Hatiku Tertinggal di Pantai Haeundae

heundae at night time

Sebagai seseorang yang lahir dan besar di daerah lembah yang dikelilingi oleh pegunungan, aku sangat mencintai air. Ke mana pun aku pergi, aku akan mencari tempat air berkumpul, entah itu kolam, sungai, danau, atau laut.

Kumpulan air yang paling aku cintai adalah laut. Samudera membuatku gentar. Hamparannya yang luas dan hanya terbatas oleh cakrawala membuatku merasa sebagai makhluk teramat kecil di dunia. Aku ini hanya setitik debu yang hari ini ada dan esok sudah tertiup angin. Namun laut, aku bisa menghadapi laut. Aku jatuh cinta pada laut sejak pertama kali menginjakkan kaki di sana.

Kedua orang tuaku pertama kali mengajakku ke laut pada waktu aku berusia dua tahun. Pantai Pelabuhan Ratu adalah pantai pertama yang aku kunjungi bersama mereka. Rekaman kenangan pada hari itu masih ada sampai sekarang, lengkap dengan ekspresi wajahku yang cemberut ketika sudah waktunya pulang ke Bandung.

Pantai kedua yang kukunjungi adalah Pantai Pangandaran. Sama seperti di Pelabuhan Ratu, aku betah berlama-lama di sana. Aku selalu berlari ke sana kemari dan membuat kedua orang tuaku cukup khawatir aku menghilang atau diculik oleh orang asing. Untung waktu itu mereka melancong bersama teman-teman kantor Mama, jadi ada bala bantuan untuk mengawasi aku yang sangat lasak ini.

Setelah itu ada banyak pantai dan laut yang kukunjungi, namun hanya ada satu yang sangat melekat di hati. Aku bahkan pernah berkelakar bahwa jika aku meninggal aku ingin dikremasi dan abuku ditebarkan di sana. Entah apa yang membuatku tiba-tiba mengatakan hal itu, hal yang membuat anggota keluargaku yang mendengarnya langsung berkata, “Amit-amit jabang bayi!”

Pantai itu bernama Haeundae dan laut yang membentang di depannya bernama Selat Korea. Pantai Haeundae termasuk di dalam wilayah kota Busan, kota terbesar kedua di Korea Selatan setelah Seoul, ibu kotanya. Pantai ini membentang sepanjang 1.5 kilometer saja dengan lebar 30-40 meter, namun keramaian dan kemeriahan berbagai aktivitas yang diselenggarakan di sana dapat dirasakan sepanjang tahun. Salah satu festival terkenal yang diselenggarakan setiap tahun di sana adalah Festival Film Internasional Busan.

Pada hari cerah, kita bisa melihat Pulau Kyushu dan Honshu yang termasuk ke dalam wilayah negara Jepang dari kejauhan. Haeundae adalah wilayah termahal dan paling eksklusif di luar kota Seoul. Ekspatriat dari berbagai negara tinggal dan bekerja di sini. Penduduk di sekitar Haeundae sudah terbiasa mendengar yeong-o, atau bahasa Inggris di dalam kehidupan sehari-hari.

Pemilik salah satu kedai yang kami sambangi di BEXCO (Busan Exhibition & Convention Center) untuk makan siang cukup  fasih berbahasa Inggris. Anaknya sudah melanglang buana ke banyak negara karena bekerja di pabrik Samsung Elektronik dan sekarang ditempatkan di kota kecil tempat aku tinggal. Manager McDonald’s di BEXCO bahkan pernah berwisata ke Bandung dan Bali. Dia menghadiahi anakku dengan banyak mainan sebelum kami pulang.

Ah, memang dunia hanya selebar daun kelor.

Penduduk di sekitar Haeundae menyambut hangat berbagai cita rasa masakan yang dibawa oleh para pendatang, dengan tentu saja tetap mempertahankan kekhasan hidangan seafood-nya. Restoran yang menyajikan masakan India, Thailand, Cina, dan Jepang hanyalah sedikit dari banyak variasi rasa yang kita bisa temukan di Haeundae.

Menyantap hidangan di warung-warung di pasar tradisional Haeundae Market sama nikmatnya dengan menyesap anggur di Shinsegae Centum City, department store di dekat Pantai Haeundae yang katanya terbesar di dunia. Vice Chairman Shinsegae saat ini adalah Chung Yong Jin,  cucu dari Lee Byung Chul, pendiri Grup Samsung. Ia adalah mantan suami dari Go Hyun Jung, salah satu artis papan atas yang telah membintangi banyak film dan drama Korea.

Tuh kan, ga jauh-jauh dari drakor. Hehehe.

Kali pertama aku mengunjungi Pantai Haeundae adalah waktu aku backpacking pertama kalinya ke Korea Selatan untuk mengunjungi temanku sewaktu bersekolah di Jepang. Kamu bisa membaca kisahnya di sini, tentang kunjungan singkatku ke kota Daegu tempat Yu Yu Jin tinggal, tentang kimchi yang kukenal karena nenek temanku itu selalu menghidangkannya setiap kali aku makan di rumah mereka, dan tentang daytrip yang kujalani dari kota Daegu ke kota Busan dan Pantai Haeundae.

Yu Yu Jin mengantarku ke stasiun kereta pusat di Daegu tempatku menaiki Korea Train Express (KTX) yang akan membawaku ke kota Busan. Setelah dua jam aku tiba di stasiun pusat yang terletak di bagian lama dan relatif kumuh dari kota itu.

Busan adalah kota yang cukup besar yang dipisahkan oleh Jembatan Gwangan (Berlian) yang ikonik untuk membagi bagian lama dan baru dari kota ini. Di bawah ini adalah foto Jembatan Gwangan yang diambil suamiku dari kamar hotel yang kami tempati sewaktu berkunjung ke sana. Indah sekali bukan?

Gwangan Bridge

Perlu enam tahun sampai akhirnya aku dan keluarga berkesempatan melewati jembatan ini dengan mobil. Tanpa kendaraan beroda empat, Jembatan Gwangan yang cantik hanya bisa dipandang dari kejauhan.

Pantai Haeundae termasuk ke dalam bagian yang baru, yang eksklusif, dan memiliki biaya hidup yang tertinggi di Busan.  Untuk mencapainya aku perlu naik kereta lagi dan turun di dekat Haeundae Market. Dari sana aku bisa berjalan kaki sekitar 15 menit sebelum aku menginjak hamparan pasir berwarna putih-kuning dan memandang permadani air dalam gradasi warna hijau dan biru.

Hal pertama yang aku rasakan ketika aku sampai di Pantai Haeundae adalah: bahagia. Aku merasa sangat bahagia, mirip perasaan ketika aku pulang ke rumah, pulang ke tempat di mana aku seharusnya berada.

Pada kunjunganku yang pertama ke Pantai Haeundae pada tahun 2004, aku menghabiskan satu hari penuh, sampai-sampai aku hampir terlambat menaiki KTX terakhir yang meninggalkan Busan untuk pulang ke Daegu. Aku menikmati pantainya, interaksi dengan orang-orangnya, dan makanan-makanan lezatnya yang astaga jauh lebih murah daripada di Tokyo, tempat aku tinggal saat itu.

Aku jatuh cinta pada Pantai Haeundae, yang secara harafiah berarti the sea, the clouds, and the hills, untuk merujuk pada laut yang terbentang di depan pantai ini, awan-awan yang bergulung cantik di atas langit, dan bentangan bukit yang berhadap-hadapan dengan garis pantai.

Foto-foto dari perjalananku pada hari itu tersimpan rapi di gudang di rumahku, menumpuk bersama kenangan dari tahun-tahun yang kulalui di dalam hidup. Alangkah senangnya hatiku karena setelah kunjungan pada tahun itu, aku berkesempatan kembali ke sana. Kali ini aku datang bersama dengan suami dan anak pertamaku.

Hatiku tetap merasakan hal yang sama begitu kami tiba di Busan. Pulang, aku pulang.

Kebetulan perusahaan tempat suamiku bekerja pada waktu itu memberikan kami akomodasi di Hotel Westin Chosun Busan yang berada di Bukit Nurimaru. Bukit ini terletak di sisi kanan pantai dan ia adalah tempat diselenggarakannya konferensi APEC pada tahun 2005. Foto mantan presiden Susilo Bambang Yudhoyono terpampang apik di sana bersama dengan para pemimpin dari negara-negara lain.

Betapa girang hati kami karena pantai hanyalah sepelemparan batu dari lobi hotel. Di saat suamiku bekerja di pabrik di Yangsan yang berjarak 30 menit dengan mobil dari hotel, aku dan anakku yang sulung sibuk menjelajah Bukit Nurimaru dan Pantai Haeundae. Aku pun tak ragu berjalan kaki sambil mendorong stroller untuk pergi ke BEXCO dan Busan Children Museum yang letaknya mendekati Jembatan Gwangan.

Hotel Westin Chosun terletak di hadapan kami
Pemandangan sore hari di pantai yang membuat hatiku hangat

Setelah suamiku pulang kerja, itu adalah momen yang pas untuk kami berjalan-jalan di Pantai Haeundae dan sekitarnya. Kami tidak perlu khawatir dengan pasir yang menempel di sepatu atau pakaian, di mana-mana ada selang berisi angin untuk membersihkannya. Selama seminggu pertama di Busan, tiada malam kami lalui tanpa berjalan-jalan santai di bibir pantai.

Hotel Paradise tempat kami menginap ada di belakang kami
Bersama para ahjumma asli pada suatu pagi di Bukit Nurimaru

Setelah dari Busan, kami pindah ke Seoul untuk berwisata di sana selama seminggu lagi. Jadwal seperti ini berulang selama beberapa kali sampai kepindahan kami ke Swis pada tahun 2012.

Begitu mendarat di Korea Selatan, kami akan naik kereta dari Bandara Internasional Incheon ke stasiun kereta pusat di kota Seoul. Di sana kami akan makan di sebuah restoran Cina bernama “Jade” yang menyajikan hidangan sangat lezat. Setelah itu kami akan menaiki KTX untuk menuju Busan.

Selain menginap di Westin Chosun, kami juga pernah menginap di Hotel Paradise yang terletak tepat di tengah Pantai Haeundae. Kamar yang kami tempati di lantai 30 memungkinkan kami mengambil foto-foto yang teramat cantik dan istimewa. Hotel ini juga menyediakan pemandian air panas yang sangat populer di kalangan turis lokal dan mancanegara.

Sebelum matahari terbit pada suatu pagi musim semi tahun 2010

Di Pantai Haeundae ini anak kami yang sulung bisa berdiri tanpa berpegangan pada usianya yang ke-9 bulan. Di dekat pantai itu ada sebuah bangunan apartemen yang membangkitkan nostalgia akan kunjunganku yang pertama pada tahun 2004. Bertahun-tahun kemudian dia tetap tegak berdiri. Bentuknya yang bertingkat-tingkat membuat aku memfotonya waktu itu, dan memfotonya kembali pada tahun 2010.

Si Kakak pertama kali berdiri dan langsung diterpa oleh angin pantai yang dingin
Bangunan apartemen yang menjadi landmark kunjunganku sebelum dan sesudah berkeluarga

Tidak ada tempat yang begitu membuat rindu di Korea Selatan seperti halnya Pantai Haeundae. Seoul boleh jadi menarik hati dengan semua ciri khas kota metropolitan. Di sana ada empat istana penting yang menjadi saksi sejarah pembentukan Republik Korea Selatan seperti yang kita kenal pada hari ini. Di kota ini ada banyak tempat yang menjadi tujuan wisata para pecinta K-Pop dan pengejar setting drama Korea.

Walaupun demikian, kumpulan air yang membuatku selalu ingin kembali adalah Selat Korea dan garis pantainya. Pantai Haeundae yang terletak di bagian selatan negara ini, yang terletak di bagian tenggara Semenanjung Korea, adalah tempat yang selalu membuatku rindu setiap kali aku memandang laut atau kumpulan air sejenisnya.

Satu-satunya tempat yang sedikit menyaingi posisi Pantai Haeundae di hatiku adalah Danau Neuchatel. Danau ini terletak di depan kota Neuchatel yang keluargaku tinggali pada tahun 2012. Danau besar ini menjadi bagian wilayah kanton (semacam provinsi) Neuchatel, Vaud, Fribourg, dan Bern. Di depan kota kami terhampar danau dan pemandangan pegunungan Alpen, dan di belakangnya ada perbukitan yang menjadi tempat kami berjalan-jalan pada akhir pekan.

Aktivitas favorit kami selama tinggal di sana adalah berjalan kaki, naik sepeda, atau naik kapal dari beberapa titik pelabuhan yang membentang di danau yang memiliki luas sekitar 219 kilometer persegi tersebut. Aku rasa kalau kami berkesempatan tinggal di daerah Haeundae di kota Busan, kami pun akan melakukan aktivitas yang kurang-lebih sama. Tidak ada hal semenyenangkan tinggal di sebuh kota yang begitu dekat dengan alam yang natural.

Pandemi menghentikan kegiatan traveling yang keluarga kami sangat gandrungi. Jika tidak ada pandemi, maka sudah dipastikan kami akan menuju Korea Selatan untuk memperkenalkan negara ini pada anak kami yang kedua dan ketiga yang belum sempat menginjakkan kaki di sana. Kami sekeluarga adalah penggemar grup musik BTS, AKMU, dan SNSD. Ada sedikit harapan untuk bisa bertemu dengan idola kami, walaupun kemungkinannya sangat tipis.

Ya iyalah, Seoul kan tidak sebesar satu RT, walaupun di drakor semua pemerannya sepertinya ketemu di situ lagi, di situ lagi. Hehehe.

Ketika aku sedang sangat merindukan Korea Selatan dan Pantai Haeundae, aku gemar memandangi foto ini. Ini adalah foto anak sulungku setelah bermain pasir di pantai. Tiba-tiba dia berdiri memandangi laut dan bergumam sendiri, entah nada apa yang dia senandungkan. Aku memakai foto ini sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan puisi sebagai hadiah ulang tahunnya yang kedua, tak lama setelah kami kembali ke Jakarta.

Menonton drama Korea hanya membuat kerinduanku akan Pantai Haeundae tambah membuncah. Aku hanya mengingat sedikit drakor yang mengambil adegan di pantai namun adegan-adegan tersebut sangatlah berkesan. Drakor-drakor tersebut di antaranya adalah:

  1. Innocent Man (2013): ketika karakter Song Joong Ki mengakui bahwa ia adalah seorang player yang memanfaatkan karakter Moon Chae Won untuk membalas dendam kepada ibu tiri Chae Won yang adalah mantan cinta pertama Joong Ki.
  2. While You Were Sleeping (2017): ketika karakter Lee Jong Suk dan karakter Suzy bersantai dan bermain-main di pantai pada suatu sore sepulang kerja. Ada kelegaan melingkupi mereka karena kasus-kasus berat yang mereka hadapi telah terpecahkan semua.
  3. Dear My Friends (2016): ketika karakter Go Hyun Jung pergi ke pantai bersama ibu dan tiga orang teman ibunya yang semuanya berusia 70-an. Salah satu dari mereka sudah sakit sejak lama dan harus didorong dengan kursi roda. Adegan ini sangat mengharukan hatiku karena teman yang sakit itu meninggal di pantai itu. Pada saat bersamaan sekumpulan burung camar terbang di atas kepala Hyun Jung dan orang-orang tua yang sedang berduka bersamanya. Burung-burung itu membuat mereka percaya bahwa teman mereka sudah lepas dari rasa sakitnya dan sudah bebas seperti burung camar itu. Adegan ini sangat indah karena mengingatkanku akan kefanaan hidup dan persahabatan sampai usia senja. 

Haeundae haesuyogjang, jinjja bogoshipeo. Saranghanda.

Cho Rijo

Penulis novel dan cerpen dalam bahasa Inggris.

Penggemar filsafat, traveling, taekwondo, piano, buku, film, dan tentu saja drama Korea.

rijotobing.wordpress.com

Baca Juga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar anda diproses.

%d blogger menyukai ini: