drakorclass.com

Annyeong chinguya …
Jal jinaeseyo?


Seneng banget niih…kita berhasil bikin blog rame-rame. Kenalan dulu yuuk…

Kami di drakorclass.com terdiri dari 21 orang kontributor, dengan tentunya masing-masing karakter dan kesukaan. Persamaan kami ada satu: sama-sama suka menulis, dan persamaan turunannya adalah kami suka menonton drama Korea. Wkwkwk ~

Di blog ini, kami mencoba menuangkan apa yang kami pikirkan dan rasakan mengenai sebuah drama atau film Korea yang sudah kami tonton. Bukan hanya sekedar menyalurkan hobi menulis kami, tapi juga menantang diri untuk menjadi produktif.

Semoga manfaat yang kami rasakan juga dirasakan oleh para pembaca, yaa…. Kami juga berharap pembaca bersedia meluangkan waktu untuk meninggalkan komentar di kolom komen, karena itu adalah penyemangat kami untuk menulis lebih baik dan lebih baik lagi.

Kritik dan saran are very welcome.


Kenapa (kami) Nonton drakor?


Memberikan informasi baru seputar peristiwa/fenomena yang terjadi di dunia namun jarang atau enggan dibicarakan orang.

Tulisan lengkapnya :

Dalam tulisan di atas saya mengaitkan praktek euthanasia yang dikupas oleh drakor “Doctor John” (2019) dengan dampak pandemi Covid-19 terhadap mereka yang berusia lanjut
-Cho Rijo-

Membuka jalan untuk mengenal budaya dan bahasa asing, dalam hal ini budaya dan bahasa Korea Selatan khususnya.

https://aboutcoffeeandme.blogspot.com/2020/06/hobi-berbonus-kecakapan-bahasa.html

Hobi nonton dapet, melatih daya imajinasi (atau halusinasi?) kena, ngenal budaya baru juga, ehh, masih ditambah bisa nyapa-nyapa orang lain dengan Annyeonghaseyo pula. Positif sekali, bukan?

By Neng Nad

Tentu saja dibalik alasan lainnya, Alasan pertama dan utama menonton drakor selama ini adalah mencari hiburan. Saat sedang senggang, selain membaca, menonton adalah salah satu hal yang bisa menjadi pengobat lelah dan bosan.

Dunia dalam drama bisa membawa kita larut dalam cerita yang disajikan, cocok sekali sebagai “pelarian” dari kenyataan hidup yang ada. Tak jarang saat menonton kita berhayal menjadi tokoh-tokoh dalam drama itu. Lumayan untuk menghilangkan stres. Apalagi melihat para aktor yang cantik dan tampan itu, tubuh lelah terasa segar kembali. Setuju, kan?

-Asri-


Drakor dan Literasi menurut kami, dan Manfaat nonton drakor

Aktivitas membaca, menonton, dan menulis sangat berkaitan erat. Membaca dan menonton ibaratnya seperti mengisi sebuah wadah dengan air yang kaya mineral. Supaya tidak kepenuhan, “air” tersebut harus dialirkan kembali menjadi karya tulis.

Hubungan antara ketiga aktivitas tersebut bisa saya gambarkan sebagai berikut:

penulis fiksi dan drakor
Proses kreatif seorang penulis fiksi salah satunya itu menonton

Menonton drakor sangat bermanfaat bagi penulis fiksi seperti saya. Dengan menonton fiksi karya orang lain, saya bisa belajar membuat fiksi yang langsung memikat hati mulai dari adegan pembuka, dan pembuat penonton tetap betah sampai belasan episode berikutnya.

Drakor adalah sumber inspirasi untuk menciptakan baik karya nonfiksi seperti tulisan kontemplasi/opini maupun maupun karya fiksi seperti fanfiction, cerpen, novel, dan lain sebagainya.

Cho Rijo-

Manfaat Nonton Drakor

Nonton drakor itu membangkitkan berbagai emosi, sedih, senang terharu, bahagia, berbunga-bunga termasuk teringat masa pacaran.

Mungkin akan ada yang bilang, ah sama saja dengan menonton drama lainnya. Saya sudah menonton banyak sekali serial Amerika, tapi setelah menonton drama Korea saya enggan menonton drama lainnya. Beberapa teman saya juga mengalaminya. Mungkin pembaca ada yang mengalaminya juga?

Dari nonton drakor, saya tertarik belajar bahasa Korea, walaupun belum bisa juga sampai sekarang. Sejak nonton drakor saya juga menemukan banyak topik untuk dituliskan di blog.

Bonus terbesar dari nonton drakor adalah menemukan teman-teman yang punya kegemaran menonton drakor selain aktif menulis

– Rhin –

Khusus untuk penulis karya fiksi

Saya akan membagikan tiga manfaat yang bisa kita dapatkan dari menonton drakor:

Belajar menciptakan karakter yang kuat

Kapten Yoo Shi Jin (Song Joong Ki) adalah karakter tentara Korea Selatan yang sangat membekas pada benak penonton. Sikapnya yang pantang mundur walau ditolak berkali-kali oleh seorang wanita dan kepemimpinannya di special force sangat mempesona, bahkan 4 tahun setelah drakor “Descendants of the Sun” usai ditayangkan.

Jika bicara tentang tentara Korea Utara, maka Kapten Ri Jeong Hyeok (Hyun Bin) adalah karakter yang sangat memorable. “Crash Landing on You” (2019) bukan drakor pertama yang menciptakan karakter tentara dari negara yang tidak kita ketahui banyak tentangnya. Akan tetapi, hanya Kapten Ri dan perjalanan cintanya yang “mustahil “ dengan Yoon Se Ri yang menjadikan karakternya top of mind bagi banyak drakorian.

Siapa yang tidak tahu karakter Gu Jun Pyo (Lee Min Ho) dalam drakor “Boys Over Flowers” (2009)? Gu Jun Pyo adalah contoh karakter budak cinta yang penuh totalitas terhadap obyek afeksinya. Satu dekade lebih telah lewat, namun kita sebagai penonton drakor masih mengingat cintanya yang membumihanguskan pada Geum Jan Di.

Drakor memberi banyak contoh karakter-karakter yang kuat, penuh cacat-cela, membuat gemas dan baper. Dan semuanya itu disuguhkan dengan visual yang sangat menarik, khas Korea Selatan.

Belajar memilih alur cerita

Mau alur cerita maju mengikuti waktu? Atau mundur berupa flashback, kilas balik kenangan si karakter, atau perpindahan keseluruhan setting (tempat dan waktu) ke masa lampau? Atau kombinasi alur maju dan alur mundur? Drakor bisa memberikan banyak contoh untuk membantu penulis memilih alur yang paling tepat, supaya tujuan penceritaan bisa dicapai tanpa membuat plot kedodoran.

Belajar membagi scene dan menampilkannya dengan teknik zoom in atau zoom out

Tidak ada yang bisa mengajarkan tentang scene setepat sebuah serial/ drama. Film memiliki keterbatasan scene karena terikat oleh waktu. Drama memberi kebebasan untuk menampilkan dan mengganti banyak scene karena durasi penayangannya yang panjang. Dari drakor, penulis bisa belajar memilah scene yang penting/tidak penting untuk keseluruhan jalan cerita. Selain itu drakor juga memberikan contoh penggunaan teknik zoom in atau zoom out supaya sebuah scene memberi impak emosional.

-Cho Rijo-

OPPA SARANGHAE!

Demikian pertanyaan yang sering dilontarkan beberapa kenalan saat tahu bahwa saya adalah penggemar drakor akut.
“Kan banyak adegan panasnya, kan ceritanya lebay, kan aktor aktrisnya oplas?”

Telinga para penggemar drakor pasti sudah kebal mendengar sentimen-sentimen negatif seperti ini. Saya termasuk orang yang sering memberikan wawasan kepada mereka yang anti-drakor mengenai nilai-nilai positif yang bisa didapat dari hiburan negeri ginseng yang kian hari kian populer di Indonesia. Lambat laun, beberapa kenalan akhirnya menjadi penggemar drakor setelah mendengar wejangan “racun” dari saya.

Wejangan apa sih yang saya sampaikan?

  1. Bagaimana Korean Wave termasuk Korean Drama itu berhasil menaikkan harkat martabat orang Asia di dunia barat.
  2. Bagaimana Korean Wave membantu orang Asia yang merantau di luar negeri untuk lebih bangga pada budayanya.
  3. Bagaimana Korean Wave adalah suatu bukti bahwa investasi pada budaya bisa menggerakan ekonomi kota dan bahkan negara.
  4. Bagaimana seharusnya kelas kreatif Indonesia juga memperbaiki kualitas penyajian tontonan hiburan untuk masyarakatnya.
  5. Bagaimana pemerintah Indonesia harus mendukung industri kreatif dengan lebih serius seperti yang dilakukan oleh Pemerintah Korea Selatan dengan membangun Agensi seperti KOCCA.

Terlihat keren ya?

Padahal sebenarnya wejangan sakti di atas hanya sebuah justifikasi untuk kegiatan ‘halu” saya setiap hari. Wejangan panjangnya nanti saya share suatu hari.

Banyak unsur menarik dari drakor

Boleh dibilang, saya lebih banyak menonton drakor dibandingkan J-drama, sinetron atau Hollywood drama. Ada banyak unsur menarik yang tidak saya dapatkan di hiburan-hiburan serupa dari negara lain.

Tentu saja unsur pertama adalah penampilan visual para Oppa yang bisa membuat mata segar berjam-jam. Kini saya adalah bagian dari komunitas para penonton yang setiap bulan biasnya bisa berganti, kurang lebih persis seperti meme Ji Sung yang terkenal itu “If you are handsome then you are my Oppa.”

Unsur kedua adalah ceritanya yang unik dan anti mainstream. Zombie yang suka makan kol dan bisa buat korban gigitannya menjadi muda atau pendeta gampang naik darah yang tidak bisa diam saat melihat ketidakadilan adalah sebagian dari cerita-cerita drakor seru yang saya nikmati. Padat, berisi dan tidak bertele-tele, cocok sekali untuk penonton “bosenan” seperti saya.

Unsur ketiga adalah minimnya adegan panas dalam sebuah drama. Tidak semua drama atau film Korea memiliki adegan “pertemuan bibir” atau yang lebih tidak senonoh dari itu. Saya memang bukan penggemar adegan-adegan seperti itu. Tidak seperti film Hollywood, banyak drama Korea yang tidak memiliki tambahan bumbu panas dalam alur ceritanya. Drama-drama ini memberikan bukti bahwa film bagus tidak memerlukan cerita panas.

Unsur keempat terkait dengan kualitas visual dan CGI yang terkesan tidak main-main. Visualisasi karakter-karakter fantasi seperti naga atau harimaunya memang patut diacungkan jempol.

Unsur kelima? Apalagi kalau bukan OSTnya yang keren-keren. Kombinasi drakor dan OSTnya memang sangat memanjakan para penggemar. Sudah dapat film bagus, eh dapat lagu-lagu yang enak di telinga.

Tapi kalau boleh jujur, sebenarnya unsur yang paling penting memang visual para “oppa”. Jadi dari tadi saya panjang-panjang menulis sebenarnya “palsu”.

Apa yang ingin saya tulis sebenarnya hanya sependek

OPPA SARANGHAE!

Oleh Cha Ree


Apa yang bisa kamu dapatkan di blog ini

Banyak!

Mulai dari review atau rekomendasi drama dan film, ulasan kupas tuntas terhadap sebuah topik yang diangkat dalam drakor, opini terhadap plot cerita drakor dari ilmu psikologi, norma sosial maupun tinjauan kepenulisan fiksi.

Dalam blog ini, kami menulis tentang drama dan film Korea mulai dari yang paling update hingga drama dan film lawas yang masih menarik untuk ditonton. Genre yang kami bahas pun beragam. Pembaca bisa menemukan informasi mengenai drama dan film Korea bertema cinta-cintaan, thriller, fantasi, dan banyak genre lainnya.

Di blog drakorclass, pembaca bisa puas memilih dan berlama-lama mantengin blog ini untuk menemukan informasi seputar drama dan film Korea yang dicari.

Terlalu serius? ah nggak juga. Kami juga menikmati keindahan visual drama Korea seperti semua pada umumnya. Iya, keindahan lokasinya maupun para pemerannya.

Mau tulisan totalitas ala bucin sampai fan fiction karena tidak puas akan sebuah cerita bisa ditemukan nantinya.

Kalau ada kritik, saran dan request, silahkan tulis di kolom komentar, dan terima kasih sudah berkunjung ke sini.

Catatan:
Tulisan ini merupakan tulisan dari beberapa kontributor blog ini sebagai salah satu dari sekian banyak alasan kami berkolaborasi.

1 Komentar

  1. Hai writers…. Salam kenal ya. Juga termasuk pecinta drama Asia, yang awalnya Jepang (eranya Tokyo Love Story dan Ordinary People) dan sekarang Korea. Dan tidak pernah merasa bosan denga drama korea, variasi cerita dan scene nya membuat kita bisa memilih drama yang mana yang akan ditonton. Saya sendiri prefer ke drama yang menceritakan profesi tertentu di bidang medis dan hukum. Apalgi setahun terakhir pandemi melanda, jadilah saya maraton nonton drakor yang belum sempat ditonton. Dan, ga sengaja nemu blog ini ketika mencoba mencari spoiler dari serial Love (ft Marriage and Divorce) season 2 🙂
    So, thanks a lot for makin this blog. Annyeong 🙂

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses.

error: Content is protected !!
%d blogger menyukai ini: