Merenungi Karakter Anak Sulung di Little Women

Halo, chingudeul…

Sudah pada nonton Little Women belum, nih? 
Bukan, bukan cerita tentang anak-anak kecil yang berlarian di rumput savana, ya, yeorobun. 

Drama Netflix yang mulai tayang di awal bulan September ini bergenre misteri, dan rencananya akan ditayangkan sebanyak 12 episode. 

Little Women menggantikan slot Alchemy of Soul hari Sabtu-Minggu yang banyak digemari pemirsa sehingga ekspektasi atas penggantinya pun cukup besar. 

Apakah kemudian Little Women berhasil menjawab harapan penggemar yang masih belum move on dari drakor sebelumnya? Yuk baca dulu sinopsisnya di bawah ini. 

Sinopsis Little Women (2022)

Little Women menceritakan kehidupan tiga perempuan bersaudara; Oh In Joo (Kim Go Eun), Oh In Kyung (Nam Ji Hyun), dan Oh In Hye (Park Ji Hoo). Meski In Joo dan In Kyung memiliki pekerjaan, hidup mereka jauh dari gelimang harta dan dipenuhi kerja keras untuk memenuhi kebutuhan hidup dan membiayai pendidikan In Hye.

Kemana orang tuanya? (biasanya ini yang ditanya netizen). Orang tua mereka ada sih, tapi karena nggak support sama sekali pada kehidupan anak-anaknya, mari anggap tidak ada saja. Tiga saudara ini sudah menanggung problematika mulai dari circle paling kecil.

Suatu kejadian mengubah hidup mereka seketika. In Joo ketiban uang 2 miliar, TUNAI!
Bak kejatuhan durian runtuh, tapi masih kejebur sungai, 2 miliar tidak semerta-merta membuat mereka bahagia dan permasalahan ekonomi selesai. Sebaliknya, malah menjadikan mereka terlibat dengan salah satu keluarga kaya dan berpengaruh di Korea beserta intrik-intriknya yang pelik.

Balada Oh In Joo, si Anak Sulung

Sebagai anak sulung pada umumnya, In Joo merasa bertanggung jawab atas keberlangsungan hidup adik-adiknya pasca ditinggal kabur ibunya ke luar negeri. Gestur anak pertama yang tidak suka didebat, suka memberi perintah dan harus dituruti, dan merasa si paling harus berjuang, semua ada pada diri In Joo.

Merasa Bertanggung Jawab atas Keuangan Keluarga

Dalam keadaan tidak punya uang, ia terpaksa makan kimchi buatan ibunya meskipun sebal setengah mati demi penghematan.

Lalu ketika mendapati dirinya dapat ‘warisan’ 2 miliar won di sebuah loker dengan cuma-cuma, rasa kepemilikannya muncul. Batinnya mengatakan ini uang gelap, tapi otaknya mencerna ia berhak atas uang itu. Hal yang pertama ia lakukan dengan gepokan uang haram itu; borong es krim aneka rasa di supermarket supaya bisa dinikmati sama-sama dengan saudaranya.

Ia sibuk merencanakan kehidupan berbeda yang selama ini dididam-idamkan: tinggal di apartemen mewah bersama kedua adiknya, membiayai In Hye sekolah ke luar negeri, dan memberikan aneka kursus untuk dirinya dan In Kyung.

Bagi In Joo yang lelah hidup miskin sepanjang hidupnya, uang adalah sumber kebahagiaan. Pengubah nasib dan keberuntungan keluarga.

Harapannya, sebagai pihak yang punya uang dan bisa mengusahakan yang terbaik buat keluarga, adik-adiknya akan nurut dan tidak mempertanyakan lain-lain. In Joo paham akan value uang dan apa saja yang bisa dilakukan dengannya. Hingga ia memilih menutup mata dari mana uang itu berasal.

Sulung yang Materialistis

Bisa dipahami, sih, kenapa In Joo sebegitu materialistisnya sehingga mengabaikan fakta bahwa uang 2 miliar won yang dia kekepin itu adalah uang panas. Ia juga pernah rela menikah asal-asalan dengan pria kaya, dengan harapan pernikahannya akan memperbaiki perekonomian keluarga.

Bahkan penganiayaan yang diterimanya pun nggak seberapa dibandingkan persenan yang akan ia dapat dari 2 miliar won yang tersita pemilik aslinya.

Sulung adalah saksi perjuangan keluarga. Ia merasakan perih jatuh bangun keluarganya sedari kecil. Ia melihat kemiskinan yang menyebabkan kematian adik bungsunya tempo hari dan tak ingin terulang pada In Hye. Ia berkesimpulan bahwa hanya uang yang bisa mengubah semua kemalangan ini.

Di samping itu, pekerjaannya sebagai petugas pembukuan (book keeper) membuatnya muak hanya mencatat aset orang lain. Sekali-kali dia ingin merasakan harta milik sendiri, yang tidak perlu susah payah dicatat cashflow-nya.

In Joo ingin jadi orang kaya. Period.

Krisis Kepercayaan sekaligus Simbol Keberanian

Anak pertama memang sering dilematis. Di satu sisi dia jadi yang diandalkan oleh saudara-saudaranya, tapi dia sendiri bingung dan sesekali butuh orang lain untuk diandalkan.

Pada In Joo, ia terlalu mudah mempercayai orang lain dengan harapan orang itu akan membantu dirinya. Ia berani mendatangi Won Sang Woo (mantan direktur perusahaan tempat ia bekerja) dan memperlihatkan uang 2 miliarnya, hanya modal percaya bahwa Sang Woo adalah orang baik.

Ia juga menolak untuk waspada terhadap Choi Do Il (Wi Ha Joon), dan malah menyatakan kecurigaannya dengan mengonfirmasi sebuah artikel yang mendiskreditkan Choi Do Il. Sebelumnya ia pun tidak bisa menyembunyikan kepemilikan ‘uang durian runtuh’-nya dari Choi Do Il dan dengan sukarela mau membagi persenan pada orang asing yang baru dikenal. Segitu mudahnya In Joo mengambil risiko dan menggantungkan dirinya pada sosok misterius seperti Choi Do Il ketimbang meyakinkan adik-adiknya.

In Joo hanya bergeming ketika In Kyung memarahinya karena keukeuh ingin mempertahankan uang yang jadi sumber polemik itu. In Joo hanya diam ketika In Hye menolak tinggal di apartemen bersamanya. In Joo krisis kepercayaan diri sebagai kakak, dan akhirnya butuh sandaran dimana ia dipercaya dan diyakinkan, dan hal itu diberikan Choi Do Il, entah dengan motif apa di baliknya.

Haus Pujian

Semua orang senang dipuji. Ada yang kepercayaan dirinya langsung meroket, ada juga yang tercolek sedikit, tapi dua-duanya adalah hal positif yang timbul dari sebuah pujian.

Awal-awal kenal Choi Do Il, In Joo kegeeran karena cowok itu tahu banyak tentang dirinya. Di luar keharusannya memperhatikan keluarganya, ia senang ada orang lain yang memperhatikan dirinya. Menganggap perhatian ini sebuah compliment mengingat ia merasa nggak punya bakat atau kelebihan dibanding orang lain.

In Joo membanggakan dirinya banyak disukai pria, beberapa kali fakta itu diulang ketika berinteraksi dengan orang baru. Kemungkinan, ia ingin menegaskan ‘value worth’ dirinya, yah setidaknya walaupun gue miskin, tapi gue banyak yang suka. Padahal, belum tentu orang lain membutuhkan atau peduli dengan informasi tersebut.

Enggak apa-apa sih memuji diri sendiri, imho. Asal semua sesuai porsinya aja, nggak perlu sampai turah-turah dan bikin orang eneg.

Well, lewat drama ini, sedikit banyak In Joo memberikan gambaran kompleksitas anak sulung kebanyakan, terutama di kalangan mediocre. Bukan sulung dengan privilege seperti Jang Hyo Rin dan bayi-bayi sultan di Instagram yang sedari lahir bermandikan uang.

Akhir kata, pundak anak sulung memang ditakdirkan kuat menahan beban maupun pujian. Mari berpelukan sesama first born-child, semoga kita semua menjalani hidup yang baik dan berbahagia *puk puk punggung*.

Persepsi boleh berbeda ya, chingudeul. Kalau ada yang tidak setuju dengan tulisan ini, boleh banget beri insight di kolom komentar atau tulis guest post di blog Drakor Class, dengan senang hati kami terima 🙂

Tinggalkan komentar

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

%d blogger menyukai ini: