IG Live Drakor Class Eps. 3

IG Live Eps. 3 bersama Host Cho Sweeney, Classmate Kim De Ya dan I_Maesha

Hari Jumat tanggal 20 November 2020, acara “Annyeonghaseyo Chingudeul” lewat IG Live Drakor Class telah memasuki episode ke-3. Pelaksanaannya kembali dijadwalkan ke malam hari, yaitu pukul 20.00 – 21.00 WIB.

Episode kali ini bertema “Drakor dan Pulih”. Pulih berarti sembuh, pulih berarti menjadi baik kembali. Dari tema ini saja kita sudah bisa menduga bahwa perbincangan dalam episode kali ini berhubungan dengan kesehatan. Lebih spesifiknya adalah kesehatan mental atau jiwa. 

Drakor Class menghadirkan dua orang classmate untuk diajak ngobrol-ngobrol seputaran tema di atas, yaitu Imawati Annisa Wardhani (nama pena: I_Maesha) dan Dea Adhicita (nama pena: Kim De Ya). Imawati akan membagikan pengalamannya ketika menuliskan buku antologi “Pulih” yang bertema perjuangan pulih dari mental illness, dan Dea Adhicita yang adalah seorang sarjana psikologi akan memberikan sudut pandang dari segi ilmu atau teori psikologi. 

Rekaman acara IG Live “Annyeonghaseyo Chingudeul” ini dapat disaksikan melalui IG TV di akun Instagram Drakor Class dan YouTube, sebagaimana ditampilkan berikut ini. Jangan lupa, follow, like, dan subscribe ya, Chingudeul…

Sesi I dengan Imawati
Sesi II dengan Dea Adhicita

Buku Antologi “Pulih” 

Imawati, atau yang akrab dipanggil Ima, sudah mulai menulis sejak lama, namun belum konsisten. Awal tahun 2020 ini, Ima membulatkan tekad dan niat untuk menjadi pribadi yang lebih produktif, khususnya dalam hal menulis. Salah satu cara untuk bisa konsisten menulis, Ima bergabung dengan Kelas Literasi Ibu Profesional; komunitas yang menjadi wadah pertemuan kami semua, para kontributor blog Drakor Class ini. 

Usaha Ima untuk konsisten menulis ternyata membuahkan hasil. April 2020 yang lalu, komunitas Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN), salah satu komunitas yang sudah diikuti Ima sejak lama, mengadakan audisi untuk penyusunan antologi bertema “mental illness”, dan Ima berhasil lolos audisi, dan terpilih menjadi salah satu kontributornya. 

Baca juga: “Tentang Antologi PULIH”

Setiap kisah yang dituliskan dalam “Pulih” adalah kisah sejati, yang diceritakan dalam sudut pandang orang pertama. Penulis bisa menceritakan kisahnya sendiri, maupun kisah orang lain. Bagi penulis yang menceritakan kisahnya sendiri, IIDN bekerja sama dengan Ruang Pulih untuk menyediakan pendampingan konselor psikologi profesional.

Ima memang tertarik untuk menulis dengan tema tersebut karena belakangan ini isu kesehatan mental sering dikampanyekan sebagai sesuatu yang penting, khususnya di masa pandemi ini. Ima juga sering mendengar kisah dari teman-temannya tentang saudara atau kenalan yang mengalami gangguan kesehatan jiwa, namun tidak mendapatkan bantuan atau pengobatan profesional, melainkan hanya diberikan terapi tradisional. Melalui antologi “Pulih” ini, Ima ingin ikut mengampanyekan pesan tentang pentingnya kesadaran akan kesehatan jiwa. 

Tulisan Ima di blog Drakor Class tentang Antologi “Pulih”

Buku “Pulih” ini sendiri lebih berfokus pada kisah perjuangan para tokoh dalam kisah ini untuk bangkit dari kondisi mereka yang terpuruk. Bagaimana mereka mencari cara untuk sembuh dan pulih. Butuh waktu lama dan usaha yang gigih bagi mereka untuk bisa pulih. Dari buku “Pulih” ini, pembaca bisa mendapatkan inspirasi dengan belajar dan meneladani kisah perjuangan mereka.

Pandangan Dari Sisi Psikologi

Selain seorang ibu rumah tangga dan penulis, sebagaimana telah disebutkan di atas, Dea Adhicita adalah seorang sarjana psikologi. Katanya nih, Dea berniat untuk segera melanjutkan pendidikannya ke jenjang yang lebih tinggi. Kita doakan bersama, ya, Chingudeul… Fighting, Dea!

Mental Illness

Mental illness adalah kondisi dimana kondisi kesehatan mental seseorang tersebut sudah berada di titik ekstrim yang destruktif, sehingga sudah membutuhkan tindakan. Diagnosa di tahap ini hanya dapat dilakukan oleh profesional, yaitu psikolog dan psikiater. Psikolog dan psikiater itu sendiri merupakan dua profesi dari bidang ilmu yang berbeda, namun sejalan dan saling melengkapi. 

Dea menyebutkan ada delapan kriteria untuk menentukan apakah seseorang menderita mental illness atau tidak. Sebenarnya kita sendiri pun dapat melakukan deteksi, sebelum kemudian berkonsultasi dengan psikolog atau psikiater. Kriteria ini antara lain, kita dapat melihat apakah tindakan kita sudah menyakiti atau melukai diri sendiri dan ataupun orang lain. Kedua, ada perubahan drastis dan ekstrim, misalnya penurunan berat badan, perubahan emosi, ataupun perubahan pola tidur. 

Dalam kisah yang dituliskan Ima dalam buku “Pulih”, selain mendapatkan bantuan profesional, si tokoh juga melakukan self healing dengan art therapy yaitu melukis. Menurut Dea, self healing atau proses memulihkan diri sendiri bisa saja dilakukan untuk gangguan kesehatan mental yang masih bertahap rendah atau sifatnya sehati-hari, misalnya dalam mengatasi stress dalam pekerjaan. Namun lebih disarankan agar kita berkonsultasi kepada para ahli, sehingga kita akan mendapatkan diagnosa dan terapi yang paling tepat. Apabila melalui proses self healing ternyata penderita tidak mengalami kemajuan, dalam arti perilakunya masih destruktif, atau perubahan drastis dan ekstrim tadi masih terjadi, maka dia harus tetap berkonsultasi kepada profesional.

Mendapatkan bantuan profesional untuk konsultasi tentang kesehatan mental kita bukanlah hal yang sulit. Selain di Rumah Sakit, praktek psikolog dan psikiater, serta puskesmas, ada banyak aplikasi online yang menyediakan layanan ini. Bahkan di awal masa PSBB, Himpunan Psikolog DKI Jakarta membuka hotline bagi masyarakat untuk berkonsultasi. Jadi ada banyak sekali caranya, Chingudeul, tinggal bagaimana kita cari tahu layanan yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan kita.

Drakor dan Kesehatan Mental

Drama Korea tidak jarang mengusung tema “mental health”, seperti drama yang dibintangi Kim Soo Hyun dan Seo Ye Ji, “It’s Okay To Not Be Okay” (2020), dan “Soul Mechanic” (2020). Dalam perkembangannya, mental illness yang dibahas dalam drama Korea semakin beragam, dan pembahasannya pun semakin mendalam. Walaupun tetap dengan bumbu drama, hal ini turut membantu meningkatkan awareness masyarakat tentang jenis-jenis mental illness dan pentingnya menjaga kesehatan mental. 

Tulisan Tentang Beberapa Drakor yang Mengusung Tema “Mental Health”

Ternyata kegemaran menonton drakor dapat digolongkan sebagai tindakan untuk menyehatkan mental. Menonton drakor dapat digolongkan sebagai katarsis, yaitu sebuah aktivitas untuk menyalurkan kelelahan psikologis atau beban emosi dengan melakukan hal-hal yang kita senangi, seperti halnya travelling, melukis, atau hobi-hobi lainnya. Katarsis ini bersifat subjektif, jadi hal yang bagi kita adalah katarsis, belum tentu berlaku untuk orang lain.

Namun, tetap harus hati-hati ya, Chingudeul. Hal-hal yang tadinya menjadi katarsis, apabila tidak digunakan dengan proporsional dan bijaksana, justru dapat mengganggu kesehatan mental. Misalnya, menonton drakor dengan berlebihan (binge watching) sampai mengurangi waktu tidur, atau bahkan tidak tidur selama beberapa hari. Hal yang tadinya bisa menyehatkan, justru bisa menjadi merusak bila tidak dikelola dengan baik.  Oleh karena itu, Drakor Class punya tagline, “Bucin totalitas, tanpa melupakan prioritas.”

Penutup

Kita semua pasti mengenal ungkapan “Mens sana in corpore sano” yang artinya di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Pada kenyataannya, kebanyakan orang lebih memperhatikan dan merawat tubuhnya (fisik) daripada jiwanya (mental). Ketika tubuh kita atau orang lain di sekitar kita sakit, kita sering kali dapat mendeteksinya dengan cepat. Tindakan memulihkan diri dengan beristirahat, ditambah dengan minum vitamin atau obat bebas. Ketika sakit berlanjut, kita tidak ragu untuk berkunjung ke dokter, 

Tidak demikian halnya dengan kesehatan mental. Sering kali orang tidak menyadari ketika dirinya atau orang di sekitarnya sedang mengalami kesakitan di dalam jiwanya. Bahkan sering kali kesakitan itu diasumsikan ke arah mistis, sehingga bukannya diobati secara profesional, melainkan tradisional. Kita tidak akan membahas apakah cara tradisional ini salah atau benar, namun belum ada studi yang menyatakan cara tradisional mampu memulihkan kondisi mental seseorang secara sempurna.

Selain itu ada juga rasa enggan atau malu ketika mengunjungi konselor, psikolog, atau psikiater untuk mendapatkan diagnosa dan pengobatan yang tepat. Padahal, kesehatan jiwa sangat menentukan kualitas dan keberlangsungan hidup seseorang. Dan tidak hanya untuk dirinya, tetapi juga orang-orang yang dekat dan ada di sekitarnya.

Semoga melalui acara “Annyeonghaseyo Chingudeul” kali ini, para pendengar dan semua sahabat Drakor Class akan semakin menyadari pentingnya menjaga dan merawat kesehatan mental kita dan orang-orang tersayang di sekitar kita.

sweeney

Natural born romance junkie with introverted sensing and extroverted thinking.
Setelah lama vakum, kembali rutin menulis di blog http://dwitobing.blogspot.com/ .
Penggemar makanan enak, pecandu kisah cinta, dan pengagum para oppa tampan.

Baca Juga

2 Komentar

  1. Gomawo Cho Sweeney eonnie, uri host paling totalitchaass~ Semoga IGLive Drakor Class makin seru yaa di eps2 selanjut’y..

  2. […] Korea ini juga dapat menjadi salah satu cara untuk menjaga kesehatan lho. Seperti dibahas pada salah satu episode “Annyeonghaseyo Chingudeul” tahun 2020, menonton drakor bisa digolongkan sebagai katarsis, yaitu sebuah aktivitas untuk menyalurkan […]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: