Apa jadinya jika seseorang yang sudah memasuki usia cukup matang, tinggal di tengah gegap-gempita kota Seoul, namun memilih hidup sendirian saja? Begitulah yang dihadirkan dalam film Korea, Single in Seoul.
Memotret sekelumit orang-orang yang memang merasa lebih tenang dan nyaman dalam segala sisi bila hidup tanpa pasangan. Begitulah yang dimunculkan dalam film yang dibintangi oleh aktor Lee Dong Wook dan Lim Soo Jung ini. Sebuah film yang kembali mempertemukan keduanya setelah sebelumnya bermain bersama dalam search : www.
Bermain dalam genre romance. Tentu saja kisah cinta, di mana urusan hati begini tak terbatas hanya untuk dua orang dewasa saja, terjalin menarik, hingga asik untuk dinikmati sepanjang 103 menit.
Tentang Film Korea Single in Seoul
Judul : Single in Seoul / ์ฑ๊ธ ์ธ ์์ธ
Sutradara : Park Bum Soo
Penulis : Lee Ji Min
Pemain Utama :
- Lee Dong Wook sebagai Park Young Ho
- Lim Soo Jung sebagai Joo Hyun Jin
Genre : Romance
Rilis : 2023
Network : Lotte Cultureworks
Runtime : 103 menit
Dua Dewasa Lajang yang Berkisah Di Tengah Kehidupan Seoul
Sebenarnya, Single in Seoul ini adalah judul dari buku yang merupakan proyek Park Young Ho sebagai penulis pemula. Sebuah buku yang secara magis, mengubek-ubek pemikirannya sebagai seorang lelaki yang betah melajang di tengah gempita cinta yang dipancarkan kota Seoul.
Kok bisa? Jadi, begini nih ceritanya, Chingudeul.
Bermula dari seringnya Park Young Ho, sang guru menulis esai dalam Bahasa Korea yang aktif mengajar di salah satu pusat bimbingan belajar ini, sering menunjukkan foto-foto sisi sepi di Kota Seoul. Ia pun suka menuliskan caption singkat yang menunjukkan betapa hidup melajang lebih meringankan beban pikiran daripada bila punya pasangan.
Tentu saja, apa yang Park Young Ho tayangkan di akun Instagram-nya menarik banyak perhatian netizen. Nah โฆ dari sanalah, sebuah penerbitan jadi tergoda untuk mengajak Park Young Ho ini berkolaborasi.
Kemampuan Park Young Ho dalam mengajar soal kepenulisan esai, tertantang. Tentu saja, secuil impian Park Young Ho semasa belia pun turut andil membuatnya bersemangat. Iya, di masa dua puluh tahunan, ia pernah punya impian untuk menjadi penulis fiksi ternama Korea. Namun, karena satu dan lain hal, mimpi itu ia tepikan.
Oleh karena itu, ketika tawaran datang, tentu saja Park Young Ho sambut dengan antusias nan elegan. Ajakan menghadirkan karya pertamanya itu membawa Park Young Ho mengunjungi kantor penerbitan, membawanya pada perjumpaan dengan sang editor sekaligus pemred bernama Joo Hyun Jin.
Poin pentingnya, Park Young Ho dan Joo Hyun Jin ini sama-sama masih lajang di usia yang cukup matang. Keduanya pun merupakan alumni dari kampus yang sama, Young Ho senior dan Hyun Jin ini juniornya.
Payahnya, Park Young Ho nggak sepenuhnya ingat sosok Hyun Jin. Sebaliknya, tentu saja Hyun Jin tahu tentang seniornya yang cukup dikenal itu.
Kemudian cerita pun berkelindan pada sisi masing-masing karakter utamanya. Bagaimana Park Young Ho selalu bahagia dengan kebebasan sebagai lajang yang ia punya. Kehidupan yang begitu ia cintai saking nggak ada orang yang bisa merasa punya hak untuk mengubah kebiasaannya bersenang-senang sendirian, berkeliling, memotret Seoul.
Sementara itu, si editornya ini adalah sosok yang selalu ngarep punya kehidupan romansa. Yap, hidup Park Young Ho berbeda jauh dengan Joo Hyun Jin, sang editor. Hyun Jin tetap melajang karena payahnya ia dalam memahami cara bersosialisasi, sebagaimana pun ia berharap dan berusaha semampunya.
Bahkan seisi kantornya pun mengakui, sesungguhnya Joo Hyun Jin lihai sekali menilai suatu karya dari penulis. Sayangnya di sisi lain, dirinya hampir bisa dikatakan nol besar untuk urusan kehidupan normal selayaknya perempuan dewasa.
Baru digoda sedikit saja oleh pengurus toko buku yang usianya nggak jauh berbeda dari dirinya, Joo Hyun Jin sudah jatuh cinta. Ah โฆ bukan, tapi tepatnya Hyun Jin super duper ge er. Omo omo omo โฆ aigoo … padahal itu si lelaki cuma ngarep keuntungan alias toko bukunya selalu dapat profit, pun cara itu hanya demi memanjakan Joo Hyun Jin sebagai kolega semata.
Bayangkan, Chingudeul! Sebagai penonton budiman nan punya pengalaman cinta-cintaan, bakalan pengen tarik Joo Hyun Jin ke dunia nyata demi menyadarkannya.
Namun di balik itu semua, sisi itulah yang pada akhirnya memunculkan ide-ide menarik untuk progres buku Single in Seoul yang sedang ditulis Park Young Ho. Sisi Hyun Jin yang berbeda sekali dengan Young Ho.
Ada banyak pertanyaan, termasuk urusan cinta pertama dari Joo Hyun Jin untuk Park Young Ho yang kemudian tertuang dalam draft tulisannya. Sebuah pencetus perenungan panjang Park Young Ho, dan perseteruannya dengan egonya selama ini.
Namanya juga proses menulis ya. Editor yang memantau itu, ada juga masanya khawatir kalau penulisnya mendadak kena writerblock. Tentu, rencana penerbitan kan jadi terdampak.
Makanya, sepanjang proses Park Young Ho menggarap Single in Seoul, Joo Hyun Jin selalu hadir. Bukan hanya sebagai rekan diskusi selayaknya penulis dan editor, namun juga teman karena berasal dari kampus yang sama tadi. Pun usia yang nggak jauh berbeda.
Pada akhirnya, karakter Park Young Ho yang bebas dengan segala aturan mandiri yang ia berlakukan pada dirinya, saling bertumbukan dengan karakter dan kehidupan Joo Hyun Jin. Banyak kejutan yang keduanya akhirnya temukan, sehingga menambah dalam pertemanan keduanya, sepanjang menggarap proyek mereka bersama.
Bukan โฆ bukan tentang Park Young Ho yang naksir sama Joo Hyun Jin. Bukan pula Joo Hyun Jin yang langsung baper sama penulisnya itu.
Single in Seoul adalah sebuah film Korea yang mengusung napas kalau urusan percintaan itu akan selalu lekat dengan kehidupan manusia. Realistis, kan?
Nggak peduli ia memilih lajang seumur hidupnya. Atau di usia matang, ia belum juga memahami yang namanya saling jatuh cinta dengan lawan jenis. Cinta selalu ada di hati setiap jiwa. Semua orang pastilah relate dengan apa yang film ini bawakan.
Kesan dari Film Single in Seoul
Selain mendapati kalau proses menghasilkan sebuah karya tulis itu nggak mudah, film Single in Seoul juga memunculkan pandangan kalau manusia akan selalu menjadi makhluk sosial, tanpa bisa dipilih, kecuali tinggalnya di tengah belantara macam Tarzan.
Sudut pandang tentang para pemuda Seoul yang makin ke sini, terpikir kalau melajang alias nggak membangun sebuah keluarga itu, banyak terjadi. Menua seorang diri lebih aman dan mapan, dibanding jika punya pasangan.
Tak sampai di situ saja, alasan untuk tetap jadi Single in Seoul pun rupanya karena pengaruh masa lalu. Patah hati. Berhenti percaya kalau memiliki seseorang di sisi itu bisa membuat hidup jadi lebih berwarna. Lelah untuk yakin pada cinta. Sampai perasaan kalau diri sudah terlalu tua untuk mengurusi cinta-cintaan yang pasti banyak dramanya.
Film Single in Seoul ini membungkus pesan, bahwa setiap orang berhak mengambil pilihan hidup. Kesempatan bukan hanya milik orang-orang yang muda belia. Termasuk, betapa manusia selalu butuh merasa dicintai dan mencintai. Sebuah proses yang tiada ujungnya.
Film yang cukup santai untuk disaksikan seorang diri. Alurnya pun nggak terburu-buru. Kalem, persis tingkah dari kebanyakan orang yang sudah mencapai usia kepala tiga ke atas. Ya โฆ seperti usia dua pemain utamanya juga kan ya?
Lalu, apakah setelah segala tantangan dan tuntutan yang muncul sepanjang proses menggarap karyanya, Park Young Ho dan Joo Hyun Jin bisa berhasil menerbitkan Single in Seoul? Apakah akhirnya mereka juga saling jatuh cinta seiring kedekatan keduanya? Coba cari tahu dengan ikutan nonton filmnya ya.
Copywriter dan Blogger, sekaligus penulis fiksi yang cinta mati dengan aktivitas membaca dan menonton, salah satunya drama korea.
Tinggalkan Balasan