenti menonton film ini.

Keempat peristiwa ini mengalami benang merah yang tersambung 20 tahun kemudian sejak pembantaian, yaitu pada tahun 2016. Semua peristiwa menunjukkan opresi militer yang tidak pada tempatnya, ketidakadilan, amarah karena kehilangan, dan kepahitan yang berlangsung bertahun-tahun dan dilanjutkan kepada generasi berikutnya.

Pada scene pertama diceritakan seorang bayi perempuan cantik baru lahir dan sedang digendong oleh ibunya. Di dalam rumah mereka yang sangat sederhana, ayah dan ibu dari bayi itu berdiskusi tentang nama yang seusia untuk anak mereka.Di luar rumah, suara peluru berdesing akibat pertempuran antara penduduk kota dan tentara. Tak disangka, sebuah peluru nyasar masuk ke dalam rumah itu dan seketika membunuh sang ibu, tepat pada saat ibunya memutuskan nama Shim Mi Jin untuk bayinya yang baru lahir.  

Pada scene kedua diceritakan seorang anak kecil mengikuti kakak perempuannya menonton sekumpulan mahasiswa yang sedang berdemonstrasi. Ketika bentrokan antara tentara dan mahasiswa tak terhindarkan, si kakak perempuan tak anyal ikut terbunuh. Si adik laki-laki hanya bisa menangisi mayat kakaknya di tengah sekumpulan penduduk kota yang bergerak melawan dengan barang apa pun yang bisa mereka jadikan senjata, untuk melampiaskan amarah mereka kepada para tentara.

Pada scene ketiga diceritakan seorang istri yang kebingungan mencari suaminya. Digambarkan bagaimana korban jiwa sudah berjatuhan dan mayat-mayat bergelimpangan di pinggir jalan, ditumpuk sekenanya. Tidak ada yang bisa mengurus penguburan mereka yang layak; semua orang sibuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Dengan ditemani oleh anak laki-lakinya, si istri mendekati tumpukan demi tumpukan mayat yang sudah berbau busuk. Akhirnya dia menemukan mayat suaminya yang sudah dimakan belatung. Anak laki-lakinya menyaksikan sendiri bagaimana pembantaian itu sangat mengguncang jiwa dan membuat mental ibunya terganggu sampai mati.

Pada scene keempat diceritakan seorang tentara yang mulai mempertanyakan kekejaman dan kebengisan yang ditunjukkan oleh militer kepada penduduk kota Gwangju. Dia sendiri sudah merasa sangat lelah karena terus-terusan menumpas mahasiswa dan siapa pun yang terlihat melawan pemerintah. Sahabatnya ketika itu terluka parah sampai kehilangan satu telinga. Si tentara yang sebenarnya bermental pengecut akhirnya meninggalkan medan pertempuran karena sudah tidak tahan dengan pertumpahan darah yang terjadi.

Dua Puluh Enam Tahun Kemudian

Hidup ketiga orang yang diceritakan pada scene awal terhubung kembali oleh orang keempat, si mantan tentara yang bernama Kim Gap Se, yang diperankan oleh Lee Geung Young (“Hyena” (2020), “Vagabond” (2019), “The World of the Married” (2020)). Setelah meninggalkan angkatan bersenjata, Kim Gap Se mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang sekuriti. Ia selalu dikawal oleh Kim Joo Ahn (Bae Soo Bin: “Secret” (2013), “Graceful Friends” (2020)), anak angkatnya yang sebenarnya adalah anak dari seorang tentara yang meninggal dunia pada peristiwa “Pembantaian Gwangju”.

Untuk menjalankan misi membalas dendam kepada mantan presiden yang bertanggung jawab atas “Pembantaian Gwangju” (nama tokoh mantan presiden itu tidak disebutkan dengan gamblang, tapi penonton bisa langsung menebak bahwa karakter itu mewakili Chun Doo Hwan), Kim Gap Se dan Kim Joo Ahn mengumpulkan tiga orang yang berada di tengah kekacauan di kota Gwangju pada tahun 1980 itu pada usia sangat muda, bahkan beberapa saat setelah kelahirannya.

Shim Mi Jin (Han Hye Jin) dan ayahnya telah pindah ke Seoul dan membuka toko buku bekas. Mi Jin berprofesi sebagai atlet Olimpiade untuk cabang olahraga menembak. Ayahnya meninggal karena terlalu banyak minum minuman keras untuk melupakan kepedihan hatinya menyaksikan istri tercintanya mati sia-sia akibat opresi dari tentara pemerintah.

Anak kecil yang kehilangan kakak perempuannya di tengah demonstrasi yang dikepung oleh tentara, Kwon Jung Hyuk (Im Seu Long: “Hotel King” (2014)) telah menjadi seorang polisi yang mengatur lalu-lintas yang menuju ke rumah si mantan presiden. Dia masih sangat muda dan gamang. Pada awalnya dia bersedia bergabung ke dalam komplotan itu untuk membalas dendam. Akan tetapi, ketika misi mereka sudah menemui titik terang dan memiliki harapan untuk berhasil, dia mundur karena takut dicurigai oleh atasannya. Dia juga sangat mengkhawatirkan kelangsungan karirnya di kepolisian.

Anak laki-laki yang menemukan ayahnya telah menjadi mayat busuk, Kwak Jin Bae (Jin Goo: “Descendants of the Sun” (2016), “Legal High” (2019)), berusaha hidup lurus dan melupakan peristiwa pahit pada masa kecilnya. Setelah menyelesaikan wajib militer, ia menemukan ibunya hidup pas-pasan dengan membuka kedai kaki lima. Sampai pada usia senja ibunya sangat mendendam kepada pemerintah. Ketika Jin Bae ingin mengejutkan ibunya, sang ibu yang masih trauma dengan kematian suaminya tanpa sengaja menggores wajah Jin Bae dengan pisau dapur. Tak lama kemudian sang ibu meninggal dan Jin Bae direkrut menjadi gangster oleh salah seorang pelanggan kedainya.

Sekali Amatir, Tetap Amatir

Kelima orang ini berkumpul untuk menyusun rencana pembunuhan terhadap si mantan presiden. Sama seperti tokoh pada kehidupan nyata yaitu mantan presiden Chun Doo Hwan, si mantan presiden pada film ini juga dikisahkan menerima hukuman mati pada tahun 1996 atas perannya dalam “Pembantaian Gwangju”, namun kemudian diampuni oleh mantan presiden Kim Young Sam (1993 – 1998) sebelum masa jabatannya selesai.

Sama seperti mantan presiden Chun Doo Hwan, tokoh ini juga diceritakan diharuskan membayar denda sebesar 220 milyar Won. Entah deal politik apa yang terjadi, Chun Doo Hwan akhirnya hanya membayar 53.3 milyar Won, dan sisa denda yang dia harus bayar tidak pernah ditagih oleh pemerintah. Chun Doo Hwan terkenal dengan pengakuannya bahwa dia hanya memiliki uang sebesar 290 ribu Won (sekitar 3 juta Rupiah) di rekeningnya. Yeah, right.

Padahal harta ilegal berupa karya seni yang disita dari rumah anak tertuanya saja bernilai setidaknya 1 milyar Won dan ini belum termasuk harta-harta bergerak dan tak bergerak lainnya yang dia buat atas nama istri, anak-anak, dan kerabatnya yang lain. Di dalam film digambarkan bagaimana si mantan presiden yang pernah hampir dihukum mati masih bisa hidup mewah, bergelimang harta, dihormati semua orang, dan mendapat pengawalan terbaik baik dari polisi maupun dari perusahaan swasta penyedia jasa keamanan.

Tantangan bagi komplotan yang hendak membalas dendam ini adalah bagaimana mereka bisa melewati pengawalan berlapis yang selalu menjaga si mantan presiden. Jung Hyuk yang berprofesi sebagai polisi mendapat tugas untuk mengatur lalu-lintas sedemikian rupa sehingga terjadi kekacauan arus dan mobil si mantan presiden terpaksa berhenti di tengah jalan. Mobil yang berhenti akan membuka akses bagi Mi Jin untuk menembak target mereka.

Mi Jin yang selama ini menggunakan senapan kosong untuk berpartisipasi di dalam turnamen terpaksa belajar menggunakan senapan angin sebenarnya. Senjata dan pertikaian bukanlah sebuah hal baru bagi Jin Bae, si kepala preman dari Busan. Para anak buahnya dengan segenap hati mengikutinya pindah ke Seoul. Jin Bae bertugas mencari celah pengamanan terhadap rumah si mantan presiden. Berbagai upaya dia lakukan, termasuk sengaja memancing pertengkaran dengan polisi dan preman yang bertugas di sekitar rumah target, supaya dia memiliki bayangan akses menuju ke rumah itu karena blueprint rumah itu tidak tersedia di mana pun.

Ketika semua usaha sudah dikerahkan dan tetap gagal, Kim Gap Se dan Kim Joo Ahn mengorbankan diri masuk ke sarang musuh. Dengan berkedok membawa hadiah untuk menghormati si mantan presiden, mereka bertamu ke rumah itu dan bertekad membunuh target mereka dalam jarak dekat. Usaha tersebut pada awalnya hampir berhasil, namun ternyata sahabat Kim Gap Se yang kehilangan salah satu telinganya di Gwangju adalah lapisan terakhir pengawal si mantan presiden. Kim Gap Se terpaksa berhadap-hadapan dengan mantan sahabatnya dan mereka berdua mati di tangan masing-masing. Kim Joo Ahn juga harus meregang nyawa di tangan pengawal si mantan presiden.

Jin Bae dengan nekad menerobos masuk ke dalam rumah itu dengan kumpulan preman yang dipimpinnya. Polisi dan petugas keamanan swasta dengan seenaknya mereka bunuh. Mayat bergelimpangan di mana-mana, tidak ada lagi yang tahu siapa yang salah, siapa yang benar, dan buat (si)apa mereka melakukan itu semua. Tujuan Jin Bae adalah merengkuh si mantan presiden dan menariknya mendekati sebuah jendela besar yang bisa dilihat oleh Mi Jin di kejauhan. Mi Jin yang pemberani naik ke atas sebuah crane dan bersiap untuk menembakkan senjatanya atas aba-aba Jin Bae.

Sekali amatir, tetap amatir.

Sudah berbagai upaya mereka lakukan dan serangan langsung di rumah si mantan presiden terlihat sebagai usaha terakhir mereka yang naga-naganya akan berujung sia-sia. Si polisi muda, Jung Hyuk, tidak lagi menolong mereka. Kim Gap Se dan anak angkatnya mati di dalam rumah si mantan presiden. Mi Jin yang sedang berada di atas crane ditembaki dari bawah oleh polisi.

Pada satu titik Jin Bae berhasil merengkuh si mantan presiden dan berada pada posisi yang tepat untuk menjadi sasaran tembak Mi Jin, tapi Jin Bae dan anak buahnya pun terkepung musuh. Tak lama kemudian mereka pasti ditembak mati oleh polisi yang melihat mereka hanya sebagai penjahat. Jin Bae dan kawan-kawannya tidak pernah memiliki kesempatan untuk menjelaskan hubungan antara si mantan presiden dengan “Pembantaian Gwangju” yang pada akhirnya mempengaruhi kehidupan mereka, para korban dari peristiwa naas itu.

Scene terakhir yang memilukan hati saya adalah ketika Mi Jin menembakkan senjatanya. Terdengar suara letupan yang sangat keras, namun tidak ada petunjuk apakah Jin Bae, atau si mantan presiden, atau keduanya, terkena peluru yang ditembakkan dari ketinggian lebih dari 10 meter. Sungguh saya ingin tahu bagaimana nasib Mi Jin dan Jin Bae berikutnya, tapi tidak ada petunjuk sama sekali.

Scene penutup film ini adalah rombongan mobil polisi yang mengawal sebuah mobil VIP. Seorang polisi muda yang mengatur lalu-lintasnya disorot dari dekat sedang memandangi deretan mobil yang lewat dengan sorot mata penuh dendam. Dan saya pun teringat kembali pada Jung Hyuk dan usaha komplotannya membunuh dalang dari sebuah peristiwa yang mengguncang dunia mereka 26 tahun silam.

26 Years“, Antara Fiksi dan Faksi

Scene penutup film itu cukup tepat karena faktanya sampai sekarang mantan presiden Chun Doo Hwan masih hidup di Seoul pada usia 89 tahun. Sampai sekarang namanya belum terlepas dari segala macam kontroversi yang melibatkan dirinya. Pada bulan Maret tahun ini saja Chun Doo Hwan muncul di sebuah kasus pengadilan di kota Gwangju atas tuduhan menyepelekan kematian korban “Pembantaian Gwangju” di dalam buku-buku memoirnya. Kasus korupsinya sejumlah 400 milyar Won yang diungkapkan kepada publik pada tahun 1993 juga tidak pernah diusut tuntas. Keterlibatannya di dalam “Pembantaian Gwangju” pun seolah-olah dilupakan oleh negara dengan adanya  pengampunan yang digelontorkan oleh mantan presiden Kim Young Sam.

Tokoh Kim Gap Se, Kim Joo Ahn, Kwak Jin Bae, Shim Mi Jin, dan Kwon Jung Hyuk mungkin saja hanya rekaan, hanya tokoh fiksi yang diciptakan oleh seorang komikus bernama Kang Full di dalam serial manhwa online-nya “26 Nyeon” yang populer pada tahun 2006. Akan tetapi, saya memprediksi ada usaha dari para korban “Pembantaian Gwangju” untuk meminta pertanggungjawaban dari Chun Doo Hwan dan rezim yang dipimpinnya. Seperti kata sutradara “26 Years”, Cho Geun Hyun:

“Orang yang melakukan kesalahan dan menyakiti orang lain harus meminta maaf. Walaupun mereka tidak meminta maaf, mereka tetap harus dihukum atas kejahatan mereka. Itu adalah tindakan yang masuk akal, bukan sebuah agenda politik.”

Di dalam drama Korea kita melihat bagaimana orang Korea sangat mementingkan perasaan menyesal dan bertobat dari kesalahan yang diperbuat. Jika demikian, maka tak heran apabila keluarga dari para korban “Pembantaian Gwangju” masih menaruh dendam kepada mantan presiden Chun Doo Hwan. Sampai sekarang Chun Doo Hwan tidak pernah tercatat berusaha meminta maaf atas nyawa-nyawa yang dia hilangkan akibat invasi tentara dan darurat militer yang dia terapkan pada tahun 1980.

Sebagai sebuah karya fiksi, film “26 Years” menemui banyak sekali kendala dan tekanan dari pemerintah yang berkuasa. Sepuluh hari sebelum syuting dimulai, investor menarik diri dan produksi film terpaksa dihentikan pada tahun 2008. Empat tahun kemudian 15.000 orang mengumpulkan uang sejumlah 700 juta Won (sekitar 8.4 milyar Rupiah) supaya produksi film dapat dilanjutkan, dan semua nama mereka ditampilkan selama 10 menit pada bagian kredit film.

Recommended, or Not?

Suami saya yang gemar sekali menonton film memutuskan untuk tidak akan pernah lagi menonton film Korea Selatan karena open ending-nya yang cukup tipikal. Dia sangat kecewa karena film “26 Years” ini tidak memberikan sebuah closure yang pasti. Tanggapan dari saya adalah, tidak mungkin ada closure untuk film ini karena tokoh mantan presiden Chun Doo Hwan yang menjadi salah satu inspirasi film ini masih hidup.

Kalau saya pribadi, saya menyukai open ending dari sebuah kisah, apalagi di dalam drama atau film Korea. Ada begitu banyak kemungkinan yang masih bisa dieksplorasi oleh proyek-proyek sinema berikutnya. Ada begitu banyak diskusi dan perenungan yang mengikuti akhir sebuah drama atau film. Mengingat sifat film “26 Years” yang sarat muatan politik, saya sangat merekomendasikan film ini bagi kamu yang ingin tahu sedikit lebih banyak tentang sejarah politik di Korea Selatan.

Selamat menonton!

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris. Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea. rijotobing.wordpress.com

Mungkin Anda juga menyukai

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: