IG Live Drakor Class Eps. 2

Episode 2 DC IG Live

Hari Jumat kemarin, Drakor Class kembali mengadakan acara “Annyeonghaseyo Chingudeul”. Ini adalah episode kedua dari (mudah-mudahan) banyak episode selanjutnya. 

Episode sekali ini, Drakor Class mengambil slot waktu siang hari karena dua alasan. Pertama, karena Jumat malam kemarin, Klub Buku KLIP mengadakan diskusi via zoom, dan salah satu penggagas Drakor Class, Rhin, adalah penanggungjawabnya, dan salah satu kontributor Drakor Class, Cho Rijo, akan menjadi salah satu narasumber. Tentu saja, kami semua ingin ikut mendukung mereka dan mengikuti diskusi tersebut. Kedua, kami juga ingin mencoba melihat jumlah pemirsa IG Live di slot waktu tersebut, sebagai bagian dari perencanaan dan evaluasi kegiatan Drakor Class. 

Ternyata slot waktu siang hari relatif lebih sedikit trafficnya daripada malam hari. Wajar saja, karena teman-teman yang bekerja di kantor, mungkin sudah harus kembali ke pekerjaan setelah istirahat siang; sedangkan yang bekerja di rumah, mungkin masih disibukkan dengan tugas-tugas domestik. 

Episode “Annyeonghaseyo Chingudeul” kali ini bertema “Drakor dan Penulis Buku Antologi”. Mencari kontributor sebagai classmate tidaklah sulit, karena sebagian besar kami telah memiliki pengalaman sebagai kontributor, tidak hanya satu, namun beberapa antologi. Jadi, untuk kedepannya, bisa dipastikan Drakor Class akan menghadirkan lebih banyak lagi penulis-penulis antologi sebagai classmate

Dua penulis buku antologi yang menjadi classmate adalah Rani R. Tyas (nama pena: Rani Noona) dan Talitha Rahma (nama pena: VIP_Ahin_Jisung). Mereka berdua telah terlibat dalam penyusunan dan penulisan beberapa buku antologi. Rani sudah memiliki enam buku antologi, sedangkan Litha memiliki empat belas buku antologi. Belum termasuk beberapa karya mereka yang sedang dalam tahap proses penerbitan. Luar biasa ya… Jadi bisa dipastikan, informasi yang mereka bagikan adalah valid dan terkini.

Rekaman acara “Annyeonghaseyo Chingudeul” episode 2 ini bisa disaksikan dalam video berikut ini. Oh iya, jangan lupa like dan subscribe kanal YouTube Drakor Class ya, chingudeul…

Sesi Pertama bersama Rani (sumber: YouTube)
Sesi Kedua bersama Talitha (sumber: YouTube)

Apa itu Buku Antologi?

Buku Antologi adalah buku yang berisi kumpulan karya-karya tulis para kontributornya, biasanya maksimal 20 orang, yang memiliki tema yang sama. 

Penyusunan sebuah buku antologi dimulai dari pengumpulan naskah. Lalu dilanjutkan dengan proses seleksi, revisi dan penyuntingan, pemilihan cover, sampai proses penerbitan. Dalam setiap proses tersebut, seringkali pengambilan keputusan membutuhkan rembugan bersama. Tidak heran proses penyusunan dan penerbitan sebuah antologi bisa memakan waktu satu bahkan dua tahun. 

Proses penyusunan antologi secara umum ada dua. Pertama, secara sukarela, dimana beberapa orang bergabung dan berkomitmen, bersepakat untuk membuat karya tulis dengan sebuah tema tertentu. Cara ini memiliki kelemahan, dimana kadang-kadang para kontributornya tidak selalu dapat memegang komitmen untuk menyelesaikan karya tulisnya pada waktu yang sudah disepakati. Hal ini bisa menyebabkan proses penyusunan antologi menjadi mulur dan semakin panjang. 

Kedua, melalui proses audisi atau seleksi. Cara ini jauh lebih efektif, karena biasanya sudah ada tim khusus yang akan menjalankan setiap tahapan sejak awal, dan ada persyaratan-persyaratan yang harus dipenuhi. Salah satunya adalah batas waktu. Sehingga, apabila kita berminat ikut menjadi kontributor namun tidak bisa memenuhi batas waktu yang ditentukan, maka otomatis karya kita tidak akan diikutsertakan. 

Proses seleksi ini bisa dilakukan dalam berbagai cara. Salah satunya adalah melalui lomba menulis blog. Informasi tentang proses seleksi penulis antologi bisa didapatkan melalui media sosial, baik melalui akun penerbit, maupun akun berbagai komunitas menulis. 

Pentingkah Ikut Komunitas? 

Rani yang berdomisili di Kota Kudus, Jawa Tengah mengawali kesukaannya menulis dengan menulis di blog. Awalnya Rani memiliki impian untuk menjadi penulis buku cerita anak. Untuk terus mengembangkan kemampuannya menulis, Rani bergabung dengan berbagai komunitas menulis, antara lain perkumpulan blogger, Komunitas Pejuang Literasi, dan banyak lagi. Melalui komunitas ini, Rani bertemu dengan banyak orang yang sudah berpengalaman di bidang menulis. Salah seorang senior menyarankan agar Rani memulai dengan menjadi kontributor antologi sebelum menerbitkan buku solo. Dari situ, Rani akan belajar dan mendapatkan pengalaman tentang menulis dan proses menerbitkan sebuah karya.

Dari komunitas-komunitas inilah Rani banyak mendapatkan informasi tentang audisi untuk buku antologi. Memang benar, kita dengan mudah dapat mendapatkan informasi ini di berbagai media sosial. Namun bergabung dengan sebuah komunitas akan memberi manfaat yang lebih banyak lagi. Tidak hanya seputaran audisi, namun kita juga akan mendapatkan informasi lain seperti pelatihan, bisa berdiskusi dan belajar dari pengalaman para senior, dan banyak lagi. Intinya, kalau memang kita berniat menyeriusi sesuatu, kita harus aktif untuk belajar dan mencari informasi. 

Hal yang sama diaminkan oleh Talitha, atau lebih akrab dipanggil Litha. Litha yang sudah suka dunia menulis sejak kecil awalnya mencari informasi lewat media sosial Facebook tentang penerbit dan komunitas menulis. Pertama sekali Litha menjadi penulis buku antologi adalah ketika bergabung dalam komunitas penerbit Rumah Media, Setelah itu, Litha semakin sering terlibat menjadi penulis buku antologi, bahkan pernah menjadi penanggung jawab. 

Kesimpulannya, bagi yang suka menulis dan ingin mengembangkan kemampuan menulis, bergabung dengan komunitas adalah salah satu cara yang paling efektif. Selain menjadi sumber informasi dan mendapatkan asupan ilmu lewat berbagai pelatihan, kita akan bertemu dengan banyak teman-teman sehobi, yang akan menjadi motivasi untuk kita terus menulis.  

Bagaimana Cara Mendapatkan Ide Untuk Menulis?

Menurut Litha, apa saja pengalaman hidup kita, bisa kita jadikan ide tulisan. Setiap keping kenangan, apakah hal yang menyenangkan ataupun tidak, bisa kita jadikan inspirasi untuk menulis. 

“Menulis itu masalah niat”, kata Rani. Sebagai awal, kita tidak perlu terlalu fokus pada masalah-masalah teknis dalam penulisan; yang terpenting kita meniatkan bahwa kita akan menuliskan sesuatu. 

Seorang penulis itu harus berani. Seringkali kita merasa tulisan kita tidak layak, tidak pantas dibaca atau dipublikasikan. Pikiran tersebut harus kita hilangkan. Belum tentu orang lain berpandangan sama. Hal yang “receh” menurut kita, bisa jadi menjadi inspirasi bagi orang lain yang membacanya. Kita tidak akan pernah tahu apa yang terjadi dengan tulisan kita, sebelum kita mengambil langkah berani untuk mempublikasikannya, untuk dibaca oleh orang lain. 

Dari pengalaman Rani dan Litha, karya yang mereka anggap tidak layak atau “receh” tadi, ternyata mendapatkan tanggapan positif dari pembacanya. Pendapat para pembaca inilah yang menjadi pemicu bagi Rani dan Litha terus belajar untuk menghasilkan karya yang lebih baik.

Nah, untuk menghasilkan karya yang lebih baik, seorang penulis harus banyak melakukan riset, melalui membaca dan bertanya kepada orang-orang yang berpengalaman sehubungan dengan topik yang mau kita tulis. Sehingga tidak akan ada yang namanya ‘mati ide’. Ketika kita banyak membaca, bertanya, dan mengeksplorasi tentang hal apa saja, kita akan menemukan inspirasi sejalan dengan prosesnya. 

Tidak jarang Rani maupun Litha menemukan inspirasi dari drama Korea. Selayaknya sebuah hobi, ketika kita menyukai sesuatu, maka kita pasti dapat menemukan waktu untuk melakukannya. Bukan perkara berapa lama waktu yang kita habiskan. Walaupun sedikit, namun apabila berkualitas, maka drama Korea akan menjadi mood booster dan sumber inspirasi yang tak habis-habisnya. Apabila kita gunakan dengan tepat, maka menonton drama Korea akan membuat kita lebih produktif dalam menulis. 

Bagi Rani dan Litha, yang juga adalah ibu yang bertanggung jawab mengurus suami dan anak-anak, keluarga tetap menjadi prioritas utama. Menonton drama Korea menjadi salah satu cara untuk mengapresiasi diri sendiri, sebagai hadiah ketika telah menyelesaikan semua tugas yang menjadi kewajiban sepanjang hari. 

Apa Makna Menulis?

Menulis adalah aset. Ide yang ada di dalam pikiran kita tidak akan bisa dicuri orang. 

Menulis adalah sebuah apresiasi untuk diri sendiri, sebuah cara untuk menyembuhkan diri sendiri. Menulis adalah sumber kebahagiaan. 

Menulis adalah suatu pembelajaran. Proses yang kita alami selama kita menulis adalah hal yang paling penting, sehingga apapun yang terjadi dengan hasil tulisan kita nantinya, tidaklah menjadi persoalan. Karena itu, teruslah konsisten menulis. 

Penutup

Menjadi host “Annyoenghaseyo Chingudeul” selalu membuat aku belajar hal-hal baru. Aku selalu menemukan kisah-kisah menarik dan inspiratif dari teman-teman Drakor Class, yang menjadi motivasi untukku untuk terus menulis.

Sampai saat ini, baik Rani maupun Litha masih tetap menyimpan impian mereka untuk menerbitkan buku solo. Rani bercita-cita untuk menerbitkan buku cerita anak, dan Litha bercita-cita menjadi seperti JK Rowling, yang bukunya diangkat menjadi sebuah film. Ini bukan sekedar mimpi di siang bolong. Rani terus memperlengkapi dirinya dengan ilmu dan menambah pengalaman menulis, sedangkan Litha sudah memiliki naskah buku solo. Semoga saja cita-cita kedua sahabat kita ini segera terwujud, ya.

sweeney

Natural born romance junkie with introverted sensing and extroverted thinking.
Setelah lama vakum, kembali rutin menulis di blog http://dwitobing.blogspot.com/ .
Penggemar makanan enak, pecandu kisah cinta, dan pengagum para oppa tampan.

Baca Juga

1 Komentar

  1. Seru banget..
    Ada banyak latar belakang dan pengalaman yang bisa kita ambil dari classmates di drakorclass yaa..
    Annyeong, chingu~

Tinggalkan Balasan ke lendyagasshi Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: